Mukernas Bali: Selamat Tinggal Partai Dakwah?


arsip: pkswatch.blogspot.com

PKS akan melaksanakan Mukernas di Denpasar pada tanggal 1 s.d. 3 Februari 2008 [1]. Agaknya pemilihan tempat ini bukan tanpa alasan, atau sekedar hanya ingin jalan-jalan di Bali. Pemilihan tempat ini rupa-rupanya bagian dari sebuah niat, yang sudah tercetus secara eksplisit, niat yang akan diformulasikan secara tegas, untuk mengubah PKS menjadi partai terbuka atau berasaskan nasionalisme.

Sudah beberapa minggu yang lalu hal ini saya dengar, bahkan dua minggu yang lalu, saya mendapat SMS bahwa di berbagai media nasional di tanah air, Presiden PKS dan Sekjennya mengatakan bahwa PKS akan menggeser asas partai dari Islam menjadi nasionalisme. Terkejut, meskipun sedikit, karena kalau kita lihat ke belakang, sinyal ini sudah terlihat. Presiden PKS Tifatul Sembiring di sela-sela Rapimnas PKS 2007 di Hotel Putri Gunung, Lembang, Bandung, Rabu 29 Agustus 2007 menyatakan: “Kita akan ekspansi ke nasionalis dan sekuler yang segmen pemilihnya masih besar.”

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan.

Lebih lanjut beliau mengatakan “Lihat saja pemilu 2004, partai-partai yang menang kan yang nasionalis seperti Golkar, PDIP, dan Demokrat,” [2]. Bisa dibaca pada tulisan ‘Saya Memulainya Kembali‘, saya sempat menjadi hopeless terhadap PKS ketika membaca pernyataan Presiden PKS ini. Kemudian karena tidak terdengar lagi, saya sempat terpikir dan berbaik sangka bahwa mungkin itu hanya wacana saja. Ternyata saya salah, lagi-lagi harapan saya terhempaskan.

Situs resmi PKS mengutip artikel dari Republika, PKS Siap Jadi Partai Terbuka Bagi Nonmuslim [3]. Ketua Departemen Wilayah Dakwah NTB dan NTT PKS, Dwi Triyono SH mengatakan: “Dalam Mukernas, Majelis Syuro PKS akan bersidang, di antaranya membahas soal model PKS menjadi partai terbuka”. Bahkan tanpa basa-basi Dwi menambahkan: “Kami tidak malu-malu mengatakan kalau PKS ingin menjadi partai penguasa,”

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan.

Mantan ketua KAMMI yang juga wakil Sekjen PKS Fahri Hamzah mengatakan, “hal itu sebagai komitmen partai tersebut untuk menciptakan situasi yang damai dan menghindari lagi kekerasan seperti terorisme atas nama agama”. Secara tidak sadar Fahri baru saja membenarkan perkatan Taufik Kiemas, yang menyatakan bahwa PKS adalah contoh teroris berwajah politik. Dalam ceramahnya di Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapura, Taufik Kiemas menyinggung gejala sektarianisme sebagai ancaman serius dari nasionalisme dan pluralisme. Menurut Taufik, sektarianisme itulah yang telah memicu kelompok teroris. “Bila kelompok teroris membentuk kelompok tersendiri akan lebih mudah untuk menumpasnya, tapi kini kelompok teroris itu telah masuk ke dalam partai politik, sehingga sulit dideteksi,” ujar dia. Tanpa tedeng aling-aling, Taufik menyebut Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai contoh ‘kelompok teroris berwajah politik’ itu [4]. Hebatnya lagi, Taufik Kiemas diundang sebagai pembicara di dalam Mukernas itu [5].

Fahri menyatakan menjadi partai terbuka adalah untuk menghindari terorisme atas nama agama, pernyataan ini sekaligus menampar bantahan berbagai tokoh sebelumnya yang menyatakan bahwa tidak benar partai berbasis Islam menciptakan terorisme atas nama agama. Dari sekian banyak kasus terorisme beratasnamakan agama di Indonesia, tidak ada yang berasal dari partai politik resmi. Dituduh sebagai teroris tidak sama dengan melakukan terorisme. Menjelang pemilu 2004, Presiden PKS (waktu itu) Hidayat Nur Wahid juga sempat terkena cap terkait teroris dari PBB dan Amerika Serikat. Dalam wawancara dengan SCTV beliau menegaskan, “Perilaku sehari-hari adalah perilaku yang anti terorisme” [6]. Jadi tidak benar bahwa menggeser diri dari partai Islam menjadi partai terbuka, berarti untuk menghindari terorisme atas nama agama, karena terorisme atas nama agama tidak pernah berasal dari partai Islam resmi, sepanjang sejarah republik ini berdiri. Pernyataan Fahri itu sungguh sumir, sembrono, tidak patut dan betul-betul tidak senonoh.

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan.

Kembali kepada topik Mukernas, lebih lanjut Dwi mengatakan, “rencana menjadikan PKS sebagai partai terbuka, disebutkan Dwi sudah dibicarakan sejak lama, namun pelaksanaannya menunggu waktu yang tepat”. Berarti benar kekhawatiran saya atas pernyataan Tifatul Sembiring Agustus lalu, bahwa PKS akan menggeser diri menjadi seperti Golkar dan PDIP.

Buat para pembaca blog ini, yang sudah mengikuti blog ini sejak versi 1, mungkin masih teringat betapa para ‘pendukung PKS’ benci jika dikatakan bahwa PKS sudah mulai tidak kelihatan bedanya jika dibandingkan dengan Golkar dan PDIP. Mereka marah jika ada komentar yang menyatakan seperti itu. Bahkan pernah ada seorang kader inti di Jepang, yang menyatakan good bye tidak mau melihat blog ini lagi, karena ada yang berkomentar bahwa PKS mulai kelihatan seperti PDIP dan Golkar, beliau protes karena saya tidak menyensor komentar seperti itu. Bahkan dulu saya juga sering dituduh sebagai antek bayaran Golkar atau PDIP. Sekarang ternyata presiden partai dengan tegas menyatakan akan menggeser partai menjadi seperti Golkar dan PDIP. Singkatnya: kuantitas lebih penting ketimbang kualitas.

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan

Pernah disampaikan kepada saya, bahwa ketika dulu jamaah dakwah ini memilih menjadi partai, dengan konsep “Al hizb huwa al jama’ah, wal jama’ah hiya al hizb” atau partai adalah jamaah dan jamaah adalah partai [7], prinsip paling utamanya adalah: partai ini ibarat bis patas. Bis Patas, di mana penumpangnya terbatas, bukan bis umum ala Metro Mini yang ugal-ugalan di mana siapa saja yang mau naik akan diangkut, meskipun akibatnya bis over capacity dan jadi tidak karuan. Bagaimana menseleksi penumpang bis patasnya, ya dengan tarbiyah. Dalam perjalanannya, terutama setelah berganti baju dari PK menjadi PKS, entah karena betul-betul pertimbangan dakwah atau karena tersilaukan oleh pragmatisme politik, ‘bis patas’ PKS ini berubah menjadi bis umum yang ugal-ugalan. Penumpang tidak diseleksi lebih dahulu, siapa yang mau naik, bahkan sanggup bayar lebih, pasti ditampung, jika perlu dengan cara mendepak orang-orang yang sudah ada di dalam, yang berteriak agar bis tetap menjadi bis patas.

Seperti itukah contoh dakwah yang diperlihatkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam? Jika masih tetap ingin mengikrarkan diri sebagai partai dakwah maka contohlah cara dakwah dari sumber terbaik. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sudah mencontohkan pilar-pilar penting di dalam dakwah. Silahkan para pembaca membuka-buka lagi materi atau kitab-kitab Fiqih Dakwah. Saya akan membahas pilar dakwah yang terkait dengan topik ini, yaitu ilmu, prioritas, kesabaran dan tauladan.

Di antara pilar-pilar penting di dalam dakwah adalah ilmu, mengetahui apa yang didakwahkan. Menguasai ilmu, tidak bisa dengan cara instan, tapi dengan proses panjang. Tidak bisa tiba-tiba ada jenderal polisi yang tidak pernah ketahuan riwayat tarbiyahnya tiba-tiba menjadi calon pemimpin. Omong kosong jika ilmu bisa didapatkan dengan cara ‘laduni’, dengan ilham, dengan waktu singkat, dlsb. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam yang diberi ilmu langsung dari Allah, memerlukan 23 tahun, demikian pula para generasi emas umat ini, para sahabat, tabi’in dan pengikutnya. Semuanya memerlukan proses panjang dengan tarbiyah yang intens.

Yusuf:108, Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.”

Pilar penting lainnya adalah prioritas. Prioritas terpenting yang sudah digariskan di dalam agama ini adalah perbaikan aqidah. Saya kutip beberapa dalil penting yang menyatakan hal ini.

An Nahl:36, Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.

Al Anbiyaa’:25, Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”

Imam Muslim rahimahullah di dalam shahihnya (kitab Al Iman) meriwayatkan sebuah hadits, sbb: Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: bahwa ketika Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam mengutus sahabat Muadz radhiyallahu ‘anhu ke Yaman, beliau bersabda: Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Maka jadikanlah hal pertama yang engkau seru kepada mereka adalah persaksian bahwa tiada sesembahan yang diibadahi selain Allah. Jika mereka sudah melaksanakan itu, maka ajarkanlah bahwa Allah mewajibkan shalat lima kali sehari semalam kepada mereka. Jika mereka sudah melaksanakan itu, maka suruhlah orang-orang kaya mereka membayar zakat yang akan didistribusikan kepada yang membutuhkan. Jika mereka sudah berserah diri terhadap perintah itu, maka pungutlah zakat dari mereka dan hindarilah godaan untuk mengambil yang terbaik dari kekayaan mereka [8].

Jelaslah, di dalam dakwah ada prioritas. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam sudah menggariskan hal itu dengan sangat jelas. Al-‘Allamah Syaikh Yusuf al-Qaradhawi hafidzahullah menjelaskan di dalam kitab Fiqih Prioritasnya, bahwa di antara ukuran yang patut dipedomani untuk menjelaskan mana yang lebih patut dan utama untuk dipelihara, dan mana yang didahulukan terhadap yang lainnya adalah perhatian terhadap urusan yang menjadi perhatian Al Quran (Bab Meluruskan Pendidikan Umat Islam). Selain itu di dalam bab ‘Antara Kualitas dan Kuantitas’, beliau juga menjelaskan Islam mengajarkan bahwa kualitas umat lebih penting ketimbang kuantitas [9]. Beliau menulis, Al Quran mencela kelompok mayoritas jika para anggotanya terdiri dari orang-orang yang tidak berakal, tidak berilmu, tidak beriman atau tidak bersyukur.

Mursyid ‘Amm kelima Al Ikhwan Al Muslimun Syaikh Mushthafa Masyhur, menulis sebuah kitab yang sangat bermanfaat, yaitu Fiqh Dakwah, yang terjemahan bahasa Indonesianya diberi pengantar oleh ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah. Di dalam bab ‘Penyelewangan Dakwah Yang Harus Dihindari’, as-Syaikh berkata, “Masih ada lagi satu penyelewengan yang dapat menjauhkan dakwah dari jalan yang benar, yaitu memandang enteng dan ringan terhadap peranan tarbiyah (pendidikan), pembentukan dan perlunya beriltizam dengan ajaran Islam dalam membentuk dasar dan asas yang teguh. Kemudian dengan tergesa-gesa kita mempergunakan cara dan uslub politik menurut sikap dan cara partai-partai politik. Kita akan mudah terpedaya dengan kuantitas angota yang diambil dan dianggap menguntungkan tanpa mewujudkan iltizam tarbiya. Inilah satu jalan dan cara yang sangat berbahaya, yang tidak dapat dipercayai hasilnya, dan tidak mungkin menelorkan anasir-anasir yang kukuh dan mampu memikul hasil kemenangan, kekukuhan dan kekuatan Islam.” [10]

Jadi Syaikh Mushthafa Masyhur memandang bahwa pementingan kuantitas ketimbang kualitas adalah sebuah bentuk penyelewengan dakwah. Mengapa dakwah bisa terselewengkan, beliau mengatakan bahwa faktor yang mendorong penyelewengan adalah kekosongan jiwa agama, di mana pemuda dibiarkan hanyut, kedangkalan pelajaran agama, tidak adanya tarbiyah, berkembangnya kerusakan akhlak dan anarkisme dan berleluasanya keraguan dalam aqidah.

Di dalam pengantarnya, ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah menjelaskan pentingnya konsistensi fikrah, pada point pertama beliau menjelaskan bahwa sifat jamaah yang patut menjadi rujukan umat adalah mengembalikan masyarakat kepada pemahaman yang jernih dan menyeluruh tentang Islam.

Jelaslah bahwa sikap PKS yang akan menggeser diri menjadi seperti Golkar dan PDIP ini adalah contoh nyata sebuah inkonsistensi terhadap fikrah. Padahal di dalam visi partai, dinyatakan, “Sebagai partai da’wah penegak keadilan dan kesejahteraan dalam bingkai persatuan ummat dan bangsa.” [11]

Kalau mau konsisten, sebagai partai dakwah, ya harus mengikuti semaksimal mungkin manhaj dakwah dari para nabi. Manhaj dakwah menjelaskan adanya prioritas. Jelas bahwa contoh yang mulia dari para nabi dan salafus shalih lebih mementingkan kualitas umat ketimbang kuantitas.

Di dalam misinya juga PKS menyatakan: “Menyebarluaskan da’wah Islam dan mencetak kader-kadernya sebagai anashir taghyir.” Anashir taghyir artinya agen perubahan ke arah yang lebih baik. Akan tetapi sebaliknya, Syaikh Mushthafa Masyhur jelas-jelas menyatakan bahwa cara tergesa-gesa mencari kuantitas tidak mungkin akan menelorkan anasir-anasir yang kukuh dan mampu memikul hasil kemenangan, kekukuhan dan kekuatan Islam. Terbukti, kelakuan aneh banyak qiyadah yang tiba-tiba berubah gaya hidupnya memperlihatkan ketidakkukuhan mereka memikul hasil kemenangan. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam berdakwah di Mekkah selama 13 tahun, dengan backup penuh dari Allah, pengikutnya masih berbilang orde ratusan. Mengapa PKS harus terburu-buru memperbesar diri, dengan cara-cara yang tidak lagi mengindahkan manhaj dakwah? Apakah tidak sabar? Ingin cepat berkuasa secara instan?

Padahal kesabaran adalah salah satu pilar dakwah penting lainnya. Jalan dakwah bukan jalan dengan karpet merah, tapi jalan yang penuh dengan duri. Berbagai contoh dakwah dari para nabi, salafus shalih dan para ulama umat ini membuktikan hal tersebut. Allah juga mengabadikan di dalam Al Quran, di antaranya:

Al An’aam:10, Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.

Al An’aam:10, Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. Tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.

Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya (kitab Al Iman) meriwayatkan sebuah hadits, sbb: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: [disingkat] di saat aku bersedih karena penolakan kaummu, malaikat penjaga gunung berkata kepadaku, wahai Muhammad, perintahkan aku apa yang kau mau, jika kau mau, aku bisa menimpakan gunung al Akhsyabain kepada mereka. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Jangan, janganlah terburu-buru. Semoga Allah mengeluarkan dari mereka segolongan orang yang hanya menyembah Allah semata. Tidak menyekutukanNya dengan suatu apapun. [12]

Saya memandang paradigma pergeseran ini sebagai bentuk paling nyata tentang sebuah sikap yang tidak istiqomah. Teringat kembali ketika ribut-ribut pembahasan RUU Anti Pornografi yang masih berlarut-larut hingga saat ini, Bali adalah daerah yang nyata-nyata menentang RUU itu. Gubernur Bali Dewa Made Beratha mengatakan tidak mungkin memberlakukan undang-undang itu di daerah pariwisata seperti Bali. Karena para turis tidak bisa berjemur dan bahwa ekspos seksualitas di Bali telah ada sejak zaman dulu kala, seperti terlukis pada relief-relief candi [13]. Saya tidak ingin tulisan ini melebar membahas topik tentang RUU itu, tapi mengingat bahwa PKS sangat gencar mengusung RUU ini, dan mengingat Bali juga sangat gencar menolak RUU ini, maka saya melihat bahwa pemilihan tempat Mukernas di Bali betul-betul sebuah pelecehan total terhadap nilai-nilai dakwah.

Agaknya niat qiyadah PKS untuk menggeser diri ini sudah matang, selain pemilihan tempat, juga pemilihan pembicara sudah memperlihatkan itu [5]. Yang diundang adalah Taufik Kiemas, Garin Nugroho yang menentang keras RUU Anti Pornografi yang diusung FPKS DPR [14], Try Sutrisno dan Dian Sastrowardoyo. Astaghfirullah, apa yang akan dijelaskan oleh seorang Dian Sastro di hadapan para syuyukh dakwah? Mudah-mudahan antum-antum bukan sekalian mau cuci mata ya ustadz kariiiim.

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan.

Yang lebih parah lagi adalah bahwa selama Mukernas, peserta juga mengenakan Udeng. Menurut Ketua PKS Bali, Heri Sukarmeini, “Kami sudah mendiskusikan pengenaan udeng itu dengan pemuka agama Hindu dan udeng bukan bagian dari agama, jadi hal itu tidak mencampuradukkan agama” [3]. Padahal, Udeng adalah simbol mengikat pikiran pada hari raya Nyepi [15]. Selain itu, Dwi Triyono juga menyatakan bahwa Udeng sebagai simbol adat dan budaya masyarakat Hindu Bali [16]. Jelas itu simbol masyarakat agama tertentu.

Padahal Imam Muslim rahimahullah sudah meriwayatkan sebuah hadits yang melarang kita berpenampilan menyerupai orang kafir, sbb: Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, selisihilah orang kafir, cukur kumis dan pelihara jenggot.

Kalau kita perhatikan, yang menjadi illat atau sebab hukum dari hadits tersebut adalah perintah untuk menyelisihi orang kafir. Banyak hadits shahih lainnya yang melarang kita menyerupai orang kafir. Saya sendiri, di tengah kelemahan saya, terkadang masih mencukur jenggot. Tapi untuk para syuyukh dakwah, konsistensi terhadap apa yang kita dakwahkan adalah sebuah keharusan, karena salah satu pilar dakwah lainnya adalah menjadi suri tauladan terhadap apa yang kita dakwahkan. Kita tidak boleh menyerupai orang kafir, apalagi dalam hal pemakaian simbol terkait agama. Naudzubillah.

Fabiayyi aalaa irobbikuma tukazzibaan.

Saya sudah melihat ini sebagai parade kemungkaran yang nyata. Untuk para kader dan simpatisan PKS, apa yang harus kita lakukan? Menurut saya cuma satu, lawan!

Imam Muslim rahimahullah di dalam shahihnya (kitab Iman) meriwayatkan sbb: Thariq bin Shihab radhiyallahu ‘anhu berkata: Adalah Marwan yang memulai praktek menyampaikan khutbah sebelum shalat Id. Seorang laki-laki berdiri dan berkata: “shalat (Id) harus mendahului khutbah.” Marwan menjawab: “telah ditinggalkan apa yang ada di sana.” Atas hal ini, Abu Said berkata: “orang ini sudah melaksanakan kewajibannya.” Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau masih tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [8]

Mencegah dengan tangan bukan hak kita, itu adalah hak penguasa, jangan dilakukan karena akan menimbulkan anarki. Karena itu, kita tidak boleh melakukan pencegahan dengan tangan. Yang bisa kita lakukan adalah mencegah dengan lisan atau tulisan. Jika ternyata kita tidak bisa, maka kita harus mencegah dengan hati, dengan cara berlepas diri dari kemungkaran ini. Ingat manhaj al wala’ wal bara’, di dalam menghadapi adanya keputusan yang mungkar, di mana kita terlibat di dalamnya, maka kita wajib berlepas diri, demi mengingkari kemungkaran. Ini adalah bagian dari aqidah salafus shalih, salah satunya dinyatakan di dalam Quran dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4, ketika Allah mengabadikan perkataan Nabi Ibrahim alaihisalam sbb (penggalan): “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu”

Selain itu, terlepas pula kewajiban untuk patuh pada pimpinan, jika mungkar. Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya (kitab Ahkaam) meriwayatkan sbb: Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: seorang muslim harus mendengar dan mematuhi perintah pemimpinnya terlepas dia setuju atau tidak, selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah, jika bertentangan maka dia tidak harus mendengarkan atau mematuhinya [12].

Akankah kita ucapkan, selamat tinggal partai dakwah? Hanya Allah yang Maha Tahu apakah eksistensi dakwah di Indonesia akan tetap tegak melalui PKS atau malah hancur. Sebagai makhluk kita hanya wajib ikhtiar. Tidak ada jaminan kita akan berhasil, tapi yang dijamin hanyalah apapun amalan yang kita lakukan, baik sebesar biji zarah sekalipun, tetap akan ada balasannya, dan balasan itu tergantung pula dengan niat dan keikhlasan kita.

In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
Our Lord! Cause not our hearts to stray after Thou hast 
guided us, and bestow upon us mercy from Thy Presence. 
For Thou art the Grantor of bounties without measure

(Ali Imran:8)

Referensi/Catatan:
[1] PKS Online: PKS Gelar Mukernas, http://pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4285
[2] Detikcom: Jelang 2009, PKS Lirik Massa Nasionalis dan Sekuler, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/08/tgl/29/time/143932/idnews/823310/idkanal/10
[3] PKS Online: PKS Siap Jadi Partai Terbuka Bagi Nonmuslim, http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4289
[4] Republika: Kegundahan Kaum Nasionalis, http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=307930&kat_id=16&kat_id1=&kat_id2
[5] PKS Online: PKS Gelar Mukernas di Bali, http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4260
[6] PIP PKS Jepang: Hari Ini Hidayat Nur Wahid Mencetak Sejarah Dunia, http://www.keadilan-jepang.org/arsip.php?page=berita&id=67
[7] Politik Da’wah Partai Keadilan, DPP Partai Keadilan, Jakarta, 2000
[8] Shahih Imam Muslim
[9] Fiqih Prioritas, Syaikh Yusuf al-Qaradhawi
[10] Fiqh Dakwah, Syaikh Mushthafa Masyhur
[11] PKS Online: Visi dan Misi, http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=110
[12] Shahih Imam Bukhari
[13] Gubernur: RUU Pornografi Matikan Pariwisata Bali, http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa/bali/2006/03/02/brk,20060302-74717,id.html
[14] Draf RUU APP Adalah Buah dari Sebuah Kemunafikan, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/03/tgl/16/time/163151/idnews/560066/idkanal/10
[15] Harian Kompas, Perayaan Nyepi, Pura Menjadi Tujuan Nyepi, Jumat 31 Maret 2006, http://64.203.71.11/kompas-cetak/0603/31/jatim/51218.htm
[16] PKS Online: Ketua MPR Hidayat Nur Wahid Kunjungi Puri Bali, http://www.pk-sejahtera.org/2006/index.php?op=isi&id=4294

 

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: