Di Mana Posisi PKS?


arsip: pkswatch.blogspot.com

Sudah sewindu berlalu sejak jamaah tarbiyah atau al-ikhwan di Indonesia resmi menjelma menjadi partai politik. Sudah banyak kiprah atau kebaikan yang dilakukan oleh partai ini di Indonesia, tetapi sayangnya berbagai perbuatan tidak terpuji juga masuk dalam salah satu aktivitas oknum pimpinannya, sehingga partai yang seharusnya konsisten mengusung nilai-nilai luhur dakwah ini ternodai kesucian dan reputasinya. Ketimbang berusaha membela diri dengan beretorika seperti “Ini bukan jamaah malaikat”, “Qiyadah juga manusia, punya nafsu, punya hasrat”, atau yang semacam itu, sebetulnya jauh lebih baik untuk kembali konsisten sepenuhnya kepada misi dakwah, yaitu untuk memperbaiki kualitas akidah dan akhlak umat.

Adanya kebaikan, penyimpangan, plus pembelaan (terkadang buta) dari pendukungnya, membuat posisi PKS cukup simpang siur, apakah masih murni sebagai jamaah dakwah? atau apakah sudah totally bergeser menjadi partai nasionalis terbuka (yang belakangan sibuk dibantah lagi)? atau apakah tetap menyatakan diri sebagai partai dakwah tapi berkelakuan preman parlemen?

Daripada repot, mari kita lihat hasil survey. Biasanya kalau surveynya menyenangkan, “Alhamdulillah”. Kalau surveynya tidak menyenangkan, “Ah DOS, lembaga-lembaga survey itu hasilnya tergantung sponsor yang membayar, mereka sengaja menjatuhkan PKS”. Gitu nggak sih? Nggak ya? Ya syukur alhamdulillah.

Kajian Posisi PKS

Bagaimana kalau hasil survey dari berbagai lembaga digabung kemudian diolah menjadi informasi? Sehingga kalaupun ada efek negatif dari survey bayaran, bisa diminimalisir. Inilah kajian yang dilakukan oleh beberapa ustadz senior di MPP, dan saya beruntung dikirimkan file softcopynya. Menurut al-akh pengirimnya, materi yang saya paparkan di sini sudah dibahas di MPP kemudian dijadikan materi taujih dan tau’iyah untuk para ikhwah di berbagai wilayah. Saya juga mengontak langsung ikhwah yang saya perkirakan bisa mengkonfirmasi keberadaan dokumen ini, alhamdulillah, dokumen ini memang shahih.

Saya menampilkan isi dokumen ini apa adanya, yang saya lakukan hanya memperbaiki redaksional atau kata-kata (karena banyak yang disingkat), me-layout dokumen (rada rese nih pakai blogger kalau dokumen sudah complicated gini) dan memberi sedikit pengantar pada beberapa tempat. Semaksimal mungkin, dan saya yakini sebatas kemampuan saya sebagai manusia, saya tidak mengubah isi dokumen ini.

Kajian ini berintikan pada dua masalah utama, yaitu posisi ideologis dan idealisme. Kajian terhadap posisi ideologis mencoba untuk melihat konsistensi partai terhadap ideologi, visi dan misi yang diusungnya, sedangkan kajian posisi idealisme mencoba melihat keberpihakan partai terhadap kepentingan rakyat yang diwakilinya. Masing-masing posisi dikaji secara periodik, sejak tahun 1999 hingga tahun 2007, kemudian disertai proyeksi sampai dengan tahun 2009. Karena istilahnya ‘posisi’, tentu saja harus dibandingkan juga dengan partai besar lainnya.

Indikator Posisi

Di atas saya jelaskan bahwa ada dua posisi yang dikaji, yaitu ideologi dan idealisme. Indikator posisi ideologis dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

  • Visi & Misi Partai
  • Sikap terhadap amandemen UUD 1945
  • Sikap dalam penyusunan RUU dan revisi UU
  • Sikap terhadap KKN
  • Koalisi partai
  • Strategi dalam menghadapi pilkada
  • Mahar politik

Jadi posisi ideologis ini dikaji dengan melihat seberapa konsistennya partai terhadap ideologi, visi dan misi yang diusungnya.

Sedangkan indikator posisi idealisme partai dalam kajian ini adalah sebagai berikut:

  • Sikap terhadap aspirasi rakyat
  • Sikap terhadap kebijakan pemerintah
  • Sidang-sidang komisi
  • Sidang-sidang Pansus/Panja
  • Sikap dalam BURT DPR
  • Sikap dalam Badan Kehormatan
  • Money politics

Jadi posisi idealisme ini dikaji dengan melihat seberapa besar keberpihakan partai terhadap kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Kajian ini diolah dari berbagai sumber, yang memang sudah berada di ranah publik, atas dasar inilah saya tampilkan di sini, karena dokumen ini sama sekali bukan dokumen rahasia partai, tapi selayaknya untuk diketahui oleh ikhwah yang masih mencintai jamaah ini. Sumber-sumber kajian ini adalah sebagai berikut:

  • Litbang Kompas
  • Litbang Media Indonesia
  • Litbang Tempo
  • LSI
  • Berbagai media cetak, elektronik, nasional dan lokal

Skala grafik yang ditampilkan di bawah ini adalah point, yang merupakan hasil kuantifikasi dari riset kualitatif. Karena indikator yang dijelaskan di atas rata-rata bersifat kualitatif. Survey yang dilakukan biasanya dalam bentuk interview via telepon kepada responden yang dipilih acak. Rata-rata survey dengan responden 1000 orang, dengan tingkat margin error kurang lebih 3%.

Positioning Ideologis PKS

Dalam tiga grafik berikut, tergambarkan seperti apa posisi ideologis partai-partai besar di Indonesia. Dimulai dari periode 1999-2004, kemudian 2004-2007, setelah itu dari dua grafik sebelumnya dan kondisi terkini, dibuatlah proyeksi positioning itu hingga tahun 2009.

Sumbu X menggambarkan tingkat sekularitas ideologi partai, mulai dari 0 (paling tidak sekuler) sampai 10 (paling sekuler). Sumbu Y menggambarkan tingkan ‘keislaman’ ideologi partai, mulai dari 0 (paling ‘tidak islami’) sampai 9 (paling islami).

Kalau kita perhatikan tiga grafik berikut ini, terlihat adanya pergeseran nilai-nilai ideologi yang terjadi pada partai-partai Islam. Terlihat bahwa PKS, yang begitu kental dengan ideologi Islamnya pada periode 1999-2004, bergeser ke arah rada sekuler pada periode 2004-2007, dan diproyeksikan menjadi less islamiketimbang PPP dan PBB pada periode 2007-2009.

Positioning ideologis (berbasis ideologi) partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 1999-2004.
Positioning ideologis (berbasis ideologi) partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 2004-2007.
Proyeksi positioning ideologis partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 2007-2009.

Positioning Idealisme PKS

Kelompok grafik kedua memperlihatkan posisi idealisme PKS. Seperti kelompok grafik pertama di atas, grafik-grafik berikut ini juga dibagi dalam tiga periode waktu, yaitu periode 1999-2004, periode 2004-2007, lalu proyeksi periode 2007-2009.

Sumbu X pada kelompok grafik ini memperlihatkan kecenderungan keberpihakan kepada pribadi dan golongan, mulai dari 0 (paling tidak memikirkan kepentingan pribadi/golongan) sampai dengan 10 (paling memikirkan kepentingan pribadi/golongan). Sedangkan sumbu Y memperlihatkan kecenderungan keberpihakan kepada rakyat, mulai dari 0 (paling tidak berpihak kepada rakyat) hingga 9 (paling berpihak kepada rakyat).

Dalam grafik ini, juga terlihat adanya pergeseran yang hampir merata pada semua partai, dari memikirkan kepentingan rakyat pada periode 1999-2004 (pasca reformasi dan masih idealis) hingga lebih memikirkan kepentingan pribadi/golongan pada periode 2004-2007. PKS tidak terkecuali dalam hal ini, dengan adanya pergeseran yang cukup mencolok.

Positioning idealisme (berbasis kepentingan) partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 1999-2004.
Positioning idealisme (berbasis kepentingan) partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 2004-2007.
Proyeksi positioning idealisme partai-partai besar di DPR dan DPRD periode 2007-2009.

Penyebab Bergesernya Posisi Ideologis PKS

Setelah menelaah grafik yang memperlihat posisi ideologis berbagai partai termasuk PKS, sudah saatnya juga kita lihat apa penyebab bergesernya posisi tersebut. Dalam dokumen ini, tentu saja yang dibahas hanya penyebab bergesernya posisi PKS. Seperti telah dijelaskan di atas, inti dari parameter pergeseran posisi ideologis ini adalah tingkat konsistensi partai terhadap ideologi, visi dan misi yang diusungnya. Penyebab pergeseran ini tentu saja terkait erat dengan indikator posisi yang dijelaskan di bagian atas.

    • Visi dan Misi Partai
      • Statement bahwa Pancasila dan UUD 45 adalah final.
      • Statement “Tidak akan Menerapkan Syariat Islam” (oleh Presiden PKS, Ka DPW DKI dan Ka DPW di beberapa wilayah dan daerah dalam pilkada).

 

    • Amandemen UUD 1945
      • Hanya 20% dari jumlah anggota Fraksi PKS di DPR RI yang mendukung.
      • Sikap Partai dan Fraksi yg tidak jelas terhadap masalah ini.

 

    • Penyusunan RUU dan Revisi UU
      • Menyetujui UU APBN yang tidak pro rakyat.
      • Menyetujui UU Liberalisasi Migas (kemudian sebagian pasalnya dibatalkan oleh MK).
      • Menyetujui UU Ketenaga listrikan (kemudian dibatalkan seluruhnya oleh MK).
      • Menyetujui UU Liberalisasi Sumber Daya Air.
      • Menyetujui UU Parpol dan Pemilu yang tidak pro-reformasi.

 

    • Sikap terhadap KKN
      • Mengusulkan pengampunan terhadap Soeharto.
      • Tidak jelas sikap terhadap pejabat/pengusaha yang terlibat korupsi namun masih berkeliaran.
      • Terlibat dalam beberapa kasus KKN.

 

    • Koalisi Partai, tidak lagi berdasar kesamaan ideologis dan misi, tetapi pragmatisme sempit.

 

    • Pilkada, dimunculkannya tokoh-tokoh eksternal (90%) sebagai calon kepala daerah yg tidak jelas visi, misi dan track record nya, dengan mengesampingkan kader-kader internal.

 

  • Mahar Politik, terlibat kasus “Mahar Politik” (98%) dalam proses Pilpres, pengusulan calon menteri kabinet, pilkada cagub, cawagub, cabup, cawabup, cawal, cawawal, dan direksi/komisaris BUMN.

Penyebab Bergesernya Posisi Idealisme PKS

Dalam bagian berikut ini, dipaparkan penyebab bergesernya posisi idealisme PKS. Di atas telah dijelaskan, bahwa inti dari parameter pergeseran posisi idealisme ini adalah tingkat keberpihakan partai terhadap kepentingan rakyat yang diwakilinya. Penyebab pergeseran ini juga terkait erat dengan indikator posisi yang telah dijelaskan di bagian atas.

    • Sikap terhadap aspirasi rakyat, tidak sensitif dan aspiratif terhadap problem dan tuntutan rakyat.

 

    • Sikap Terhadap Kebijakan Pemerintah
      • Masuk dalam barisan pendukung pemerintah.
      • Sikap takut menentang kebijakan pemerintah yang menyakiti rakyat.
      • Mendukung kebijakan aneh pemerintah dengan merasionalisasi alasan.

 

    • Sidang-Sidang Komisi
      • Lemahnya penguasaan materi bahasan dalam raker dengan pemerintah.
      • Ketidaksiapan konsep, data, informasi, dan analisa alternatif yang memadai.
      • Lemahnya kemampuan komunikasi sosial dan politik dihadapan pemerintah atau fraksi-fraksi lain.
      • Kurangnya sikap kritis terhadap usulan kebijakan pemerintah.

 

    • Pansus/Panja
      • Ketiadaan konsep RUU yang jelas yang merupakan penerjemahan dari visi misi partai.
      • Lemahnya etos juang dalam perdebatan konsep materi dalam pansus/panja.
      • Lemahnya argumentasi yang bernas.
      • Ketidakberanian berbeda pendapat/berdebat dalam forum.

 

    • BURT, mengusulkan kenaikan beberapa tunjangan dan fasilitas anggota dewan, tanpa dibarengi peningkatan kinerja.

 

    • Badan Kehormatan, tidak ada sangsi tegas bagi banyak anggota dewan yang terlibat kasus amoral.

 

  • Money Politics
    • Terlibatnya beberapa kader di DPR/DPRD tingkat I dan DPRD tingkat II dalam kasus korupsi.
    • Tidak adanya sangsi partai terhadap kader yang terlibat kasus korupsi.

Penutup

Sebagai sebuah hasil kajian, tentu saja paparan dokumen ini tidak bersifat eksak, sehingga terbuka menjadi sesuatu yang debatable. Tetapi sebagai bagian dari spesies homo sapiens (makhluk berpikir), tentu saja kita bisa menilai hasil kajian ini dengan pengamatan kita sehari-hari. Dari berbagai berita di media massa, dari paradigma dan atau pernyataan dan atau tindakan pimpinan partai sampai kepada bergesernya lifestylesebagian qiyadah, kita bisa menilai sendiri sejauh apa kebenaran kajian ini.

Menilai bahwa kajian ini tidak eksak, atau malah tidak ilmiah, adalah cara yang paling mudah untuk menolak kajian ini. Tetapi alangkah lebih baiknya jika kajian ini digunakan sebagai materi diskusi atau masukan kepada siapa saja yang mencintai jamaah ini, apalagi mengingat dokumen ini bukanlah dokumen gelap atau surat kaleng, tapi dokumen kajian ustadz-ustadz senior di MPP (mungkin bukan semua anggotanya). Tapi apakah karena ini kajian ustadz lantas kita tsiqohi begitu saja? Well, sebagai orang yang selalu mencoba mendahulukan faham sebelum tsiqoh, saya mengajak kita semua untuk menjadikan dokumen ini sebagai sebuah materi pembelajaran, untuk lebih memahami perjalanan jamaah, untuk direnungkan, dan dijadikan pelajaran dalam melihat arah partai ke depan.

In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
"O my Lord! bestow wisdom on me, and join me with the righteous;"

(Asy Syu’araa’:83)

"...O my Lord! advance me in knowledge."

(Thaahaa:114)

,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: