Sebaiknya Jangan Politik-Praktis-kan Masjid


arsip: pkswatch.blogspot.com

Kali ini saya membahas masjid. Tulisan ini terinspirasi dari sebuah komentar seorang al-akh yang mengambil nama Tauhid, dengan pertimbangan tertentu, komentar tersebut saya reject, tapi temanya aktual, sehingga saya angkat menjadi sebuah tulisan tersendiri. Untuk akh Tauhid, semoga Allah melimpahkan kebaikan untuk Anda.

Sebuah fenomena yang saya lihat secara langsung ketika saya masih tinggal di Jakarta, adalah penggunaan masjid sebagai sarana kegiatan aktivis PKS, baik secara agak tersamar maupun terang-terangan dengan menempatkan berbagai atribut identitas partai (seperti spanduk, bendera, dll) di sekitar masjid. Sekilas tidak ada yang salah dengan hal tersebut, bahkan bisa jadi ada dasarnya. Meskipun kemudian banyak yang menentang atau paling tidak menyayangkan, mengapa menggunakan masjid sebagai sarana berpolitik, alasannya: karena mestinya masjid hanya digunakan sebagai sarana kegiatan keagamaan.

Untuk yang pro menggunakan masjid sebagai sarana berpolitik akan beralasan bahwa politik adalah uslub atau sarana atau cara untuk menegakkan Islam, sementara masjid merupakan sarana dan pusat kegiatan umat, sehingga mestinya jangan dimaknai secara sempit, seolah-olah masjid hanya untuk ritual saja. Di dalam Islam pun tidak ada larangan atas penggunaan masjid sebagai sarana berpolitik, mengingat jika ada larangan atas masjid maka biasanya hal tersebut dinyatakan secara eksplisit dalam nash, seperti larangan mencari barang hilang dan larangan berdagang di dalam masjid.

Dalam hal ini saya setuju dengan pendapat yang menyatakan bahwa sebaiknya fungsi masjid jangan dimaknai secara sempit. Mengingat dari sunnah dan atsar pun memperlihatkan adanya contoh penggunaan masjid untuk kegiatan politik, hukum, atau hal-hal yang terkait urusan kenegaraan lainnya. Misalnya sebuah hadits dari shahih Imam Bukhari rahimahullah, sbb: Dari An-Nazzal bin Sabra radhiyallahu ‘anhu berkata: “Ali mendirikan shalat Dzuhur dan kemudian duduk di halaman masjid di Kufah untuk mengurusi masalah-masalah umat sampai tiba waktu Ashar”. [1]

Di sisi lain juga tidak boleh dilupakan adanya perbedaan antara kondisi jamaah dalam sunnah dan atsar tersebut dengan kondisi PKS saat ini. Jamaah muslim di zaman Rasulullah adalah jamaatul muslimin, satu-satunya jamaah kaum muslimin pada waktu itu, di mana berlaku pula hadits-hadits tentang keharusan berpegang pada jamaah, seperti menjadi kafirnya seseorang jika ia keluar dari jamaah. Sementara PKS atau ormas / jamaah Islam apapun pada saat ini adalah jamaah minal muslimin, hanya salah satu jamaah di dalam Islam. Hadits tentang kafirnya seorang muslim kalau keluar dari jamaah seperti PKS tidak berlaku, selama ia tidak keluar dari Islam. Mudah-mudahan tidak ada lagi oknum ikhwah yang berpikir bahwa keluar dari PKS berarti keluar dari jalan dakwah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan dengan gamblang masalah ini, beliau menjawab pertanyaan, “Apakah yang dimaksud dengan jamaah yang seorang muslim akan berdosa bila meninggalkannya?”. Menurut beliau, sebetulnya organisasi, gerakan dan jamaah-jamaah yang ada adalah jamaah dari kaum muslimin, bukan jamaatul muslimin yang mengumpulkan semua kaum muslimin yang ada. Otomatis seseorang yang tidak tergabung dengan gerakan Islam tertentu bukan berarti keluar dari jamaah atau mati dalam keadaan jahiliyah. [2]

Dari penjelasan pada paragraf di atas, ada perbedaan yang bagaikan siang dan malam antara jamaah di zaman Rasulullah dan jamaah-jamaah Islam yang ada pada saat ini. Sehingga alasan yang digunakan untuk penggunaan masjid bagi aktivitas partai, dengan melihat kepada contoh dari sunnah dan atsar, juga harus dicermati secara hati-hati.

Dalam sebuah sesi halaqah kira-kira tahun 2004, seorang al-akh menceritakan pengalaman beliau terkait dengan hal ini. Pernah suatu ketika, usai shalat maghrib, beliau mengumumkan adanya kegiatan tarbiyah melalui mikrofon masjid. Setelah itu beliau dipanggil dan dimarahi oleh seorang tokoh setempat, yang kebetulan berasal dari salah satu partai besar. Kira-kira sang tokoh bertanya seperti ini, “Ente tahu tidak siapa yang membangun masjid ini? Ente tahu tidak darimana dana pembangunan masjid ini? Mengapa ente gunakan untuk kegiatan partai ente?”

Waktu itu kami menanggapi dengan menganggap bahwa ini adalah salah satu tantangan dakwah. Akan tetapi kalau saya pikir-pikir lagi, mungkin langkah rekan tersebut memang keliru. Memang dari sisi hukum tidak salah menggunakan masjid sebagai sarana berpolitik, demikian pula kalau mau mengulik-ulik dalil yang melarang penggunaan masjid sebagai sarana berpolitik, mungkin tidak akan ketemu, malah yang ada contoh sebaliknya. Akan tetapi kita juga tidak boleh melupakan wisdom dalam berdakwah, tidak boleh pula melupakan adanya prioritas di dalam dakwah, tidak boleh pula melupakan bahwa untuk menegakkan kebajikan tidak boleh menimbulkan mudharat yang lebih besar.

PKS adalah partai yang berbasis pada gerakan dan kaderisasi dakwah. Katakanlah PKS menjalankan misinya dengan 100% istiqomah, tanpa cela, sehingga bahkan blog kritik ini tidak perlu ada. Tapi tetap saja dalam kondisi seperti itu, belum tentu PKS bisa diterima oleh 100% umat Islam Indonesia, bahkan mencapai 10% saja tidak, apatah lagi dengan begitu banyaknya kejanggalan yang kasat mata belakangan ini. Kesimpulannya, masih jauh lebih banyak umat Islam yang belum bisa menerima PKS ketimbang yang sudah. Dengan melihat kondisi seperti itu, adanya penolakan atas penggunaan masjid untuk aktivitas PKS menjadi wajar.

Kalau mau dipaksakan tetap menggunakan masjid sebagai sarana politik praktis, bisa jadi malah menimbulkan mudharat yang besar seperti perpecahan antar umat. Karena umat Islam yang lain, mungkin saja mereka sudah memiliki afiliasi politik dengan partai lain, yang notabene merupakan kompetitor PKS, sehingga alih-alih beribadah dengan khusuk di masjid, yang timbul bisa jadi malah syubhat, kedengkian dan nafsu saling mengalahkan.

‘Penentangan’ penggunaan masjid untuk aktivitas PKS, bisa jadi tidak hanya datang dari parpol lain, bisa juga datang dari ormas Islam lainnya. Pernah juga saya dengar adanya ‘keresahan’ ormas-ormas besar Islam bahwa masjid mereka saat ini ‘terkooptasi’ atau ‘dikuasai’ oleh PKS. Keresahan yang sebetulnya sangat lucu, karena bisa saja PKS membalas dengan mengatakan bahwa kalau memang merasa masjidnya direbut oleh PKS, silahkan lapor kepada polisi. Nanti giliran polisinya yang bingung mau menerapkan pasal apa untuk menanggapi laporan tersebut.

Saran saya, jauh lebih baik, jika ingin tetap dekat dengan masjid, lakukanlah kegiatan tersebut di lokasi yang berdekatan dengan masjid, jangan di dalam lingkungan masjidnya sendiri. Misalnya sekretariat aktivitas tersebut bertetangga dengan masjid, ketika tiba waktunya shalat, maka berbondong-bondonglah menuju masjid.

Tidak usah bersikeras bahwa tidak ada dalil yang melarang. Tidak usah bersikeras dengan alasan bahwa partai/ormas lain tersebut mestinya fastabiqul khairat dengan PKS. Fakta amat jelas menyatakan bahwa PKS belum diterima oleh mayoritas umat Islam Indonesia, sehingga lebih baik menghindari kemungkinan timbulnya potensi mudharat berupa perpecahan, apalagi di masjid.

Tidak usah pula bersikeras dengan alasan agar tidak memaknai fungsi masjid secara sempit, hanya untuk ritual. Menghindari adanya atribut partai di masjid, justru bisa kita lihat aspek politisnya secara lebih luas. Saya masih ingat, belasan tahun yang lalu, ketika shalat tarawih malam pertama digelar di masjid lingkungan saya, salah satu guru SMA saya yang kebetulan pengurus masjid berceramah, mengungkapkan berbagai aspek yang bisa dilihat dari kegiatan tarawih berjamaah tersebut. Salah satunya adalah aspek politis, dengan berbondong-bondongnya umat menuju masjid, melepaskan berbagai atribut sosial (waktu itu zaman Orba, belum marak atribut parpol), memperlihatkan kekuatan persatuan umat.

Umat berbondong-bondong menuju masjid, beribadah dalam komando imam, melepaskan berbagai atribut sosial politik, menerima berbagai perbedaan mazhab fiqih, beraktivitas dalam suasana yang egaliter, penuh rasa persaudaraan, justru itu sebuah gerakan politis yang luar biasa, jika kita mau melihatnya secara luas, tidak hanya untuk kegiatan politik praktis parpol, yang sebetulnya justru menyempitkan makna politik yang luas di atas.

In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
Our Lord! We have been unjust to ourselves, and if Thou forgive us
not, and have (not) mercy on us, we shall certainly be of the losers.

(Al A’raaf:23)

Referensi/Catatan:
[1] Shahih Imam Bukhari
[2] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Risalah Bai’at, alih bahasa Ahmad Tarmudzi, Pustaka At-Tauhid, Jakarta

POSTED BY DOS )|( BERI KOMENTAR

48 KOMENTAR:

    1.  2008 Januari 13 17:52,     Blogger kobolog menulis…

      Setuju!!!

      Ijinkan saya untuk berbagi (sharing). hingga saat ini saya sedang berjuang untuk mengembalikan rasa cinta masyarakat kepada masjid. berbagai upaya saya rintis, mulai dari menciptakan kegiatan-kegiatan, silaturahim, mengikutsertakan masyarakat untuk setiap kegiatan dan sebagainya. kebetulan saya menjadi ketua dkm di masjid tersebut.

      suatu ketika, kita merencanakan kegiatan dimasjid berupa pengajian perdana dengan mengundang masyarakat sekitar ba’da isya, undangan sudah disebar, masyarakat cukup antusias. namun tanpa ada pemberitahuan kepada DKM, teman-teman PKS menggunakan masjid untuk kegiatan yang hampir sama, pada hari yang sama dgn waktu ba’da ashar. mereka menggunakan pengeras suara hingga masyarakat mendengarnya dari rumah masing-masing. masyakat mulai resah dan bertanya tanya. Lho.. acaranya ba’da isya kan? kok di masjid sudah di mulai? bagi pengurus DKm yang tidak tau menahu acr tsb cukup terperangah dan sedikit menyembunyikan rasa tidak taunya mengatakan o… itu acr si fulan.

      satu kasus dimana teman-temen PKS bersikap kurang bijaksana, masih ekslusif dan kurang memperhatikan etika. mudah-mudahan teman-teman PKS haya khilaf dan segera memperbaiki diri.

      kasus lain, masjid digunakan untuk kegiatan partai dengan menggunakan spanduk PKS. ini juga menjadi penghalang bagi masyarakat untuk datang ke masjid. saya prihatin terhadap kondisi ini, kita berdakwah untuk mengajak orang berani menegakkkaa kalimat tauhid, bukan berdakwah menegakkan kekuasaan PKS di muka bumi, na’udzubillah.

      Khittah PArtai Keadilan di awal berrdirinya adalah untuk menegakkan syari’at Islam. ini menjadi Ruh para kader. berapapun harta yang dibutuhkan kader rela untuk mengeluarkan. Namun PKS sebagai penerus PK mengeliminir perjuangan syari’aat, suara kader dan simpatisan “di jual” untuk kekuasaan. liqo isinya hanya ta’limat partai melulu. Kader dipaksa untuk merekrut orang kemudian ditarget untuk memilih pasangan tertentu.

      kemudian masjid dijadikan base camp perekrutan untuk hal-hal yang pragmatis pemenangan pemilu. Ya Alloh hidupkanlah dakwah kami, ya alloh kuatkanlah dakwah kami. ya Alloh runtuhkanlah bagi mereka yang berdakwah hanya untuk pragmatisme politik. aminn

      HIDUP DAKWAH! HIDUP DAKWAH!
      RUNTUHLAH PRAGMATISME POLITIK

    1.  2008 Januari 13 18:34,     Anonymous anak_kemaren_sore menulis…

      baru sekali ini tulisan bung DOS bisa saya ‘terima’ nyaris 100%. Terimakasih bung, mudah2an teman2 kita sudah mulai dan mau menyadari. 🙂

    1.  2008 Januari 13 22:44,     Anonymous wongyojo menulis…

      Saya juga sepakat 100%.

      Saya pernah diajak temen untuk pengajian disebuah masjid di kawasan Prambahan Sleman Yogyakarta, menjelang pemilu legislatif yang lalu.

      Awalnya ya saya kira pengajian gitu saja, eh ternyata pengajian partai, membicarakan partai dan yg mengisi orang partai. Isinya ya mengunggul-ungunggulkan partai. Saat itu yg ngisi adalah ustad PKS (disini gak boleh nyebut nama ya bang DOS…).

      Ya saya kecewa, wong saat itu saya dapetnya ilmu politik je bukan ilmu agama.

      Sepakat 100% dengan bung DOS dan kawan lainnya.

    1.  2008 Januari 15 01:28,     Blogger dineul menulis…

      sebaiknya pembahasan difokuskan pada kiprah PKS di parlemen. Bagaimana penyimpangan yang dilakukan dan bagaimana solusinya. Masalah masjid dipolitik praktiskan atau yang lain lain tergantung niat masing2 saja yang penting untuk tujuan membawa orang pada kebaikan.

    1.  2008 Januari 15 02:42,     Blogger DOS menulis…

      #4: Ma kasih atas sarannya. Tapi blog ini membahas PKS secara umum, termasuk tapi tidak terbatas pada kiprah di parlemen.

      Saya kurang sepakat kalau Anda bilang itu tergantung niat masing-masing. Anda tentu tahu berbagai kaidah dalam fiqh perbandingan, seperti:
      – Kerusakan itu dihilangkan sedapat mungkin;
      – Mencegah mafsadat didahulukan ketimbang mendapakan maslahat;

      Syaikh Yusuf Al Qaradhawi di dalam buku Fiqih Prioritas sudah membahas hal ini, bahwa fiqih perbandingan mempunyai fungsi yang amat besar dalam kehidupan, khususnya siyaasah syar’iyyah. Nah, alangkah baiknya kalau hal ini juga kita terapkan dalam strategi dakwah sehari-hari, dengan menghindari gesekan sesama umat Islam di masjid.

    1.  2008 Januari 15 06:41,     Anonymous Rizki menulis…

      Assalam

      Alhamdulillah kalau saya pribadi di tempat saya sekarang tidak mengalami hal yang ditulis bung DOS. Alhamdulillah masjid bebas dari segala sesuatu yang berbau kampanye terselubung di tempat saya. Semoga bisa terus demikian demi kemaslahatan bersama.

      Dan melihat tulisan bung DOS serta comment kawan2, saya juga……
      Sepakat 100%.

    1.  2008 Januari 15 11:39,     Anonymous Ny. Fira menulis…

      Assalamu’alaykum wr wb

      Mas DOS,
      Saya bisa memahami alasan anda tidak mencantumkan nama orang, waktu maupun lokasi kejadian.

      Lha tapi kalo tinggalnya jauh dari Indo kayak saya begini, membaca tulisan anda kok rasanya ada yg kurang.

      Maksud saya, terkait soal penggunaan masjid atas nama PKS, apa ngga sebaiknya juga dicantumkan kapan, di mana, dipake buat apa. Siapa tahu, bisa jadi masukan dan perbaikan bagi teman2 PKS di lokasi tsb sekaligus bisa diambil ibrah utk aktivis dakwah lainnya.

      Saya husnuzhan yg semacam ini bukan kebijakan pusat dari PKS, melainkan kreativitas kader di bawahnya yg memang perlu dipantau, diarahkan, dan diberi masukan. Dan itu bisa terjadi tdk hanya pada PKS tetapi juga parpol/ormas islam lainnya.

      Terimakasih.

    1.  2008 Januari 15 16:58,     Blogger DOS menulis…

      #7: Wa’alaykumsalam wr wb Ny Fira.

      Terima kasih karena memahami mengapa saya tidak bisa mencantumkan nama, karena ingin menghindari fitnah, kecuali memang sudah dicantumkan oleh media terkemuka lain yang bisa ditelusuri sanadnya.

      Thayyib, ini contoh masjid yang saya sebut di atas, masjid At-Taqwa di Jl Pasar Minggu, Jaksel (kira-kira 200 meter sebelum terminal Pasar Minggu kalau dari arah Pancoran). Saya kenal betul masjid ini, mana tempat wudhu yang muncratan airnya ok dan gak ok, WC-nya, dll :), karena selama beberapa tahun hampir tiap hari saya shalat dzhuhur s.d. maghrib di situ.

      Kadang-kadang, di hari minggu ada kegiatan PKS, sampai bazaar di halaman masjid, kadang saya suka beli tuh :), tentu lengkap dengan spanduk dan umbul2 partai. Di bulan Ramadhan, juga ada kultum habis dzuhur, terutama hari Minggu, didominasi kader PKS, kelihatan dari jaketnya.

      Di hari Selasa pagi ada pengajian ibu-ibu, ustadz HNW pernah mengisi, karena sedang suasana kampanye (awal 2004), ya tema ceramah nyerempet-nyerempet milih PKS :).

      Waktu itu saya pikir itu ok-ok aja, terutama karena saya juga sedang tinggi-tingginya ghirah terhadap PKS, atau sedang jadi al-akh mabok ghirah he.. he.., toh kita sedang memperjuangkan Islam ini. Tapi belakangan saya sadari, ini kurang tepat, bisa dilihat dari ulasan saya di atas.

      Ma kasih karena Anda husnuzhan bahwa ini bukan kebijakan pusat. Tapi barusan saya googling, ketemu nih salah satu kegiatan yang kebetulan di masjid At-Taqwa juga, tentang kunjungan cagub DKI dari PKS Adang ke masjid tersebut. Nah, Anda bisa nilai sendiri, apakah pemanfaatan masjid untuk kegiatan partai itu adalah sebuah kebijakan atau kreativitas kader di bawah.

      Bisa lihat di sini: http://www.pks-jaksel.or.id/Article989.html

      Yang masang spanduk cerdik juga, tidak mencantumkan nama dan logo partai, mungkin untuk antisipasi masalah yang saya ulas ini, tapi dari tema warna spanduk, tetap ketahuan deh :). Belum lagi dari tokoh-tokoh lain yang hadir juga ketahuan ini partai apa. Kegiatan itu berlangsung 23 Jan 2007 (bukan 2006, seperti tertulis di narasinya, di spanduk kelihatan 2007), saat itu AD sudah diresmikan jadi cagub DKI dari PKS, so yeah… everybody knows deh dari partai mana kegiatan itu.

      23 Jan 2007 itu hari Selasa, jadi pas pengajian ibu-ibu, seperti ceramah ustadz HNW di atas :p, Anda lihat sendiri, audiensnya ibu-ibu tuh.

      Anda lihat sendiri fotonya, masjidnya bagus yah? Saya betah lama-lama di situ. Buat ente-ente yang sering ke masjid itu, mungkin ente pernah melihat seorang pria bertubuh atletis dan seksi [* MODE NARSIS *] ^_^, sedang ngobrol atau baca buku di teras masjid, nah kemungkinan Anda melihat DOS he.. he..

    1.  2008 Januari 15 19:00,     Anonymous tauhid menulis…

      Assalamualaikum
      Ketika pertama kali saya sedikit bersinggungan dengan pengurus DKM(ketua umum,wk ketua,sekretaris dan bendaharanya kader PKS semua)di mesjid dekat komplek saya tinggal, tentang “berpolitik praktis di mesjid”,kesan yang saya tangkap dari para pengurus adalah:”koq ibadah dipermasalahkan sih?”,koq pengajian dipermasalahkan sih?”.sekilas,saya merasa dipandang sesat dan menghalangi dakwah.
      Sebenarnya belum terlalu lama saya
      menangkap ada kegiatan kegiatan politik praktis di mesjid dekat tempat saya tinggal(saya termasuk
      orang yang datang ke mesjid hanya untuk berjamaah shalat lima waktu dan terkadang membaca selepas waktu ashar).Saya hanya melihat bahwa para pengurus DKM adalah orang-orang yang eklusive(atau meng-eklusive-kan diri).Hal yang paling gampang terlihat dari sudut perbedaan fiqh para pengurus dengan mayoritas masyarakat sekitar.Tapi,saya fikir bahwa hal itu adalah hal klasik yang sangat biasa terjadi di mesjid manapun.Sampai suatu saat ketika HTI melaksanakan MABIT di mesjid itu,barulah saya melihat ada kegiatan politik praktis di mesjid dekat tempat saya tinggal itu.saya ingat ketika itu sehabis shalat Isya berjamaah,ada kegiatan MABIT dari HTI.Undangan dari HTI sudah di umumkan tiga hari sebelum palaksanaan(di jumatan sebelumnya).Setelah shalat sunat bada isya saya berniat langsung pulang,tapi koq saya lihat gak ada satupun dari pengurus DKM yang hadir.saya akhirnya mengikuti MABIT tersebut dengan alasan bahwa saya termasuk dari jamaah tuan rumah masjid.masa tuan rumah gak ada yang hadir?Saya hanya diam dan bingung.bingung dengan apa yang di bicarakan di HTI,lebih bingung dan heran lagi dengan pengurus DKM yang
      tidak bisa hadir.Keheranan itu saya pendam sampai besok harinya ketika saya tanyakan hal ketidak hadiran para pengurus DKM pada salah seorang jamaah,ternyata jawabannya,”gak bisa pak..HTI ama PKS kan bertolak belakang..”.Lah…emang apa urusannya sama PKS?saya bertanya lagi..ternyata akhi itu gak mau jawab.mungkin dia sadar bahwa dia telah membocorkan hal yang mungkin saat itu masih menjadi rahasia di kalangan pengurus.

      Setelah kejadian itu,saya kemudian
      tahu bahwa mesjid yang saya datangi memang di “kuasai” oleh para kader PKS.Saya sependapat dengan Bung DOS,bahwa ketika kita memasuki mesjid,semua atribut politik,jabatan dan sebagainya harus ditanggalkan.apalagi dipakai dari kegiatan sebuah parpol yang belum kelihatan jelas apa sebenarnya tujuan ahirnya.
      Terima kasih Bung DOS..
      Wassalam

      PS: sorry BOS DOS..kalo ngaco mah di edit aja..saya blm biasa nulis..atau di reject juga gpp kalo emang gak pantes..May 4JJ1 bless you..

    1.  2008 Januari 16 01:40,     Anonymous thaqien_jusuf menulis…

      Yup, Saya sependapat dengan kebanyakan komentar yang ada disini. Masjid haruslah menjadi tempat bernaung semua orang. Ketika seseorang aktif di masjid, berarti dia aktif untuk semua kegiatan yang bernafaskan islam. Tidak bisa salah satu partai atau golongan mempolitisir masjid sebagai miliknya.
      PKS = Dakwah dan bukan Dakwah = PKS. Sistem kepartaian merupakan salah satu sarana penunjang dakwah. Sehingga sudah seharusnya sistem kepartaian yang ditunjukkan partai-partai Islam, tidak mengerdilkan pola pikir masyarakat tentang konsep berdakwah di Masjid.
      Kritik yang sedikit namun bertujuan untuk menguatkan lebih baik ketimbang sanjungan yang sedikit namun melenakan.

    1.  2008 Januari 17 23:37,     Anonymous wongyojo menulis…

      Bicara tt masjid…

      Di Jogja, khususnya UGM punya/dekat dengan dua masjid.
      Mardliyah dan Masjid Kampus.

      Masjid kampus di huni/urus oleh tiga elemen, Jamaah Shalahuddin dan Takmir. Selain itu ada lagi Yayasan.

      Takmir yang menjadi pengatur penggunaan masjid, dipegang oleh dosen, bukan mahasiswa. Selama banyak yang mengadakan acara di MAS-KAM. ada HTI, Salaf, Dzikirnya Arifin ilham, trus A’a Gym, berbagai forum pengajian, Muhammadiyah dll dll.

      Saya berprasangka baik, bahwa pemilihan takmir dari dosen, bukan mahasiswa adalah sebauh pilihan cerdas. Mungkin dikhawatirkan jika diurusi mahasiswa, dan saat ini para kader PKS banyak yg mengasai masjid kampus, akan ada kooptasi.

      salam

    1.  2008 Januari 17 23:55,     Blogger DOS menulis…

      Saya baru baca, ternyata FPKS memang getol untuk menggunakan masjid sebagai tempat kampanye. Dalam perdebatan revisi UU Pemilu Legislatif, FPKS menyatakan ketidaksetujuan pelarangan masjid sebagai tempat kampanye. Bisa dibaca di sini:http://www.indopos.co.id/index.php?act=detail_c&id=303288

      Jadi FPKS ingin melegalkan masjid sebagai ajang kampanye.

      Sekalian ini menegaskan jawaban untuk pertanyaan #7, apakah penggunaan masjid ini adalah kebijakan partai atau hanya kreativitas kader di bawah.

      Agus Purnomo dan Muzzammil Yusuf beralasan bahwa kampanye di masjid bisa menjadi ajang pendidikan dan pencerdasan politik masyarakat.

      Nah, coba kita bayangkan realitanya nanti, jika katakanlah jumlah kontestan pemilu seperti tahun 2004 sebanyak 24 parpol, lalu semuanya ingin berkampanye di masjid (kecuali mungkin partai Kristen seperti PDS), apa yang akan terjadi di masjid?

      Sekali lagi, tidak ada pelarangan menggunakan masjid untuk berpolitik praktis di dalam Islam. Tapi apakah saat ini kondisinya sudah tepat?

      Kalau mau dibalik pernyataan Agus dan Muzzammil di atas, apakah dengan tidak menggunakan masjid maka proses pencerdasan politik umat jadi terhambat?

      Apakah tidak ada prioritas yang lebih penting dalam penggunaan masjid? Seperti untuk meningkatkan kualitas tauhid umat?

      Selama ini ada sinisme terhadap parpol, bahwa mereka mendekati rakyat hanya menjelang kampanye. Apakah nanti tambah lagi sinisme, bahwa mereka mendekati masjid hanya menjelang kampanye?

    1.  2008 Januari 19 01:20,     Anonymous kawula alit menulis…

      tambahan untuk wongyojo.

      sebenarnya masjid 2 terebut adalah masjid kampusnya ugm. bukankah keduanya bernama masjid kampus mardliyah dan masjid kampus ugm? yang satu terletak di sebalah barat dan satunya terletak di sebelah timur kampus. hanya saja selama ini, seama saya tinggal di yogya, masjid mardliyah identik bukan sebagai masjid kampus tetapi sebagai masjid umum yang dikuasai oleh tarbiyah. kenapa saya berani katakan dikuasai? ya, karena kegiatan, orang-orang yang aktif dan pembicara yang datang adalah orang-orang itu juga. bahkan saya bisa memetakan seorang mahasiswa apakah ia tarbiyah atau bukan dengan melihat intensitasnya datang ke masjid mardliyah. bahkan di kampung saya yang jauh dari yogya saja (di propinsi yang berbeda), orang-orang yang aktif di pks selalu bertanya saya yang saat itu mahasiswa ugm ttg majid mardliyah….bagi saya ini amat janggal….!!! ini menunjukkan bahwa masjid mardliyah sudah dikooptasi oleh pks.. karena itu mungkin atas sebab inilah salah seorang pejabat ugm ingin melakukan NASIONALISASI lagi masjdi kampus mardliyah yang lepas pangkuan itu..dan ternyata rencana ini tersiar santer di kalangan tarbiyah alias aktivis pks kampus.

      sedangkan yang masjid kampus ugm yang baru dan megah alhamdlillah sampai saat ini belum dikooptasi oleh tarbiyah atau pks. tapi sayangnya ldk ugm sepertinya sudah dikooptasi oleh pks sebab dulu pernah menghalang-halangi seorang anggotanya yang ingin mengadakan kajian rutin yang ngisi ustadz yang cenderng ke salafy meskipun anggota tersebut bukanlah salafy. dan ini dihalang-halangi oleh pengurus yang aasannya nggak jelas sama sekali… padahal anggita tesebut bersedia untuk benar2 serius mengurusnya….yah namanya juga pks, begitulah tingkahnya….

    1.  2008 Januari 24 00:05,     Anonymous boncu menulis…

      saya orang kalimantan, di mana yang “berkuasa” di masjid-masjid di sini bukan PKS. Kok ente gak repot-repot ngomentarin yang bukan “PKS”, yang jelas-jelas menjalankan “penguasaan” dan “pengontrolan” terhadap masjid bukan untuk kepentingan da’wah dan ‘izzul-islam. Ini sebetulnya masalah udah lama. Kenapa sekarang dibahas lagi-dibahas lagi. Dulu, ketika saya masih kecil, saaya juga benci kepada sebuah partai (dulu golongan) yang menggunakan masjid sebagai alat vote getternya. Tapi setelah menang, pemakmuran masjid itu gak diperhatikan. Kalo, PKS beda deh. Mungkin, karena kader PKS di sini beda dengan di tempat ente

    1.  2008 Januari 26 01:24,     Anonymous rakyat biasa menulis…

      Saya kira mem-politikpraktiskan masjid bukan hanya dilakukan PKS saja, banyak juga yang lain. baik partai maupun ormas non-partai. Jika dia adalah ormas dakwah non partai its ok (meski ada juga permasalahan)

      namun jika yg melakukan adalah partai ini yang jd masalah….Semua partai tidak hanya PKS, jangan menggunakan masjid u kegiatan politik.

    1.  2008 Januari 30 00:23,     Blogger Ahmad menulis…

      Silahkan masjid dijadikan ajang pembelajaran politik. Tapi Saya tidak setuju jika masjid dijadikan ajang kampanye.

      Masyrarakat kita kan bukan hanya partai Islam, yang partai Islam kan juga bukan hanya PKS. Lebih baik di masjid bicara Islam. Biar masjid jadi sumber kedamaian, bukan perpecahan gara2 partai

    1.  2008 Februari 1 10:52,     Anonymous imron menulis…

      Untuk #13 kawula alit, setahu saya -CMIIW-, masjid Mardliyah bukanlah masjid (resmi) kampus UGM. Takmir masjid Mardliyah sebagiannya adalah dari warga sekitar. Memang ada sebutan ‘masjid kampus’ tapi itu merujuk pada tempat beradanya di sekitar kampus UGM. Teman-teman saya terlibat dalam pendirian Masjid Kampus UGM (resmi) yang megah itu dan alasan utama Rektor UGM saat itu (Ikhlasul Amal)adalah karena UGM tidak punya masjid kampus. Bahkan sekarang pun, sebenarnya bukan UGM yang punya, tetapi Yayasan Masjid Kampus UGM.

    1.  2008 Februari 3 06:30,     Anonymous kawula alit menulis…

      Untuk imran,

      kata teman saya juga yang pernah ikut rapat bersama wakil rektor ugm (sekitar tahun 2005), dalam rapat tersebut wakil rektor Dr. CA (yang juga seorang tokoh cendekiawan muslim di Jogja) menyatakan dengan jelas bahwa akan melakukan nasionalisasi masjid kampus mardliyah dan menawarkannya pada UKM kerohaniannya. sehabis pertemuan itu yang juga dihadairi oleh ketua UKM kerohanian, berita ini tersebar luas ke anak2 tarbiyah di kampus.

    1.  2008 April 15 06:06,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Baik tujuannya, harus baik pula caranya. Maaf, saya melihat blog ini memadukan antara dalil shahih, pendapat Ustadz yang tepat pada konteksnya, dan syak-wa sangka yang berhamburan. Air laut boleh terlihat biru, benar-benar biru, tapi tidakkah kurang bijaksana mengatakannya pasti berwarna biru?
      Ada taujih dari Ustadz Ahmad Sarwat mengenai menyikapi perbedaan pendapat.

      1. Menghindari Berbantah-bantahan Dengan Sesama Duat

      Kalau kita kita tidak berhenti dari berdebat dan berbantah-bantahan, maka lama kelamaan kita sendiri yang akan perang saudara. Bukannya berjuang menegakkan dakwah, kita malah jadi pembangkang nilai agama kita sendiri.

      Dahulu para shahabat nabi juga pernah berbantah-bantahan. Bukan karena niat mereka buruk, tapi karena sudut pandang mereka tidak jadi satu. Maka dari langit turun taujih rabbani:

      Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. Al-Anfa: 46)

      Jangan sampai kita malah berakhlaq yahudi, dengan asyik saling berbantahan sendiri dengan sesama pejuang dakwah. Sementara Al-Quran menceritakan bagaimana dahulu Bani Israel berbantah-bantahan sesama mereka, yaitu pada saat genting di mana mereka harus menghadapi kekuatan Fir’aun.

      Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan. (QS. Thaha: 62)

      2. Berhenti dari Saling Mencela

      Berbantah-bantahan di atas kalau tidak segera dihentikan, biasanya akan menjalar menjadi saling caci, saling cela, saling maki dan saling menghina.

      Akan sangat disayangkan kalau majelis-majelis taklim yang awalnya digunakan untuk mempelajari ilmu Allah dan sunnah Rasul-Nya, kadang ganti channel menjadi kajian untuk menjelek-jelekkan tokoh yang dianggapnya berseberangan ijtihad politik.

      Majelis yang seharusnya didengar di dalamnya firman Allah, jangan sampaiberubah jadi majelis untuk mendengarkan perkataan manusia, lengkap dengan hawa nafsunya.

      Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat: 11)

      3. Hindari Prasangka Buruk

      Terkadang sikap yang sangat ekstrim lahir dari prasangka buruk antar sesama pejuang dakwah. Yang satu menuduh temannya salah, yang dituduh tidak terima, balas menuduh saudaranya salah.

      Yang satu menuduh bahwa dakwah lewat jalur politik hanya sekedar kedok belaka, padahal sebenarnya semata-mata hanya kepentingan duniawi, bergelimang dengan harta, pamer kemewahan, mengikuti hawa nafsu, baik nafsu kekuasaan atau nafsu ‘kawin lagi’.

      Pendeknya, prasangka buruk itu memang ajaib, sekali satu pihak melontarkannya, maka akan langsung meletup menyambar-nyambar ke sana kemari, persis bensin dilempari puntung rokok.

      Padahal kita masih aktif membaca Al-Quran, dan salah satunya yang masih terngiang saat kami menuliskan tulisan ini menjelang adzan shubuh adalah firman Allah berikut ini:

      Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka buruk, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Hujurat: 12)

      Sebagai muslim, kami agak merinding kalau mendengar ayat ini, sebab permisalan yang Allah SWT gambarkan memang sadis sekali. Ketika kita berburuk sangka kepada saudara kita, lalu menggunjingkannya, atau mencari-cari titik kelemahannya, kita dikatakan seperti sedang memakan daging saudara kita itu. Benar-benar kanibal akhlaq seorang muslim ketika melakukannya.

      Wallahu’alam bishshowab.

    1.  2008 April 15 06:24,     Blogger DOS menulis…

      To #19 (Aiman Tashika):
      >saya melihat blog ini memadukan antara dalil shahih, pendapat Ustadz
      >yang tepat pada konteksnya, dan syak-wa sangka yang berhamburan

      Please to the point aja bro, Anda tunjukkan mana syak wasangka yang berhamburan itu. Kita diskusi tertulis, gampang di-copy-paste tho? Jadi kalau mau kasih nasehat, langsung pada sasaran, dan saya dengan senang hati menerimanya.

      Taujih ustadz Sarwat itu benar kok, cuma gak enaknya kadang digunakan untuk yang hobi ber-amar-makruf-NYAMBI-mungkar untuk meredam kritik. Begitu dikritik, langsung keluar Al Hujuraat 11 dan 12, seakan-akan itu pasal karet.

      Saya sudah ulas ini di tulisan ‘Aib, Ghibah dan Fitnah’. Kalo pemahaman saya salah, saya mohon nasehat Anda di situ.

    1.  2008 April 16 00:48,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Saudaraku, tidakkah antum pernah menghitung berapa kali antum menuliskan satu kesimpulan pribadi dari fenomena yang antum lihat dan kemudian hal tersebut menjadi landasan argumentasi berikutnya dalam satu tulisan? Kadang ane melihat alasan itu terus meluncur, sambung-menyambung sampai akhir tulisan tanpa rem. Ana nukilkan sedikit.

      DOS:
      Boleh dibilang tulisan ini sebuah jawaban telak dan syar’i terhadap anismisme.

      Aiman:
      Apakah benar tulisan Abu Ridha adalah “sebuah jawaban” untuk tulisan Ustad Anis? Pernahkah antum benar-benar mewawancarai Ustad Abu Ridha dan berani bersumpah demi Allah kalau artikel Ustad Abu Ridha itu memang ditujukan untuk menjawab tulisan Ustad Anis? Kata “boleh dibilang” menunjukkan kalau antum tidak melakukan itu semua.

      DOS:
      Salah satu yang membuat saya ‘tersengat’ ketika membaca pemikiran anismisme, salah satunya, sbb: “Setiap hari saya lewat di depan sebuah rumah besar halamannya luas. Kalau saya lewat rumah itu saya berjalan pelan-pelan sambil menunggu bis dari Al-Manar. Saya melewati rumah itu yang terletak di pojok halaman yang luas dan ada banyak pohon-pohonan. Saya usap itu temboknya. Alhamdulillah rumah itu menjadi rumah saya. Apabila saudara antum punya mobil, antum jangan marah padanya. Jangan tanya uangnya dari mana. Jangan tanya seperti itu. Antum pegang mobilnya, usap-usap mobilnya” (Dari transkrip ceramah ustadz Anis Matta di Riau, halaman 6, alinea ke-6). Bagi yang belum memiliki transkrip itu, silahkan tanya ke Depera/DPC/DPD terdekat (‘tm’).

      Penggalan di atas hanya ‘salah satu’ dari sekian banyak yang menyengat dari pemikiran anismisme. Mengapa saya bisa ‘tersengat’? Karena pemikiran itu betul-betul aneh dan nyeleneh. Tidak pernah saya diajarkan sejak kecil, baik oleh orang tua, guru, SD negeri yang sekuler, madrasah ibtidaiyah di kampung, atau majelis-majelis ilmu agama yang saya hadiri, tidak pernah saya diajarkan untuk berkhayal. Ya, saya diajarkan untuk bercita-cita, tapi bercita-cita itu sungguh beda substansinya dengan berkhayal.

      Aiman:
      Pernahkah antum bertanya kepada Ustad Anis mengenai hal ini? Pernahkah antum mencoba mengirim email padanya? Beliau anggota DPR, emailnya di-publish kepada publik. Benarkah Ustad Anis sengaja menjadikannya nyeleneh? Benarkah pemikiran itu benar-benar aneh? Pernahkah antum berprasangka baik bahwa mungkin ada maksud Ustad Anis yang lain yang mana belum bisa kita tangkap? Apakah beliau benar-benar nyeleneh? Apakah antum tidak pernah menyadari bahwa argumentasi antum terbawa dalam menyampaikan tulisan Ustad Abu Ridha? Kenapa harus pakai pengantar? Tidakkah bisa antum membiarkannya tanpa pengantar antum–murni tulisan Abu Ridha saja? Kenapa harus diawali dengan “ini jawaban terhadap anismisme”? Beranikah antum bersumpah demi Allah Ustad Abu Ridha rela antum mengantarkan tulisannya dengan redaksi “jawaban terhadap anismisme”?

      DOS:
      Hal yang kedua yang lebih parah lagi adalah kalimat “Jangan tanya uangnya dari mana”. Dalam hal harta, Islam yang saya kenal dan para pembaca kenal -saya yakin dalam hal ini insya Allah persepsi saya totally comply dengan Quran dan sunnah-

      Aiman:
      Kenapa antum bilang begini? Apakah antum mencoba mengatakan kalau pada pendapat2 antum yang lain, persepsi antum nggak terlalu yakin totally comply dengan Quran dan Sunah? Kalau memang benar begitu, kenapa antum publish? Bukankah tulisan yang tidak antum yakini itu bisa dibaca siapa saja? Bisa memengaruhi siapa saja? Kenapa antum publish!?

      DOS:
      … adalah Islam yang mengajarkan kita bagaimana mencari uang/nafkah dengan cara yang halal dan ikhtiar yang optimal, kemudian tawakkal. Cara adalah sangat penting, jauh lebih penting ketimbang hasil, karena hasil itu semata-mata tergantung pada Allah. Berangkat dari situ, saya terbiasa secara otomatis bertanya, setidaknya dalam hati kalau keadaan tidak memungkinkan, darimana si Fulan ini mendapatkan uangnya yang banyak. Mengapa saya bertanya seperti itu? Karena saya juga ingin belajar.

      Islam mengajarkan saya untuk memiliki harta, dan Islam juga mengajarkan saya bahwa memiliki harta itu haruslah dengan cara-cara yang syar’i. Karena itu jika ada rekan saya yang terlihat sukses secara duniawi, saya ingin pula belajar bagaimana cara dia mencapai kesuksesan itu. Apakah dengan cara menjual harga diri?

      Aiman:
      Maksud antum apa menyambungkan pengetahuan antum mengenai cara mencari rizki dengan kalimat “apakah dengan cara menjual diri?” Dari mana kalimat ini berasal? Dan kenapa harus disambungkan dalam konteks pembicaraan artikel Ustad Abu Ridha?

      DOS:
      Well, saya punya rekan-rekan yang seperti ini. Baru beberapa tahun jadi PNS/BUMN, kemudian ternyata sudah memiliki kekayaan, yang jika saya ukur dengan gaji saya sebagai manajer senior selevel VP di perusahaan menengah di Jakarta, maka akan membutuhkan waktu jauh lebih lama buat saya memiliki kekayaan seperti rekan-rekan tersebut, yang gaji resminya sepersekian dari gaji resmi saya. Itupun dengan catatan saya tetap dengan life style saya yang sama sekali tidak jetset dan cenderung slenge’an (setelah saya menikah slenge’an ini memang agak berkurang, karena harus toleransi dengan istri).

      Bahkan jika dibandingkan dengan gaji saya sekarang dalam mata uang asing yang lumayan kuat, saya masih tetap membutuhkan waktu lama untuk bisa mengumpulkan uang untuk memiliki kekayaan seperti rekan-rekan tersebut, itupun dengan catatan gaji itu utuh, tidak saya gunakan untuk makan yang paling tidak 3-5 kali lipat dari harga di Jakarta dan berbagai kebutuhan lainnya yang juga mahal (banget). Tentunya saya khusnuzhan dulu, saya tanya baik-baik, siapa tahu mereka memang pintar berinvestasi dan berternak uang secara halal, sehingga layak saya jadikan tempat belajar. Meskipun saya memang kurang minat dengan lifestyle yang nge-jetset itu -alhamdulillah memang sudah bawaan orok penampilan saya cenderung slenge’an dan apa adanya- tapi saya juga kepengen punya duit banyak, supaya ntar kalo mati ada amalan yang masih mengalir dari infaq yang juga banyak dan ikhlas tentunya.

      Saya mulai dengan pertanyaan standar, “Wah, udah sukses nih, bagi-bagi ilmu dong.”

      Cerita punya cerita, usut punya usut, ternyata smartphone mahal itu “hadiah” dari vendor yang menang tender, ternyata laptop mahal itu “sisa anggaran” proyek, ternyata liburan ke luar negeri tahun lalu itu “atas jasa” kepada kontraktor tertentu, ternyata mereka sangat “smart” mengutak-atik angka anggaran sehingga hasil tercapai tapi masih banyak sisa yang bisa dijadikan sebagai “uang lelah dan terima kasih”. Lalu pintar pula “berfatwa” bahwa mereka hidup secara balance dunia akhirat, karena “rezeki” tersebut mereka gunakan untuk bersedekah dan naik haji. Dalil yang saya kemukakan tentang haramnya pegawai negeri menerima hadiah (dari hadits shahih muslim) ditolak mentah-mentah. Bahkan karena dianggap keseringan menyinggung hal tersebut, sebagian terasa mulai “menjauh” dari si DOS.

      Aiman:
      Antum sebenarnya mau membandingkan keadaan teman antum dengan Ustad Anis? Apakah benar-benar sama? Apakah teman antum memiliki kafaah syariah untuk berdalil? Kenapa contoh ini yang dilekatkan?

      Singkatnya, kesimpulan saya: mereka ini sudah jadi garong berseragam, tidak layak ditiru. Pun, saya masih berharap, mudah-mudahan suatu hari nanti kesimpulan saya itu salah.

      Ketimbang nanti ini jadi blog narsis, saya cukupkan ilustrasi dari kisah nyata kehidupan pribadi saya itu, dan mari kita kembali kepada penggalan pemikiran anismisme yang saya kutip di atas. Ketika kita men-setup sebuah goal, atau bercita-cita, maka kita juga harus mulai mempelajari bagaimana cara mencapai cita-cita tersebut. Apalagi sebagai muslim, banyak rambu-rambu yang harus kita patuhi dalam mencapai cita-cita. Ketika kita bercita-cita menjadi kaya seperti si Fulan, kita juga harus belajar bagaimana cara si Fulan ini mendapatkan kekayaannya, apakah sesuai dengan rambu atau tidak. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengajarkan hal seperti itu, beliau bersabda, “Min Ayna Laka Haadza?” atau “dari mana kau dapatkan semua ini?”.

      Apa yang ingin saya gambarkan dari kisah saya di atas? Sangat penting buat kita mengetahui seseorang mendapatkan harta dari mana, apalagi kalau orang itu pejabat publik. Bukan karena dengki, naudzhubillah kalau ini karena hasad dan dengki, bukan pula karena mau reseh, tapi semata ini demi menjaga kelurusan amal. Lalu Nabi pun menyatakan demikian, jadi kurang apa lagi?

      Nah, bagaimana mungkin ada dai yang mengajarkan “antum jangan tanya uangnya dari mana, tapi usap-usap lah harta orang itu, sehingga alhamdulillah, harta itu menjadi harta antum”. Ini bukan sebuah cita-cita, bukan pula penanaman sugesti seperti yang beberapa kali disampaikan oleh akh yang membela anismisme. Ini sebuah ajaran untuk mengkhayalkan harta orang, karena mengetahui “cara mencari” harta adalah sesuatu yang diminta untuk diabaikan dalam ajaran ini (jangan tanya uangnya dari mana).

      Aiman:
      Antum berani bersumpah demi Allah kalau Ustad Anis memaksudkan tulisannya bukan untuk “penanaman sugesti seperti yang beberapa kali disampaikan oleh akh yang membela anismisme.” Antum juga berani bersumpah demi Allah bahwa redaksi “Ini sebuah ajaran untuk mengkhayalkan harta orang, karena mengetahui “cara mencari” harta adalah sesuatu yang diminta untuk diabaikan dalam ajaran ini (jangan tanya uangnya dari mana).” adalah 100% benar, tidak terbantahkan, dan pasti demikian adanya di depan Ustad Anis Matta tanpa pernah meminta konfirmasi beliau? Apakah antum punya catatan lintasan hatinya, seperti halnya Allah, sehingga berani berargumen seperti ini?

      DOS:
      “Padahal agama ini (dalam hal duniawi) sangat process oriented, tidak result oriented, bahkan result bukan urusan manusia, tapi urusan sang Khalik. Lebih mengherankan lagi buat saya adalah, adanya sekelompok orang yang kemudian membela habis-habisan pemikiran ini, bahkan men-syarah pemikiran ini dengan berbagai asumsi dan anggapan sehingga anismisme kelihatan menjadi indah dan syar’i.

      Lupakah mereka ajaran mulia dari Quran yang karim, “Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka” (Al Hijr: 88)? Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir Al Quranul Azhim-nya menjelaskan, bahwa Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan bahwa ayat ini melarang seseorang mengidamkan apa yang dimiliki oleh sahabatnya. Mujahid radhiyallahu ‘anhu berkata, “ini maksudnya si kaya”.

      Aiman:
      Ini dalil shahih. Bila antum gunakan setelah pertanyaan-pertanyaan ana terjawab, silakan. Tapi jika belum, antum benar-benar nekad.

      DOS:
      Tolong ya akhi, buat Anda-Anda yang pernah menanggapi kritikan saya atau ustadz lain atas anismisme ini sebagai kritikan yang penuh hasad, mari kita sama-sama istighfar, karena memang beberapa point dalam anismisme ini nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus yang bersumber dari Quran dan sunnah yang shahih. Tentu saja hal ini tidak mengurangi kemuliaan seorang ustadz Anis Matta yang sudah berkorban dan beramal begitu banyak untuk jamaah ini, jauh melebihi amalan saya, tapi justru karena kecintaan kita kepada beliau, bukan karena hasad, maka kita ingatkanlah jika ada kekeliruan dari beliau, karena beliau juga manusia.

      Jika masih mungkin kekeliruan itu diingatkan secara personal, maka lakukanlah. Tapi jika pemikiran keliru itu sudah menyebar ke masyarakat, maka wajiblah kita mengingatkan secara terbuka pula kepada masyarakat bahwa ada hal yang tidak pas pada pemikiran tersebut.

      Aiman:
      Tapi sudahkah antum ingatkan beliau secara personal? Sudahkah!? Kalau belum, antum benar-benar nekad.

      DOS:
      Jangan pula karena khawatir terkena dosa ghibah, lalu Anda diamkan saja pemikiran keliru ini di masyarakat. Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam kitab Riyadush Shalihin bab “Ghibah Yang Diperbolehkan”, bahwa dalam rangka memberikan peringatan atau nasehat kepada kaum muslimin, agar tidak terjerumus ke dalam kemungkaran, maka ghibah diperbolehkan (point ke empat pada bab tersebut).

      Silahkan rujuk kitab tersebut untuk lebih detailnya.

      Lebih lanjut mengenai konsep harta dan pentingnya untuk mengetahui asal-usul sebuah harta, bisa dibaca pada tulisan di bawah ini. Untuk ustadz Syamsul Balda saya ucapkan jazakallahu khairan katsira. – DOS

      ===============================

      Ana hanya mengingatkan. Upaya antum meluruskan jamaah bercampur argumentasi pribadi. Masalahnya, apakah argumentasi itu benar-benar sesuai pada tempatnya? Pas keadaannya, cocok konteksnya, atau tidak? Apakah argumentasi “air laut benar-benar biru” benar-benar membuar air laut biru? Atau itu sekadar argumentasi saja? Kalau memang biru, sudahkah dibuktikan dan diperlihatkan secara konkret buktinya? Kalau belum, meski antum percaya itu biru, tapi belum, apakah antum harus melemparkan opini itu ke orang-orang sehingga orang memercayainya? Bagaimana, jika suatu saat, ketika “MAHKAMAH BESAR” digelar, dan kemudian Allah bilang “air laut tidak biru”, apakah antum benar-benar bisa membuktikan itu biru–seperti argumentasi antum? Kalau tidak, antum kini benar-benar harus memikirkan jawabannya. Blog antum sudah diakses banyak orang. Memengaruhi banyak orang. Dan, pengaruh-pengaruh itu berkembang di dalam kepala mereka. Antum siap mempertanggungjawabkan perkembangan pemikiran itu? Jangan bilang antum tidak pantas dimintai tanggung jawab. Toh awalnya mereka begitu setelah membaca artikel antum. Sudahkah antum pikirkan seberapa jauh antum bertanggungjawab terhadap seluruh argumentasi yang belum terkonfirmasi dengan sumber-sumber yang dibicarakan di yaumil hisab nanti?

      Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan kebenaran…

    1.  2008 April 16 01:38,     Blogger abu menulis…

      saya cmn bisa bilang sekali lagi..so young..so green…buat antum akh aiman…:)
      antum sptnya tdk ada mengerti dan tdk tau ‘peta’ perpolitikan di elit PKS…

      Aiman wrote…
      Boleh dibilang tulisan ini sebuah jawaban telak dan syar’i terhadap anismisme.

      Aiman:
      Apakah benar tulisan Abu Ridha adalah “sebuah jawaban” untuk tulisan Ustad Anis? Pernahkah antum benar-benar mewawancarai Ustad Abu Ridha dan berani bersumpah demi Allah kalau artikel Ustad Abu Ridha itu memang ditujukan untuk menjawab tulisan Ustad Anis? Kata “boleh dibilang” menunjukkan kalau antum tidak

      bukan tulisan AR tp tulisan ust Syamsul Balda…bacanya yg bener donk…kalo jawaban yg emang ditujukan buat AM..yah baca aja tulisannya Ust Daud..judulnya FITNAH HARTA…dan emang itu tulisan khusus dibikin utk AM…dan tulisannya Ust Idris…semua tulisan ada disitus ini..

      Aiman wrote..
      Aiman:
      Pernahkah antum bertanya kepada Ustad Anis mengenai hal ini? Pernahkah antum mencoba mengirim email padanya? Beliau anggota DPR, emailnya di-publish kepada publik. Benarkah Ustad Anis sengaja menjadikannya nyeleneh? Benarkah pemikiran itu benar-benar aneh? Pernahkah antum berprasangka baik bahwa mungkin ada maksud Ustad Anis yang lain yang mana belum bisa kita tangkap? Apakah beliau benar-benar nyeleneh?

      Pemikiran tsb bener2 aneh…dan tdk usah didebatkan lagi..kecuali kalo antum punya prinsip kayak pendukungnya Gusdur…ke’anehan’ Gusdur malah dianggap kelebihan..jd grassrootnya yg dipaksa utk memahami dan berprasangka baik thd ke’anehan’ dr sang pemimpin..
      begitu juga AM…menurut saya…hanya org yg tdk menggunakan akal pikirannya saja yg msh mencoba mencari2 pembenaran dan berhusnuzhon dengan tulisan ‘aneh’ tsb…
      coba kalo AM cmn ‘orang biasa’ dan dia nulis yg aneh2 tsb..dan mempublis serta mensosialisasikan ‘ide2′ anenya itu..pasti dia akan rame di’hujat’ tp berhubung krn AM seorg qiyadah ..maka ‘akal sehat’ antum hilang…dan sbg kader yg baik antum berusaha memaksa akal antum utk ‘membenarkan’ dan mencari2 makna hakikat dr tulisan2 aneh dia tsb…pls bro…use your brain lah…

    1.  2008 April 16 02:10,     Blogger DOS menulis…

      To #21, akh Aiman, makasih atas peringatannya, saya sangat menghargainya.

      >Saudaraku, tidakkah antum pernah menghitung berapa kali antum
      >menuliskan satu kesimpulan pribadi dari fenomena yang antum lihat

      Akhi, blog ini adalah blog opini, saya menyampaikan apa persepsi saya terhadap apa yang saya lihat. Saya melihatnya sebagai rakyat biasa. Karena blog ini dibaca publik, saya berusaha sebisa saya untuk memeriksa/meng-cross-cek-referensi suatu informasi sebelum berpendapat.

      >DOS:
      >Boleh dibilang tulisan ini sebuah jawaban telak dan syar’i terhadap anismisme.
      >Aiman:
      >Apakah benar tulisan Abu Ridha adalah “sebuah jawaban” untuk tulisan
      >Ustad Anis? Pernahkah antum benar-benar mewawancarai Ustad Abu Ridha
      >dan berani bersumpah demi Allah kalau artikel Ustad Abu Ridha itu memang
      >ditujukan untuk menjawab tulisan Ustad Anis?

      Ya ampun akhi, Anda jangan buru-buru dan emosi gitu dong. Pakai bersumpah-sumpah segala. Saking buru2nya Anda sudah salah fatal dalam mengutip. Kata-kata yang Anda kutip itu berasal dari artikel “Min Ayna Laka Haadza?” dari ustadz Syamsul Balda, bukan dari ust Abri.

      Ngapain pakai bersumpah segala sih, ust Syamsul memang membuat itu untuk meluruskan pemahaman Islam tentang harta, yang belakangan ini jadi aneh oleh pemikiran anismisme. Nggak percaya? ya sutra, saya gak mau sumpah, gampang amat nyumpah-nyumpah, tapi Anda bisa tanya ustadz Syamsul. Gak tau kontaknya? hubungi saya via japri, saya bisa menghubungkan Anda dengan akh yang kenal langsung dan tahu kontak beliau.

      >DOS:
      >Salah satu yang membuat saya ‘tersengat’ ketika membaca pemikiran anismisme
      [cut]
      >Aiman:
      >Pernahkah antum bertanya kepada Ustad Anis mengenai hal ini?

      Ngapain? baca aja bukunya atau transkrip ceramahnya atau dengar audionya. Ada ribuan bahkan mungkin jutaan orang yang membaca atau mendengar ceramahnya, lalu masing-masing memiliki pemahaman sendiri atas bacaan itu. Menurut Anda gimana? masing-masing tabayun langsung, gitu? Realistis gak?

      >Pernahkah antum mencoba mengirim email padanya?
      >Beliau anggota DPR, emailnya di-publish kepada publik.

      Saya sudah lama mengirim email kritik ke anggota FPKS sejak zaman PKSWatch versi 1, bouncing nggak, dijawab juga nggak. Belakangan sudah males.

      >Apakah antum tidak pernah menyadari bahwa argumentasi antum
      >terbawa dalam menyampaikan tulisan Ustad Abu Ridha?

      Anda emosian nih, sampai salah ngutip lagi. Cooling down dong… rileks…nyante… take a breath… really deep… take again… hehehe…

      >Beranikah antum bersumpah demi Allah Ustad Abu Ridha rela antum
      >mengantarkan tulisannya dengan redaksi “jawaban terhadap anismisme”?

      Anda nih suka nyumpah-nyumpah yah, sudah salah ngutip nyuruh nyumpah lagi. Kalau ustadz Syamsul sih memang membuat tulisan itu untuk meluruskan pemahaman tentang harta yang ter-slenco-kan oleh ust AM. Aduh… slenco ini istilah temen saya yg Jawa totok, saya jadi ikut2an :). Sama seperti tulisan beberapa ustadz lainnya yang saya muat di sini.

      >DOS:
      >Hal yang kedua yang lebih parah [cut] -saya yakin dalam hal ini insya
      >Allah persepsi saya totally comply dengan Quran dan sunnah-
      >Aiman:
      >Kenapa antum bilang begini? Apakah antum mencoba mengatakan kalau
      >pada pendapat2 antum yang lain, persepsi antum nggak terlalu yakin
      >totally comply dengan Quran dan Sunah? [cut]

      Hehehe… Anda lawyer yah? Jago juga debat ad hominem. Itu kan saya katakan dalam konteks penegasan, bukan berarti yang lainnya saya gak yakin.

      Contoh nih, surat Al Ashr ayat 1, Allah berfirman “Demi masa”. Apakah ayat-ayat Quran lain yang tidak ada kata-kata “sumpah”-nya berarti gak bisa diyakini kebenarannya? Gak dong, seluruh ayat Quran tetap benar. Kata-kata “demi…” itu hanya dalam konteks tertentu terutama untuk penegasan.

      Eh, saya gak nyamain artikel saya dengan Quran yah, tapi hanya analogi, bahwa dalam konteks tertentu kadang harus ada penegasan.

      >DOS:
      >… adalah Islam yang mengajarkan kita bagaimana mencari
      >uang/nafkah dengan cara yang [cut]
      >Aiman:
      >Maksud antum apa menyambungkan pengetahuan antum mengenai cara mencari
      >rizki dengan kalimat “apakah dengan cara menjual diri?”
      >Dari mana kalimat ini berasal? Dan kenapa harus disambungkan dalam
      >konteks pembicaraan artikel Ustad Abu Ridha?
      [cut]
      >Aiman:
      >Antum sebenarnya mau membandingkan keadaan teman antum dengan
      >Ustad Anis? Apakah benar-benar sama? Apakah teman antum memiliki
      >kafaah syariah untuk berdalil? Kenapa contoh ini yang dilekatkan?

      Sekali lagi, Anda salah kutip. Sebetulnya nih, saya pengen reject komentar Anda ini, karena salah tempat. Harusnya Anda posting ini di tulisan “Min Ayna Laka Haadza?”, karena kayanya hanya artikel itu yang Anda kulik-kulik secara gak teliti :).

      Anda jelas totally wrong dalam membaca. Saya sudah jelaskan di situ:
      Apa yang ingin saya gambarkan dari kisah saya di atas? Sangat penting buat kita mengetahui seseorang mendapatkan harta dari mana, apalagi kalau orang itu pejabat publik.

      Bukannya mau membandingkan ust AM dengan teman saya. Apalagi dikaitkan dengan kafaah berdalil. Anda diskusi gak fokus dan melebar-lebarkan masalah deh.

      Saya menulis untuk menjelaskan ketidaksetujuan saya dengan salah satu bagian dari ceramah ust AM. Untuk menjelaskan itu, saya cerita pengalaman pribadi saya, dan itu semata untuk memperkuat pendapat saya bahwa: sangat penting buat kita mengetahui seseorang mendapatkan harta dari mana. Padahal ust AM berkata, “Antum jangan tanya dari mana…”

      >Aiman:
      >Antum berani bersumpah demi Allah kalau Ustad Anis memaksudkan
      >tulisannya bukan untuk “penanaman sugesti seperti yang beberapa
      >kali disampaikan oleh akh yang membela anismisme.”

      Itu dari seorang akh. Akh ini diskusi dengan saya via email, dia membela pemikiran ust AM, dan mencoba memahami perintah usap2 itu sebagai penanaman sugesti.

      Sama saja, apakah Anda juga berani bersumpah bahwa maksud ust AM itu untuk sugesti? Kita memahami apa yang kita baca. Tidak ada satupun bagian dari ceramah beliau yang menyatakan itu penanaman sugesti, juga di bukunya. Tunjukin deh di buku atau transkrip ceramahnya (yg resmi dari DPP), bagian yg menyatakan itu sebagai teknik sugesti.

      Kalau menurut ustadz Daud Rasyid, itu bentuk gangguan kejiwaan. Nih saya kutipkan: mengelus-ngelus mobil mewah orang, terpesona dengan rumah orang, mirip seperti orang sedang mengalami gangguan kejiwaan.

      >Antum juga
      >berani bersumpah demi Allah bahwa redaksi “Ini sebuah ajaran
      >untuk mengkhayalkan harta orang, karena mengetahui “cara mencari”
      >harta adalah sesuatu yang diminta untuk diabaikan dalam ajaran ini
      >(jangan tanya uangnya dari mana).” adalah 100% benar, tidak
      >terbantahkan, dan pasti demikian adanya di depan Ustad Anis Matta
      >tanpa pernah meminta konfirmasi beliau?

      Doyan banget Anda ini nyumpah-nyumpah deh. Saya menuliskan dari pemahaman yang saya baca, dan saya cross-check juga dengan pendapat dari tulisan beberapa asatidz yang sebagian ada di blog ini. Kebenaran 100% itu hanya dari Allah, dari manusia itu relatif. Karena itulah saya memakai blog, karena dua arah, jika pemahaman saya salah mudah2an bisa ada yang membetulkan.

      Konfirmasi beliau secara langsung? C’mon akhi, berapa ribu kopi buku beliau yang ada di masyarakat? Berapa ribu atau puluh ribu atau mungkin juta umat yang udah dengar ceramah beliau? Kalau ada yang gak setuju, kemudian semuanya tabayun langsung, begitu?

      Itu sudah ada di ranah publik, jangan salahkan orang menilai.

      >DOS:
      >Lupakah mereka ajaran mulia dari Quran yang karim, “Janganlah
      >sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup
      >yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka”
      >(Al Hijr: 88)?
      >Aiman:
      >Ini dalil shahih. Bila antum gunakan setelah pertanyaan-pertanyaan
      >ana terjawab, silakan. Tapi jika belum, antum benar-benar nekad.

      Dalil ini digunakan oleh asatidz lain yang juga menulis tentang hal ini, yaitu ustadz Daud Rasyid. Silahkan Anda baca tulisan “Fitnah Harta” dari ust Daud. Mungkin karena beliau orang Batak, nada tulisannya lebih blak-blakan lagi. Beliau juga mengutip ayat itu, dengan redaksi yang sedikit berbeda, tapi beliau menyebutkan ayatnya.

      Ini saya kutipkan:
      Dalam sebuah ayat, Allah benar-benar melarang hamba-Nya melirik kekayaan/kelebihan yang dimiliki orang lain. Ayat itu berbunyi sebagai berikut: “Janganlah kamu mendambakan apa yang diberikan Allah kepada sebagian kamu di atas sebagian lain.”

      Jadi artinya apa? Memperhatikan kesenangan orang lain, kemudian mengkhayal-khayalkan kelebihan yang dimiliki orang lain, ternyata dalam perspektif Qurani, adalah perbuatan tercela, dan merusak muru’ah.

      Konon lagi mengelus-ngelus mobil mewah orang, terpesona dengan rumah orang, mirip seperti orang sedang mengalami gangguan kejiwaan, wal ‘Iyadzu billah.

      Anda mau suruh saya bersumpah bahwa tulisan ust DR memang ditujukan kepada pemikiran anismisme? hehehe… Anda pikirlah sendiri, baca baik-baik. Coba baca kalimat terakhir yang saya tebalkan itu. Tulisan itu sudah dimuat di website dakwah lain sebelum di blog ini, Anda cari sendiri lah, kan ada om gugel :).

      >Aiman:
      >Tapi sudahkah antum ingatkan beliau secara personal? Sudahkah!?
      >Kalau belum, antum benar-benar nekad.

      Belum, perlukah? Asatidz lain aja gak diindahkan apalagi cuman si DOS.

      Anda ini diskusinya suka rada hiperbolik deh, nyumpah2 lah, bilang nekad lah… Lagian ngapain nanyain saya sudah ngingetin apa belum, lha wong Anda gak yakin pendapat saya bener apa nggak kok 🙂

      >Ana hanya mengingatkan. Upaya antum meluruskan jamaah bercampur
      >argumentasi pribadi.

      Namanya juga opini. Makanya saya pilih media blog, agar ada komunikasi dua arah, seperti dengan Anda ini. Kalau saya tulis di koran, majalah atau bikin buku, tidak ada kesempatan Anda untuk bertanya dan diskusi.

    1.  2008 April 17 00:23,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Ana mengajak antum bersumpah karena terkadang orang tidak bisa membedakan mana opini mana kebenaran ketika suatu tulisan di-publish. Dan, masalah ana “salah” kutip, justru karena ini artikel Abu Ridha, kenapa antum singgung-singgung soal anismisme? Ana baca artikel antum, dan itu saling terkait. “Aura” dari artikel tentang anis matta masih terbawa meski artikelnya Abu Ridha.

      Antum bilang ini blog opini, jadi tidak harus bersumpah atau sejenisnya. Antum itu penulis. Mana mungkin penulis tidak bertanggung jawab sama tulisannya? Bahkan seluruh tindak-tanduk kita kelak akan dipertanggungjawabkan.

      Skeptimisme juga tergambar dari pengakuan antum. Mengirim email? Buat apa? Toh para asatidz saja dicuekin. Ana kurang suka dengan sikap ini; menggambarkan seolah-olah tidak ada harapan. Padahal Allah melarang kita berputus asa.

      Mengkritik itu penting, tapi adabnya tidak kalah penting.

    1.  2008 April 17 01:12,     Blogger DOS menulis…

      To #24:

      >Ana mengajak antum bersumpah karena terkadang orang tidak bisa
      >membedakan mana opini mana kebenaran ketika suatu tulisan di-publish.

      Ajakan Anda saya tolak he..he..he.. Apakah ini Anda berlakukan pada semua orang? Ketika orang tua Anda mengatakan suatu pendapat tentang Anda, apakah Anda suruh sumpah juga? Ketika murabbi ngajarin Anda sesuatu, apakah Anda suruh sumpah juga, wahai murabbi bersumpahlah agar saya bisa membedakan apakah ini opini antum atau kebenaran. Gitu yah? Ngeri banget deh jadi temen Anda.

      atau ini Anda berlakukan pada saya saja? karena Anda gak rela syaikh yang Anda cintai dikritik? Kalau kritik saya salah, tinggal Anda kasih tahu yang benernya gimana, gampang kan? Ini kan blog, bisa komunikasi dua arah. Tinggal Anda jelaskan apa yang dimaksud oleh syaikh AM tentang harta itu. Berikan argumen, berikan referensi, bisa kan?

      >Dan, masalah ana “salah” kutip, justru karena ini artikel Abu Ridha,
      >kenapa antum singgung-singgung soal anismisme?

      Aduh, kok bisa salah berkali-kali gini yah… coba baca di pengantar saya di taujih ust Abri, TIDAK ADA satupun kata ‘anismisme’ di situ. Heran deh…

      >Ana baca artikel antum, dan itu saling terkait. “Aura” dari artikel
      >tentang anis matta masih terbawa meski artikelnya Abu Ridha.

      Itu kan sudah beda topik akhi… ampun deh [*geleng-geleng pala*]

      >Antum bilang ini blog opini, jadi tidak harus bersumpah atau sejenisnya.
      >Antum itu penulis. Mana mungkin penulis tidak bertanggung jawab sama
      >tulisannya? Bahkan seluruh tindak-tanduk kita kelak akan
      >dipertanggungjawabkan.

      Oh begitu ya? Jadi cara bertanggungjawab terhadap sebuah tulisan itu dengan bersumpah-sumpah… hmm.. gampang amat bersumpah-sumpah. Kalau Anda menulis, trus nyari penerbit, apakah Anda juga bersumpah-sumpah depan penerbit itu?

      >Skeptimisme juga tergambar dari pengakuan antum.
      >Mengirim email? Buat apa? Toh para asatidz saja dicuekin.
      >Ana kurang suka dengan sikap ini; menggambarkan seolah-olah tidak ada harapan.
      >Padahal Allah melarang kita berputus asa.

      Kalo Anda gak suka, saya mo ngomong apa lagi?

      Ya skeptis lah, skeptis pada qiyadah. Kok jamaah dakwah jadi gak karuan gini… Saya gak putus asa kok, makanya saya nge-blog :).

      >Mengkritik itu penting, tapi adabnya tidak kalah penting.

      Gimana adabnya? bersumpah? 🙂

      Gak kalah penting juga, pas ngeritik nyimak baik-baik, jangan salah sampai berkali-kali. Saya menulis jawaban buat Anda ini jadi sambil cengar-cengir sendiri. Kasihan dong ama saya, dicurigain ama kolega sekantor cengar-cengir sendiri gara-gara baca tanggapan Anda.

    1.  2008 April 17 01:37,     Blogger abu menulis…

      Aiman wrote..
      Ana mengajak antum bersumpah karena terkadang orang tidak bisa membedakan mana opini mana kebenaran ketika suatu tulisan di-publish.
      kalo antum fair…antum juga hrs minta si Anis yg antum bela2 itu utk bersumpah demi Allah kalo dia nulis itu cmn opini dan bkn kebenaran?? bisa via email atau by phone…kan nt sendiri bilang doi tokoh publik gampang ngontaknya…ntar kalo dah dpt sumpahnya si Anis…kasih tau kita disini ya…?!!

      Aiman wrote..
      Dan, masalah ana “salah” kutip, justru karena ini artikel Abu Ridha, kenapa antum singgung-singgung soal anismisme? Ana baca artikel antum, dan itu saling terkait. “Aura” dari artikel tentang anis matta masih terbawa meski artikelnya Abu Ridha.

      capeeekk deh…ini mo ngomentar tp kagak dibaca apa yg mo dikomentarin..pls bro…use ur brain dikit nape?

      Aiman wrote…
      Mengkritik itu penting, tapi adabnya tidak kalah penting.

      ngometarin itu penting..tp ngomentarin pake brain tdk kalah penting…jgn asal komen aja…

    1.  2008 April 17 02:38,     Anonymous abu hilmy menulis…

      Usul untuk DOS:
      Gimana kalau semua kader PKS yang jadi kepala daerah di-publish. Sekalian juga untuk memberikan dukungan, dan tentu saja saran dan kritik.

      Namanya “watch” tidak mesti negatif, artinya kalau ada yang positif juga dipublish, dan kita apresiasi, tentu saja dengan semangat supaya bisa menjadi lebih baik.

      Maaf ini OOT dengan topik yang ada, tapi saya ga tau harus lewat mana untuk ngasih komentar ini.

      Selamat u/ Hade dan Syampurno. Mudah2an bisa istiqomah dengan janji2nya untuk menjadi pembaharu ke arah yang lebih baik. Yuk didukung….

    1.  2008 April 17 05:05,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      🙂

      Alhamdulillah…

      Ada kalanya manusia memang lebih gampang menghina daripada menulis hal-hal yang baik. Ana tidak meremehkan DOS, tidak mencaci dia, tapi balasannya “nggak pake otak”.

      Alhamdulillah…

      Moga jadi kafarat dosa ana, deh.

    1.  2008 April 17 05:18,     Blogger DOS menulis…

      To #28: hahahaha… biar yang membaca yang pada menilai sendiri. Saya sih gak keberatan dikritik balik, toh saya loloskan kok.

      Sejujurnya ini membuat saya nostalgi ke blog PKSWatch versi 1, yang pada komentar model seperti #28 atau yang lebih parah lagi. Sementara saya nanggapinnya sambil cengar-cengir geli…

      Udah ah nostalginya, saya gak kepengen ini blog jadi seperti dulu lagi. To akh Aiman, baca lagi deh posting komentar Anda, dan kalau masih ingin diskusi di sini, perbaiki argumen Anda.

      Ada beberapa tips:
      – Sebelum kritik balik, simak yang bener dulu;
      – Kritik dan diskusi fokus pada suatu masalah, jangan dilebar2in;
      – Jangan gampang vonis, lebih baik Anda tunjukkan saja mana yang gak pas, berikan argumen, sertakan referensi kalau ada;
      – Kalau Anda bilang misalnya si DOS ini “gak pake otak”, lebih baik kalau disertai kutipan yang jelas memperlihat si DOS gak pakai otaknya waktu nulis, misalnya nih: si DOS salah kutip sampai berkali-kali (ini misalnya lho…);
      – Jangan ngandalin argumen ad hominem, diskusi biasanya jadi ngawur;
      – Kalau perlu kutip, beri tanda, miring atau tebalkan bagian yang Anda tekankan;
      – Kalau menurut Anda yg ditulis orang itu salah, kasih tempe salahnya di mana (dengan argumen dan referensi), lalu kasih tahu yang benernya gimana;
      – Last but not least, gak usah pakai sumpah-sumpahan, syaikh yang Anda bela juga gak bersumpah atas kebenaran isi bukunya.

      Makasih lho kalo dah baca sampe sini :). What so ever, you are still my brother as the believer, I love you in the name Allah.

    1.  2008 April 17 05:31,     Anonymous abu hilmy menulis…

      Untuk Akh Aiman Tashika, gini aje deh, menurut antum gimana nih:

      – kalo ada orang nyuruh “coba kamu ngelus2 mobil mewah/rumah megah punya orang lain, samabil berdoa” itu normal ga? Apakah itu anjuran yang sesuai dengan pandangan Islam (karena bukunya diberi judul: pandangan islam terhadap harta)

      – Kalau ada yang bilang: “jangan tanya hartanya darimana”, ini benar ga? Padahal kalau pejabat publik, termasuk didalamnya pemimpin partai, harus terbuka.

      untuk sementara 2 dulu deh.

    1.  2008 April 17 06:03,     Blogger DOS menulis…

      To #30, makasih akh Abu Hilmy. Bener tuh, kita fokus lagi deh diskusinya, meskipun salah tempat di artikel ini, udah kepalang basah.

      To Akh Aiman, gini deh. Secara tulus saya sangat hargai niat Anda memberikan nasehat. Nah, Anda kan sudah baca apa pendapat saya tentang dua point yang ditulis akh Abu Hilmy.

      Saya tegaskan lagi deh:
      1. Menurut saya: anjuran mengusap-usap harta orang itu, bukan sama sekali ajaran Islam tentang harta, dan saya setuju dengan ust Daud Rasyid bahwa itu bisa merusak muru’ah. Bahkan ust DR menyebut itu mirip orang terkena gangguan jiwa, dan saya setuju ini.

      Muru’ah itu apa ya? Kira-kira artinya sifat baik, kesalehan diri, atau semacam itulah :).

      Nah, menurut Anda, salahkah pendapat saya? Kalau salah katakan di mana salahnya? dan benarkah Islam mengajarkan kita untuk membayang2kan harta orang? Mana dalilnya? Kalau gak ada dalil, tolong minimal fatwa ulama yang muktabar. Catatan: Syaikh AM belum saatnya berfatwa. Jadi jangan sampai isinya bukunya Anda anggap fatwa.

      2. Saya berkata, batil anjuran yang menyatakan “jangan tanya hartanya dari mana”. Apalagi untuk pejabat publik, justru harus diketahui hartanya dari mana. Sekjen parpol itu termasuk jabatan publik.

      Seorang ustadz pernah bercerita pada saya tentang satu atsar, ketika ada pembagian jatah kain pakaian di era amirul mukminin Umar bin Khattab ra, seorang rakyat bertanya langsung “ya khalifah, dari mana kau dapatkan kain pakaianmu yang berlebih itu?” (Umar badannya gede, sehingga kain jatah itu pasti gak cukup).

      Kemudian salah seorang putra Umar mengatakan bahwa dia sengaja ngasih jatahnya untuk sang bokap. Apa artinya ini: Islam mengajarkan transparansi atas kekayaan pejabat publik. Nah, lalu dari mana asalnya “jangan antum tanya hartanya dari mana, tapi antum elus-elus mobilnya”.

      Nah, menurut Anda, salahkan pendapat saya itu? kalau salah tolong katakan salahnya di mana? Lalu yang benernya seperti apa?

      Mudah2an memang ada sesuatu yang Anda pahami tapi saya dan para pembaca belum paham. Mungkin setelah Anda jelaskan, akh Abu Hilmy dan akh lainnya jadi lebih paham.

      Dua point di atas adalah pendapat saya sampai detik saya menulis ini. Bisa aja setelah Anda jelaskan maka pendapat saya berubah. Seperti kata Imam Syafii rahimahullan “Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku”.

    1.  2008 April 17 06:36,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Sebenarnya yang ana tekankan dari awal adalah argumentasi kala menulis pendapat. Antum mau kritik Ustad Anis itu silakan, tapi jauhi kata-kata yang “emosional”. Bisa jadi, sangat mungkin, kata-kata kebenaran yang keluar dari mulut antum menjadi “salah” karena gaya pengemasannya.

      Misalnya, ya: antum mengkritik tulisan Ustad Anis di buku itu. Katakanlah itu aneh, dan antum menyertakan tulisan ustad atau asatidz kita yang lain, yang mana kira-kira relevan dengan subjek bahasan. Namun, di kala ada yang me-reply, mengomentari, tidak sama pendapatnya dengan isi artikel, atau malah salah artikel kayak ana, dibalasnya dengan kata-kata yang kasar, yang menghina “fisik” atau “kecerdasan” atau “nalarnya”. Kenapa begitu, ya?

      Padahal, kalau suatu debat berakhir dengan penghinaan terhadap fisik, otak, nalar, atau apa pun yang tidak ada kaitannya dengan konteks pembicaraan, itu namanya debat kusir. Dan debat seperti ini dilarang dalam Islam.

      Para sahabat, sepanas-panasnya debat, tidak sampai menghina fisik.
      Terus terang, saya agak gamang membaca blog ini. Di satu sisi mengomentari kesalahan syaikhnya, di sisi lain kerap melontarkan kata-kata yang mengerdilkan atau menyepelekan yang tidak sepaham.

      Dan, ana sadar: tiba-tiba saja banyak orang di blog ini mengungkapkan jati dirinya, karakternya, cara dia menyikapi masalah, cara berpikirnya, lewat celetukan-celetukannya. Ana jadi berpikir: seperti apa jalan pikiran muslim yang mengoreksi ustadnya namun dengan mudah mengeluarkan kata-kata “nggak punya otak” kepada muslim yang lain? Apakah ia tidak sadar kata-katanya juga layak dikritik? Namun, sebelum ia mengkritik orang lain, sudahkah ia mengkritik dirinya sendiri dalam berbahasa dengan sesama muslim?

      Jika memang Ustad Anis Matta salah, meski sebagian bilang tidak ada yang perlu dibantah atau didiskusikan lagi dengan hal itu, ia berhak untuk dinasehati dengan baik karena beliau sudah menyumbang banyak kebaikan untuk jamaah ini. Lebih banyak dari kita. Kenapa ketika beliau salah, rasa-rasanya, tidak ada lagi jejak rekam jasa beliau terhadap jamaah ini? Habis dihujat, dianggap nyeleneh, dituding macam-macam. Tidakkah beliau layak dapat ruang bernapas untuk menjelaskan?

      Oke, beliau memang tidak pernah mengeluarkan bayan. Tapi, bukan lantas kita ambil jalan pintas. Bagi yang ingin mengkritik, tugasnya adalah menyampaikan kritik itu dengan baik, bukan “hanya menyampaikan kritik”. Intinya bukan kritik itu sendiri, namun juga ditambah dengan adab mengkritik. Allah itu Mahabaik, suka yang baik, dan hanya menerima yang baik-baik saja.

      Ana juga menangkap beberapa “kekurangan” dalam tulisan Ustad Anis. Hujjah-hujjah yang beliau ungkapkan memang tidak lazim. Namun, kalau antum baca tulisan beliau yang lain, tidak selalu seperti itu. Kalaupun beliau “salah” dalam menyampaikan (di bagian ‘usap-usap’ dan ‘jangan tanya asalnya’ dari mana), ya itu ana sepakati karena memang berpotensi salah arti. Ustad Aunur Rofiq pernah berkata bahwa beliau mengalami kesulitan dalam menafsirkan Fi Zhilali Quran karya Said Qutb. Itu dikarenakan beliau, selain seorang syaikh, juga dikarenakan beliau seorang sastrawan–sedang Ustad Aunur itu murni ber-background syariah. Akhirnya, untuk mengatasi kesulitan penerjemahan, beliau sering tanya sama native speaker Arab karena mereka yang lebih ngerti–bukannya menafsirkan sendiri. Dan, bicara Said Qutb, buku beliau, Petunjuk Jalan, juga sempat dianggap sesat karena banyak yang salah dalam menafsirkan kata-kata beliau. Ungkapan-ungkapan beliau itu memang campuran berbagai bidang ilmu karena banyaknya kapasitas ilmu yang beliau punya.

      Track record Ustad Anis Matta juga memungkinkan kasus ini terjadi. Beliau itu, setahu ana, seorang pembaca buku yang luar biasa. Dalam sehari, 2 jam lebih bisa dihabiskan hanya dengan membaca buku. Dan, buku-bukunya beragam. Ada sastra, motivasi, agama, dsb. Ketika orang sudah banyak membaca, kosa katanya jelas bertambah. Sudut pandangnya juga jadi unik. Ana merasa 2 bagian penyampaian di buku beliau (usap-usap dan jangan tanya dari mana) adalah gaya penulisan, dan ini sangat bisa diartikan beragam tergantung yang membaca (baca: tafsir). Misalnya, orang-orang yang terdidik di lembaga syariah, tentu akan memandang ini dari sudut syariah (karena itulah yang lekat dengan mereka sehari-hari). Bagi mereka yang hidupnya sehari-hari sebagai motivator, tentu akan sangat beda sudut pandangnya dengan teman-teman di syariah. Begitupun orang-orang yang hidupnya akrab dengan sastra, marketing, dsb.

      Jadi, menurut ana, tingkat tafahum kita tengah diuji. Sebenarnya Ustad Anis itu hendak bermaksud apa dengan “angle” atau sudut redaksi seperti itu? Apakah murni salah tulis, atau ada maksud lain?

      Saat ana dituduh jadi kayak pengikut gusdur yang tetap ngangguk walau Gusdur bilang Israel itu bukan orang kafir misalnya, ana cukup kaget dan ucap alhamdulillah saja. Ana memihak kebenaran, bukan personil. Kalau Ustad Anis salah, ya berarti dia salah. Rasul aja pernah salah ngomong, apalagi seorang Ustad Anis? Namun, ana juga tidak menaruh simpati bila kesalahan beliau disampaikan dengan kata-kata yang baik bercampur emosi atau pendapat pribadi. Kita harus jadi penentram umat sekarang, bukan memancing perdebatan dengan menghina atau sebagainya. Janganlah kita, di satu sisi ingin memperbaiki jamaah, namun di sisi lain meruntuhkannya dengan menjelek-jelekan saudara sendiri.

      Wallahu’alam bishshowab.

    1.  2008 April 17 07:26,     Blogger DOS menulis…

      Akhi, makasih atas nasehat dan diskusinya.

      >Sebenarnya yang ana tekankan dari awal adalah argumentasi kala menulis
      >pendapat. Antum mau kritik Ustad Anis itu silakan, tapi jauhi kata-kata
      >yang “emosional”.

      Akhi, mohon maaf kalau terkesan saya terlalu blak-blakan. Bukannya mo narsis, mungkin saya orang yang terlalu mengandalkan otak kiri, sudah jalan 13 tahun saya hidup sebagai praktisi IT, saya terbiasa berpikir logis dalam hampir semua hal. Kecuali untuk hal yang sifatnya tauqifiyah seperti masalah akidah dan syariah dari Quran dan sunnah, untuk hal tersebut logika saya tanggalkan, dan saya percaya sepenuhnya tanpa reserve. Kalau hal-hal yang sifatnya dari qiyadah seperti AM, maka logika saya gak bisa ditinggalkan.

      Jadi mohon maaf lagi kalau saya nanya lagi, tolong diskusi to the point, bagian mana dari tulisan saya yang Anda anggap emosional, dan jelaskan apa maksud emosional itu.

      >Namun, di kala ada yang me-reply, mengomentari, tidak sama pendapatnya
      >dengan isi artikel, atau malah salah artikel kayak ana, dibalasnya dengan
      >kata-kata yang kasar, yang menghina “fisik” atau “kecerdasan” atau “nalarnya”.
      >Kenapa begitu, ya?

      Sorry, jawaban seperti ini bukan dari saya. Saya dalam hal ini mengingatkan akh Abu dan yang lainnya yang membawa-bawa masalah ini ke dalam diskusi.

      >seperti apa jalan pikiran muslim yang mengoreksi ustadnya namun dengan
      >mudah mengeluarkan kata-kata “nggak punya otak” kepada muslim yang lain?

      Kata-kata “nggak punya otak” itu bukan dari saya. Silahkan periksa sendiri, Anda malah sempat “menyematkan” kata-kata itu kepada saya. Untuk itu saya ingatkan kepada semuanya, please diskusi secara fokus, dengan argumen, bukan vonis.

      >Jika memang Ustad Anis Matta salah, meski sebagian bilang tidak ada yang
      >perlu dibantah atau didiskusikan lagi dengan hal itu, ia berhak untuk
      >dinasehati dengan baik karena beliau sudah menyumbang banyak kebaikan
      >untuk jamaah ini.

      Untuk hal ini, saya ingatkan Anda lagi: tolong nyimak sebelum diskusi. Saya sudah tulis ini di artikel “Min Ayna Laka Haadza?”, sbb:
      …beberapa point dalam anismisme ini nyata-nyata bertentangan dengan ajaran Islam yang lurus yang bersumber dari Quran dan sunnah yang shahih. Tentu saja hal ini tidak mengurangi kemuliaan seorang ustadz Anis Matta yang sudah berkorban dan beramal begitu banyak untuk jamaah ini, jauh melebihi amalan saya, tapi justru karena kecintaan kita kepada beliau, bukan karena hasad, maka kita ingatkanlah jika ada kekeliruan dari beliau, karena beliau juga manusia.

      >Intinya bukan kritik itu sendiri, namun juga ditambah dengan adab mengkritik.

      Nah, tolong sampaikan dengan tegas point per point, di mana kritik saya yang tidak beradab. Fokuskan per masalah, saya lebih hargai lagi kalau Anda sampaikan di artikel yang relevan, jangan di sini karena kurang pas dengan topik artikel.

      >Track record Ustad Anis Matta juga memungkinkan kasus ini terjadi. Beliau
      >itu, setahu ana, seorang pembaca buku yang luar biasa. Dalam sehari, 2 jam
      >lebih bisa dihabiskan hanya dengan membaca buku.

      Kalau kita ambil contoh kasus Sayyid Quthb rahimahullah, ketika ada ulama Hijaz yang mengkritik beliau, biasanya juga ada ulama yang tak kalah alimnya yang menyampaikan koreksi atas kesalahan pemahaman itu. Contohnya, Anda bisa ikuti polemik yang sempat timbul antara Syaikh Rabi dan Syaikh Bakr, kedua ulama Hijaz yang berbeda pendapat tentang tulisan Sayyid Quthb.

      Nah, untuk kasus anismisme, sampai hari ini belum ada asatidz yang lebih alim yang membenarkan itu. Yang ada malah: para asatidz sepertinya “kompak” menyampaikan ketidaksetujuannya pada tulisan itu, dan juga belum ada jawaban dari ust AM untuk meluruskan maksud kalimat kontroversialnya itu.

      >Jadi, menurut ana, tingkat tafahum kita tengah diuji. Sebenarnya Ustad
      >Anis itu hendak bermaksud apa dengan “angle” atau sudut redaksi seperti itu?

      Jadi, tolong to the point, apa pemahaman Anda tentang dua hal yang ditulis oleh Abu Hilmy (#30)?

      Mohon maaf, kata-kata seperti “tingkat tafahum kita tengah diuji” itu lebih layak Anda nisbatkan kepada kalimah yang berasal dari Quran dan sunnah shahih. Karena sebagai muslim, apapun yang datang dari dua perkara itu harus kita terima tanpa reserve, sehingga kalau ada yang belum kita pahami, maka kita berkata, “tingkat tafahum kita tengah diuji”. Kalau ke tulisannya AM, sungguh gak layak yah Anda gituin… apalagi orangnya masih hidup dan beliau tahu bahwa pemikirannya jadi kontroversi, mestinya doi jelasin dong pada dasar/dalil ajaran mengkhayalkan dan mengelus2 barang orang itu.

      Jangan ikuti sesuatu yang Anda gak punya pengetahuan tentangnya (baca Al Israa’: 36). Dalam arkanul baiah pun Anda diharuskan paham dulu baru tsiqoh. Paham itu urutan #1, tsiqoh itu #10. Jadi ngapain nebak-nebak maksud ust AM, sementara zhahir dari tulisan dan transkrip ceramahnya jelas menunjukkan point yang bathil kok.

      >Ana memihak kebenaran, bukan personil.

      Jadi kalau gitu, dalam kasus anismisme, kebenaran itu yang seperti apa? Coba jelaskan pertanyaan pada komentar #30.

      >Namun, ana juga tidak menaruh simpati bila kesalahan beliau disampaikan
      >dengan kata-kata yang baik bercampur emosi atau pendapat pribadi.

      Sorry akh, dalam hal ini simpati Anda gak penting. Yang penting Anda tunjukkan bagian mana kata-kata bercampur emosi itu.

      >Kita harus jadi penentram umat sekarang, bukan memancing perdebatan dengan
      >menghina atau sebagainya. Janganlah kita, di satu sisi ingin memperbaiki
      >jamaah, namun di sisi lain meruntuhkannya dengan menjelek-jelekan
      >saudara sendiri.

      Saya tidak menghina atau memancing perdebatan. Saya hanya ingin mengingatkan kepada diri saya sendiri dan kepada siapapun yang mau mendengar, bahwa ada sesuatu yang salah pada sebuah pemikiran AM yang sudah terlanjur menyebar ke publik. Karena pemikiran salah itu sudah berada di ranah publik, maka mengingatkannya juga harus secara publik pula.

      Apakah itu ghibah? Ya betul, itu ghibah, dan termasuk ghibah yang memang diperbolehkan. Anda baca Riyadush Shalihin (Imam Nawawi) bab berjudul ‘Ghibah Yang Diperbolehkan’, point ke 4. Saya sudah mengulas ini dalam tulisan ‘Aib, Ghibah dan Fitnah’.

      Satu hal lagi, saya TIDAK PERNAH membahas hal ikhwal pribadi orang termasuk ust AM di sini. Saya hanya membahas sesuatu yang sudah berada di ranah publik.

      dan akhirnya akhi, Anda tetap tidak menjawab pertanyaan akh Abu Hilmy pada point #30, yang kemudian saya pertegas pada #31. Kalau begini cara Anda menasehati, maka kita gak bakalan sampai ke mana-mana. Anda hanya menyebut penilaian “emosional”, “kurang adab” dan sejenisnya secara umum, tanpa memfokuskan dan mengulas pada bagian tertentu.

    1.  2008 April 17 07:45,     Anonymous tyo21 menulis…

      Ana milih bersabar saja lah …
      Semoga ALLAH menunjukkan al-haqnya.

    1.  2008 April 17 18:04,     Blogger abu menulis…

      sebelumnya saya minta maaf yg sebesar2nya keseluruh komentator disini terutama akh aiman…’afwan kalo kata2 saya rada ‘kasar’..saya terbawa sedikit emosi menanggapi tulisan antum yg ga jelas arah komentarnya…

      tapi akh aiman yg baik…antum bilang kita disini jangan emosional tapi antum sendiri belum apa2 dah minta sumpah2an segala DEMI ALLAH apa itu ga emosional…?? kalo kita disini diminta sumpah demi Allah segala…harusnya antum juga fair meminta ust yg antum kagumi itu juga bersumpah demi Allah….dr awal DOS sdh memberi warning kalo kita meributkan ‘pemikirannya’ bukan pribadi ust AM…walau secara perilaku pibadipun saya, DOS atau ust AM sekalipun bisa dikritik..

      sekali lagi keseluruh komentator disini khususnya akh aiman saya mohon maaf yg sebenarnya…dan kata2 saya yg ‘kasar’ itu saya cabut….
      Astaghfirullah’alazhim…

    1.  2008 April 17 18:34,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Celetukan-celetukan yang korelasinya kuat dengan aura emosional terdapat pada komen-komen yang antum loloskan untuk dibaca oleh orang lain. Ana nggak melekatkan “nggak punya otak” keluar dari pernyataan antum, namun antum meloloskan komen semacam itu untuk orang-orang baca.

      Ana perlu tegaskan, ana juga cenderung nggak setuju dengan redaksi itu jika disuruh memilih antara setuju dan tidak setuju. Terbukti memang kata-kata itu menimbulkan tafsir yang aneh, kontroversi, perselisihan, dsb. Namun, kecendrungan ana untuk tidak setuju tidak akan ana sertakan dengan berprasangka buruk pada Ustad Anis. Apa yang menimpa Ummul Mukminin, Aisyah r.a. sewaktu tertinggal rombongan-pulang-perang Rasulullah yang kemudian ditemukan oleh salah seorang sahabat, dan diantar pulang, juga berpotensi menimbulkan konflik dan fitnah–dan memang akhirnya begitu. Rasulullah juga sempat “nggak percaya” sama istri beliau sampai-sampai Aisyah menangis dan pulang ke rumah ayahnya.

      Kasus Ustad Anis dan Bunda Aisyah memang tidak dapat disamakan secara keseluruhan, namun di sana ada persamaan tertentu: yang nampak tidak selalu seperti apa yang nampak. Sayangnya, redaksi Ustad Anis memang terlalu negatif untuk dianggap positif oleh kebanyakan orang. Sehingga, ketika tetap ada segolongan orang yang membela redaksi tersebut, dikatakan berlebihan. Ana sebenarnya juga berharap Ustad Anis memberikan bayan terhadap redaksi tersebut. Namun, ana tegaskan bahwa ana juga tidak akan berprasangka buruk terhadap beliau–karena ana tidak memiliki catatan lintasan hati sebagaimana halnya Allah. Jadi, diserahkan kembali kepada Allah.

      Ana berharap ke depannya antum mengedit komentar-komentar bernada merendahkan yang ditujukan pada sesama muslim. Jika antum meloloskan, antum membuka celah untuk muslim yang lain merasa direndahkan, hingga menimbulkan sakit hati dan perselisihan yang makin tidak sehat (tidak bicara konteks opini akhirnya, malah berujung pertikaian yang didasarkan pada lukanya hati). Jangan sampai “Ali membunuh lawan karena diludahi”, bukan karena Allah.

      Ana juga berharap jika ada tulisan Ustad tentang satu tema, cukup antum antarkan tanpa argumentasi pribadi. Ini dimaksudkan agar membiarkan pembaca menilai sendiri hikmahnya.

      Maaf jika ada kata yang tidak berkenan.

    1.  2008 April 17 18:35,     Anonymous Zul menulis…

      Yth DOS dan Pro Anismisme

      1. Kepada Aiman Tashika, mohon antum menjawab tuduhan-tuduhan yang disampaikan ke ustad AM. Sampaikan dalil-dalil yang membenarkan kritik dan tuduhan yang dialamatkan ke beliau. Mungkin tuduhan dan kritik itu salah, jadi antum harus memberikan dan menyampaikan kebenaran itu kepada para kritikus AM itu. Misalkan tentang polemik USAP-USAP MOBIL DAN RUMAH. inikan otentik ditemukan ditrankrip dan ceramah beliau. Jadi fakta ini tidak bisa dan tidak boleh dibantah dengan mengatakan bahwa AM “tidak ngomong itu” atau “maksudnya BUKAN ITU”. Yang antum harus lakukan adalah menyatakan bahwa USAP-USAP MOBIL DAN RUMAH itu tidak salah kok, dalilnya ini, ini dan ini. Ini contoh saja. Ini cara berdebat yang baik. Ada komentar di tanggapi, ada tuduhan dibantah, ada pertanyaan dijawab. Sehingga ada konklusi, pencerahan atau penjelasan.

      2. Gaya antum itu adalah selalu mempertanyakan “kenapa antum kritik AM”, “kok gitu sih”, “antum nggak tabayun sih”, “antum harusnya begini” dan sejenisnya. Itu sih bukan jawaban, bukan penjelasan. Itu hanya gugatan yang tidak ada gunanya karena presepsi orang tidak akan berubah karena tidak ada jawaban, tidak ada penjelasan dan klarifikasi. Dan kalau ini terjadi, adalah bentuk JIDAL yang dilarang karena tidak ada konklusi, pencerahan atau penjelasan.

      3. Akhir dari perdebatan adalah kesiapan untuk tidak boleh memaksakan pendapat kepada orang lain. Tugas peserta adalah menjelaskan argumen masing-masing secara ilmiah, intelek dan beradab. Masalah orang terima atau tidak tidak masalah. Kita harus toleran dengan perbedaan itu. Mengapa kita harus bersikap demikian? karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu kebenaran yang sebenarnya. Pengertian yang kita miliki adalah sesungguhnya presepsi kita atas kebenaran itu secara subjektif, tidak objektif. Sesuai dengan ilmu kita, wawasan kita dsb. Dan harusnya akan lebih sederhana jika kita memandang semua pendapat kita memang benar, tetapi mungkin juga pendapat mereka juga benar.

      4. Untuk Aiman, tolong antum fokus menjawab, bukan bertanya atau mempertanyakan. Saya ingin lihat dalil-alil antum wahai pro anismisme. Tahap pertama tanggapi seluruh komentar asatid di blog ini, kedua tanggapi komentar2 komentator. Ketiga, sampaikan dengan ala bashirotin, dengan hujjah yang nyata. Keempat, Kalau bisa serang balik, Kelima, Jangan ngambekan.

      Tnx DOS

    1.  2008 April 17 19:41,     Blogger DOS menulis…

      To #36 (Aiman Tashika):

      >Ana nggak melekatkan “nggak punya otak” keluar dari pernyataan antum,
      >namun antum meloloskan komen semacam itu untuk orang-orang baca.

      Komentar yang saya loloskan di sini bukan berarti itu komentar yang saya setujui atau saya sepakati isinya. Tapi semata komentar yang tidak melanggar aturan berkomentar. Lihatlah komentar Anda sendiri, toh kita berbeda pendapat kan? Anda menisbatkan kata-kata emosional-lah, kurang adab lah kepada saya, tapi tetap saya loloskan.

      >Ana juga berharap jika ada tulisan Ustad tentang satu tema,
      >cukup antum antarkan tanpa argumentasi pribadi. Ini dimaksudkan
      >agar membiarkan pembaca menilai sendiri hikmahnya.

      Akhi, ini memang blog opini, judulnya aja: catatan simpatisan kepada PKS. Kalau memang tidak boleh ada argumentasi pribadi, berarti fasilitas komentar yang ada di sini juga harus saya tutup saja, karena sangat bisa jadi komentar yang ada di sini juga mempengaruhi opini pembaca. Buntutnya, blog ini jadi media satu arah, seperti halnya koran dan majalah tradisional, dan tidak ada kesempatan buat pembaca untuk berdialog dan menyampaikan pendapat dan argumennya. Maka kalau Anda konsisten meminta saya untuk tidak beropini, Anda juga harusnya gak boleh menyampaikan argumen Anda di sini, karena apa bedanya sekarang? Pendapat Anda juga bisa mempengaruhi opini pembaca kan?

      Sekalian ada posting terakhir Anda yang saya reject karena terlalu panjang dan hanya copy-paste secara utuh dari website lain. Ini saya letakkan linknya saja di sini: ‘Debat Tanpa Etika dan Berhujjah Tanpa Ilmu ‘, dari ust Farid Nu’man, yang sebetulnya menjawab tanggapan atas buku beliau “Al Ikhwan Al Muslimun, Anugerah Allah yg Terzalimi”. Anda dah baca belum? 🙂

      Saya kutipkan satu bagian: Ada anekdot yang menyindir manusia yang pandai mengkritik dan mencari kelemahan , tetapi ia sendiri tidak tahu masalah yang ia kritik.

      Sebuah kepanitiaan bedah buku nampak bingung memilih buku apa yang menarik untuk dibahas. Ada yang usul, “Bagaimana jika buku A?”, dijawab oleh rekannya yang rajin mengkritik orang, “Jangan, buku itu tidak ada nilainya.” Lalu, “Kalau buku B?”, rekannya menjawab lagi, “Oh jangan juga, penulisnya menyimpang.””Waduh apa ya, kalau buku ini?”, rekannya menjawab, “Apalagi yang ini, lebih parah dari sebelumnya.” Panitia yang lain heran dan kagum, “Hebat, ente tahu betul ketiga buku itu. Apa sudah membaca semuanya?” Dia menjawab, “Belum kok, saya cuma baca buku kritiknya saja.”

      Anekdot ini menggambarkan adanya manusia yang rajin dan pandai mengkritik sana-sini, tetapi akalnya tidak digunakan. Ia hanya menggunakan akal orang lain melalui buku kritikan, tanpa melihat sendiri objek yang dikritik.

      Nah akh Aiman, Anda sudah baca baik-baik gak apa yang Anda mau kritik di sini? 🙂

      Panjang lebar jawaban Anda, tetap saja Anda tidak menjawab pertanyaan yg difokuskan pada #30 dan #31. Kalau gini ceritanya, debat ini gak berkesudahan. Anda cuman bilang opini saya dan sebagian yang di sini tentang anismisme emosional atau salah? Tapi Anda tidak mau menunjukkan yang benernya gimana. Baca deh komentar akh Zul pad #37.

    1.  2008 April 17 20:01,     Anonymous Aiman Tashika menulis…

      Lha, kok ana disuruh menjawab soal redaksi Ustad Anis? Kan ana sudah tulis: ana nggak setuju, jika diminta memilih, dengan redaksi “usap-usap” dan “jangan tanya asalnya” darimana itu. Ana hanya menekankan redaksi komentar. Link yang ada itu menjawab banyak hal mengenai adab mengkritik.

      Yang ana sayangkan juga, redaksi blog opini. Sebenarnya, para asatidz yang pendapatnya tidak didengar lebih berhak beropini tentang banyak hal mengenai jamaah. Tapi, kenapa mereka tidak buat, ya?

      Tidak semua opini hati bisa kita lemparkan ke orang lain. Opini Geert Wilders, misalnya, tentang Islam. Opini pribadinya dia format ke dalam film yang menghujat Islam. Meski banyak kalangan “menertawakan” film itu, namun ada juga yang terpengaruh. Manusia itu mempengaruhi dan dipengaruhi. Kita nggak akan pernah tahu sejauh mana kita bisa mempengaruhi orang lain. Seorang tekhnisi taman hiburan, dalam novel Five People You Meet in Heaven, misalnya, menemukan di antara episode-episode hidupnya yang “membosankan”, terdapat orang-orang, yang diam-diam, berterima kasih padanya. Meski fiksi, hal ini benar-benar ana rasakan. Ada orang yang tidak tahu betapa ana sangat berterima kasih atas nasihat-nasihatnya selama ini. Dia tidak pernah mendengar kalimat verbal dari ana, dan rasa terima kasih itu ana simpan dalam hati sampai sekarang.

      Toh tidak semua lintasan hati kita harus diungkapkan, bukan? Kalaupun diungkapkan, pilih-pilah kata itu wajib. Bagaimana caranya opini kita sampai tanpa efek samping (dan ana gagal melakukan ini). Karenanya, ana mohon maaf.

      Untuk Abu dan siapa pun, redaksi “bersumpah demi Allah” tertangkapnya emosional, ya? Yah, ini kekurangan dunia menulis. Ekspresi, emosi, itu hanya terwakili kata. Bukan mimik wajah atau intonasi suara. Jadi, sangat maklum kalau bersumpah demi Allah itu “terdengar” emosional.

      Ana juga minta maaf atas salah kata. Sekali lagi, ya: ana tidak berkompeten membahas redaksi Ustad Anis Matta–pun sesungguhnya ana termasuk yang tidak setuju dengan diksi “usap-usap” dan “jangan tanya asalnya dari mana”. Bahkan, ana perlu garisbawahi, menurut ana: bagian itu adalah salah satu khilaf Anis Matta sebagai manusia. Karena buku, sejatinya, pasti diedit sebelum dikeluarkan (berbeda dengan kata keluar dari mulut, pada banyak kasus). Dan, yang ana dengar: bukunya ditarik dari peredaran. Entah siapa yang meminta; penerbitnya atau penulisnya? Ini menunjukkan bahwa memang ada yang salah dengan buku itu.

      Wallahu’alam bishshowab.

    1.  2008 April 17 20:42,     Blogger abu menulis…

      Aiman wrote..
      Yang ana sayangkan juga, redaksi blog opini. Sebenarnya, para asatidz yang pendapatnya tidak didengar lebih berhak beropini tentang banyak hal mengenai jamaah. Tapi, kenapa mereka tidak buat, ya?

      antum ketinggalan berita apa emang kuper?? datang donk ke Kajian Bulanan di Mesjid Alhikmah Bangka II Mampang…
      para asatidz beropini disana…setelah ‘saluran’ komunikasi ke ‘elit macet’…
      ada ust Abu ridho, Ust Mashadi, Ust Aunur Rofiq,ust Tizar, Ust Habibullah dll…dan ahad nanti ust Didin Hafidudin yg akan bicara…kalo antum ngajinya uda lama sebelum era PKS…pasti mengenal org2 yg saya sebut, menurut ust Habibullah…sdh puluhan asatidz kabir antri pengen ‘ngomong dan beropini’ dikajian tsb…

      dan tulisan2 ust yg ada di blog ini juga menunjukkan para ust juga beropini dengan kondisi jamaah/partai serta para elitnya…

    1.  2008 April 17 23:55,     Anonymous abah ami menulis…

      Assalamu’alaikum wr wb

      Diksusi ini menjadi melebar kemana-mana, komentar yang tidak pas pada artikel, saya menjadi tertawa sendiri…..akh aiman, dos, dll ramai membicarakan anisisme tapi ternyata di post pada artikel ” sebaiknya Jangan Politik-Praktis-kan Masjid…guubrak artikel dan pembahasan tidak nyambung.

      Sebaiknya akh aiman tetap fokus pada tema, biar jelas argumen dan pembahasannya. Saran akh ZUl tepat, fokus……

      Diskusi ini walaupun tanpa bumbu cabe sudah cukup pedas, apalagi ditambah dengan ungkapan “pake otak dong” atau “Berani sumpah luh DOS”. wah jadi tambah pedas aja rasanya. So hindari pemakaian kata-kata seperti itu. Akh Zul saya sudah tidak pernah lagi membaca ungkapan “Para Sinisme PKS”, begitulah, kata-kata yang baik lebih bersaudara.

      sekalian aja OOT
      Saya cukup bergembira dengan kemenangan PKS di jawa barat, saya harap akan menimbulkan efek domino yang cukup besar. Hanya satu yang saya khawatirkan….ibarat meniup balon terlalu cepat dan membesar, akhirnya dia akan meledak.

      thanks DOS wassalam

    1.  2008 April 20 19:49,     Anonymous Saifuddin menulis…

      Entenya memang tipenya fatalis DOS, ndak flesibel.

      Saya kira fleksibel saja, kalau masyarakat sekitar siapa masjid digunakan utk politik praktis, apa salahnya?

      Kalau ente bilah sekarang kondisinya tdk pas, sampai kapan pasnya?

      Ente seperti yg paling benar saja.

      Ente cuma bisa ngecap doang. Tangan dan mulut ente nanti akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.

      Ndak tau nih, sekarang ini ente itu masuk kategori tukang ghibah, omdo, atau orang sholih. Wallahu’alaam.

      Hat-hati sama setan DOS, pinter dia memaiankan ego manusia, termasuk ente.

    1.  2008 April 20 20:42,     Blogger DOS menulis…

      To #42:

      >Entenya memang tipenya fatalis DOS, ndak flesibel.

      Paling tidak diskusi kembali ke topik setelah jadi ngaco gara2 komentar sebelumnya.

      Pahami dulu apa itu fatalis sebelum komentar, misalnya di sini: http://www.reference.com/search?r=13&q=Fatalist. Kira2 tepat gak Anda sebut saya fatalis?

      >Saya kira fleksibel saja, kalau masyarakat sekitar siapa masjid
      >digunakan utk politik praktis, apa salahnya?

      Katakanlah: ada 24 kontestan pemilu seperti 2004, katakan lagi ada segelintir yg ideologinya non Islam seperti PDS, anggaplah jumlahnya 4. Maka ada 20 partai yang merasa berhak berkoar2 politik di masjid.

      PKS merasa berhak…
      PBB merasa berhak…
      PPP merasa berhak…
      Golkar merasa berhak…
      PDIP merasa berhak…
      dst…

      Tentu saja pengurus masjid tidak boleh pilih kasih mengizinkan yang satu dan menolak yang lain. Apakah sulit buat Anda membayangkan chaosnya?

      >Kalau ente bilah sekarang kondisinya tdk pas, sampai kapan pasnya?

      Gak tau… mungkin sampai kita punya jamaah muslimin? I dunno.

      >Ente seperti yg paling benar saja.

      Itu hanya pendapat saya, dan tentu saja sampai saat ini saya merasa pendapat saya benar, apalagi karena yang membantah masih seperti model Anda ini. Pikir sendiri lah…

      >Ente cuma bisa ngecap doang.

      Anda malaikat? Dari mana tahu saya cuma bisa ngecap doang?

      >Tangan dan mulut ente nanti akan diminta pertanggungjawaban di akhirat.

      Betul.

      >Ndak tau nih, sekarang ini ente itu masuk kategori tukang ghibah,
      >omdo, atau orang sholih. Wallahu’alaam.

      Sekali lagi, pahami dulu sebelum komentar. Banyak tuduhan ghibah, tanpa memahami apa itu ghibah. Kalau mau tuduh saya ghibah, tolong posting di tulisan ‘Aib, Ghibah dan Fitnah’. Aneh, sampai skrg tidak ada yang membantah secara syar’i di situ.

      >Hat-hati sama setan DOS, pinter dia memaiankan ego manusia, termasuk ente.

      Tidak jelas, apakah Anda menuduh saya setan atau memperingatkan saya akan setan.

      Kalau Anda memperingatkan saya akan setan, ya makasih.

      Kalau Anda nuduh saya setan, ada hadits dari shahih Bukhari (kitab Adab), sbb: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang menuduh yang lainnya sebagai fusuq (menyebut fasiq atau berbuat jahat) atau menuduhnya kafir, maka tuduhan seperti itu akan kembali kepada si penuduh, jika orang yang dituduh itu tidak bersalah”.

    1.  2008 September 24 21:47,     Blogger muh_samsudin menulis…

      Tulisan anda sangat Bagus. (sory sy gak [pake kata antum, ana, akh dll krn gak pake kata kata itu gak dosa kan? atau kalao pake di jamin masuk surga).

      Untuk yang gak setuju dengan Mr. DOS.
      Saya kebetulan dai desa yang keluar masuk dari masjid ke masjid. merintis biar masjid jadi makmur dan banyak jamaah. Setelah makmur datanglah gerombolan dai partai termasuk PKS. waduh jamaah saya jadi bubar. Dai dari Parti yang Islam njelek-njelekkin partai yang lain. masjidku jadi sepi. untuk memulihkan kembali walaaah berat mas. jamaah pada sakit hati. Kok dai yang dari parti itu datangnya menjelang pemilu. kalau sudah jadi anggota dewan, selalu sibuk ngurusi proyek melulu. Nggak mau tahu.

      Jadi kalau ada kader partai yang dakwah di masjid saya biasanya langsung saya berti kartu merah, silahkan dakwah di kebun binatang saja. ATAU DIRIKAN MASJDI DENGAN NAMA MASJID PARTAI (Masjid PKS) dan silahkan anda berdakwah disitu 24 jam. Karena Masjid itu yang punya anda. itupun kalau berani…

    1.  2008 September 25 06:02,     Blogger Maz menulis…

      Dos berkata (2008 April 17 06:36
      Blogger DOS berkata… 🙂

      Kata-kata “nggak punya otak” itu bukan dari saya.

      Di bagian lain (2008 Agustus 22 20:39, Blogger DOS menulis…) :
      So, hanya jagoan komentar? use your brain to think again.

      Maz:
      Agak mirip-lah, kalau menggunakan nurani membacanya 🙂 Agak menyinggung lawan bicara, shg menjadi terbawa memakai kata-2 itu.

    1.  2008 September 26 19:52,     Blogger Maz menulis…

      “Perbedaan” Antara menilai Ceramah Ust Anis dan Menggunakan Masjid.

      ‘Penentangan’ penggunaan masjid untuk aktivitas PKS, bisa jadi tidak hanya datang dari parpol lain, bisa juga datang dari ormas Islam lainnya. Pernah juga saya dengar adanya ‘keresahan’ ormas-ormas besar Islam bahwa masjid mereka saat ini ‘terkooptasi’ atau ‘dikuasai’ oleh PKS.

      Maz: Kalau masjid pinginnya selalu dijauhkan dari politik dan khusus untuk ritual, maka jangan heran kalau akan muncul fenomena spt dulu lagi: sholat khusuk, korupsi jalan terus habis itu pada bangun masjid dan naik haji rame-rame. 🙂
      Knp ormas besar tiba-2 resah ? bukannya mereka dari dulu melakukannya ?
      Dari jaman dulu juga pesantren-2 banyak sekali yang dipakai untuk deklarasi partai, mukernas, safari Ramadhan, dll tidak terlalu masyalah tuch…, tapi kini giliran PKS cuman ngadain acara liqa/daurah saja, sudah banyak yang ribut. Apakah benar mereka “cuman” karena takut umat terpecah-pecah ? . Apakah tidak boleh jika disangka bahwa mereka sebenarnya takut kalau informasi tentang PKS juga menyebar di masjid, shg org-2 masjid jadi simpati ke garis perjuangan teman-teman PKS ?. Hanya Allah yang tahu. Harusnya dipersilakan saja kalau misalnya partai lain juga mau mengadakan pengajian di masjid itu, its ok-2 saja. Setidak-tidaknya kalau aqidahnya baik, tidak mungkin mrk akan bentrokan di masjid. takut bentrok/gak mau ke masjid lagi ?, ya perlu dibuktikan dulu, justru karena di masjid ukhuwah islamiyah OTOMATIS akan jadi di atas parpol/ jamaatul minal muslimiin. Kalau partai lainnya nanti juga mengadakan acara di masjid ya pasti simpatisannya akan datang.
      Yang jelas sangat nggak mungkin partai politik mengadakan acara parpol dengan mengundah artis semi telanjang di lingkungan Masjid. Kampanye pun jadinya makin santun..choy…
      Faktanya : Pernahkah ada bentrokan antara aktifis PKS dengan takmir masjid ?. Mana lebih mengkhawatirkan bentrokannya, jika dibandingkan dengan PPP dengan PKB atau PAN misalnya. atau bahkan antara PBB Vs PBR, PKB vs banyangannya dan PKNU, yang saling mengerahkan para kiai ? baik langitan, kampung, maupun lainnya ? Mari lebih arif dalam berfikir.

      Saran saya, jauh lebih baik, jika ingin tetap dekat dengan masjid, lakukanlah kegiatan tersebut di lokasi yang berdekatan dengan masjid, jangan di dalam lingkungan masjidnya sendiri. Misalnya sekretariat aktivitas tersebut bertetangga dengan masjid, ketika tiba waktunya shalat, maka berbondong-bondonglah menuju masjid.

      Maz: kalau belum ada fasilitas itu, dan juga pertemuannya (liqa/daurah) isinya 70-80 % pengajian koq. mari toleran lah, asalkan mereka meminta ijin saja.

      =====
      Tidak usah bersikeras bahwa tidak ada dalil yang melarang. Tidak usah bersikeras dengan alasan bahwa partai/ormas lain tersebut mestinya fastabiqul khairat dengan PKS. Fakta amat jelas menyatakan bahwa PKS belum diterima oleh mayoritas umat Islam Indonesia, sehingga lebih baik menghindari kemungkinan timbulnya potensi mudharat berupa perpecahan, apalagi di masjid.

      Maz:
      Bagaimana madharat dengan diulang-ulangnya pembahasan mengenai ceramah Ust Anis M ttg harta (apalagi khusus transkrib mengusap mobil…?.). Atau Ust Anis nggak mau lagi ceramah/menulis buku yang lain karena takut terpeleset dan orang salah tafsir ? Lagian org sudah banyak yang berlomba menyebarluaskan “mengusap-2 mobil-nya” agar org menilai Ust Anis scr “miring” ? Pernahkah itu juga dipikirkan ?. Bagaimana kalau org sekaliber Ust Anis misalnya malah nantinya dimanfaatkan JIL AKBB dll ? karena kesalahan/keterpelsetan yang kecil itu ternyata terus saja diulang-2 dibanyak tempat dan forum… seolah-2 tidak ada ceramah beliau yang lain ?

      Orang-orang nantinya jadi “hanya” membaca artikel beliau yang “itu” semua!. Penilaian mrk thd ust Anis jadi makin banyak miringnya. Padahal ceramah beliau dan buku-2nya banyak yang lain, tapi jadi tidak terlalu laku didiskusikan, karena barangkali kurang “kotroversial”. Padahal boleh jadi maksud “jangan tanya asalnya” disitu boleh jadi, Pertama-2 jangan buru-2 ribut dengan itu dulu (shg menjadikan kita nggak perlu lagi bersemangat mencari harta), tapi bagaimana kita (terdorong) untuk punya spt mereka, tapi tentu saja dengan cara “kita” (halal & thoyib). Contoh kita melihat “harta ” Bill Gates/ Soros-lah, pegawai -2 bank dll-lah. Jelas sah saja kalau kita pingin juga spt mereka (asal dengan cara yang baik), kita nggak perlu nanya-2 asal harta mereka untuk itu. karena nggak ada urgensinya. nggak mungkinlah kalau kita mendirikan prs spt microsoft kemudian otomatis jadi spt bill gates (bahkan jika didirikanlagi oleh nya sekalipun), semua ada timing dan condition yang tepat untuk saat itu.

      =====
      Tidak usah pula bersikeras dengan alasan agar tidak memaknai fungsi masjid secara sempit, hanya untuk ritual. Menghindari adanya atribut partai di masjid, justru bisa kita lihat aspek politisnya secara lebih luas.

      Maz: Dalil-2 larangan menginginkan harta orang tentu dalam konteks untuk menguasai/merebutnya. kalau sekedar saya pingin punya harta spt mr. bill gates, ya nggak salah-lah. yang salah adalah jika saya ingin memiliki harta yang sekarang dimiliki bill gates.

      Faktanya juga tidak ikhwah yang setelah mendengarkan ceramah itu yang mengusap-2 mobil/rumah mewah,khan ?. Yang terkesan membela Ust Anis pun saya yakin nggak ada Satupun yang kemudian “mengamalkan” prosesi peng usap-usap-an mobil itu sampai kapanpun. Mereka cuma terdorong untuk berselera tinggi saja thd Harta, tidak lembek dalam mencari harta, dll. Rasulullah kan juga memilih kuda tercepat/terbaik, makan kurma termahal dan lain-lain.
      Tidak mungkinkan kalau kita selalu “mencukupkan diri” dengan rumah type 36 atau 45 padahal anak sudah lima orang dan mulai beranjak baligh…ya khan ?. Apalagi ketika kesempatan bersaing untuk mendapatkan fasilitas itu scr halal ada dan tersedia. Jangan hanya karena takut “dituduh” berambisi harta terlalu tinggi, kemudian kita tidak mau bersaing dengan orang lain dalam berwira usaha, bertender, berebut proyek, dll.

      Demikian semoga menjadi penyeimbang, opini.
      Wassalamu’ala manit taba’al huda

    1.  2008 September 28 15:22,     Blogger shohib khoiri menulis…

      saya sepakat mas Dos (nama aslinya siapa he hehe).

      Kalau menurut saya mungkin karena dualisme yang tidak bisa dilepaskan dari PKS..

      Saya mengakui memang dakwah PKS menjadi salah satu dakwah yang mewarnai indonesia, tapi saya pribadi agak pesimis jika dakwah dengan partai akan berjalan mulus dalam skala waktu yang panjang.. masalahnya karena sikap dualisme tadi yang tidak mungkin bisa lepas dari tubuh PKS

      maksud saya sikap dualisme adalah dua bentuk dakwah yang berbeda, saya yakin ikhwah di PKS ingin mendakwahkan islam, tapi disatu sisi kita harus menyadari bahwa tidak semua orang suka dengan partai, baik karena “anti partai” atau memang cenderung ke partai lain..

      kasus mesjid diatas adalah contoh dualisme yang tidak bisa dielakkan. Jika saja ikhwah PKS berdakwah di masjid tanpa embel-embel partai saya yakin masyarakat akan antusias menerimanya, tapi karena ada partai masyarakat menjadi antipati..

 
  1. Amin.

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: