Kebingungan Kader Partai-Dakwah


arsip: pkswatch.blogspot.com

Pengantar DOS

Alhamdulillah, saya sedang sibuk berat, itu artinya saya masih sangat dibutuhkan oleh alam sekitar saya, tapi juga berarti saya harus menurunkan tingkat prioritas kegiatan lain seperti menjadi PKSWatcher, untuk sementara waktu.

Alhamdulillah, ada beberapa sumbangan tulisan yang masuk. Insya Allah akan saya upload secara berkala dalam beberapa waktu ke depan. Tulisan yang ada di bawah ini dibuat oleh akhina Dr. Khairul Fuad M.Eng (khairulfuad78 AT yahoo DOT com).

Sebagai sebuah partai, PKS sudah selayaknya bersyukur bahwa masih sangat diperhatikan oleh para konstituennya. Kalau yang memperhatikan adalah kader, yang sudah dibaiat, maka itu wajar saja. Partai-partai lainpun seperti itu, terutama kader-kader yang duduk di struktur dari pusat sampai tingkat paling bawah. Tapi kalau yang memperhatikan adalah konstituen atau orang yang keterikatannya pada sebuah partai adalah semata karena dia merasa sudah memilih dan mendukung partai tersebut pada pemilu 2004, orang yang merasa bahwa keterikatannya dengan partai itu adalah karena adanya kesamaan ideologis, mendukung karena partai itu adalah sebuah wasilah dakwah, maka tidak banyak partai yang mengalami itu. Dalam pengamatan saya yang awam, mungkin hanya PKS lah yang mengalami hal itu.

Tapi sayangnya, seperti sudah pernah saya ulas sebelumnya, PKS seakan merasa mereka adalah sebuah ‘perseroan terbatas’ yang bersifat proprietary, sehingga merasa berhak memutuskan apapun tanpa melihat aspek ‘perasaan’ publik, hal mana terlihat jelas dalam berbagai kebijakannya selama ini. Padahal PKS adalah sebuah ‘perseoran terbatas’ yang sudah go public. Layaknya sebuah perusahaan yang besar karena go public, mereka juga harus mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan pentingnya kepada publik. Menjelaskan apa latar belakang sebuah kebijakan diambil. Hal yang jarang sekali dilakukan oleh PKS. Dalam tulisan sebelumnya sudah saya jelaskan, bahwa 90% lebih pemilih PKS pada pemilu 2004 adalah non kader. Jadi bagaimana mungkin ada sebuah kebijakan, lalu penjelasan kebijakan itu hanya sekedar diperintah tsiqoh dan tho’at saja, di mana sikap itu hanya ada pada sekitar 10% (even less than that) pemilih PKS.

Masih sedikit mengulas dari analogi bisnis, siapapun yang pernah belajar teori-teori bisnis, menjadi pebisnis atau bekerja dalam sebuah perusahaan di mana posisinya bersentuhan langsung dengan aspek bisnis perusahaan tersebut, pasti tahu bahwa kompetisi adalah sebuah ‘cost’, yang kalau bisa dihindari. Bisa kita lihat, bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi besar umumnya adalah perusahaan yang bisa menghindari persaingan, entah dengan cara menggunakan fasilitas monopoli atau menjual sebuah produk/servis yang inovatif sehingga tidak ada yang menyamai. MNC-MNC telco kelas dunia, biasanya berangkat dari monopoli dari negara. MNC-MNC software kelas dunia, biasanya berangkat dari inovasi. What so ever, mereka berhasil menghindari persaingan dan tumbuh besar. Tentu tidak secara instan, tetap butuh proses.

Nah, dalam hal ini, PKS sebetulnya sudah memiliki fitur menghindari monopoli itu. PKS sudah memiliki sebuah ciri khas, yang tidak melekat pada partai lain, yaitu sebagai partai dakwah. Partai yang didirikan sejak awal sebagai wasilah dakwah. Sehingga menarik banyak perhatian publik yang masih mencintai dakwah. Di kalangan kader senior PKS, sudah mahfum mendengar bahwa suara PKS pada tahun 2004 sebagian adalah kontribusi swing voter dari PAN, orang-orang Muhammadiyah yang kecewa pada PAN dan figur pemimpinnya waktu itu.

“Tapi DOS, kalau mengandalkan suara orang yang cinta dakwah, kan gak banyak? Yang banyak justru orang berislam di KTP tapi dakwah ntar-ntar.”

Betul, harus diakui bahwa umat Islam yang berhaluan ‘tengah’ alias nasionalis justru lebih banyak ketimbang yang ‘kanan’. Tapi juga harus diingat, masuk ke dalam kancah perebutan suara ‘tengah’, berarti berebut suara dengan giant-giantyang sudah makan asam garam puluhan tahun, seperti Golkar dan PDIP, belum lagiraising star 2004, PD.

Dalam teori penyerbuan dengan pendaratan amfibi (marinir), seperti yang terlihat dalam perang dunia kedua (terutama Pacific Theater Operation), jumlah pasukan penyerbu harus paling tidak 4-5 kali jumlah lawan yang bertahan. Dalam bisnis, kalau ingin masuk ke pasar yang sudah dikuasai orang, harus memiliki modal sangat besar untuk mengubah persepsi masyarakat/pasar bahwa produk kita lebih baik daripada produk lawan.

Inti dari dua ilustrasi pada paragraf di atas adalah: kompetisi itu mahal, maka hindarilah kompetisi. Perluas dakwah, sehingga jumlah orang yang mencintai partai dakwah yang semakin banyak. Betul, itu butuh waktu dan sama sekali tidak instan. Seperti halnya MNC-MNC software raksasa yang kita kenal saat ini, atau seperti kanjeng Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dari mulai dakwah sampai futuh Mekkah perlu waktu 23 tahun, padahal di-backup penuh oleh Allah.

Tapi rupa-rupanya sebagian kalangan pengambil keputusan inti di PKS sudah tidak sabaran. Godaan berkilaunya kursi kekuasaan membuat sebagian sudah lupa bahwa dakwah itu bukan bisnis. Meskipun dalam sebagian hal bisa dianalogikan, terutama dari segi teori kompetisi, ada perbedaan krusial antara dakwah dan bisnis. Bisnis itu result oriented, apapun caranya asal untung, hajar bleh. Dakwah itu sangatprocess oriented, malah dalam dakwah result itu bukan urusan kita, urusan kita hanya berusaha/berproses dengan cara yang sudah digariskan oleh Allah dan RasulNya.

Ini yang harus selalu diingatkan kepada para pengambil keputusan di dalam PKS. Mudah-mudahan sebagian yang sudah mulai menyimpang dari garis dakwah yang lurus, kembali ke garis, bertobat atau diganti oleh Allah dengan kader lainnya yang masih lurus, dan insya Allah masih banyak di dalam PKS.

Wah, keasyikan nulis jadi kepanjangan. Silahkan nikmati tulisan akh Khairul. Untuk akh Khairul, jaazaakallahu khair. – DOS

Kebingungan Kader Partai-Dakwah
Dr.Ir. Khairul Fuad, M.Eng
Dosen FT-USU dan Univ.Tek.Petronas (UTP)

Assalamu’alaikum wr wb.

Saya termasuk dalam barisan floating mass, bukan anggota salah satu partai tertentu dan juga tidak berafiliasi kemanapun. Pemilu 1999 saya memilih PAN karena berharap banyak pada Amin Rais untuk membenahi bangsa ini. Pemilu 2004 saya tersedot pengaruh PK, juga dengan harapan yang sama dan mengamanahkannya pada PKS. Jelas sikap seperti saya ini bukan aneh dan merupakan sikap puluhan juta rakyat selain pemilih tradisional suatu partai tertentu. Mudah memahaminya. Bandingkan saja hasil dari 3 kali pemilu sebelum ini.

Menyimak dan mencermati keriuhan pergulatan pandangan dan pemikiran yang sedang berkembang di PKS-Watch, saya coba menawarkan sebuah ide yang diharapkan bisa menjadi jembatan. Ini hanya sekedar sumbangan pemikiran saja. Tak perlulah dipersoalkan ilmiah tidaknya, karena diluar text book thinking dan lebih mengandalkan pada logika awam dan common sense. Syukur-syukur ada yang bermanfaat, dibaca oleh kalangan pengambil keputusan di PKS, dan didiskusikan dikalangan internalnya. Mohon maaf bila ada hal-hal yang tak berkenan.

Pergulatan Pemikiran di PKS-Watch

Berpolitik dalam dakwah atau berdakwah dalam politik? Ini pertanyaan yang selalu muncul dan menjadi akar masalah, di antara masalah-masalah lainnya, yang mewarnai perdebatan di PKS-Watch. Gambaran sikap, perilaku, pemikiran dan pernyataan pimpinan, elit, dan aleg PKS tetap dimonitor, dinilai, diukur, dan dikaitkan dengan pertanyaan di atas. Terlihat jelas tampilan darah muda yang sedang bergejolak penuh semangat idealisme. Kritikan-kritikan tajampun muncul dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Berbeda-beda? Begitu penilaian saya. Namun secara garis besar dapat dibagi dalam dua kelompok.

Kelompok pertama adalah mereka yang lebih mengedepankan keteguhan pada misi PKS sebagai partai dakwah dan menempatkan dakwah sebagai panglimanya. Sepintas tak ada yang aneh dan memang sejalan dengan komitmen PKS. Hanya saja, kelompok ini tampak agak kaku, agak puritan dan memiliki pandangan tersendiri terhadap dunia perpolitikan. Kadang-kadang bersikap allergic terhadap suatu sikap politik yang sebetulnya umum dan biasa. Bahkan, suatu wilayah abu-abu pun bisa dipandang penyimpangan yang untolerable. Sikap pandangan kelompok ini diwakili oleh akh DOS sendiri dengan semangat pantang menyerah. PKS adalah partai dakwah yang nafasnya, geraknya, dan aktifitasnya have to be in line with the Islamic teaching and keep them going accordingly, firmly and unconditionaly. Begitulah kira-kira.

Kelompok kedua adalah mereka yang sehaluan dengan kiprah politik PKS terkini yang mengungkapkan target cita-citanya secara jelas dan terus terang leading to the ruling party, menjadi penguasa. Ini sama dengan logika dan orientasi partai politik secara umum. Karenanya, orientasi politik lebih dikedepankan ketimbang orientasi dakwah. Bahkan, bila perlu kerja dakwah ditanggalkan, atau menambah faham nasionalisme di PKS tanpa menghilangkan dakwah. Namun demikian, nilai-nilai islami masih menjadi acuan tegas kelompok ini. Seorang akh yang mengambil nama Zul dengan berbagai tanggapannya di blog PKS-Watch bolehlah dianggap mewakili kelompok ini. Kelompok ini begitu gencar, tak pernah mengalah dalam menyampaikan pandangannya. Many ways have to be applied to spread out and develop our ideology nationwide. Therefore, all missions have to be oriented to grab the power; being the ruling party is the main target. Barangkali di sekitar inilah penilaian saya memahaminya.

Kedua kelompok ini masih memiliki persamaan yang menyebabkan pergulatan pemikiran mereka tetap seru saling meyakinkan. Mereka sama-sama mencintai PKS, mengakuinya sebagai wasilah (tool) yang efektif, dan menempatkan ajaran Islam sebagai nilai yang harus dipedomani secara konsekwen. Penampilan hidup mewah,materialist, dan pemberhalaan apapun bentuk materialism, termasuk materialistic, di kalangan kader PKS adalah hal-hal yang sangat dibenci dan diperangi. Bilakah pergulatan pemikiran ini berakhir? Barangkali lebih tepat kalau pertanyaan ini ditujukan pada PKS.

 

Pentingnya Formulasi Partai Dakwah

Harus diakui bahwa strategi PK(S) memperkenalkan “partai dakwah” sebagai a specific political slogan, adalah sebuah ide yang brilian. Ini adalah pandangan saya sendiri, dan boleh jadi juga pandangan umum. PK(S) mungkin memberi makna lain. Di masa-masa awalnya, para kader PK cukup konsisten membumikannya sehingga sangat berkesan dan mampu menarik perhatian ummat. Pergulatan dua kelompok besar di PKS-Watch yang saya tengarai di atas, mengindikasikan bahwa ada persoalan mendasar di PKS yang berkaitan dengan istilah “partai dakwah”. Bila sebelumnya tidak muncul, itu karena PK (bukan PKS) masih bayi yang sedang belajar berjalan, dan semua kader belum mempersoalkannya. PKS hari ini sudah pandai berlari. Keinginan kuat meraih dan menggapai cita-cita dengan sesegera mungkin menjadi pelari nomor satu di Indonesia mulai diperlihatkan. Seakan-akan tak menyadari bahwa untuk menjadi pelari nomor satu itu membutuhkan banyak persyaratan. Kalau sekedar cita-cita, boleh-boleh saja. Namun bila sampai ke taraf ambisi, ini sama sekali tidak arif dan tidak realistis.

PKS mengembangkan pengaruhnya dengan rekrutmen dan kaderisasi anggota secara luas dan besar-besaran. Kalangan muda dan terpelajar menjadi sasaran utamanya. Selain berkewajiban memikul beban partai, setiap kader juga dibebani kewajiban dakwah. Sebuah sistem didisain sedemikian rupa sehingga lapisan yang lebih bawah dipaksa “patuh dan nurut”, sami’na wa atho’na, kepada lapisan di atasnya bagaikan menganut sistem komando.

Sepanjang masih berjalan sesuai dengan perinsip dan nilai-nilai dasar yang dianut partai, apapun kebijakan yang dimunculkan masih bisa diterima dan diyakini kebenarannya oleh para kader. Tetapi, bila dirasa mulai menyimpang, mudah diramalkan bahwa akan timbul pergesekan seru yang pada gilirannya bisa bergesekan dengan ummat. Dalam pandangan saya, ketidak-jelasan konsep “partai dakwah” memang memiliki potensi luar biasa sebagai sumber pemicu perpecahan.

Sangat wajar sekali bila setiap kader akan menaruh perhatian besar pada kiprah partai, kebijakannya, pemikirannya, pernyataan aleg-aleg yang tersebar dalam mass media serta akrobat politik yang dilakukannya. Bahkan, kehidupan pribadi aleg-alegnya pun akan masuk kedalam fokus perhatian dan penilaian. Inilah resiko sebagai partai dakwah yang dikembangkan PKS dan terciptanya kader-kader militan dan puritan.

Para kader inipun, sebatas wawasan dan pengetahuannya, mencoba menilai kebijakan politik partai dan aktifitas politisinya melalui “teropong dakwah” yang dimilikinya, yang berbeda-beda ukuran antara seorang kader dan kader lainnya. Apa yang terjadi? Perselisihan pendapat yang tajam saat ini merupakan buah hasil tanaman “partai dakwah” yang tanpa konsep jelas. Perbedaan pendapatpun kini berkembang di kalangan internal PKS, dan saya yakini cukup tajam dan akan semakin menajam. Berita-berita yang beredar tentang hengkangnya sebagian kader, terdepaknya kader-kader potensial, adalah berita-berita yang bisa diterima dan sangat masuk akal.

Bisa difahami kesulitan PKS mengeliminasi perselisahan yang berpangkal pada ketidak-samaan pemahaman tentang “partai dakwah”. Karenanya, rumusan dan tafsiran yang jelas dan dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk kongkrit menjadi sebuah tuntutan yang harus segera dipikirkan oleh PKS. Naskah legalnya akan menjadi rujukan formal setiap kadernya dalam menjalankan aktifitas “politik” dan “dakwah”.

Kata “Partai Dakwah” seharusnya difahami memiliki dua buah pengertian yang saling terkait tak terpisahkan bagaikan sebuah koin dengan dua sisi; “partai” dan “dakwah”. Aktifitas politik partai, bagaimanapun juga, misinya adalah menyebarkan ideologi dan cita-citanya ke seluruh bangsa dan teraplikasi dalam kehidupan. Partai dan politisinya harus teguh dan konsisten mengikuti prinsip dan nilai-nilai dasar yang dianut. Bisa difahami bila seluruh daya dan upaya dikerahkan untuk mengarah ke satu target utama yang bermuara ke what so called the ruling party. Ini lazim dan berlaku umum bagi semua partai politik. Dalam hal lain, aktifitas dakwah (tarbiyah islamiyah) adalah penyiaran ajaran Islam ke seluruh masyarakat (muslimin) yang bertujuan untuk peningkatan kualitas ilmu, iman, dan taqwa. Dakwah tetap dijadikan “panglima” yang mengambil posisi “berdakwah dalam politik”, yang berperan menciptakan kondisi ke arah baldatun thayyibatun wa robbun ghafur.

Partai dan Dakwah yang menyatu dalam slogan “partai dakwah”, haruslah memiliki tampilan yang jelas dan dikenali secara tegas. Keterkaitan keduanya dalam tubuh PKS adalah bahwa segala aktifitas politik haruslah sejalan dengan nilai-nilai Islam, atau yang tidak bertentangan, dan senafas dengan strategi dakwah yang dikembangkan. Naskah misi partai yang secara implisit dicantumkan dalam ART Bab II pasal 3 tentulah tidak cukup karena hanya memuat kaedah-kaedahnya saja. Diperlukan konsep yang mampu menjelaskan secara detail pengertian-pengertiannya dan contoh-contoh aplikasinya di dalam kehidupan nyata. Contoh-contoh ini pastilah berkembang mengikuti realitas kehidupan dengan segala macam persoalannya yang kemunculannya tak teramalkan ketika menyusun konsep. Karenanya, contoh-contoh haruslah senantiasa di-update.

Barangkali, perlu diciptakan istilah “kader partai” dan “kader dakwah” yang terpisah secara jelas dan tegas dalam kiprahnya namun tetap memiliki keterkaitan. Pengembangan kedua potensi kader ini haruslah dilakukan secara terpisah. Perlu juga diperkenalkan sebutan tambahan bagi yang memenuhi syarat keduanya sebagai “kader partai-dakwah”.

Rekrutmen kader partai sebaiknya dilakukan penuh kehati-hatian. Tarbiyah Islamiyah dan tarbiyah politik partai secara intensif dilaksanakan dengan mengambil tempat tertentu (markaz ataupun mesjid yang dibangun oleh PKS) dan tidak boleh dihadiri oleh bukan anggota. Pelaksanaan pengajian (tarbiyah Islamiyah) yang dilakukan di rumah anggota ataupun di mesjid umum dikhawatirkan bisa memancing munculnya pandangan negatif masyarakat di sekitarnya.

Struktur terbawah dari “kader dakwah” adalah kader-kader pilihan yang sangat potensial dan akan bersentuhan langsung ke masyarakat luas dalam mengembangkan tugas dakwah. Semua atribut partai ditanggalkan oleh kader dakwah ini dan tidak diperkenalkan kepada jama’ahnya. Aktifitas dakwah kembali sebagaimana program tarbiyah dilaksanakan sebelum kemunculan PK dahulu. Namun, kader ini tetap anggota resmi PKS dan dibekali kemampuan “seni khusus” yang sangat samar dan dikeluarkan hanya pada saat-saat diperlukan saja.

Kalau ide ini diterapkan, PKS terpaksa harus menilai kembali kebijakan rekrutmen jor-joran yang selama ini dilakukannya. Mungkin saya salah. Menurut penilaian saya, realitas pola rekrutmen yang dikembangkan PKS dengan mencampur-aduk partai dan dakwah, pada tingkat tertentu menjadi kontra-produktif dan menimbulkan pergesekan di kalangan ummat sendiri yang menerima pluralisme dalam faham agama.

Mengakhiri tulisan ini ada beberapa pertanyaan mendasar yang diajukan kepada PKS. Kepada siapakah sebenarnya perjuangan anda ditujukan? Apakah mereka wajib memahami anda atau sebaliknya? Pertanyaan pertama dan kedua ini dilontarkan karena akhir-akhir ini PKS terlihat sangat asyik dengan keinginan-keinginannya sendiri. Lupa bahwa yang membesarkannya adalah ummat yang mayoritasnya belum tersentuh dakwah, yang mungkin memiliki keinginan berbeda, dan bisa hilang simpatinya PKS. Lalu, bisakah “kita” sefaham mengapa Allah tak mengabulkan do’a Nabi SAW tentang persatuan ummatnya? Pertanyaan terakhir ini bisa dijadikan dasar untuk membangun kesefahaman tentang pluralitas manusia secara umum, dan juga pluralitas di dalam tubuh ummat Islam itu sendiri.

Wallahu a’lam.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: