Sorotan seorang konstituen: Kegamangan PKS dan Pudarnya Harapan


Pengantar DOS

Alhamdulillah, saya mendapatkan lagi sumbangan tulisan dari simpatisan PKS yang memiliki keprihatinan yang sama, dari akhina fadhil Dr. Khairul Fuad, yang saat ini sedang tinggal dan bekerja di Malaysia. Seperti tulisan-tulisan lainnya di blog ini, tulisan beliau juga berangkat dari keprihatinan atas kiprah dan langkah PKS belakangan ini. Mengapa harus prihatin? Karena di bawah sikap prihatin tersebut, ada sebuah dasar rasa cinta terhadap jamaah dakwah ini. Rasa cinta yang sedemikian besar, sehingga tidak cukup hanya dimanifestasikan dengan cara memilih PKS pada waktu pemilu, tapi juga tetap mencermati dan mengamati sepak terjang partai ini.

Saya berharap, PKS tidak lagi menganggap remeh suara konstituen yang bukan kadernya langsung, atau kalau istilah Dr. Khairul, belum tersentuh dakwah PKS secara langsung, atau menjadi kader PKS. Harus diingat sebuah fakta bahwa mayoritas konstituen PKS yang saat ini membuat PKS menjadi besar adalah non kader, atau belum tersentuh dakwah PKS secara langsung. Kalau kita mau bicara dengan data, kita bisa dapatkan sebagai berikut (pada pemilu 2004):
– Jumlah kader PKS: 300.000 orang [1]
– Jumlah konstituen PKS: 8.325.020 [2]

Jadi sebanyak 96,37% dari konstituen PKS adalah non kader. Boleh dibilang PKS adalah sebuah perusahaan publik. Sebagai perusahaan publik, maka transparansi dan akuntabilitas kepada publik adalah sebuah keharusan, tidak bisa dianggap remeh. Tidak bisa PKS bertindak seperti perusahaan privat yang keputusan-keputusannya ditentukan beberapa orang, dan sama sekali tidak dibuat transparan kepada publik.

Mungkin tidak perlu semua hal harus dijelaskan, nanti konstituen pada komentarcapee deh. Tapi paling tidak untuk beberapa keputusan kontroversial ya alangkah eloknya kalau dijelaskan secara gamblang dan transparan.

Kalau tidak transparan, mana mungkin orang disuruh tsiqoh, ada-ada saja. Mungkin buat 300.000 kadernya tsiqoh tidak masalah, karena sebagian besar kader itu sudah terbina untuk manut katut pada apapun keputusan qiyadah, mau seaneh apapun. Tapi sebagian terbesar konstituen lainnya kan tidak terlatih untuk mengabaikan logikanya begitu saja demi manut katut itu. Trus gimana dong?

Minimal PKS sudah harus mendengarkan publik secara langsung. Lho, sekarang kan sudah ada program ‘PKS Mendengar’? Kalau saya sih ya alhamdulillah saja, meskipun sayangnya kok baru sekarang, sehingga muncullah keskeptisan seperti pada tulisan sebelumnya. Apalagi terang-terangan PKS menyatakan bahwa program ‘PKS Mendengar’ itu untuk mendulang angka 20%, wadduh… niatnya saja sudah ketahuan sedikit agak kurang tulus. Ah… tapi mudah-mudahan tulus sih.

Yang terbaik untuk PKS adalah kembali konsisten kepada rel-rel nilai dakwah yang lurus, menjadikan politik hanya sebagai salah satu wasilah dakwah, bukan menjadikan dakwah sebagai wasilah politik. Untuk al-akh Dr. Khairul Fuad, jaazaakallahu khairan katsira. Beliau bisa dihubungi pada alamat email: khairulfuad78 AT yahoo DOT com. – DOS

Sorotan seorang konstituen
Kegamangan PKS dan Pudarnya Harapan

Dr.Ir. Khairul Fuad, M.Eng
Dosen FT-USU dan Univ.Tek.Petronas (UTP)

Assalamu’alaikum wr wb.

Sebagai seorang konstituen PK(S), berasal dari keluarga besar yang mayoritasnya juga konstituen PK(S), saya memiliki perhatian yang cukup tinggi untuk memperhatikan, mengamati dan menilai kiprah serta perkembangan partai ini. Simpati serta harapan saya demikian dalam dan besar pada partai ini walaupun belum tersentuh langsung oleh dakwahnya. Saya rasa mayoritas konstituen PK(S) yang menjatuhkan pilihannya pada partai ini dalam dua pemilu sebelumnya, adalah pemilih yang belum tersentuh dakwah partai ini secara langsung. Mudah kalkulasinya, berapa persen individu masyarakat yang tergarap dan berapa persen pula suara yang dihasilkan. Mudah-mudahan bisa disadari oleh setiap kader partai ini untuk lebih memperkuat motivasi, kewaspadaan, dan komitmen perjuangannya.

Tahun 2009 makin dekat dan semakin mendekat. Perkembangan kiprah PKS akhir-akir ini terasa agak menjauh dari misi awalnya. Terlihat kegamangan berpolitik di tingkat elit, baik pusat maupun daerah, yang menggoyahkan konsistensi perjuangannya, yang tidak seteguh PK dulu. Walau dinilai belum menyimpang jauh, tetapi gelagatnya cukup mengkhawatirkan. Sebagai salah seorang konstituennya, saya mewajibkan diri mengingatkan melalui forum ini, paling tidak menurut pandangan saya yang subjektif.

Sengaja saya beri judul agak tajam dengan harapan mampu menyengat dan menggugah kesadaran. Agak panjang sedikit tulisan ini, tapi bagi saya masih terlalu singkat dan tidak mendalam. Rasanya tidaklah lengkap membincangkan PKS saat ini tanpa menyinggung masalah yang dihadapi bangsa ini lebih dulu dan kiprah sebelumnya (PK). Keduanya saya ulas sedikit sebagai bahan memahami persoalan. Tulisan ini sekedar sharing ide dan opini namun penuh harapan agar menjadi pertimbangan untuk memperbaiki citra dan performance PKS.

Bangsa yang Dirundung Malang

Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa manusia Indonesia saat ini adalah insan yang terpuruk dan menderita sepanjang sejarah kehidupannya. Kemerdekaan yang direbut dari bangsa penjajah hanya memberi janji dan harapan kecerahan masa depan yang sampai saat ini masih jauh dari jangkauan. Lebih setengah abad berlalu sejak kemerdekaan diproklamirkan, bangsa ini masih terus bergulat, babak-belur jatuh-bangun, mengatasi berbagai persoalan kemiskinan, kesehatan, dan keterbelakangan pendidikan yang merupakan masalah kebutuhan dasar kehidupannya.

Posisi bangsa Indonesia di masyarakat internasional juga menempati posisi kelas bawah dari banyak sisi kehidupan. Ini bisa difahami bila mengacu pada nilai Human Index Development yang menempatkan bangsa kita pada urutan 115 dari 190 anggota PBB. Indonesia juga diposisikan pada urutan ke-5 di dunia sebagai bangsa jagoan pengamal korupsi, dan di urutan ke-2 untuk tingkat Asia. Akan halnya pendidikan, di kawasan Asia Tengara saja kita berada di bawah Vietnam yang baru 3 dekade lalu membangun dirinya setelah selesai perang saudara yang saling menghancurkan. Cukup jauh tertinggal bila dibandingkan dengan Singapura dan Malaysia.

Nasib malang yang harus diderita bangsa ini ternyata masih belum cukup. Musibah malapetaka senantiasa datang silih berganti, sejak merdeka hingga saat hari ini. Terlalu panjang bila diceritakan. Mari kita persingkat dan batasi ingatan kita dengan menyimak urutan musibah yang melanda bangsa ini sejak tahun 1990-an saja. Ingat tsunami di Maumere dan gempa di Liwa Lampung? Luluh-lantak dan porak poranda. Itulah peristiwa musibah yang mengawali masa itu.

Mulai tahun 1997, ekonomi bangsa ini hancur berantakan. Krisis ekonomipun dimulai. Ribuan perusahaan bangkrut jatuh bergelimpangan, puluhan bank-bank tutup. PHK sana-sini, angka pengangguran pun mencapai 35%. Pembangunan pun langsung berhenti. Akibatnya? Kejahatan kriminal marak di sana-sini. Kehidupan berbangsa dan bernegara mengalami krisis; ekonomi, hukum, politik, dan keamanan, semua tak berjalan sebagaimana mestinya. Lebih celaka lagi kejahatan yang dilakukan para pemimpin dan pengusaha durjana yang menjarah harta negara ratusan trilyun rupiah dengan memanipulasi program BLBI. Begitu parah dan menderitanya bangsa ini. Semakin parah karena terjadi pertumpahan darah di Aceh, saling bunuh di Ambon, di Kalimantan, di Poso, juga di Papua. Ratusan ribu nyawa melayang. Cukupkah sudah? Ternyata belum juga berakhir musibah yang menimpa kita.

Yang sangat dahsyat, semoga tak terulang lagi, ratusan ribu tewas disapu badai tsunami di Aceh dan Nias akhir tahun 2004. Lalu, disusul dengan batuknya gunung-gunung dan mengeluarkan isi perutnya di Sumatera, Jawa, dan Indonesia Timur disertai dengan gempa yang meluluh-lantakkan rumah dan bangunan di sekitarnya. Nun jauh di sepanjang perut bumi, lempengan retak menggeliat melepaskan energinya, menggoyang permukaan bumi di berbagai tempat dan juga memporak-porandakan apa saja yang dibangun di atasnya. Hingga hari ini masih berlangsung.

Wabah penyakit juga datang silih berganti. Setelah penyakit pernafasan akut SARS, muncul demam berdarah. Belum lagi tuntas penyakit demam berdarah, berjangkit pula flu burung. Semuanya mengambil korban jiwa. Sementara itu, bangsa ini masih juga terbelit krisis ekonomi yang masih belum berkesudahan. Daya beli masyarakat semakin merosot akibat meningkatnya harga dan sempitnya lapangan kerja. Angka statistik PBB menyebut lebih 45% penduduk miskin dan pemerintah bertahan dengan angka 17%. Pemerintah juga terbelit hutang yang mencapai 1282 trilyun rupiah (2006). Sampai bilakah derita ini berakhir?

Indonesia, negeri yang dianugerahi kekayaan alam melimpah ruah dan bertanah subur namun penduduknya dibelit kemiskinan bagaikan ayam mati di lumbung padi. Eksploitasi kekayaan alamnya luar biasa namun tidak mampu mensejahterakan rakyatnya. Kerapuhan dan kelemahan pemimpin-pemimpin bangsa ini menyebabkan bangsa-bangsa lain merajalela menguras kekayaan alamnya sebagai “majikan” dan menjadikan bangsa ini sebagai “kuli” di negeri sendiri.

Pernahkah kita sadari kenapa bangsa ini terus menerus didera kepahitan hidup dan musibah silih berganti sambung menyambung tiada henti? Terlalu banyak analisis dan alasan yang bisa diketengahkan. Sebagai ummat Islam, saya hanya merujuk dan haqqul-yaqin pada penjelasan Al-Quran. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.

“Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri”(Yunus: 44)

“Dan sungguh engkau akan mendapati mereka yang lupa diri menjadi yang serakus-rakusnya manusia terhadap kehidupan dunia, bahkan melebihi kerakusan orang-orang yang musyrik. Masing-masing mereka ingin diberi usia seribu tahun, sedangkan umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa/azab. Dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (Al-Baqarah: 96)

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong selain Allah” (Asy-Syura: 30 – 31)

“Dan berapa banyak negeri yang penduduknya durhaka terhadap perintah Tuhannya dan RasulNYA, maka Kami membuat perhitungan dengan mereka dan Kami azab mereka dengan azab yang mengerikan. Maka mereka merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Dan akibat dari perbuatan mereka adalah kerugian yang sangat besar” (Ath Thalaq: 8 – 9)

Gambaran keadaan semrawut bangsa kita, kesalahannya, kekeliruannya, dan akibat-akibat buruk yang dirasakannya, cukup jelas bisa difahami dari ayat-ayat di atas. Saya mengetepikan analisis lain. Semua problema bangsa ini berakar dari persoalan kemerosotan akhlak dan rusaknya akidah yang telah melampaui batas.

Bangsa inipun menunggu-nunggu datangnya Sang Ratu Adil yang mampu memimpinnya keluar dari derita dan keterpurukan. Allah Yang Maha Kuasa jua penentu segalanya. Bangsa yang berpopulasi besar ini masih belum mampu mencari dan memilih pemimpin yang diharapkan. Kelemahan bangsa ini dalam memilih pemimpin yang tepat, tidak dapat tidak, juga merupakan rekayasa Allah SWT yang sama sekali merupakan rahasia yang belum bisa kita mengerti.

Partai Keadilan (PK) dan Secercah Harapan

Era Reformasi yang mengamandemen konstitusi negara kita telah merubah sistem ketatanegaraan dan kehidupan demokrasi. Ini memberi harapan kehidupan masa depan masyarakat dan bangsa yang lebih baik. Sistem multi-partai diperkenalkan, dan di antaranya muncul Partai Keadilan (PK) yang dipelopori oleh patriot-patriot pemuda Islam yang sangat teguh, terpelajar, tegar, konsisten, idealis dan memiliki semangat juang luar biasa.

Kemunculan pertamanya dalam pemilu 1999 sebagai partai yang sama sekali baru belum mendapat sambutan luas. Hal yang wajar sekali. Bagaimanapun juga, keterbatasan jumlah kader dan potensinya menyebabkan perjuangan dan kiprah PK kebanyakan tertumpu di kota-kota besar saja dan belum mampu menembus jauh sampai ke desa-desa. Begitupun, gaung perjuangan dan pengorbanan PK dalam kurun masa 1999-2004 semakin meluas diberitakan dan mampu menarik simpati dan kekaguman ummat sehinga menjadikannya sebagai partai harapan masa depan.

Mereka perkenalkan diri dan kiprah yang berbeda dari partai lain. Wajar dan memang seharusnya demikian karena Islam sebagai dasar ideologinya dan memproklamirkan diri sebagai partai dakwah. Contoh-contoh teladan perekrutan angota DPR(D) di kalangan PK, moral dan komitmennya membela rakyat semasa menduduki jabatan legislatif, benar-benar mencerminkan ketulusan sebuah partai dakwah. Benar-benar lain dari yang lain. Boleh dikatakan, kader-kader PK adalah kader pejuang yang militan. Mereka tak tertular wabah raswah yang biasanya melanda anggota legislatif. Mereka tak tergoda dengan kemudahan dan kenikmatan dunia yang memperdayakan kebanyakan anggota legislatif. Mereka berani menentang arus yang selama ini lebih cenderung berpihak kepada segelintir penguasa dan pengusaha tanpa mengutamakan kepentingan dan kemaslahatan rakyat banyak.

Perolehan suara yang kurang dari persyaratan angka threshold memaksa PK berganti baju menjadi PKS dalam menghadapi pemilu 2004. Alhamdulillah, PK(S) kini telah mendapat tempat di hati sebagian umat yang menaruh harapan (sangat) besar kepada kader-kadernya agar tetap istiqamah dalam posisi teladan sebagai agen perubahan bangsa menuju baldatun thayyibatun wa robbun ghafur. Melonjaknya perolehan suara PKS yang cukup signifikan pada pemilu 2004 bukanlah hal yang mengejutkan. Ini merupakan buah dari militansi kader-kadernya yang berjuang tulus tanpa pamrih dan tak kenal lelah melalui dakwah dan kinerja aleg-alegnya. Inilah masa-masa kegemilangan dan keberhasilan perjuangan PK, bukan PKS.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Kegamangannya

PK kini telah berganti baju menjadi PKS sejak pemilu 2004. Di saat-saat awal, PKS masih mampu menampilkan citra dan warna sebagaimana ditampilkan PK dahulu walau di sana-sini adakalanya muncul warna yang agak memudar. Saya sendiri memandang kiprah PK(S) dengan harap-harap cemas. Kecemasan saya sebenarnya telah muncul jauh sebelumnya. Sejarah panjang kesemrawutan bangsa ini dan tipikal manusianya yang saya kenali menyebabkan hati ini diliputi dengan harap-harap cemas. Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menjadi alasan.

    1. PK adalah partai yang dimotori oleh para mahasiswa dan sarjana yang umumnya masih muda belia, belum mempunyai tanggungan dan beban hidup yang besar, tetapi memiliki idealisme dan semangat luar biasa sebagaimana umumnya anak muda. Namun demikian, sejarah telah banyak mencatat bahwa idealisme anak-anak muda bangsa ini biasanya agak rapuh dan tak bertahan lama. Tekanan sosial (godaan duniawi) dan beban hidup biasanya dijadikan alasan pertama memudarnya idealisme. Euphoria kemenangan besar PKS bila tidak diwaspadai bisa memunculkan rasa besar kepala (overestimate), kacang lupa pada kulitnya. Hal seperti ini biasa ditemui dan menjadi alasan kedua pudarnya idealisme. Begitupun, saya hibur hati ini dengan menekankan bahwa PKS adalah partai dakwah yang kader-kadernya adalah para da’i yang berhubungan sangat dekat dengan Tuhannya. Sistem dan perangkat yang ada di PKS juga diharapkan mampu senantiasa menggembleng kadernya agar tetap istiqamah. Tetapi saya tak mampu mengetepikan kecemasan karena berapa banyak sudah para ulama dan ustad kita yang larut ditelan silaunya duniawi.

 

    1. Keberjayaan PKS dalam pemilu 2004, bagaimanapun juga, memaksa PKS merekrut aleg-alegnya yang kurang berkualitas karena memang kekurangan kader yang mumpuni untuk itu. Rekrutmen bukan kader juga terpaksa dilakukan. Hal-hal seperti ini dikhawatirkan akan memudarkan daya juang PKS menjalankan misinya. Lagi pula, kader yang sebelumnya menampilkan militansi daya juang yang menjanjikan, sebenarnya masih belum cukup teruji benar dan masih memerlukan proses pematangan, baik masa maupun tingkat tantangannya.

 

  1. Perubahan-perubahan situasi dan kondisi bangsa yang bergerak cepat dalam masa reformasi ini membutuhkan kesiapan lahir-batin para pimpinan PKS, elit dan kadernya. Selain persoalan otonomi daerah, pemilihan langsung presiden dan pilkada merupakan ujian yang sangat berat bagi PKS. Bagaimana peran PKS menyikapinya, ini akan sangat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadapnya. Kekurangan-matangan kader PKS dalam berpolitik dan kelemahan wawasannya dalam menilai keadaan menyebabkannya akan mudah terpeleset dan blunder.

Apa yang menjadi kekhawatiran saya di atas, agaknya kini mulai muncul menjadi masalah di PKS, baik di pusat maupun di daerah-daerah. Beberapa sahabat yang bersimpati pada partai ini mulai mengeluhkan kekhawatirannya. Sambil bergurau, ada yang berkomentar “PK telah silap menambah namanya dengan Sejahtera. Kini orientasi kader PKS telah berubah, memperjuangkan kesejahteraan menjadi cirinya. Mulanya agak kikuk dan malu-malu, sekarang ini sudah ada yang malu-maluin”. Bukan, bukan semuanya, dan bukan pula sebagian besar. Tetapi kecenderungan ke arah ini makin kentara dan perlu segera disikapi dengan tegas agar PKS tetap konsisten pada jalur misi perjuangannya. Banyak bukti yang bisa diceritakan, tetapi lebih baik tidak diungkapkan disini.

Riuhnya pilkada di berbagai daerah hingga saat ini, baik di tingkat provinsi maupun kota/kabupaten, meningkatkan suhu politik, gejolak dan manuver-manuver partai yang tidak hanya melibatkan pengurus wilayah/daerah tetapi juga campur-tangan pusat. PKS juga tak terlepas dari kondisi ini. Ketika seorang sahabat meminta pendapat saya tentang keterpurukan PKS hampir di setiap pilkada, saya katakan “Alhamdulillah, Allah masih sayang dan melindungi PKS. Tak terbayangkan bagaimana ngerinya bila calon yang didukung PKS itu menang. Memang ada beberapa di antaranya yang boleh dipercaya, ini harus dipandang sebagai tarbiyah agar PKS lebih gigih lagi meningkatkan potensi dan kerjanya”.

Sangat mengherankan, bagaimana kader-kader PKS dan pimpinannya bisa begitu lalai dan terkesan sembrono menghadapi pilkada. Tentu saya tak tau kalau ada garis-garis tujuan dan misinya yang telah berubah. Tapi saya yakin tidak berubah. PKS kini dinilai tak begitu selektif memilih siapa yang pantas diusung dan siapa yang tidak. Juga tidak begitu selektif memilih partner untuk dicalonkan. Begitu mudah PKS mencalonkan orang yang sudah demikian dikenal luas reputasinya yang sangat meragukan. Menyeleksi pemimpin yang jujur, amanah dan cerdas, tampaknya merupakan kelemahan PKS saat ini. Kemampuan dukungan finansial terlihat jelas menjadi faktor yang lebih dipertimbangkan.

Memang, corak dan langgam dunia perpolitikan negeri ini menempatkan faktor tersebut sebagai keutamaan. Seharusnya PKS berperan memberi contoh dengan menampilkan keyakinan akan kemaha-kuasaan Tuhan dalam menentukan kehidupan ini. Sejarah Rasulullah dan para sahabat bisa dijadikan bukti dan rujukan. Disadari atau tidak, kelemahan ini bisa berakibat sangat fatal karena bertentangan dengan misinya sendiri.

Pilkada dan pernik-perniknya ternyata ujian dahsyat yang mampu mengubah orientasi kader PKS dan melemahkan militansi daya juang yang selama ini dibanggakan. Agaknya ambisi memenangi pilkada lebih mempengaruhi daripada menjalankan misi dengan teguh. Cukup ketara terlihat bagaimana gamangnya PKS dan salah-tingkah menghadapi pilkada di berbagai daerah. PKS tak sekuat dan seteguh PK. Kegamangannya menyebabkan mudah terseret arus yang menenggelamkan. Alhamdulilah, barangkali kegagalan dalam sebagian besar pilkada merupakan pertolongan Allah menyelamatkan PKS.

Dalam menghadapi pemilu 2009 mendatang, secara terbuka PKS telah mencanangkan dan menggembar-gemborkan target perolehan suara 20%. Sungguh, berita ini sungguh mengejutkan dan menjadi pertanyaan besar di kalangan konstituennya sendiri. Tidakkah ini keliru? Saya pernah mengingatkan seorang petinggi PKS yang juga aleg dari Senayan dalam sebuah forum pertemuan antara beliau dan kader-kader plus masyarakat Indonesia di Kuala Lumpur awal tahun lalu. Tidakkah ini akibat euphoria yang menyesatkan? Bagi partai lain, target-targetan ini hal biasa, tapi bagi partai dakwah ini suatu penyimpangan akhlak pada khaliqnya. Menang-kalah bukanlah urusan kita, tetapi urusanNYA. Kewajiban kita adalah berusaha sebaik mungkin. Yang baik menurut kamu belum tentu baik, yang buruk menurut kamu belum tentu buruk. Bukankah begitu pesan Allah? Lalu, Allah tak akan pernah membebani di luar kemampuan kita. Saya mungkin salah. Seharusnya do’a kita berupa permohonan agar diberi petunjuk, kekuatan, dan kemenangan yang diridhai yang sepantasnya dan sesuai dengan kemampuan PKS mengemban tugas ke depan.

Adalah keliru bila Jakarta dijadikan barometer dalam menilai PKS. Keberjayaan di Jakarta hanya bisa dijadikan stimulant bagi daerah-daerah. Namun tetap harus diakui, keterbatasan kemampuan pusat dalam mengkader daerah masih jauh dari yang diharapkan. Selain keterbatasan tenaga, kelemahan potensi kader di daerah juga menjadi penyebabnya. Karenanya, selain target kemenangan pemilu 2009 dianggap penyimpangan, juga sangat tidak realistis.

Bila seandainya Allah kabulkan kemenangan 20% merata di seluruh Indonesia kelak, apakah PKS telah menyiapkan kader-kader bermutunya untuk menjadi aleg? Saya rasa PKS masih belum siap, terutama di daerah. Bila itu terjadi, rekrutmen aleg dan seleksinya terpaksa tidak seperti yang diharapkan. Misi dan perjuangan PKS pun akan memudar dan mungkin sekali berganti warna. Akibatnya? Kepercayaan masyarakat pun akan hilang pada pemilu berikutnya. PKS pun akan menjadi bahan olokan dan ditinggalkan, baik oleh simpatisannya maupun kadernya sendiri.

Isu yang berkembang akhir-akhir ini semakin menambah bingung konstituennya yang jumlahnya cukup banyak dari kalangan terdidik dan cerdas. Pernyataan menjadi partai terbuka, berkoalisi dengan PDIP dan Golkar, merupakan di antara pernyataan petinggi-petinggi PKS yang susah difahami dan membingungkan. Merujuk ke dasar ideologinya, PKS bukanlah partai terbuka, tetapi exclusive party yang hanya memperkenankan ummat Islam Indonesia sebagai kadernya. Bagaimana mungkin seorang kader PKS non-muslim mengemban tugas dakwah dan tarbiyah Islamiyah? Saya rasa, PKS harus mengamandemen AD/ART-nya lebih dulu agar bisa mengakomodasi kader-kader non-muslim. Bila itu dilakukan, atribut partai dakwah menjadi kenangan masa lalu, dan PKS-pun berubah sama seperti partai-partai lainnya.

Koalisi dengan PDIP dan Golkar pada pandangan saya adalah koalisi sulit dan sangat terbatas. Ambisi kedua partai yang nota-bene lebih besar dan kuat, tentu memiliki bargaining position yang lebih unggul dan akan menawarkan ruang-ruang sempit yang tidak efektif bagi PKS. Bagaimanapun juga, PKS harus bisa menyadari keberadaan dan posisinya yang masih belum establish, belum mapan, dan masih dalam tahap proses pematangan dan pendewasaan. Proses ini mestilah sejalan dengan waktu dan potensi yang dimiliki. Kenapa tidak belajar dari pengalaman Turki?

Lagi-lagi, mungkin ini pengaruh dari euphoria yang tanpa disadari menimbulkan sikap overestimate. Dampaknya adalah kegamangan PKS memposisikan dirinya di tengah percaturan politik bangsa. Mengambang tak berjejak. Di satu sisi ingin seperti partai lainnya dan di sisi lain harus mempertahankan citra sebagai partai dakwah. Seolah-olah PKS telah kehilangan orientasi dan pegangan. Seakan-akan peran Tuhan telah dikesampingkan dan lebih mempercayai kemampuan nalarnya yang lemah. Na’uzubillahi min zalik.

Last but not least. Just a kind reminder. Kembalilah ke pangkal jalan. Belajarlah dari kehidupan dan pengalaman PK. Bila PKS sama teguhnya seperti PK dulu, insya Allah, rakyat akan berbondong-bondong mendukung, Allah akan tambahkan kecerdasan dan tingkatkan potensi kader-kader PKS di segala lini. Pada gilirannya, PKS mampu menggiring bangsa ini terlepas dari derita dan keterbelakangan.

“…Apabila engkau bersyukur, niscaya Aku tambah nikmat bagimu, dan apabila engkau ingkari, maka siksaku amat pedih” (Ibrahim: 7)

“Dan sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Al-A’raf: 96)

Wallahu a’lam bishshawab.

Referensi/Catatan:
[1] Website PKS DKI Jakarta – Partai Keadilan Sejahtera, http://www.pks-jakarta.or.id/index.php?module=pagesetter&func=viewpub&tid=4&pid=4. Catatan tambahan: dari arsip di PKSWatch versi 1 mencatat jumlah kader PKS adalah 300.000 orang, yang dikutip dari situs PKS Online per tanggal 7 November 2005 (http://pk-sejahtera.org/kaderisasi.php). Saat ini link tersebut sudah invalid.
[2] Website KPU – Pemilu 2004, Hasil Perhitungan Suara, http://www.kpu.go.id/suara/hasilsuara_dpr_sah.php

Advertisements

  1. #1 by Jubah Fesyen on August 16, 2013 - 6:13 pm

    Saya agak cerewat dalam menerima pendapat…

    tapi setelah membaca karya nie… saya rasa … saya perlu bersetuju
    dengan awak… tahniah atas persembahan idea yang menarik…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: