PKS Mendengar, Sekedar Citra atau Amal Nyata?


Pengantar DOS

Sumbangan tulisan dari al-akh Fauzan.sa. Beliau pertama kali mengirim empat hari yang lalu, yang ketika saya baca sepertinya sebuah tulisan spontan dalam waktu singkat, curahan isi hati -bukan kepala-, karena nadanya rada mirip dengan tulisan-tulisan awal saya pada blog PKSWatch versi 1. Namun demikian, isinya menarik, sebuah otokritik dari seorang jundi yang rada kecewa dengan inkonsistensi qiyadah jamaah dakwah belakangan ini, paling tidak begitulah yang saya tangkap.

Akhirnya saya sarankan untuk diedit terlebih dahulu, rupanya akh Fauzan tidak mampu mengedit tulisan itu, sehingga akhirnya dia memutuskan menulis ulang dan berharap mudah-mudahan ada nilai kebaikannya. Kalau saya perhatikan, meskipun isinya masih mengenai topik yang sama tapi nadanya sudah bukan lagi curahan isi hati tapi isi kepala, lebih cerdas dan rasional. Saya edit seperlunya sekedar untuk memperjelas.

Seperti halnya tulisan-tulisan lain di blog ini, tulisan ini juga berlisensi mengikuti standar Creative Commons Share-Alike Non-Commercial.

Untuk akh Fauzan, jaazaakallahu khairan katsira. – DOS

Baru-baru ini PKS meluncurkan program baru. PKS Mendengar namanya. Di Yogyakarta, program ini diluncurkan oleh Tim Pemenangan Pemilu Nasional [1]. Di Jawa Tengah, Pak Tifatul mengatakannya sebagai tahapan menuju raihan suara 20% [2]. Pada intinya, program ini bertujuan untuk menjaring aspirasi masyarakat secara langsung. Ribuan kader akan mengunjungi rumah demi rumah dalam pelaksanaannya.

Sekilas, program ini amat bagus. Tugas partai politik memang mewakili konstituennya. Mendengar merupakan bagian tak terpisahkan dari perwakilan. Menyalurkan merupakan bagian pelengkapnya. Tapi agak aneh memang jika melihat waktu pelaksanaan program ini. Setelah sekian lama, baru ketika jabatan para wakil rakyat hampir berakhir mereka baru mau mendengar. Lalu, kapan aspirasi ini akan disampaikan? Bahkan, sempatkah mereka memperjuangkannya menjadi kenyataan?

Selain itu, mendengar bukanlah watak PKS. Kita bisa mengamatinya. Ketika memunculkan sikap politiknya yang kontroversial, selalu saja para konstituen kesulitan untuk mengkritisinya. Simpatisan yang lumayan dekat dengan partai ini sudah sangat akrab dengan konsep tabayyun. Bahwa dia harus bertanya pada “jalur yang benar” sesuai dengan jenjang keanggotaannya. Selain itu, dia harus bisa menerima bayanat atau penjelasan atas sikap politik tersebut, sekalipun itu tidak memuaskan baginya.

Keadaan ini makin diperparah dengan doktrin syuro yang dipegang erat oleh kader-kadernya. Bahwa keputusan petinggi-petinggi PKS adalah ijtihad yang sudah melalui syuro dan telah dipertimbangkan dengan matang. Lebih baik setiap kader melaksanakan dengan ikhlas daripada mengkritiknya. Terlalu banyak kritik akan membuat seseorang sedikit beramal dan tidak produktif. Bahkan, pengurus DPC yang sering tidak paham pun rajin mencarikan alasan untuk bayanat yang juga tidak dipahaminya.

Dengan budaya yang seperti ini, bagaimana PKS akan mendengar? Hal ini jelas tidak sesuai dengan paradigma partai politik yang selama ini saya kenal. Dalam partai politik, seharusnya konstituen adalah yang paling berkuasa dan paling ditakuti. Partai hanya bertugas mewakili konstituen, menjalankan amanah mereka dan bukannya menguasai mereka. Sementara itu, PKS rajin mengabaikan pendapat-pendapat konstituen dan simpatisannya. Saya kira orang akan maklum kalau PKS menyelipkan kepentingan politik mereka di tengah-tengah agenda-agenda publik yang menjadi tanggung jawab mereka. Tapi meremehkan orang-orang yang diwakilinya jelas bukan sikap yang layak dari sebuah partai politik yang baik, apalagi yang mengklaim mengusung nilai-nilai dakwah.

Yang lebih mengejutkan adalah tujuan dari program ini sendiri. Jelas-jelas PKS menyatakan program ini dilakukan untuk meningkatkan raihan suara. Kita jadi susah membedakannya dengan kampanye sebelum waktunya. Dinamakan kampanye terselubung pun tidak bisa. PKS sudah membuka sendiri selubung mereka. Mungkin, kampanye sebelum KPU terbentuk memang tidak melanggar hukum. Tapi hal ini sepertinya memang lazin, karena tampaknya negara ini memang tidak mengenal etika politik.

Kampanye terselubung bukanlah satu-satunya keanehan dalam tujuan program ini. Menyatakan bahwa mendengar adalah untuk meraih suara sama saja terang-terangan mengaku berbohong sebelum melakukannya. Bagaimana orang akan percaya pada program ini? Bagaimana mungkin seseorang mau dimanfaatkan untuk kepentingan politik PKS begitu saja? Mungkin PKS hanya ingin citra program tersebut saja. Jika demikian, semuanya jadi masuk akal. Dengan citra positif bahwa PKS mau mendengar, raihan suara akan naik. Tapi, mengapa para petinggi PKS sampai keceplosan ngomong kalo ini bagian dari pemenangan pemilu? Mengapa TPPN ikut turut campur dalam peresmiannya? Bukankah seharusnya semua itu disembunyikan?

Sebenarnya, saya punya ide yang lebih baik untuk PKS. Ini lebih masuk akal daripada PKS Mendengar. PKS telah bersikap berbeda dari apa yang dijanjikannya pada Pemilu tahun 2004. Tentu saja banyak yang tidak puas dengan hal ini. Tidak masalah apakah substansi yang mereka lakukan itu halal atau haram. Yang jelas, mereka telah melanggar janji. Karena itu, lebih baik PKS meminta maaf secara terbuka dan mengubah sikap politiknya kembali seperti masa lalu. Hal itu terbukti disukai oleh rakyat sehingga suara mereka naik hingga 7%. Tapi, itu saja tidak cukup untuk meyakinkan para eks pemilih PK dan PKS. PKS harus berbenah diri secara internal untuk mendukung hal itu. Minimal, mereka yang diyakini banyak orang terlibat penuh dalam perubahan sikap politik PKS harus diganti. Hal ini akan mahal biayanya, sehingga tahun 2009 pun akan terlewati. Namun, saya yakin dalam jangka panjang hal ini lebih baik. Sayang, tampaknya PKS tidak pernah merasa salah atas tindakan-tindakan mereka. Saya pikir, ide ini mungkin hanya merupakan hal konyol bagi mereka.

Referensi/Catatan:
[1] Kedaulatan Rakyat – LAUNCHING ‘PKS MENDENGAR’, 1.500 Kader Inti Terjun Lapangan, http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=154808&actmenu=36
[2] PKS Online – Jelang 2009 Saatnya PKS Mendengar, http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4446

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: