Mengulas Anismisme: Fitnah Harta


Pengantar DOS

Yak, masih mengenai anismisme. Bagi yang belum tahu apa itu anismisme, anismisme adalah sebuah isme atau aliran pemikiran dari ustadz AnisM, di mana pemikiran tersebut mencapai kegemilangannya lewat sebuah karya berjudul ‘Dari Qiyadah untuk Para Kader’.

Tulisan di bawah ini dibuat oleh al ustadz Dr. Daud Rasyid, MA. Siapa yang tidak kenal ustadz yang satu ini? Ustadz di mana jamaah ini sebetulnya beruntung karena memiliki beliau, seorang ahlul hadits, yang konsisten untuk bertaqlid hanya kepada sunnah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam, dan tidak mau thoat dan tsiqoh kepada qiyadah yang tidak taqlid kepada as-sunnah.

Seorang ustadz di mana saya yang sedang mencoba untuk totally taqlid, thoat dan tsiqoh pada Quran dan as-sunnah, membuat saya merasa menjadi the looser, karena tidak sempat ketemu beliau di Jakarta, karena saya baru jatuh cinta berat pada ilmu hadits setelah saya pindah dari Jakarta.

Tulisan ustadz Daud Rasyid di bawah ini, meskipun tidak menyebutkan nama siapapun, jelas dialamatkan kepada anismisme. Kalaupun tidak spesifik dialamatkan kepada anismisme, maka tulisan ini merupakan sebuah counter telak kepada anismisme.

Alhamdulillahi robbil ‘alamin, kupanjatkan rasa syukurku yang mendalam ke hadiratMu ya Ilahi Robbi, karena masih Engkau sisakan orang-orang yang tetap istiqomah untuk menyelamatkan dakwah ini, dari ancaman seperti bahaya laten (tersembunyi) anismisme.

Alhamdulillah, karena saat ini saya sedang sibuk, saya tidak perlu repot menulis khusus untuk membongkar bahaya anismisme ini sendiri, karena dengan kedhaifan saya, biasanya untuk membuat sebuah tulisan maka meja saya berserakan dengan buku terbuka, laptop penuh dengan ebook terbuka, browser dengan beberapa tab pencarian referensi, dan tentu saja mengurangi sedikit jatah waktu tidur. Pasti repot kalau saya harus membongkar anismisme ini sendiri.

Alhamdulillah, karena tulisan beliau membuat saya yakin bahwa saya nggak bodoh-bodoh amat, ketika saya sangat sulit untuk mencerna pemikiran anismisme yang dituangkan dalam buku berjudul ‘Dari Qiyadah untuk Para Kader’. Karena saya langsung merasa nyaman dengan pemikiran yang dituangkan dalam tulisan beliau ini, maupun dalam dua tulisan yang sudah saya muat sebelum ini (dalam serial ‘Mengulas Anismisme’). Paling tidak saya mendapatkan keyakinan bahwa kegelisahan seorang DOS selama ini, terhadap arah dakwah ini, bukanlah kegelisahan yang lekat dengan kejahilan, ngawur dan penuh kedengkian kepada qiyadah, seperti yang dituduhkan sebagian kepada DOS. Paling tidak, saya langsung jauh lebih mudah mencerna tulisan-tulisan mereka, ketimbang anismisme.

Sungguh saya sedih, karena ada saja ikhwah yang membela buta terhadap pemikiran anismisme yang nyeleneh ini. Mungkin alasannya itu ijtihad, kalau benar dapat pahala dua, kalau salah pahala satu. Seandainya memang itu ijtihad, dan ternyata salah, lalu sang ‘mujtahid’ anismisme mendapatkan pahala satu, apakah masih tetap akan Anda ikuti, wahai ikwah fillah? Apakah tetap akan Anda ikuti sesuatu yang salah?

Mujtahid besar, Imam Syafii rahimahullah berkata “Apabila kalian mendapatkan di kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah, maka jadikanlah sunnah Rasulullah sebagai dasar pendapat kalian dan tinggalkan apa yang aku katakan” (Muqaddimah kitab Sifat Shalat Nabi, Imam Albani rahimahullah). Apa yang ditulis oleh seorang mujtahid sekaliber Imam Syafii rahimahullah pastilah sebuah ijtihad, tapi beliau dengan tegas mengatakan untuk meninggalkan ijtihad itu kalau kemudian ternyata tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah.

Jadi kalau ada ‘ijtihad’ yang sulit kita fahami karena tidak sesuai dengan apa yang kita fahami dari Quran dan sunnah, mari kita tinggalkan. Jangan cari-cari pembelaan, karena Allah melarang kita membela orang yang mengkhianati dirinya (An-Nisaa’:107). Allah juga membenci pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya (HR Muslim, dikutip dari Bulughul Maram min Adilatil Ahkam – Kitab Adab, Imam Ibnu Hajar rahimahullah).

Wahai ikhwah, saya menyerukan: taqlid, tsiqoh dan thoatlah hanya kepada Quran dan sunnah. Tsiqoh dan thoat kepada qiyadah haruslah dalam kondisi yang totally complydengan Quran dan sunnah. Untuk mengetahui apakah kondisinya sudah comply dengan Quran dan sunnah, maka Anda harus faham. Jika Anda tidak faham, tapi tetap tsiqoh dan thoat, maka hati-hatilah karena ketaatan tanpa faham itu bisa jadi menyeret Anda ke neraka jahannam (Ilamul Muwaqiin, bab Pendapat Para Imam Seputar Alat dan Syarat Fatwa, Imam Ibnu Qayyim rahimahullah). Naudzu billah.

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada ustadz Daud Rasyid, menjaga beliau agar tetap istiqomah untuk ikut menjaga dakwah ini. – DOS

Fitnah Harta
oleh Dr. Daud Rasyid, MA

Harta adalah alat penunjang kehidupan manusia. Tanpa harta kehidupan berjalan dengan sulit. Ia juga dibutuhkan dalam perjuangan mewujudkan cita-cita. Harta memang secara naluri, dikejar manusia. Di dalam Alqur’an, Allah swt memberitahu hal itu, “dan sesungguhnya manusia mencintai harta itu, sangatlah hebat.”

Tanpa diajari atau dirangsang, manusia sudah dengan sendirinya mendambakan punya harta yang banyak. Karena harta berpotensi mendatangkan kesenangan. Yang perlu dipelajari manusia adalah bagaimana mendapatkan harta dengan cara yang benar. Juga bagaimana mengelola harta dengan benar, agar ia tidak berubah menjadi fitnah.

Jadi kalau ada orang menceritakan dirinya mendambakan punya rumah mewah, kendaraan mewah, atau apa saja yang menyenangkan dari dunia, sebenarnya dia sedang menceritakan kenaifan dirinya, sekaligus menyingkap keruntuhan ma’nawiyah (jati diri)nya di hadapan orang lain. Karena Islam diturunkan bukan untuk mengajari manusia mencintai semua itu. Tanpa diajaripun, kesenangan dunia, sudah melekat pada diri manusia.

Justru kedatangan Alqur’an untuk mewanti-wanti manusia akan bahaya harta. Karena harta berpotensi menyeret manusia kepada kebinasaan di dunia dan akhirat. Harta berpotensi melalaikan manusia dari Allah. Harta berpotensi melupakan manusia dari tujuan hidupnya yang hakiki, yakni mencari kesenangan akhirat.

Tanpa harus dikomentari, silakan baca ayat-ayat berikut ini: 1). Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan kesenangan yang menipu. 2). Dan tidaklah kehidupan dunia melainkan permainan dan lahwun. 3). Apakah kamu lebih suka pada kehidupan dunia ketimbang akhirat, maka tidaklah kesenangan hidup dunia di akhirat melainkan hanya sedikit (at Taubah:38). 4). Dijadikan indah dalam pandangan manusia, kecintaan pada syahwat dari perempuan, anak, tumpukan emas, perak, kuda tunggangan, hewan ternak, dan pertanian. Yang demikian itu adalah kesenangan hidup di dunia, dan Allah memiliki tempat kembali yang jauh lebih baik (Ali Imron 14). 5). Carilah apa yang didatangkan Allah bagimu berupa negeri akhirat. Dan jangan engkau lupakan bagianmu di dunia (al-Qashash: 77).

Masih banyak ayat lain dengan nada serupa, menceritakan rendahnya hakikat dunia dan harta di mata Allah. Dan Allah memperingatkan orang-orang beriman agar tidak tertipu oleh dunia yang telah banyak menggelincirkan umat lain di luar Islam.Tapi tidak satu pun ayat Allah atau hadits Nabi yang menggesa manusia untuk mengejar harta dan kenikmatan dunia, apalagi dengan mengatakan “jangan tanya darimana sumbernya”.

Tak diragukan, ucapan itu hanya muncul dari golongan ‘Ahlud Dunia’. Kalau ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin manusia mengganti Tuhannya dari Allah menjadi hawa nafsu. Mengganti alhaq menjadi albatil.Terjemahannya dalam dunia politik praktis, mengganti calon kepala daerah yang soleh tapi dananya terbatas, dengan calon yang koruptor asal uangnya banyak.

Jika pola pikir seperti ini tidak pantas ada pada seorang mukmin biasa, apalagi pada level seorang pemimpin (al Qa’id atau Imam). Jika itu benar-benar terjadi, maka inilah namanya qiyadah sedang menebar racun kepada bawahannya. Atau juga bisa dikatakan sang Imam sudah batal wudhu’nya, sehingga keimamannya sudah tidak sah lagi.

Dalam sebuah ayat, Allah benar-benar melarang hamba-Nya melirik kekayaan/kelebihan yang dimiliki orang lain. Ayat itu berbunyi sebagai berikut: “Janganlah kamu mendambakan apa yang diberikan Allah kepada sebagian kamu di atas sebagian lain.”

Jadi artinya apa? Memperhatikan kesenangan orang lain, kemudian mengkhayal-khayalkan kelebihan yang dimiliki orang lain, ternyata dalam perspektif Qurani, adalah perbuatan tercela, dan merusak muru’ah.

Konon lagi mengelus-ngelus mobil mewah orang, terpesona dengan rumah orang, mirip seperti orang sedang mengalami gangguan kejiwaan, wal ‘Iyadzu billah. Orang-orang mukmin tak perlu diajari mencintai harta. Ajaran itu justru adalah ajaran syetan. Hanya syetan yang mengajarkan cinta harta. Yang perlu diajarkan kepada orang-orang mukmin, agar tetap tabah menghadapi rintangan dalam perjuangan.

Perjuangan sungguh memerlukan kesabaran yang luar biasa. Apalagi perjuangan menegakkan Dienullah. Tetapi ganjaran yang dijanjikan Allah di balik perjuangan itu adalah aljannah, sebuah kesenangan tanpa batas, tak pernah terlintas di benak manusia, tak pernah terlihat di dunia dan tak pernah kedengaran sebelumnya.

Kesenangan yang ada di sini (dunia) hanyalah kesenangan palsu; jika ada, ia disyukuri, tak perlu menyibukkan. Jika tidak, tak perlu bersedih. Justru kesedihan kita, apabila kita kehilangan iman dan idealisme. Jika sebuah kemenangan diraih, ia bukan kenikmatan yang perlu ditepuki, tetapi justru amanah yang harus dipertanggungjawabkan pada hari tidak ada sesuatu pun yang dapat disembunyikan, perhitungan sangat keras dan dahsyat.

Begitulah seharusnya nasihat seorang pemimpin yang istiqomah di jalan Allah. Sebagaimana dulu nasehat Khoirul Anbiya’ Muhammad Saw kepada shahabatnya seperti dilaporkan oleh Abu Sa’id al-Khudry r.a, beliau berkata, ketika kami duduk di sekitar mimbar Rasul, kudengar beliau bersabda, “Yang paling kutakutkan pada kalian, jika dibukakan Allah kepada kalian kesenangan dunia dan gemerlapnya.”

Jika nash-nash yang ada kita perhatikan, Allah dan Rasul-Nya tidak mengkhawatirkan umat ini akan bahaya kekurangan dan kemiskinan, sebagaimana peringatannya terhadap kesenangan, harta dan dunia. Artinya, orang tidak akan sampai jatuh dalam dosa besar karena kemiskinannya. Tetapi manusia bisa jatuh dalam dosa besar karena kekayaan yang dia miliki. Bahaya-bahaya apa sajakah itu? Mulai dari sumber kekayaan itu.

Seseorang banyak menjadi kaya dengan cara yang tidak halal. Setelah menjadi kaya, ia tidak kuat menghadapi dorongan hawa nafsu yang muncul karena harta. Karena dengan harta yang banyak, pintu-pintu maksiat terbuka luas di hadapannya. Dalam kondisi ini banyak orang yang tidak kuat menahannya. Oleh karena itulah dalam suatu kesempatan, Nabi Saw memberitahukan bahwa cobaan paling berat bagi Bani Israil adalah perempuan. Sedang cobaan yang paling berat bagi ummatku adalah harta (Hadits Shohih).

Lalu apakah pantas seorang pemimpin merangsang anggotanya untuk mengejar harta, sementara Nabi Saw menyuruh ummatnya agar berhati-hati dengan harta dan dunia?!

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: