Aib, Ghibah dan Fitnah


arsip: pkswatch.blogspot.com

Mencari-cari kesalahan, berprasangka, membuka aib, melakukan fitnah dan ghibah, itulah di antara tuduhan yang sering dialamatkan kepada saya karena aktivitas kritik saya pada blog ini (PKSWatch versi 1, periode Okt 2005 s.d. Des 2006). Meskipun berkali-kali saya jelaskan secara parsial pada fasilitas komentar bahwa saya tidak pernah membongkar hal ikhwal pribadi siapapun di sini, bahwa saya hanya mengkritisi kebijakan publik yang memang sudah diketahui oleh publik, dan nyata nyeleneh dan tidak istiqomahnya. Tapi ternyata komentar seperti itu muncul dan muncul lagi, sampai saya jadi bosan. Entah karena yang satu tidak membaca penjelasan saya, sehingga menyampaikan yang itu-itu lagi, atau memang menganggap kritik terbuka seperti ini memang membuka aib dan ghibah yang dilarang. 

Sehingga saya memandang perlu untuk mengupas-tuntas masalah ini, paling tidak dari pemahaman saya terhadap sunnah, seperti apa duduk persoalan kritik terbuka ini, disertai dalil dan kaidah syar’i. Dengan begini, seandainya pemahaman saya benar, mudah-mudahan saya ikut menyebarkan ilmu yang benar, sebaliknya jika pemahaman saya salah, akan ada banyak orang yang membaca dan mudah-mudahan bisa membantu meluruskan pemahaman yang salah ini.

Di antara komentar tipikal itu misalnya:

    • “DOS, kalau benar ini ghibah, kalau salah ini fitnah, dua-duanya dosa”. (saya langsung berpikir: kalau memang seperti ini adanya, enak banget jadi pemimpin, bisa berbuat semaunya, kalau dikritik tinggal dikasih pilihan buat pengkritik, “ente tuh, kalo ente gak fitnah ya ghibah, dosa tuh…”)

 

    • Berdalil dengan Al Hujuraat ayat 11 dan 12 (saya berpikir: ini menyeret ayat semulia itu menjadi hatzai artikellen zaman Orba seperti UU Anti Subversif, pokoknya kritik atau berbeda pendapat dengan pemimpin langsung dianggap subversif)

 

  • Menakuti saya dengan sinetron ‘Islam belatung’ yang marak di televisi 2-3 tahun belakangan (saya hanya bisa mengelus dada: ya ampun, oknum jamaah dari sebuah partai dakwah memahami akidahnya dari sinetron-sinetron perusak manhaj akidah salafus shalih)

Supaya jelas, berikut saya tuliskan secara lengkap dalil-dalil yang mereka gunakan untuk menjawab atau membungkam kritik saya. Yaitu:

    • Surah Al Hujuraat ayat 11, sbb: Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.

 

    • Surah Al Hujuraat ayat 12, sbb: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

 

    • Hadits dari shahih Imam Muslim rahimahullah (kitab Al-Birr was-Salat iwal-Adab), sbb: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tahukah kalian, apa itu ghibah?.” Mereka menjawab: “Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Ghibah adalah menceritakan tentang saudaramu apa yang tidak ia suka.” Ada yang bertanya: “Bagaimana jika apa yang aku katakan benar-benar ada padanya?” Beliau menjawab: “Jika padanya memang ada apa yang engkau katakan, maka engkau telah mengghibahinya dan jika tidak ada padanya maka itu adalah fitnah.” [1]

 

  • Hadits dari shahihain (shahih Bukhari dan Muslim), dengan lafaz dari Imam Bukhari rahimahullah (kitab Adab), sbb: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Waspadalah dengan prasangka, karena prasangka adalah seburuk-buruknya berita bohong, jangan mencari-cari kesalahan orang, jangan memutuskan tali silaturahmi, jangan membenci satu sama lain, dan wahai orang beriman, jadilah saudara.” [2]

Dalam pandangan saya, tidak ada yang salah dengan dalil-dalil tersebut, karena bersumber dari Quran dan sunnah yang shahih. Kesalahannya adalah terletak pada penempatan atau penerapan dalil atas kasus tersebut. Lebih spesifik, penempatan dalil umum dalam sebuah masalah yang sebetulnya ada dalil yang khususnya. Secara umum, orang beriman dilarang untuk membongkar aib dan mengghibahi seseorang, tapi dalam kondisi tertentu ada dalil yang secara khusus membolehkannya.

Sehingga dalil-dalil tersebut bukanlah hatzai artikellen atau pasal karet yang bisa dikenakan kepada siapa saja yang mengkritik orang, apalagi hanya untuk membungkam kekritisan berpikir. Kalau memang dalil-dalil tersebut bisa dikenakan kepada siapa saja yang mengkritik orang, maka banyak pertanyaan yang akan muncul. Seperti, apakah artinya Islam melarang orang untuk bersikap kritis? Apakah Islam mengajarkan pemimpin otoriter karena sekali bertitah maka tidak boleh dikritik? Lalu apakah ajaran Islam saling bertentangan satu sama lain? Karena banyak dalil lain yang juga shahih yang memperlihatkan bahwa mencela atau mengkritik secara terbuka dan terang-terangan merupakan bagian dari warisan para salafus shalih.

Definisi

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin memaparkan terlebih dahulu definisi dari kata-kata tersebut, yaitu:

    • Aib, saya berusaha mencari definisi yang tepat, dan berhubung saya tidak menemukannya dalam referensi Islam yang saya miliki, saya coba cari dari sumber lain. Aib dalam bahasa Inggris adalahdisgrace, saya kutip beberapa definisi, sbb: [3]
      • a person, act, or thing that causes shame, reproach, or dishonor or is dishonorable or shameful
      • the loss of respect, honor, or esteem; ignominy; shame
      • the state of being out of favor; exclusion from favor, confidence, or trust
      • loss of honor, respect, or reputation; shame
      • the condition of being strongly and generally disapproved

 

    • Fitnah, menurut Ensiklopedi Islam Indonesia, berasal dari akar kata fa-ta-na, memiliki banyak arti, bisa positif dan bisa juga negatif. Di dalam Al Quran ada 60 kata dalam berbagai bentuk yang diturunkan dari fa-ta-na. Fitnah dalam arti positif, misalnya sesuatu yang dimiliki seperti harta dan anak-anak. Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar salah seorang sahabat berdoa, sbb: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari segala fitnah”. Amirul Mukminin menegurnya, “Apakah kamu minta kepada Allah untuk tidak diberi rizki?, Tidakkah kau baca dalam Quran, sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (Al Anfaal:28)”.

      Fitnah dalam arti negatif bisa berupa siksaan Allah, penzaliman orang kafir terhadap kaum muslimin, menyerang, menyesatkan, kufur, merusak atau mencelakakan pihak lain seperti membuka aib. Fitnah bisa datang dari Allah, bisa juga datang dari makhluk. Jika datang dari Allah, maka harus diambil hikmahnya, dijadikan perenungan. Jika datangnya jelas-jelas dari manusia, maka ini sebuah perbuatan zalim. Senjata fitnah yang dipergunakan mungkin berupa propaganda (ghibah, namimah), siksaan mental berupa pengucilan, atau siksaan fisik. Fitnah sangat berbahaya, di dalam Quran Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 191, sbb (penggalan): “dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan”. [4]

      Selain itu Imam Nawawi rahimahullah di dalam kitab Riyadush Shalihin (bab Haram Mengadu Domba) mengutip sebuah hadits dari shahihain, sbb: Dari Hudzaidah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan masuk sorga orang yang suka menyebar fitnah”. [8]

      Tentunya dalam konteks tuduhan yang saya bahas di sini adalah fitnah yang berarti negatif, atau lebih spesifik lagi membuka aib, karena itulah yang sering dituduhkan kepada saya. Nah, karena dalam definisi fitnah, ada kata ghibah, sudah saatnya kita kemudian melihat apa definisi ghibah.

 

  • Ghibah, menurut Ensiklopedi Islam Indonesia, berasal dari kata gaba, yagibu atau gaibah. Artinya menyusup, tersembunyi, fitnah atau umpatan. Dalam istilah ilmu akhlak, artinya menceritakan aib orang kepada orang lain. Ghibah bisa bersifat positif atau negatif. Jika dimaksudkan untuk menggunjing, memfitnah, mengadu domba, maka ghibah hukumnya dosa besar. Ghibah seperti ini diperingatkan keras oleh Allah di dalam Al Hujuraat ayat 12.

    Mendengar ghibah saja tidak diperbolehkan, sebagaimana tercantum di dalam Quran surah Al Qashash ayat 55, sbb (penggalan): “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, maka mereka berpaling daripadanya”.

    Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi rahimahullah, sbb: Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang mempertahankan kehormatan saudaranya yang akan dicemarkan orang, maka Allah akan menolak api neraka dari mukanya pada hari kiamat”.

    Di dalam Quran, istilah ghibah yang negatif ini disebut namimah. Di dalam surat Al Qalam ayat 10 dan 11, Allah berfirman sbb: “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah”. Dalam hadits yang tercantum di dalam shahihain, sbb: Dari Huzaifah ibnu al-Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak masuk sorga orang tukang mengadu-adu”. Juga ada hadits lain, yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah, sbb: Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah kamu kuberitahu apa artinya al-‘adhu?” Nabi sendiri menjawab: “Yaitu namimah, pembicaraan yang dibawa antara manusia dengan tujuan mengadu-adu”. Al-‘adhu artinya tuduhan palsu, dusta, mereka-reka dengan menambah informasi.

    Selain dalam arti negatif, ghibah juga bersifat positif. Untuk tujuan tertentu, maka ghibah boleh dilakukan secara terpaksa. Hadits-hadits yang menunjukkan diperbolehkannya ghibah juga ada, bahkan tercantum dalam shahihain. Selain itu, juga dikenal ilmu al-Jarh wat Ta’dil, di mana diperkenankan untuk menceritakan kelemahan seseorang yang akan dijadikan saksi suatu perkara, atau menceritakan kelemahan seseorang yang akan dinominasikan sebagai pengemban amanah yang akan mengurusi kepentingan umat. [4]

Kalau kita lihat kepada definisi aib di atas, maka bisa kita tarik kesimpulan bahwa aib adalah kondisi di mana seseorang termalukan atau kehilangan kehormatan, karena disebabkan oleh sesuatu atau seseorang. Secara umum hal tersebut adalah hal yang tersembunyi, yang oleh yang bersangkutan tidak ingin untuk diketahui publik. Definisi aib terkait erat dengan ghibah, karena ghibah berarti menceritakan aib seseorang, yang tidak disukai oleh orang tersebut untuk diceritakan. Fitnah (dalam konteks negatif) adalah penzaliman atau mencelakakan pihak lain seperti membuka aib dan melakukan ghibah. Kalau begitu, apakah berarti semua kritik terkena dalil di atas? Apakah semua hal yang membuka aib orang adalah terlarang atas nama dalil agama? Bahkan kalau hal itu dalam rangka menegakkan kebenaran?

Lalu apakah ketika polisi mengusut sebuah kasus pembunuhan juga membongkar aib dan fitnah? Sekitar pertengahan tahun yang lalu, ada kasus pembunuhan anak kandung yang melibatkan sebuah keluarga aktivis dakwah di Bandung, kasus tersebut kemudian diusut oleh polisi, lalu muncul suara-suara protes dari sesama kalangan aktivis dakwah seperti dalam tulisan-tulisan di blog yang intinya memprotes tindakan polisi mengusut kasus tersebut, karena dianggap membongkar aib dan berprasangka, dengan mengutip surah Al Hujuraat ayat 12. Saya mengajak semua pembaca berpikir, apakah ketika ada kasus pembunuhan di lingkungan kita, lalu kemudian diusut oleh polisi, lantas kita menghalangi polisi dengan mengatakan “Pak polisi, berhentilah menyidik, jangan bongkar aib orang, itu bisa terkena dosa ghibah, jangan mencari-cari kesalahan orang pak, sukakah bapak memakan bangkai saudara sendiri?”

Apakah ketika KPK membongkar kasus korupsi seorang bupati, lantas kita juga mengatakan itu membongkar aib sang bupati dan ghibah? Apakah kita akan mengatakan “Wahai muslimin KPK, jangan bongkar aib bupati, itu fitnah karena mencemarkan nama baik beliau, itu juga ghibah, sukakah Anda memakan bangkai saudara sendiri?”

Apakah ketika anggota legislatif mempertanyakan kebijakan penguasa (eksekutif), menelanjangi ketidakbenaran sebuah kebijakan, lantas kita juga mengatakan itu membongkar aib dan ghibah?

Apakah ketika imam shalat berjamaah berdiri lagi setelah duduk tahiyat akhir, lalu kita diam saja, tidak mengatakan subhanallah, karena kalau kita katakan hal tersebut maka akan menjadi aib buat sang imam?

Apakah berarti semua hal yang terkait dengan penegakan al-haq tidak boleh dilakukan atas nama ‘menyembunyikan aib’? Apakah kebijakan dan tindakan pemimpin tidak boleh dikritisi, karena perintah dalam surah Al-Hujuraat ayat 12? Tidak, tidak demikian ya ikhwah fillah. Agama ini tidak mengajarkan demikian, setidaknya dari nash yang saya ketahui sama sekali tidak demikian.

Saya bukan ahli fiqih atau ushul fiqih, tapi para ahli ilmu di dalam melakukan istinbath dan menetapkan hukum tidaklah mengambil hanya dari satu dalil, tapi juga memperhatikan dalil yang lain. Ada berbagai kaidah ushul yang harus diperhatikan, seperti adanya lafaz amm dan khas, lafaz mutlaq dan muqayyad, dll.

Demikian pula para mufassir, dalam menggali makna sebuah ayat di dalam Quran, mereka tidak mengartikan begitu saja secara tekstual. Buya Hamka di dalam mukaddimah tafsir Al-Azharnya mengatakan: “Kalau ada orang yang berani menafsirkan-nafsirkan saja Al Quran yang berkenaan dengan ayat-ayat hukum yang demikian, tidak berpedoman kepada Sunnah Rasul, maka tafsirnya itu telah melampaui, keluar daripada garis yang ditentukan oleh syariat. [5] Selain itu beliau juga menjelaskan syarat-syarat ulama untuk menafsirkan Quran, yaitu: mengerti bahasa Arab dan segala perangkatnya, mengetahui tafsir ulama terdahulu, mengerti asbabun nuzul, mengerti nasikh dan mansukh, mengerti hadits yang berisi penjelasan Quran terutama yang berkenaan dengan ayat yang tengah ditafsirkan, dan tahu pula ilmu fiqh, untuk mendudukan hukum.

Jadi memahami nash tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Contohnya, memahami Islam dengan hanya menggali-gali dalil terkait jihad qital saja, bisa menghasilkan pemahaman ala Amrozi c.s, yang tanpa hak membunuh orang sipil di negeri yang sama sekali bukan darul harb.

Dalil Shahih Sama Sekali Tidak Saling Bertentangan

Mengapa harus saya kemukakan hal ini? Karena nash-nash yang menjadi dasar tuduhan terhadap saya di atas (paragraf awal) terutama Al Hujuraat ayat 11 dan 12 tidak bisa dipahami secara berdiri sendiri begitu saja. Banyak nash lain yang memperlihatkan bahwa kritik terbuka kepada pemimpin adalah boleh. Menceritakan aib orang adalah boleh. Apakah ini tidak melanggar larangan pada ayat tersebut? Apakah berarti ada pertentangan di dalam nash-nash Islam? Sama sekali tidak, Allah telah menjamin demikian. Dalam surah An Nisaa’ ayat 82 Allah berfirman, sbb: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”.

Hadits adalah penjabaran Quran sesuai dengan firman Allah dalam surah Al Hasyr ayat 7, yang berbunyi sbb (penggalan): “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah”. Sehingga kita harus meyakini bahwa antara ayat-ayat Quran tidak ada pertentangan, antara ayat-ayat Quran dan hadits shahih juga tidak ada pertentangan, antara satu hadits shahih dengan hadits shahih lainnya juga tidak ada pertentangan.

Bagaimana kalau sekilas terlihat bertentangan atau berbeda, maka ada beberapa kemungkinan atas hal tersebut, di antaranya adalah:

    • Adanya nasikh dan mansukh, seperti adanya pembolehan nikah mut’ah dan kemudian pelarangannya.

 

    • Adanya dalil umum dan dalil khusus terhadap suatu masalah, misalnya satu ayat mengajarkan kasih sayang terhadap orang lain, tapi di lain sisi ada ayat yang menganjurkan bertindak tegas.

 

    • Dalil tersebut saling melengkapi satu sama lain, misalnya suatu ketika nabi dimintai nasehat dan beliau memberikan nasehat, di lain waktu ketika memberikan nasehat lagi kepada orang yang berbeda, maka beliau menjawab dengan nasehat yang berbeda.

 

  • Adanya perbedaan konteks tempat hukum tersebut diterapkan, sehingga dalam hal ini kita wajib mencari mana yang paling rajih, dan buat penuntut ilmu tingkat rendahan seperti saya, yang paling gampang adalah mencari apa kata ahli ilmu tentang itu.

Bagi saya pribadi, kalau ada hal yang kelihatan bertentangan antara nash shahih, maka saya meyakini itu karena kejahilan saya dan saya anggap itu sebagai sebuah pintu masuk menuju ilmu, karena biasanya saya jadi penasaran dan belajar untuk mencari penjelasan tentang itu. Begitulah cara saya menyikapi sekian banyak tulisan anti Islam yang mencari-cari pertentangan antar nash, sehingga kelihatan sangat kontradiktif satu sama lain. Ketimbang hanya sakit hati karena agama dihina, lebih baik dimanfaatkan untuk mencari kebenarannya.

Apakah Mengkritik Pemimpin Secara Terbuka dan Ghibah Diperbolehkan?

Ha? Ghibah diperbolehkan? Please DOS, jangan cari-cari pembenaran atas tindakan Anda ini.

Mungkin pertanyaan di atas langsung terlintas di pikiran Anda? Kalau iya, maka saya jawab: sama sekali saya tidak sedang mencari-cari pembenaran. Diperbolehkannya melakukan ghibah dan atau kritik terbuka kepada pemimpin untuk kondisi tertentu, didasarkan pada nash-nash yang shahih, bukan berdasarkan pada ra’yu atau akal semata.

Saya berikan beberapa contoh kritik terbuka:

    • Dalam perang Ahzab, ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memutuskan untuk menghadapi serangan aliansi kaum Yahudi dan Quraisy dengan cara perang kota, dihadapi di dalam kota Madinah, maka Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu angkat bicara mengusulkan agar dibuat khandaq atau parit pertahanan, supaya musuh tidak bisa masuk. [6]

 

    • Dalam shahih Imam Muslim rahimahullah (kitab Iman), sbb: Thariq bin Shihab radhiyallahu ‘anhu berkata: Adalah Marwan yang memulai praktek menyampaikan khutbah sebelum shalat Id. Seorang laki-laki berdiri dan berkata: “shalat (Id) harus mendahului khutbah.” Marwan menjawab: “telah ditinggalkan apa yang ada di sana.” Atas hal ini, Abu Said berkata: “orang ini sudah melaksanakan kewajibannya.” Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran (hal yang keji, buruk), maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau masih tidak mampu, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemah iman.” [1]

 

  • Terkenal sebuah atsar ketika Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu diprotes oleh seorang perempuan secara terbuka karena beliau menetapkan mahar yang menyalahi aturan di dalam al-Quran. [8]

Jelas, protes kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, amirul mukminin dan gubernur Madinah dilakukan secara terbuka dan terang-terangan. Kalaulah saja para pemimpin itu adalah pemimpin ‘bersumbu pendek’, tentulah mereka sudah marah karena dikritik terbuka seperti itu. Kalau mereka adalah pemimpin berhati sempit, maka kritik seperti itu bisa dengan mudah disebut sebagai membuka aib, karena bisa dianggap memperlihatkan ‘inkompentensi’ mereka di depan publiknya. Juga seandainya mereka adalah pemimpin yang cupet, dengan gampangnya mereka bisa menuduh rakyatnya berprasangka, karena tidak tabayyun terlebih dahulu secara sembunyi-sembunyi agar pemimpin tidak terkena aib. Riwayat-riwayat di atas berasal dari sunnah dan atsar yang shahih, sehingga bisa dirujuk sebagai salah satu sumber hukum. Karena salah satu fungsi sunnah memang sebagai penjabar Quran.

Dalam tulisan Tentang Blog Ini, saya sudah menjelaskan hikmah yang bisa dipetik dari dalil-dalil tersebut, yaitu:

    • Mengkritik seorang pemimpin atas kebijakan publiknya di muka umum adalah boleh. Rakyat dalam riwayat di atas, sama sekali tidak tabayyun terlebih dahulu ke telinga pemimpin secara sembunyi-sembunyi, agar pemimpin tidak malu (ter-aib-kan).

 

  • Mengkritik pernyataan publik bukanlah membuka atau mencari-cari aib yang dihukumi sebagai ghibah yang dilarang (namimah), sebab pernyataan itu memang sudah diketahui oleh publik (jadi apanya lagi yang mau dibuka atau dicari-cari?). Bahkan kita berkewajiban mengingatkan publik bahwa pernyataan itu mungkar, karena kalau tidak maka kita membiarkan kemungkaran terjadi.

Imam Nawawi rahimahullah di dalam Riyadush Shalihin menulis satu bab berjudul ‘Ghibah Yang Diperbolehkan’, di mana beliau mengumpulkan dalil-dalil yang memperlihatkan diperbolehkannya ghibah dalam kondisi tertentu. Di mana apabila untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dibenarkan oleh syara’, maka tujuan tersebut tidak akan tercapai kecuali dengan jalan ghibah, yaitu: [8]

    1. Untuk mengadukan orang yang menganiaya kepada penguasa atau hakim, misalnya dengan berkata, “Si Fulan menganiaya saya begini dan begitu”.

 

    1. Minta tolong untuk mengubah orang yang berbuat kemungkaran dan mengembalikannya ke jalan yang benar, misalnya dengan berkata, “Si Fulan berbuat begini dan begitu”.

 

    1. Dalam rangka minta nasehat, misalnya seseorang berkata kepada mufti, “Saya diperlakukan begini dan begitu oleh bapak saya, lalu bagaimana sebaiknya?”

 

    1. Memberikan peringatan atau nasehat kepada kaum muslimin, agar tidak terjerumus ke dalam kemungkaran.

 

    1. Dengan terus terang menegur orang yang melakukan kefasikan seperti menegur orang yang meminum minuman keras.

 

  1. Memberi penjelasan atau pengertian, misalnya ada seseorang yang lebih dikenal dengan gelar seperti “Si Buta”, “Si Tuli”, dll. Dalam hal ini diperbolehkan menyebutnya dengan gelar tanpa bermaksud mengejek atau menghina.

Imam Nawawi rahimahullah juga mengutip landasan hadits-hadits shahihnya, saya kutipkan tiga di antaranya yang berasal dari shahihain:

    • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwasanya ada seseorang meminta izin untuk bertemu kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau kemudian bersabda: “Berilah izin orang itu, ia adalah orang yang sangat jahat di tengah-tengah keluarganya”.

 

    • Dari Fatimah binti Qais radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa suaminya telah menjatuhkan talak tiga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “jika masa iddah-mu telah usai maka beritahukan padaku.” Maka kemudian aku memberitahu beliau. Pada waktu itu Muawiyah, Abu Jahm dan Usama bin Zaid melamarku. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Mengenai Muawiyah, maka dia adalah orang miskin tak berharta. Mengenai Abu Jahm, dia suka memukul perempuan. Mengenai Usama…” dia memberi isyarat tangan (Fatimah memberi isyarat tidak setuju kawin dengan Usama). Tapi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Taat kepada Allah dan Rasulnya adalah lebih baik untukmu.” Fatimah berkata: “jadi kemudian aku menikah dengan Usama dan banyak yang iri padaku.”

 

  • Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: Hindun istri Abu Sufyan itu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang suami yang kikir. Ia tidak pernah memberi belanja yang cukup bagi saya dan anak saya, kecuali apabila saya mengambil tanpa sepengetahuannya”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Ambillah belanja yang cukup untuk kamu dan anak dengan cara yang baik”.

Selain itu, agama ini juga mengenal ilmu al-Jarh wat Ta’dil di mana diperkenankan untuk menceritakan kelemahan seseorang yang akan dijadikan saksi suatu perkara, atau menceritakan kelemahan seseorang yang akan dinominasikan sebagai pengemban amanah yang akan mengurusi kepentingan umat. Ilmu ini digunakan luas oleh para ulama hadits untuk menjaga kualitas hadits. Lihatlah bagaimana para imam hadits dalam mencela dan mengghibahi seseorang, blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling, karena memang mereka melakukan itu untuk memperingatkan umat, semisal mukaddimah Shahih Muslim yang berisi penjelasan beliau bahwa celaan pada perawi dengan kesalahan yang ada pada diri mereka adalah dibolehkan bahkan diwajibkan, sesungguhnya hal itu tidak termasuk ghibah yang dilarang, bahkan termasuk membela syariat yang mulia.

Padahal, kalau kita lihat riwayat hidup sebagian orang yang dicela tersebut akan kita dapati bahwa mereka adalah ahli ibadah, zuhud dan shalih. Tapi hal tersebut tidak dinyatakan dalam celaan ahli hadits.

Saya tidak mengatakan bahwa apa yang saya lakukan di sini adalah seperti seorang ahli hadits yang mencela perawi, saya hanya katakan bahwa manhaj mencela sebuah kemungkaran dan mengghibahinya — dalam rangka nasehat –, adalah sebuah manhaj dari shalafus shalih.

Nah, saya sudah paparkan secara panjang lebar dalil dan referensi pendapat dari ulama yang muktabar, mengenai bolehnya berghibah. Lantas, bagaimana dengan dalil yang melarang ghibah yang saya kutip di atas? Apakah memang bertentangan?

Tinjauan Dari Kaidah Ushul

Prof. Abdul Wahhab Khallaf, salah satu ahli ushul fiqh mutaakhirin (wafat 1955), menjelaskan salah satu kaidah ushul, yaitu lafaz ‘amm dan khash. ‘Amm adalah lafaz yang menurut penetapannya menunjukkan kemerataan, dan hukumnya wajib bagi satuan-satuannya secara pasti, tanpa pembatasan pada jumlah tertentu daripada satuan tersebut. Khash adalah lafaz yang diletakkan untuk menunjukkan suatu individu secara perseorangan, atau menunjuk kepada sejumlah individu yang terbatas seperti tiga, sepuluh, seratus, sekelompok orang, kaum dan lain sebagainya yang terdiri dari lafaz yang menunjukkan sejumlah individu dan tidak menunjukkan kepada penghabisan seluruh individu-individu itu.

Jadi apabila ada lafaz ‘amm dalam nash, dan tidak ada dalil yang mentakhsishkannya, maka lafaz tersebut wajib dibawakan kepada keumumannya dan hukumnya wajib ditetapkan bagi seluruh satuan-satuannya secara pasti. Kemudian jika ada dalil yang mentakhsishkannya, maka lafaz tersebut wajib dibawakan kepada keumumannya pada satuan-satuannya yang tersisa sesudah pentakhsishan itu. Lafaz ‘amm tidaklah ditakhsish kecuali dengan dalil yang menyamainya atau mengunggulinya dari segi keqathi’annya dan kezhanniyannya. [9]

Surah Al Hujuraat ayat 11 & 12 adalah lafaz umum (‘amm), karena perintah untuk menjauhi prasangka tidak dibatasi secara spesifik kepada individu ataupun kelompok tertentu. Sedangkan protes rakyat Madinah kepada gubernur Marwan dalam hadits tentang shalat Id di atas, secara spesifik menunjukkan adanya kekhususan (lafaz khash) kepada individu tertentu dalam situasi tertentu, yaitu kritik terbuka rakyat kepada pemimpinnya.

Demikian pula hadits-hadits tentang bolehnya berghibah di atas, juga merupakan lafaz khash, untuk kondisi atau individu tertentu, sehingga sama sekali tidak bertentangan dengan ayat pada surah Al Hujuraat.

Hukum Islam sebagaimana sistem hukum yang lainnya juga comply dengan asas-asas dasar hukum. Asas dasar hukum yang menjelaskan adanya keumuman dan kekhususan ini, adalah: Lex specialis derogat legi generali, atau hukum yang khusus didahulukan berlakunya daripada hukum yang umum [10]. Contoh yang sering kita dengar belakangan ini adalah penerapan UU Pers sebagai Lex Specialis untuk kasus-kasus jurnalistik, tidak lagi menggunakan KUHP sebagai Lex Generalis.

Kalau kita lihat asas hukum tersebut, sebangun dengan penjelasan Prof. Abdul Wahhab Khallaf di atas. Sehingga, dalam hal ini yang tepat adalah adanya dalil umum (lafaz ‘amm atau lex generalis) tentang tidak bolehnya mengumbar aib orang dan berghibah yang berlaku untuk semua orang, tapi juga ada dalil (lafaz khash atau lex specialis) yang mengkhususkannya untuk dibolehkan di dalam kondisi tertentu.

Juga, dalil yang memperlihatkan bolehnya mengkritik pemimpin secara terbuka (dengan kritik yang santun dan benar) dan dalil tentang ghibah yang diperbolehkan tersebut, setahu saya tidak pernah di-mansukh-kan oleh dalil yang lain.

Kembali kepada kata membongkar aib? Apakah arti membongkar? Membongkar adalah mengeluarkan yang tersembunyi, meruntuhkan, dll. Dalam konteks saya mengkritisi sebuah kebijakan atau pernyataan publik PKS di blog ini, apakah kebijakan itu suatu hal yang tersembunyi? Apanya yang saya bongkar kalau memang sudah terpampang jelas di masyarakat? Agar lebih konkrit, saya berikan satu contoh kasus.

Sebuah Contoh Kasus

Saya ambil satu contoh kasus lama, sama sekali tidak bermaksud mengungkit-ngungkit, karena banyak kasus lainnya yang juga sudah saya bahas pada blog PKSWatch versi 1. Kasus ini punya aspek historis, karena merupakan pemicu saya membuat blog ini. Sekalian memperjelas secara lebih rinci, mengapa saya membuat blog ini. Mengapa saya memilih cara seperti ini.

Ketika itu, di dalam sidang paripurna DPR yang mengesahkan kenaikan tunjangan 10 juta rupiah, di tengah masyarakat yang keleleran karena kenaikan harga BBM pada bulan Oktober 2005 (yang sebelumnya juga disetujui oleh PKS), para aleg FPKS satu fraksi tidak ada satupun yang interupsi untuk menyatakan ketidaksetujuannya [11], padahal sebelumnya selalu menyatakan akan menolak [12] . Lalu kemudian presiden PKS Tifatul Sembiring mengatakan bahwa mereka kalah suara, meskipun sudah jungkir balik tapi tetap kalah [13]. Kemudian saya ulas, saya ingatkan secara terbuka apa iya betul-betul sudah jungkir balik?Lha wong faktanya, tidak ada yang bersuara di sidang paripurna.

Kemudian ada yang mengatakan bahwa para aleg FPKS sudah berjuang di tingkat panitia anggaran untuk menentang hal tersebut. Benarkah? Faktanya dari siaran TV Swara (TV kabel DPR), terlihat padakebanyakan mingkem tuh, atau mereka berjuangnya dengan menggunakan telepati? Hebatnya lagi para ‘pembela’ PKS, melalui diskusi di fasilitas komentar meminta saya untuk meng-upload video rapat paripurna itu sebagai bukti. Saya salut akan ghirah mereka terhadap PKS, tapi sayang kurang menggunakan salah satu anugerah Allah terbesar, yaitu akal. Itu ibaratnya, ketika dunia mengetahui bahwa Italia adalah juara Piala Dunia 2006, lalu saya katakan hal itu kepada seorang teman, sang teman tidak percaya dan meminta saya meng-upload videonya sebagai bukti. Televisi menyiarkan, media cetak mencatat, jutaan mata melihat, masa karena dia ketiduran tidak tahu berita, lantas dia merasa berhak menuntut ‘bukti’?

Kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa toh karena sudah kalah suara, buat apa interupsi lagi, karena itu sama juga bohong-bohongan. Ini juga pendapat yang tidak benar. Kalah jumlah bukan berarti berhenti berjuang, banyak contoh yang bisa didapat dari sirah atau atsar betapa ketika kalah jumlahpun usaha penegakan al-haq tidak boleh berhenti. Jelas alasan ini melupakan sebuah hadits, sbb: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Katakanlah yang benar walaupun ia pahit”. Dishahihkan oleh Imam Ibnu Hibban rahimahullah, dan dikutip oleh al-Hafidz Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah di dalam Bulughuul Maraam, kitab Jual Beli [14].

Terkenal pula perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sbb: “Jamaah adalah apa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian dalam kebenaran itu, maka kamu seorang adalah jamaah”.

Selain itu, anggota DPR secara personal atau lembaga (fraksi) bisa menyatakan minderheidsnota atau nota keberatan (semacam dissenting opinion dalam dunia peradilan), jadi meskipun kalah suara tapi perbedaan pendapatnya tetap dicatat di dalam lembaran negara. Saya beri contoh, tanggal 6 Desember 2007 ada rapat paripurna di DPR untuk menetapkan RUU Parpol menjadi UU [15]. Tercatat ada beberapa fraksi yang menyatakan minderheidsnota termasuk FPKS. Ini juga sekaligus membantah alasan bahwa di sidang paripurna itu tinggal ketok palu, menyatakan setuju atau tidak setuju, bukan mempersoalkan substansi lagi (sehingga aleg-aleg FPKS hanya diam saja waktu sidang paripurna kenaikan tunjangan). Jelas fraksi-fraksi yang tidak setuju masih mempersoalkan substansi naskah UU Parpol itu di dalam sidang paripurna tanggal 6 tersebut.

Kembali kepada minderheidsnota, mengapa dalam kasus tunjangan ‘ajaib’ tersebut PKS tidak melakukannya? Padahal, di dalam menghadapi adanya keputusan yang mungkar, di mana kita terlibat di dalamnya, maka kita wajib berlepas diri, demi mengingkari kemungkaran. Ini adalah bagian dari aqidah salafus shalih (al wala’ wal bara’), salah satunya dinyatakan di dalam Quran dalam surah Al-Mumtahanah ayat 4, sbb (penggalan): “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kemungkaran) mu”

Mustahil anggota FPKS tidak tahu tentang minderheidsnota, apalagi ketika kejadian itu mereka sudah setahun menjabat, mustahil pula mereka tidak kenal manhaj al bara’. Jadi, kalau kemudian mereka pada diam saja ketika sidang paripurna, apanya yang berjuang jungkir balik? Kita bisa lihat contoh betapa gigihnya anggota FPKB di dalam sidang paripurna DPR/MPR ketika Gus Dur akan dilengserkan. Itu baru layak disebut berjuang jungkir balik.

Ketika itu saya betul-betul marah. Tidak tahu kemarahan ini mau diapakan. Bertanya kepada qiyadah, percuma saja, toh sudah diputuskan. Paling-paling akan mendapat jawaban yang sama dengan yang sudah ditulis oleh media terkemuka. Inilah awal mula saya mendapat gagasan memulai blog ini. Islam mengajarkan, ketaatan kepada pemimpin adalah di bawah ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Kalau pemimpin melakukan kemungkaran, kalau siapapun melakukan kemungkaran, kita wajib mencegahnya. Mencegah dengan tangan adalah hak penguasa, sehingga yang bisa saya lakukan adalah mencegah dengan lisan. Di tengah keterbatasan saya, keterbatasan sumber daya, di tengah keinginan untuk melakukan sesuatu, saya memilih media blog.

Mengapa ketika itu saya marah? Baru saja mereka menyetujui kenaikan harga BBM, yang dengan segala alasan apapun terbukti kenaikan itu membuat banyak rakyat miskin semakin termiskinkan. Mereka juga tidak mengemukakan nota keberatan apapun di dalam sidang paripurna yang membahas kenaikan harga BBM. Meskipun mereka mengatakan memberikan syarat-syarat kepada pemerintah [16], tapi tidak jelas pelaksanaannya. Tidak pula jelas dalam bentuk apa syarat-syarat itu mereka ajukan, apakah dalam bentuk catatan persidangan, atau surat resmi, atau perjanjian tertulis, atau apa. Seharusnya dalam konteks mereka memberikan syarat atas persetujuan sebuah keputusan, mereka memberikannya dalam bentuk minderheidsnota, karena itulah konvensi ketatanegaraan yang berlaku. Sebab kalau tidak syarat-syarat itu hanya menjadi wacana saja. Kemudian masih pada bulan yang sama, mereka menyetujui kenaikan tunjangan sebesar 10 juta per bulan. Mereka lupa diri, lupa teladan dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, ketika negara sedang dalam keadaan paceklik dan rakyat kelaparan, beliau tidak pernah makan kecuali roti dan minyak hingga kulit beliau berubah menjadi hitam. Beliau berkata, “Akulah seburuk-buruk penguasa apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan”. [17]

Kembali kepada contoh kasus kenaikan tunjangan tersebut, ketika kemudian saya ungkapkan ketidaksesuaian pernyataan sang Mr. President dengan fakta di lapangan, lalu saya dituduh membuka dan menceritakan aib, fitnah dan namimah? Sungguh aneh! Aib siapa yang saya buka? Lha wong tidak ada yang tersembunyi kok, pernyataan Pak Tif itu memang dinyatakan kepada publik, memang sudah diketahui oleh publik, jadi aib apanya yang saya buka? Kalaupun memang ada aib di situ, Pak Tif lah yang membuat aib untuk dirinya sendiri, karena pemimpin seharusnya hati-hati bicara. Kok saya malah diberi berbagai tuduhan keji, padahal saya hanya melihatnya dari pandangan yang berbeda, justru harusnya memberikan opini alternatif kritis terhadap sebuah pernyataan publik dari seorang pemimpin.

Banyak contoh kasus lain yang sebangun dengan kasus itu, yang entah mengapa tidak terlihat keanehannya oleh sebagian kader dan simpatisan PKS. Padahal bagi saya yang bukan ahli saja terlihat anehnya, apalagi oleh komponen-komponen PKS yang banyak terdiri dari intelektual itu. Apakah karena mereka terlalu berbaik sangka? Apakah karena mereka berpikir “ah, nanti kalau disebut-sebut ntar jadi membongkar aib”? Apakah karena mereka berpikir “ah, nanti mudah-mudahan sang ustadz sadar dan diberi petunjuk oleh Allah”? Apakah karena mereka berniat untuk memberi tahu secara pribadi agar ybs tidak malu? Jangan ya akhi, jangan diam saja, saya sudah jelaskan bahayanya mendiamkan kemungkaran hanya karena kesungkanan kita dalam tulisan Tentang Blog Ini, dan mungkin akan saya singgung lagi nanti dalam tulisan lain.

Jadi saya sarankan kepada ikhwah fillah, kritislah. Pertanyakan sebuah kebijakan jika itu Anda anggap bertentangan dengan nurani dan syariat. Jangan cepat menerima kalau belum puas, dan jangan pula sungkan untuk secara terang-terangan mengingkari kebijakan itu jika memang alasan yang dikemukakan tidak memuaskan. Memuaskan di sini bukan dalam konteks kepuasan pribadi, tapi ‘puas’ dalam arti bahwa penjelasan yang ada sudah comply dengan aturan syariat yang lebih tinggi. Sehingga hilanglah syubhat dan zann. Karena seperti yang dinyatakan di dalam kitab al-Muwaqiin juz 1, bab ‘Pendapat Para Imam Seputar Alat dan Syarat Fatwa’, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah menjelaskan makna ayat (surah An Nisaa’ ayat 59) bahwa ketaatan kepada ulil amri adalah di bawah jaminan kepada ketaatan kepada Rasul. Ketaatan kepada pemimpin mengikuti ketaatan kepada Rasul, jika sesuai dengan perintah Rasul maka wajib ditaati, jika tidak sesuai maka tidak perlu didengar dan ditaati. [18]

Imam Bukhari rahimahullah di dalam shahihnya (kitab Ahkaam) meriwayatkan sbb: Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: seorang muslim harus mendengar dan mematuhi perintah pemimpinnya terlepas dia setuju atau tidak, selama perintah itu tidak bertentangan dengan perintah Allah, jika bertentangan maka dia tidak harus mendengarkan atau mematuhinya. [2]

Jadi, kalau memang sesuai dengan aturan hukum yang lebih tinggi, yaitu Quran dan Sunnah, maka suka tidak suka wajib taat. Tapi jika tidak sesuai dengan aturan yang lebih tinggi, maka harus ditinggalkan. Jika tidak jelas sesuai atau tidaknya, karena hanya diperintah tsiqoh, maka khawatirlah bahwa itu sudah jatuh ke dalam syubhat, dan hindarilah syubhat. Sesuai hadits dari shahihain, dengan lafaz dari Imam Muslim rahimahullah sbb: Dari Nu’man Ibnu Basyir radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda –dan Nu’man memasukkan dia jarinya ke dalam kedua telinganya–: “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram pun jelas, dan di antara keduanya ada hal-hal yang syubhat yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhinya, maka ia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya dan barangsiapa memasuki syubhat, ia telah memasuki keharaman, seperti halnya penggembala yang menggembala di sekitar batas (tanahnya), tidak lama ia akan jatuh ke dalamnya. Ingatlah bahwa setiap kepemilikan ada batasnya, dan ingatlah bahwa batas Allah ialah larangan-larangan-Nya. Ketahuilah bahwa di dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik seluruh tubuh akan baik jika ia rusak seluruh tubuh akan rusak. Ketahuilah dialah hati.” [1]

Jangan hanya patuh dengan alasan harus tsiqoh dan tho’ah, jangan hanya patuh dengan alasan yang penting beramal dan luruskan niat, meskipun tidak memahami dasar pengambilan keputusan. Dalam tulisan Tentang Blog Ini saya sudah menjelaskan bahayanya tsiqoh dan tho’at tanpa faham.

Jangan pula takut dituduh membongkar aib dan mencari kesalahan ketika mengkritik atau mempertanyakan sebuah kebijakan, karena relevansinya sama sekali berbeda. Adalah membuka aib dan namimah seandainya di blog ini saya bongkar isi rumah tangga ustadz Fulan yang sama sekali tidak ada relevansinya dengan amar ma’ruf nahi munkar. Seandainya saya lakukan itu, yes, itu memang membuka aib dan melakukan namimah. Benar atau salah, itu juga sudah fitnah. Tapi saya tidak pernah melakukan itu.

Bermuka Dua?

Anehnya, ketika saya dituduh membongkar aib dan berghibah karena mengkritik kebijakan PKS, pada saat yang sama pemimpin PKS dan aleg FPKS juga mengkritik kebijakan pemerintah, dan tidak ada suara dari kader PKS yang mengatakan mereka membongkar aib dan berghibah.

Mengapa ketika pemimpin PKS mengkritik kebijakan pemerintah atau presiden RI, tidak dikatakan “ya ustadz, sukakah antum memakan bangkai saudara sendiri? Ya ustadz, mengapa antum tidak tabayyun dulu kepada presiden? Mengapa antum membongkar kesalahan pemerintah di depan publik? Tidak takutkah antum terkena dosa ghibah?”

Mengapa tidak dipertanyakan seperti itu? Apakah ini sebuah bentuk standar ganda? Hati-hati ya ikhwah fillah, orang yang berstandar ganda atau bermuka dua itu dibenci oleh Allah. Dalam sebuah hadits dari shahih Imam Bukhari rahimahullah disebutkan (kitab Adab) sbb: Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang paling dibenci dalam pandangan Allah pada hari kiamat nanti adalah orang yang bermuka dua, yang menampilkan kepada beberapa orang satu wajah dan kepada orang lain wajah lain.” [2]

Atau hanya karena semangat membela korps? esprit de corps kepada PKS? Jadi apapun itu, harus dibela dulu, benar atau tidak belakangan? Mudah-mudahan tidak, karena itu sikap ashabiyah yang tidak terpuji. Kita hanya boleh fanatik kepada Islam. PKS bukan Islam, tapi hanya bagian dari Islam, yang mungkin benar mungkin juga salah, sementara Islam adalah benar. Terkadang, semangat asal membela itu justru jadi terlihat menyedihkan, seperti terlihat dalam diskusi/debat pada fasilitas komentar PKSWatch versi 1. Hujjah lemah, terkadang penuh fallacy in logic, pokoknya asal membela dan jiddal. Dalam Bulughuul Maraam, kitab Adab, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah memaparkan hadits yang diriwayatkan dari Imam Muslim rahimahullah, sbb: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Orang yang paling dibenci Allah ialah pembantah yang mencari-cari alasan untuk memenangkan pendapatnya.” [13]

Janganlah fanatik membela PKS, karena PKS bisa benar dan bisa salah. Alhamdulillah, misalnya ketika Anda membela, PKS dalam posisi yang haq, bagaimana kalau ternyata suatu saat pada posisi mungkar? Saya ingatkan kita semua, sebuah firman Allah di dalam surah An-Nisaa’ ayat 107, sbb: “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa”.

Apalagi kalau dalam membela itu, terlalu bersemangat, kemudian melontarkan tuduhan keji. Alih-alih berniat baik untuk membela sebuah gerakan Islam, malah terjerumus ke dalam sifat munafik. Sebuah hadits dari shahihain mudah-mudahan bisa mengingatkan kita semua, sbb: Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang memiliki empat (sifat) berikut ini adalah orang munafik sejati, dan barang siapa memiliki salah satunya akan memiliki satu sifat kemunafikan kecuali/sampai dia bertobat, yaitu: 1, ketika dipercaya dia berkhianat; 2, ketika berbicara dia berdusta; 3, ketika membuat perjanjian dia curang; 4, ketika berdebat dia bertingkah kasar, keji dan mencaci maki” [2]

Pernah ada kejadian, seorang al-akh mengatakan kepada saya via seluler bahwa saya melakukan fitnah dan teror terhadap dakwah dengan blog ini, lalu saya tanyakan di bagian mana yang meneror, sang akhi ini tidak mau menjelaskan bagian mana, pokoknya blog ini harus ditutup. Saya desak lagi, saya bersedia menutup kalau dia bisa menjelaskan bagian mana dari blog ini yang meneror dakwah, secara jelas. Akhirnya dia menyatakan bahwa dia tidak mau membaca blog ini, karena menurutnya isinya sampah. Lho, saya jadi bingung dan speechless, dia tidak membaca blog ini lalu bagaimana caranya menyimpulkan bahwa blog ini meneror dakwah? Siapa yang sebetulnya memfitnah di sini? Lantas sang akhi malah menuntut saya membuktikan bahwa blog ini lebih banyak manfaat daripada mudharat. Saya jadi tambah bingung. Saya kenal baik dengan sang al-akh sebagai seorang intelektual, kebetulan almamater kami sama, tapi mengapa dalam hal ini beliau sepertinya lupa untuk berlogika dengan baik?

Ketika beliau menuduh saya meneror dakwah, itu adalah tuduhan serius, maka beliaulah yang harus membuktikan bahwa blog ini memang meneror dakwah. Beban pembuktian atas sebuah tuduhan terletak pada sang penuduh. Itu kaidah yang berlaku universal, termasuk di dalam Islam. Di dalam al-Muwaqiin juz 1, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah mengutip surat amirul mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu (bab ‘Surat Umar bin Khattab dan Penjelasannya’), sbb: “Pembuktian diwajibkan bagi penggugat, dan sumpah diwajibkan bagi orang yang menolak”. [18] Hadits-hadits shahih yang menggambarkan kaidah ini juga tidak sedikit jumlahnya. Sehingga sampai sekarang saya masih bingung dengan permintaan sang akhi ini.

Baik, tulisan ini saya buka dengan paparan tuduhan-tuduhan yang saya jelaskan pada bagian pertama kepada saya, dan saya tutup dengan sebuah saran: sebelum menuduh saya berbuat fasiq (menebar aib dan berghibah / namimah terhadap qiyadah), saya sarankan pikir-pikir dulu, karena empat hal:

    • Kritik terbuka dan haq terhadap pemimpin adalah boleh menurut nash shahih.

 

    • Ghibah dan membuka aib dalam rangka mengingatkan / nasehat adalah diperbolehkan menurut nash shahih.

 

    • Itupun harus dipertanyakan pula, apa iya saya membuka aib? Karena yang saya ulas di blog ini adalah hal yang sudah diketahui oleh publik. Memang sudah terbuka, jadi apanya lagi yang mau saya buka? Saya hanya melihatnya dari sisi berbeda, jadi aibnya siapa yang saya buka?

 

  • Hadits dari shahih Imam Bukhari rahimahullah (kitab Adab), sbb: Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang menuduh yang lainnya sebagai fusuq (menyebut fasiq atau berbuat jahat) atau menuduhnya kafir, maka tuduhan seperti itu akan kembali kepada si penuduh, jika orang yang dituduh itu tidak bersalah”. [2]
    Jadi kalau saya tidak melakukan perbuatan jahat atau fasiq, lalu saya dituduh fasiq, maka menurut hadits itu sudah jelas siapa yang sebetulnya fasiq.
In the name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
Our Lord! do not punish us if we forget or make a mistake; 
Our Lord! do not lay on us a burden as Thou didst lay on those before us, 
Our Lord do not impose upon us that which we have not the strength to bear; 
and pardon us and grant us protection and have mercy on us, 
Thou art our Patron, so help us against the unbelieving people.

(Al Baqarah:286)

Referensi/Catatan:
[1] Shahih Imam Muslim
[2] Shahih Imam Bukhari
[3] American Psychological Association (APA): The American Heritage® Dictionary of the English Language, Fourth Edition. Retrieved December 07, 2007, from Dictionary.com website: http://dictionary.reference.com/browse/disgrace
[4] Ensiklopedi Islam Indonesia, tahun 2002, tim IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta
[5] Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah
[6] Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad, KH. Moenawar Chalil
[7] Fiqih Sunnah (kitab Nikah), Syaikh Sayyid Sabiq
[8] Riyadush Shalihin, Imam Nawawi
[9] Ilmu Ushul Fiqh, Prof. Abdul Wahhab Khallaf
[10] Ikhtisar Ilmu Hukum, Prof. Dr. H. Muchsin, SH
[11] Suara Pembaruan: DPR Tak Persoalkan Tunjangan Rp 10 Juta, http://www.suarapembaruan.com/News/2005/10/24/Utama/ut01.htm
[12] Tempo Interaktif: PKS Tolak Tunjangan BBM Rp 10 Juta/Bulan, http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2005/10/21/brk,20051021-68369,id.html
[13] Kompas: PKS Akan Salurkan Dana Tunjangan Anggota DPR Kepada Masyarakat, http://www.kompas.com/utama/news/0510/22/165113.htm
[14] Bulughuul Maraam, Imam Ibnu Hajar al-Asqalani
[15] detikcom – RUU Parpol Disahkan Jadi UU dengan Minderheidsnota, http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/06/time/183042/idnews/863309/idkanal/10
[16] Republika: Kenaikan Harga BBM dan Posisi Fraksi PKS http://www.republika.co.id/Koran_detail.asp?id=215679&kat_id=16
[17] Al-Bidayah wal Nihayah (kitab Khalifah Umar bin al-Khattab), Imam Ibnu Katsir
[18] Muwaqiin, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah

sumber: purwoko.staff.ugm.ac.id/pw2/aib-ghibah-dan-fitnah.html

, , , , , ,

  1. #1 by aneh tapi nyata di dunia on October 20, 2014 - 5:57 pm

    Hi there very cool blog!! Guy .. Beautiful .. Superb ..
    I will bookmark your site and take the feeds additionally?

    I’m satisfied to find numerous useful information right here
    in the put up, we want work out more techniques in this regard, thank you for sharing.
    . . . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: