Mengulas Anismisme: Nasehat Untuk Pak Sekjen PKS


arsip: pkswatch.blogspot.com

Pengantar DOS

To the point saja, apa itu anismisme? Istilah ini tercetus ketika tadi siang saya sedang lunch meeting dengan seorang al-akh senior, ketika kami sedang ngobrol tentang berbagai hal (tepatnya saya sedang minta nasehat sih), termasuk salah satunya tentang pemikiran sekjen PKS al mukarram al ustadz Anis Matta, Lc. Paparan pemikiran ustadz kita ini belakangan memang membuat kening banyak orang berkerut heran, sampai ada beberapa email masuk ke mailbox saya meminta agar secara khusus mengulas pemikiran beliau.

Pemikiran yang ‘khas’ ini, terutama yang dituangkan dalam kitab beliau ‘Dari Qiyadah Untuk Kader’, memang agak spektakuler sehingga menjadi wajar kalau disebut sebagai sebuah ‘isme’ baru. Awalnya, sang al-akh menyebutnya anisisme atau pemikiran Anis, tapi supaya lebih gampang disebut dan kedengaran lebih ngilmiah(menurut saya), saya menyebutnya anismisme, atau isme sebuah pemikiran AnisM.

Dari email yang masuk tersebut, ada tulisan bagus dari orang yang juga kompeten, sehingga saya putuskan untuk dimuat apa adanya. Mohon maaf kepada ustadz Idris A. Shomad, karena tidak minta izin antum memuat tulisan ini. Saya yakin tulisan antum bukan tulisan rahasia yang tidak layak diketahui khalayak, sebaliknya menurut saya tulisan antum harus dibaca oleh kader dan simpatisan PKS secara luas. Semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk antum.

Saya merencanakan ada beberapa tulisan lagi membahas hal ini, dalam serial ‘Mengulas Anismisme’. Untuk yang ingin menyumbangkan tulisan dalam membahas anismisme, silahkan kirim ke email saya. – DOS

Menjaga Harmoni Partai Dakwah Dengan Cinta

-Nasehat Untuk Pak Sekjen PKS-

DR. H.M. Idris A. Shomad, M.A

(Wakil Ketua P3ID Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ilmu Dakwah)

”Suara merdu persaudaraan sepatutnya didominasi oleh nuansa bening. Serendah-rendahnya bermuatan kelapangan hati dan setinggi-tingginya itsar : memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri. Karena –seperti pesan Bapak Persaudaraan Islam Abad XX, asy-Syahid Hasan al-Banna, ”Saudara yang lurus memandang para saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri. Karena seandainya ia tidak bersama mereka, maka ia tidak akan bersama siapa-siapa. Sebaliknya bila mereka tidak bersamanya, maka mereka akan dapat bersama yang lain. ”Tentu saja ini sangat berat diterima oleh orang yang menafsirkannya sebagai primordialisme, sektarianisme dan fanatisme. Cobalah lengkapi dengan pernyataan sebelumnya: ”Yang dimaksud dengan Ukhuwah ialah bertautnya hati dan jiwa dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan paling kuat dan mahal. Ukhuwah itu saudara iman dan perpecahan itu saudara kufur”. (Rahmat Abdullah, Untukmu Kader Dakwah, Pustaka Da’watuna 2004).

 

Berdakwah Dalam Politik atau Berpolitik Dalam Dakwah ?

Meski Terma “Partai Dakwah” belum dikenal dalam Khazanah Keilmuan Dakwah, tetapi terma tersebut paling tidak menjadi paradigma baru dan sekaligus inovasi yang dimunculkan oleh PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang mulai mampu berunjuk gigi sejak tahun 2004.

Atribut Partai Dakwah pada PKS secara implisit tertuang dalam Muqaddomah Anggaran Dasar PKS “Bertolak dari kesadaran tersebut maka dibentuklah Partai Keadilan yakni partai politik yang mengemban amanah dakwah demi mewujudkan cita-cita universal dan menyalurkan aspirasi politik kaum muslimin beserta seluruh lapisan masyarakat Indonesia”.

Atribut Partai Dakwah juga secara implisit dicantumkan dalam ART Bab II Pasal 3 (antara lain disebutkan):

  1. “Menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat, khususnya umat Islam, secara benar, jelas, utuh dan menyeluruh”

  2. “Mendorong kebajikan di berbagai bidang kehidupan”.

  3. “Memberantas kebodohan, kemiskian dan kerusakan moral”.

  4. ”Menghimpun jiwa dan menyatukan hati manusia di bawah naungan prinsip-prinsip kebenaran”.

  5. Mendekatkan berbagai persepsi antara madzhab-madzhab di kalangan umat Islam”. Dst.

Hal tersebut juga disebut-sebut saudara Anis dalam bukunya ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” bahwa ”partai ini adalah wujud daripada gerakan dakwah kita. Partai adalah representasi keseluruhan dari total kekuatan yang kita miliki sepanjang 18 tahun pertama kita membina umat” (hal 17 alinea 1).

Dapat dipahami Partai Dakwah sebagaimana dimaksud para pendiri PKS adalah sebuah lembaga yang menjadikan partai sebagai sarana atau ’kendaraan’ menyampaikan dakwah dalam segala bentuk dan aspeknya; sehingga dapat dipahami pula bahwa ”Dakwah” bagi PKS adalah ’panglima’ bagi perjuangan menyebarkan nilai dan prinsip kebenaran dan keadilan bagi seluruh umat di Indonesia khususnya.

Karenanya, penulis melihat bahwa Dakwah dalam konteks ini sesuatu yang dipertaruhkan dalam perjalanan sebuah partai yang senantiasa bergelut dengan beragam problematika lokal, nasional, regional dan bahkan problematika global, dan selalu berinteraksi dengan berbagai aspek kehidupan sosial politik dan ekonomi serta kehidupan keagamaan di negeri yang kental dengan fenomena keberagaman. Tidak mustahil nama Dakwah tercitrakan buruk hanya karena sikap dan perilaku para pelaku politik di partai tersebut.

Semua menantikan jawaban ril dan nyata, apakah PKS berdakwah dalam politik atau berpolitik dalam dakwah? Jika nilai dan prinsip-prinsip sebagaimana tertuang dalam AD/ART dan Falsafah Dasar Perjuangan (al-fikru al-asasi) PKS teraplikasi dalam aktifitas politik, berarti mereka benar-benar berdakwah dalam politik, artinya melaksanakan misi dakwah dan menjadikan partai (politik) sebagai sarana dan alat perjuangan mereka; sebaliknya jika sikap dan perilaku politik mereka tidak menggambarkan nilai dan prinsip-prinsip tersebut, berarti mereka berpolitik dalam dakwah, artinya menjadikan dakwah hanya sebagai tameng untuk kepentingan politik, atau lebih populer dengan istilah hizbiyah (fanatis golongan atau sektarianisme dalam politik).

Dari Qiyadah Untuk Para Kader”.

Ungkapan di atas adalah judul sebuah buku yang merupakan kumpulan dari arahan-arahan saudara Anis Matta Sekjen PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Buku ini mempunyai tiga judul yang berbeda, pertama sebagaimana tercantum dalam lembaran pertama cover buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader”, judul kedua sebagaimana termaktub dalam penjelasan lembaran kedua cover buku ”Dari Qiyadah untuk Kader”, judul ketiga sebagaimana termaktub dalam cover depan ”Integrasi Politik dan Dakwah” –seri pemikiran Anis Matta-.

Sepintas buku ini merupakan acuan dan arahan politik PKS untuk para kedernya, sebab kata ”Qiyadah” menggambarkan pimpinan institusional partai, seakan arahan-arahan dalam buku ini merupakan arahan formal yang mencerminkan persepsi dan pemikiran para pimpinan partai.

Namun mencermati isi kandungan buku ini, penulis meragukan kesan tersebut; karena terdapat paradoks intelektual dari pemikiran-pemikiran di dalamnya, dari soal analisa sejarah politik Islam, persepsi harta dan uang, sampai masalah institusi partai; keraguan penulis itu muncul karena pengetahuan penulis dari bacaan buku-buku PKS dan pengalaman interaksi penulis dengan para elit dan kader-kader intelektual PKS.

Syukurlah pada cover depan buku dicantumkan kata ”seri pemikiran Anis Matta”, yang sedikit menjelaskan bahwa isi buku ini ternyata hanya sekedar lontaran pemikiran saudara Anis Matta. Tetapi kesan bahwa pemikiran-pemikiran tersebut adalah pemikiran para pemimpin partai akan tetap ada, karena seorang Anis tidak bisa dipisahkan dari pimpinan (qiyadah) PKS disamping posisinya kini sebagai pejabat publik. Mungkin akan beda kesannya jika yang menyatakan dan melontarkan adalah seorang anggota biasa.

Betapapun banyaknya kejanggalan dan keganjilan pemikiran dalam buku ini, akan tetapi penulis melihat adanya nilai-nilai positif di dalamnya, seperti daya stimulan dan spirit motivasi kepada kader-kader PKS dalam menjalankan roda kendaraannya sesuai visi dan misi partai menuju Indonesia yang adil dan sejahtera.

Sebelum saya membaca buku ”Dari Qiyadah kepada Kader”, saya telah membaca buku-buku Saudara Anis seperti ”Menyongsong Abad 21”, ”Membentuk Karakter Islami”, ”Indahnya Demokrasi”, juga tulisan-tulisannya di majalah Tarbawi; saya mendapatkan banyak hal yang memberikan inspirasi kebangkitan pemikiran Islam yang bernuansa spiritualitas Islam menuju peradaban bermoral yang mesti dilakoni oleh para pahlawan muslim yang gigih dan mampu mengusung mega proyek tersebut.

Namun setelah membaca buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” dan mendengar rekaman arahannya dalam CD-Rom, penulis mendapatkan kejanggalan dan keganjilan, bahkan kecurigaan terhadap arah dan orientasi pemikiran Saudara Anis, khususnya saat menyinggung masalah keuangan dan ilustrasi dari persepsi tentang harta. Seakan peradaban yang diimpikannya adalah peradaban yang mengandalkan uang yang dijadikan sebagai tujuan bukan alat dan sarana. Sikap itu membuatnya tega menyatakan ”Masyarakat Indonesia ini rusak salah satu indikasinya karena orang-orang shalehnya sebagian besar adalah para fuqara dan masakinAhlul masjid di negeri ini terdiri atas fuqara dan masakin” (hal: 65, alinea 3).

Mungkin tujuan saudara Anis baik, yakni memotivasi kader untuk aktif membantu partai mencarikan dana organisasi dan mengharap munculnya para pengusaha muslim yang berafiliasi kepada pembangunan negara yang adil dan makmur; tetapi sangat naif bagi seorang pejabat publik muslim dan elit politik partai Islam seperti saudara Anis ketika harus mengatakan ”Kalau kita melihat mobil bagus, rumah bagus, hinggap sebentar mobil itu, sapu baik-baik lalu berdo’alah” (hal 79, alinea 2).

Saudara Anis juga merasa selama belajar agama tidak pernah diajarkan pemahaman keagamaan tentang kekayaan, padahal yang saya tahu tempat belajarnya di LIPIA diajarkan Bab al-Buyu’ dalam mata kuliah fiqih, disana dipelajari fiqih muamalat yang berorientasi kepada cara-cara berbisnis yang bermoral, belum lagi dalam mata kuliah hadits juga banyak dipelajari hadits-hadits tentang harta; jadi kalau dia tidak merasa itu semua sama halnya tidak memahami arah pemikiran para ahli fiqih dalam bahasan-bahasan fiqihnya, mungkin diantara faktornya adalah saudara Anis saat itu belum memiliki sense of bussines yang tajam seperti saat ini ketika merasakan sulit mendanai PILKADA-PILKADA di alam demokrasi yang masih bernuansa materialistis ini.

 

Re-Moderisasi Pemikiran Partai Dakwah.

Mencermati pemikiran PKS dalam dokumen-dokumen dan data-data manuskrip PKS, penulis melihat dan menilai bahwa PKS memiliki pemikiran yang moderat (laa ifroth walaa tafrith), yang memadukan antaraasholah (orisinalitas) dan mu’asharah (modernitas), mengawinkan antara idealita dengan realita.

Membaca buku ”Dari Qiyadah untuk Para Kader” penulis melihat terdapat pemikiran yang melawan Moderasi Pemikiran PKS. Sebagai contoh dapat disebutkan disini, di satu sisi terdapat idealita ”Negeri ini (Indonesia) akan menjadi Kiblat Politik Dunia Islam” (hal 23, alinea 3), dikuatkan dengan kutipan tulisan Malik bin Nabi ”apabila dunia Islam ingin bangkit maka dunia Islam membutuhkan semua sandaran spiritual yang sangat kokoh. Dan sandaran spiritual yang kokoh itu sangat mungkin atau bahkan hanya mungkin diperoleh kaum muslimin di seluruh dunia Islam dari sebuah negeri yang bernama Indonesia” (hal 21 alinea 1); idealita itu jika tidak diimbangi dengan pandangan terhadap realita umat Islam baik dalam tataran individu maupun kelembagaan bagi organisasi massa atau organisasi politik Islam termasuk kondisi PKS masa kini, akan membuat para politisi termasuk saudara Anis memaksakan diri membawa semua permasalahan kepada aktifitas politik, hal itu terbukti ketika dia melihat cita-cita dakwah perolehan partai-partai Islam 50+1, karena dia mengkapitalisasi kesolehan masyarakat dengan hitungan angka-angka politik, katanya: ”yang kita maksud dengan masyarakat islami secara kuantitatif adalah apabila jumlah orang soleh di negeri ini lebih dari 50%” (hal 19 alinea 3); dan hitungan tersebut dikonversi dengan perolehan suara PEMILU. Padahal pemilih partai islam belum tentu karena kesolehannya, mereka memilih bisa karena figurnya, bisa karena uangnya, bisa karena faktor-faktor lain.

Asholah (orisinalitas) pemikiran PKS yang lain adalah prinsip Tsiqah (Trust), prinsip ini juga disebut-sebut saudara Anis dalam bukunya, bahwa tsiqah merupakan alat ukur soliditas kader dari hasil tarbiyah; namun dia mungkin lupa bahwa Tsiqah tidak bersifat konstan, tetapi ia seperti iman yang berkarakter fluktuatif, naik turun. Bedanya dengan iman, fluktuasi tsiqah melihat obyek tsiqah disamping subyeknya.

Saudara Anis melihat tsiqah dari sisi subyeknya saja, seakan ia ingin mengatakan kepada setiap kader untuk menanamkan tsiqah kepada qiyadah. Saya sangat setuju dengan pernyataannya tersebut, sebab tanpa trust kepemimpinan tidak akan mampu eksis dan apalagi mengakses program-programnya; tetapi tsiqah seseorang bisa saja akan naik sebagaimana bisa turun hanya karena disebabkan oleh sikap perilaku qiyadah yang kurang ’mengenakkan’.

Mungkin saja sikap dan perilaku yang menjadi pemicu tsiqah itu sesuatu yang dianggap sepele atau hal yang kecil oleh qiyadah, tapi qiyadah yang bijak adalah yang tidak apriori, ia mesti melongok juga barangkali hal yang dianggapnya kecil adalah besar dalam pandangan orang lain. Seperti gaya hidup seseorang, mungkin sebagian orang melihatnya hal yang sepele, tapi dalam pandangan orang lain mungkin sesuatu itu dapat menyinggung perasaan seseorang, apalagi di masa-masa krisis ekonomi, karenanya bisa menjadi masalah besar. Paling tidak menjadi pemicu munculnya masalah besar di sebuah komunitas.

Dari sana dapat dipahami mengapa Rasulullah saw memerintahkan Abu Bakar ash-Shiddiq agar segera kembali menemui para shahabat non-arab yang sebagai kader dakwah Rasulullah saw (Bilal, Salman dan Shuhaib r.a) ketika Abu Bakar r.a mengatakan kepada mereka ”apakah kalian sedang menceritakan seorang tokoh besar Quraisy (maksudnya Abu Sofyan)”, Penulis memahami bahwa Rasulullah saw ingin menegaskan kepada kita pentingnya menjaga hati, sebagaimana beliau ingin mengajarkan kepada para pemangku jabatan budaya meminta maaf kepada orang meskipun posisinya sebagai prajurit biasa.

Kadang-kadang juga cara komunikasi seseorang bisa menjadi pemicu munculnya ketidak-tsiqohan di antara mereka. Mungkin masalah ini sepele jika dibanding agenda besar yang sedang ditekuni PKS, yaitu meniti membangun peradaban yang bermoral. Tetapi ingat sesuatu yang besar itu dimulai dari yang kecil, jangan menyepelekan sesuatu yang kecil lantaran obsesinya meraih sesuatu yang besar. Rasulullah saw ditegur Allah SWT ketika bersikap acuh kepada seorang Ibnu Umi Maktum lantaran keinginan besar Rasulullah saw yaitu keislaman para pembesar Quraisy (baca QS. ’Abasa 1-10 dan al-Kahfi: 28).

Tsiqah juga sejatinya teraplikasi dari dua arah (tsiqah mutabadilah), tsiqah qiyadah kepada kader dan tsiqah kader kepada qiyadah; kader mesti tsiqah kepada qiyadah bahwa segala kebijakan dan arahan mereka demi kemaslahatan dakwah dan umat, sebaliknya qiyadah juga mesti tsiqah kepada kader bahwa segala nasehat dan kritik dari kader kepada qiyadah karena kecintaan dan demi kebaikan dakwah dan umat.

Demikian prinsip tabayyun, bukan prinsip yang aplikasinya hanya berupa tuntutan kepada orang lain untuk melakukan klarifikasi, tetapi sejatinya pihak ’tertuduh’ atau ’tergosip’ juga mesti introspeksi diri ”mengapa orang melakukan hal iitu terhadap diri saya”.

 

Harmonisasi Hubungan Dari QOLBU

Qolbu (hati) adalah pengarah sejati bagi sikap dan perilaku manusia, sebagaimana sabda Rasulullah saw dalam haditsnya yang shahih.

Perbedaan pendapat merupakan keniscayaan dalam keberagaman latar belakang pendidikan, budaya dan tradisi suku bangsa pada komunitas tertentu. Bahkan perbedaan tersebut dapat menjadi sarana peningkatan kedewasaan seseorang dalam interaksinya di suatu komunitas. Sebab perbedaan-perbedaan itu dapat melahirkan itsro’ fikri (pengayaan perbendaharaan pemikiran), disamping mengajarkan pengendalian diri agar tidak apriori dan merasa benar sendiri. Karenanya dapat dipahami urgensi syuro dalam organisasi.

Penulis yakin bahwa Majlis Syuro PKS sebelum memutuskan sebuah perkara, menerima begitu banyak pendapat yang berbeda, tetapi Majlis itu mesti memberikan satu keputusan, berarti ada pendapat yang ’dikalahkan’ atau ’dikesampingkan’. Sebagai anggota majlis syuro yang dewasa dan arif tentunya menerima hasil keputusan syuro dengan lapang dada meskipun tidak seperti pendapat dan ide-idenya yang cemerlang. Karenanya ia tidak menyatakan statement lain di luar hasil syuro tersebut.

Saudara Anis adalah bagian dari personil pimpinan partai. Penulis sangat yakin saudara Anis memahami bahwa keberhasilan PKS bukan hanya kerja satu dua orang, kesuksesan yang diraih merupakan hasil dari kerja sama elemen partai secara menyeluruh, baik qiyadah maupun kader; jangan ada yang merasa paling berjasa, sebaliknya jangan pernah ada yang merasa rendah diri hanya karena kerja-kerjanya tidak nampak pada publik dan media.

Dahulu guru saya dan guru kita semua KH Rahmat Abdullah –rahimahullah- mengajarkan sebuah ilustrasi ’amal jama’i itu seperti jam dinding yang baik dan indah; meskipun yang nampak hanya jarum panjang, jarum pendek dan tampak luar lainnya, tetapi jam tersebut tidak dapat bekerja dengan baik dan tidak dinilai baik oleh orang lain tanpa kerja-kerja mur yang paling kecil di dalam jam tersebut yang tentunya tidak nampak dalam pandangan.

 

Khitaman…

”Menjaga Harmoni Partai Dakwah Dengan Cinta” , judul tulisan ini merupakan salah satu asas ’amalikerja-kerja dakwah apapun eranya, sejak era nukhbawiyah sampai era mu’assasi dan bahkan era dauli, asas ’amali ini sejatinya tetap melekat pada setiap da’i; demikian yang diajarkan oleh guru dan murobbi para da’i Imam Hasan al-Banna ketika menyusun do’a Rabithah dan meminta kepada para kader dakwah untuk melantunkannya di pagi dan sore hari :

اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ الْقُلُوبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ

وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيعَتِكَ

فَوَثِّقِ اللَّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا وَامْلأَْهَا بَنُورِكَ الَّذِي لاَيَخْبُو

وَاشْرَحْ صُدُورَهَا بِفَيْضِ الإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ

وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى الشَّهَادَةِ فِي سَبِيلِكَ

إِنَّكَ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِير

Jangan-jangan kekeringan hubungan para kader dan atau hubungan qiyadah dengan kader, dan atau hubungan antar qiyadah hanya gara-gara lupa tidak membaca do’a ini. Mari menjaga harmoni Partai Dakwah dengan cinta. Cinta sejati, cinta berdasarkan mahabbatullah, cinta berlapiskan akhlak mulia dan etika sopan santun serta cinta berhiaskan sikap perilaku saling menghargai dan menghormati orang lain. Allahu A’lam Bish-showab.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: