Aib, Ghibah dan Fitnah (2)


arsip: pkswatch.blogspot.com

Pengantar DOS

Artikel ini adalah kiriman seorang akhwat, yang mengambil nama ‘Mahasiswi di Indramayu’, yang diposting sebagai komentar pada artikel Aib, Ghibah dan Fitnah. Komentar yang cukup panjang, sehingga malah lebih cocok untuk dijadikan sebuah artikel tersendiri.

Saya sendiri tidak mengenal secara pribadi akhwat yang mengirimkan tulisan ini, sehingga boleh dibilang, sanad tulisan ini terputus. Akan tetapi matan atau kontennya aktual, memang sesuatu yang sudah pernah terjadi di dalam jamaah ini. Saya mengenal secara langsung beberapa orang yang menjadi ‘korban’ atas tindakan tidak beretika yang diceritakan di dalam tulisan ini. Beberapa orang yang saya ketahui menjadi ‘korban’, baik langsung maupun tidak langsung, adalah termasuk di antaranya ustadz senior dan kader perintis jamaah sendiri, baik yang secara resmi masih menjadi anggota PKS ataupun melanjutkan dakwah di luar PKS. 

Silahkan para pembaca, terutama kalangan kader PKS, untuk menyelidiki sendiri dari berbagai sumber –jangan hanya dari murabbi– nama beliau-beliau tersebut, sebagai salah satu ajang pembelajaran sejarah jamaah. Saya tidak akan menyebutkan satu namapun, karena berkaca dari pengalaman selama ini, pengalaman dari blog PKSWatch versi 1, dekadensi akhlak oknum kader yang dikritisi pada tulisan ini, mereka tersebut akan dengan mudah menuduh yang bukan-bukan terhadap tokoh-tokoh tersebut, mengaitkan dengan blog ini, dan melontarkan fitnah macam-macam.

Beberapa bagian saya edit seperlunya, seperti pemaparan beberapa informasi sensitif yang kalau diloloskan bakal membuat blog ini menjadi ajang ribut lagi. Sehingga pada awalnya saya langsung ingin me-reject komentar ini, tetapi setelah saya baca lagi, sebetulnya topiknya aktual, layak untuk diketahui dan untuk menjadi masukan demi perbaikan. Sehingga setelah saya mengedit beberapa bagian, menimbang-nimbang antara terputusnya sanad dan aktualnya matan, maka saya memutuskan untuk menampilkan tulisan ini menjadi sebuah artikel tersendiri.

Narrated Abu Dhar: That he heard the Prophet saying, "If somebody 
accuses another of Fusuq (by calling him 'Fasiq' i.e. a wicked person) 
or accuses him of Kufr, such an accusation will revert to him 
(i.e. the accuser) if his companion (the accused) is innocent."

HR Bukhari, kitab Adab.

DOS
===

Berbicara tentang topik ghibah dan fitnah, saya mempunyai pengalaman pribadi yang relevan untuk di-sharing-kan kepada kader dan simpatisan PKS pemerhati PKSWatch. Semoga kisah saya ini menjadi pelajaran bagi kita semua sebagai komunitas yang punya perhatian terhadap masa depan PKS.

Bila ada yang hendak konfirmasi/ tabayun, silahkan saya tunggu di tarbiyahyespksno@yahoo.com

Judul:
Sebuah Testimoni : Isu, Fitnah, dan Ghibah Ala Oknum Kader-kader PKS

PKS telah menjadi fenomena baru dalam percaturan politik Indonesia. Namun, seiring dengan bertambahnya usia banyak hal yang mesti di-mutabaah demi eksistensi jamaah itu sendiri.

Berbagai tipikal kader PKS yang akhlak sentris sering kontradiktif dengan realitas yang terjadi di lingkungan masyarakat luas. Beberapa mungkin telah dirasakan sendiri baik oleh kader, simpatisan atau orang-orang di luar jamaah. Salah satunya adalah tipikal penyerangan secara jamaah terhadap KADER yang kritis (penulisan KADER berbeda dengan kader. KADER adalah kader yang akhirnya diisukan, difitnah, dan di-ghibah-i). Dimana ketika KADER tersebut akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan hidupnya sendiri tampil independen, kontan saja beberapa oknum kader dan pejabat PKS memfitnah dan meng-isukan sampai-sampai bertindak mengorbankan etika dan akhlak sesama muslim yang sering dibahas dalam halaqoh.

Tingkah mereka (oknum) yaitu mem-publish kepada umum isu-isu yang menjelekan citra KADER tadi, tanpa memberikan bukti yang kuat, ilmiah, serta dapat dipertanggungjawabkan adalah bentuk kedzoliman. Sedangkan dalam halaqoh yang kami hadiri sering ada tausyiah bahwa manakala ada berita tentang saudara kita, maka hal paling penting yang mesti kita lakukan adalah mentabayunkan dan tidak lantas percaya sebelum ada bayan yang jelas.

Salah satu produk PKS adalah komunikasi jaringan. Apabila ada sebuah kiswah (kisah seputar ikhwah) dapat dipastikan berita tersebut akan langsung tersebar dengan fasilitas JI (Jaringan Ikhwah). Tak peduli terhadap perasaan KADER itu karena dianggap tidak tho’at dan tsiqoh lagi, berkat JI muncullah isu dan fitnah tentang KADER. Sehingga KADER yang “terfitnah” merasakan adanya pembunuhan karakter.

Saya dan kawan-kawan, sebelum mengalami kejadian yang menyakitkan ini, kami adalah kader PKS, KAMMI, dan LDK. Hanya saja kami dianggap terlalu kritis untuk ukuran kader akhirnya kami dicurigai sudah tidak tho’at dan tsiqah lagi. Di antaranya kami selalu mempertanyakan kebijakan PKS (yang belakangan ini sering tidak memihak rakyat), mendiskusikan PKSWatch-nya DOS, bertanya-tanya tentang isu sensitif, dll.

Catatan DOS: dua paragraf pada bagian ini saya hapus, buat yang ingin mengetahui apa yang saya hilangkan ini, silahkan bertanya kepada pengirim tulisan melalui email di atas.

Akibat kekrititisan kami terhadap PKS akhirnya menghasilkan isu-isu yang merugikan kami yang dihembuskan oknum kader-kader dan petinggi PKS.

Ramadhan kemarin menjadi hari-hari yang cukup sendu bagi saya dan beberapa kawan. Sebuah fitnah terlontar dari lisan beberapa kader dan pejabat DPD PKS di kota kami, saya dituduh sebagai orang dari kelompok aliran sesat yang ada di Indonesia. Data ini saya dengar dari adik kelas almamater saya bahwa salah satu petinggi DPD PKS menginformasikan kepada alumni binaannya untuk berhati-hati terhadap diri saya.

MasyaAllah sungguh saya tak habis pikir bagaimana fitnah itu dibentuk dan disebarkan, padahal dalam diri dan perilaku saya tidak ada yang bertentangan dengan Islam dan pada saat itu saya masih mengikuti halaqoh PKS. Parahnya, apakah petinggi tadi lupa dengan mekanisme tabayun? Karena ketika melontarkan kepada alumni binaannya, beliau belum pernah menanyakan langsung kepada saya tentang kevalidan berita tersebut. Akhirnya saya dan keluarga ingatkan beliau sehingga beliau meminta maaf atas kesalahannya, walaupun nama saya sudah tercemar jelek di mata alumni binaannya.

Tak sampai disitu, ibarat bola salju yang menggelinding fitnah yang beredar semakin santer dengan berbagai versi yang kesemuanya adalah bohong belaka. Fitnah bahwa saya juga sering melawan orang tua, membuat orangtua saya terheran-heran. Apakah mereka tidak berfikir siapa orang yang paling dekat dengan saya kalau bukan orangtua saya, dan tuduhan yang dilontarkan pun batil karena orangtua sayapun tidak merasakannya.

Hal yang sama pun terjadi dengan seorang kawan saya. Sekali lagi saya katakan orangtua mana yang rela anaknya difitnah atas sesuatu yang tidak dilakukannya? Apakah begini akhlak petinggi PKS dan kader-kader yang taqlid? Ketika kami mengkritisi dan sering berlawanan arah menurut pandangan mereka? Mana konsep tabayun yang selama ini digembar-gemborkan? Mana bukti yang kuat sehingga memfitnah dan menggibahkan kami seperti itu? Demi Allah sampai saat saya menuliskan kisah ini tidak ada bukti yang dapat dipertanggungjawabkan untuk mendukung isu, fitnah, dan ghibah buatan mereka.

Apa daya sistem mereka lebih kuat. Akan tetapi kami tidak merasa gentar karena kami dalam posisi yang benar.

Fitnah telah merebak di kalangan kader PKS dan mulai terjadi perbedaan sikap yang dapat dicium kuat dari mereka terhadap kami. Karena bagi mereka mungkin kami bukan ikhwah mereka lagi, bukan bagian dari mereka. Pada saat itu kami easy going, toh kebenaran akan tetap benar walaupun diliputi fitnah. Kemudian berbagai versi fitnah mulai diucapkan dari lisan-lisan tak bertanggung jawab mereka (oknum), kami difitnah telah di-DO (drop out) dari kampus tempat kami menuntut ilmu. Wallahi, sampai saat ini kami masih kuliah dan baru saja kami menyelesaikan ujian tengah semester (UTS). Kami termasuk mahasiswa yang dikenal dosen dengan IPK yang cukup baik, apakah mereka tidak berfikir untuk memberi isu yang lebih ilmiah? Jujur ini benar-benar kebohongan yang nyata.

Lalu si-JI (jaringan ikhwah) pun cepat bekerja, beberapa alumni almamater di luar daerah yang mengenal saya pun mendapat info serupa. Dan yang menyedihkan mereka mengangguk saja tanpa ada tabayun langsung kepada saya, karena berpendapat info tersebut berasal dari orang yang ditsiqohi. Apakah dapat dibenarkan sikap seperti itu? Dan saya sering mendengar ada kelompok halaqoh yang menjadikan saya sebagai tema yang diangkat untuk agenda halaqoh mereka. Masya Allah sungguh di akhirat nanti orang-orang yang mendzolimi akan terhapuskan pahalanya diberikan kepada orang-orang yang terdzolimi , “Orang-orang yang menghalangi manusia dari jalan Allah, Allah Menghapus segala amal mereka” (Q.S. Muhammad: 1)

Fitnah dengan versi lain pun beredar bahwa kami setiap bulannya di gaji salah satu aliran sesat (kali ini berbeda aliran sesatnya). Jujur semakin lama membuat geli, ada-ada saja isu-isunya, dan yang menggelitik kenapa bisa isu-isu murahan itu dilontarkan kader yang katanya terpelajar.

Belakangan isu masih beredar tentang kami dan masih saja ada dari mereka yang hobi menghembuskan isu. Terakhir salah seorang teman se-jurusan mengatakan bahwa setelah halaqoh usai murrabinya mengatakan kepada dia dan peserta halaqoh lain bahwa saya menyampaikan berkas PKSWatch dan juga di dalamnya ada gambar porno, demi Allah untuk yang terakhir saya tidak pernah melakukannya. Sungguh amat kejam fitnah yang mereka hembuskan apalagi bernilai tidak benar dan disampaikan kepada orang-orang yang tidak tahu. Untuk blog PKSWatch saya berniat agar kader-kader grassroot dapat open their minds tidak asal tsiqoh begitu saja terhadap kebijakan-kebijakan yang diambil qiyadah. Saya paham karena murrobiah tadi pun belum tahu bagaimana substansi dari PKSWatch yang ada pada saya, semoga Allah mempertemukan kami sehingga saya dapat menjelaskan kondisi yang sebenarnya dengan memberikan bukti-bukti yang valid, tidak hanya bergentayangannya isu dari seseorang yang ditsiqohi.

Pembunuhan karakter yang telah mereka lakukan sampailah ke telinga guru pembina rohis almamater saya. Lewat fitnah yang dihembuskan guru yang jadi kader PKS disana akhirnya tesebarlah isu tersebut di kalangan guru dan anak-anak rohis. Menyakitkan memang sehingga adik-adik akhwat yang saya binapun menjadi fobia dan mentoring-an yang kami adakan menjadi terhenti atas instruksi dari pembina rohis yang telah termakan fitnah dari guru kader PKS tadi.

Selanjutnya tindak-tanduk saya dan kawan saya di kampus sering dimata-matai oleh mata-mata yang berkeliaran dikampus dan mereka adalah ADK (aktivis dakwah kampus) yang telah tertarbiyah selama lebih dari dua tahun, begitulah akhlak mereka. Pernah terjadi salah seorang diantara kami sedang asyik berbincang dengan adik tingkatnya, lalu seorang akhwat PKS mendekati dan serta merta nimbrung dalam pembicaraan mereka setelah usai akhwat tadi menginfokan kepada adik tingkat bahwa kakak tingkat (teman saya) yang tadi berbincang dengannya mengikuti aliran sesat.

Sungguh tidak manusiawi fitnah yang dilontarkan karena sampai saat ini tidak ada bukti yang mengarah bahwa kami mengikuti aliran sesat. Alhamdulillah, adik tingkat tadi yakin kalau kakak tingkatnya tidak seperti itu dan pada kenyataannya tak ada bukti yang mengarah kesana. Justru dia balik bertanya mengapa akhwat PKS tadi memberi isu yang tidak benar? Di manakah akhlak sesama muslim? Bukankah fitnah itu lebih kejam dari pada pembunuhan? Mencemarkan nama baik orang maka jangan salahkan bila Allah memintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Dan ketika ada seorang kader PKS yang juga menyadari kesalahannya karena keluarganya turut memusuhi kami akibat fitnah yang tidak benar, tak ada kata maaf sama sekali yang keluar dari lisannya. Apakah berat untuk mengucapkan maaf?

Ketika ada yang membela kami dengan mengatakan bahwa kami masih melakukan ibadah vertikal seperti shalat namun oknum akhwat PKS membantah bahwa kami hanya melakukan shalat ketika di umum saja. Masya Allah kejam nian pemikirannya, apakah ia lebih tahu dari Allah sehinga tak merasa hati-hati mengatakan seperti itu! Wallahi, apakah ia melihat dan menemani kami sepanjang waktu? Tidak!

Salah satu teman kami yang kritis lainnya, ikhwan tarbiyah juga, disamping difitnah juga diboikot. Pernah ketika beliau diundang acara di kampus, murobi melarang saya untuk turut serta dan juga melarang saya mengajak yang lain untuk mengikuti acara tersebut. Padahal apa yang beliau sampaikan dalam acara tersebut adalah seminar ilmiah. Apalagi di samping mahasiswa banyak dari kalangan guru dan karyawan yang turut serta mengikuti acara.

Saya pun tersenyum manakala beredar kabar bohong dari seorang akhwat PKS tentang beliau, bahwa beliau kuliahnya amburadul dan tidak lulus-lulus (faktanya sudah bergelar sarjana dengan waktu yang tepat). Akhwat tadi mengaku sebagai kakak kelas dari beliau sewaktu SMA-nya (faktanya beliau seangkatan malah lebih tua satu tahun dari si akhwat tadi dan sekolah merekapun berbeda). Mengisukan juga beliau dikeluarkan dari lembaga keprofesian (padahal lembaga tersebut milik beliau sendiri). Apakah ini bukan dongeng asal-asalan (fitnah) namanya? Apakah memang dihalalkan berdusta menjelek-jelekkan orang yang tidak sepaham dengan mereka demi menempuh tujuan politisnya? Apakah kelakuan akhwat PKS itu bukan termasuk ciri orang munafik?

Karena kondisi yang memanas akhirnya beliau memutuskan untuk tabayun ke mereka, namun saudara-saudara apa yang terjadi? Dikira ada dua orang yaitu kakakku dan seorang petinggi DPD PKS, ternyata diluar dugaan muncul menyusul tiga orang lagi. Yang terjadi bukannya tabayun tetapi interogasi pengeroyokakan. Seperti anak kecil saja, satu lawan lima orang. Acara tersebut terjadi di rumah salah satu petinggi DPD, dan pada saat itu saya sendiri menjadi saksi ditengah-tengah mereka. Dalam acara tadi akhirnya masalah menjadi klir karena mereka mengakui kekeliruannya telah memfitnah, mengisukan, dan menjelek-jelekkan beliau. Akhirnya pihak petinggi-petinggi PKS tadi berjanji akan membersihkan nama baik beliau lewat pengumuman kepada kader-kader PKS di kota itu. Tapi apa lacur, janji yang telah terucap tenyata bohong belaka, mereka tetap mengisukan walaupun berjanji untuk membersihkan. Benar-benar bobrok moral oknum kader-kader PKS tadi!

Demikianlah kisah beberapa oknum kader dan petinggi PKS di kotaku. Harapan saya semoga di kota yang lain tidak ada kader dan petinggi PKS yang menjadi tukang isu terhadap KADER yang kritis ataupun muslim yang berbeda paham dengan main stream PKS.

Bila kita lihat di berbagai kota, tiap unit rohani islam di kampus dan sekolah selalu saja didominasi PKS bahkan dimonopoli. Bagi aktivis yang bukan kader PKS maka tidak ada tempat di unit kerohanian tadi. Namun yang saya rasakan hegemoni PKS terhadap rohis justru terkesan memasung kreativitas kemahasiswaan. Karena tiap program rohis harus senantiasa bersinggunngan dengan kepentingan partai.

Kritik terakhir saya kepada PKS, janganlah sampai lupa bahwa kita harus memperjuangkan Islam bukan PKS!

Mahasiswi di Indramayu

POSTED BY DOS )|( BERI KOMENTAR

22 KOMENTAR:

    1.  2007 Desember 30 08:42,     Blogger Rizki Ramadhani menulis…

      Saya pernah mengalaminya juga mbak, di kampus saya yang cukup terkenal di Jawa Barat. Kalau mbak sudah pernah masuk, saya malah gak pernah “dianggap” karena selalu mengkritisi mereka.

      Mengenai fitnah yang diberikan, sudahlah itu tak usah dipikirkan. Jalan dakwah ada banyak, dan tidak perlu lewat partai, halaqah atau apapun bisa. Lagipula perlu diingat bahwa ngaji dan halaah itu tidak identik ke komunitas atau partai tertentu.

      Dia adalah jalan bagi siapapun yang ingin belajar, bahkan jika dia seorang paling jahanam sekalipun.

      Insya Allah jika kita ikhlas,pintu pahala selalu terbuka untuk kita. Inilah yang dinamakan perjuangan sjati, yang tak perlu digembar-gemborkan lewat buku atau artikel. Cukup kita dan yang Maha Kuasa yang tahu. Salam hormat dari saya.

      – Rizki Ma –

    1. pemahaman akan kejamaahan adalah sangat penting.terutama ketika kita harus mentsiqohi qiyadah.dalam kasus ini saya melihat kurangnya pemahaman antara kedua belah pihak.sepahaman saya dalam arqnul bai’at.sebelum kita tsiqoh yang pertama kita mesti paham dulu(al-fahmu).di sinilah letaknya human error.bisa jadi qiyadahnya yang tidak mau repot untuk rasionalisasi kepada jundinya sehingga timbul ke-kritisan itu sedangkan dalam kerangka kejamaahan sikap kritis adalah suatu kewajaran.yang kedua bisa jadi jundinya yang tidak mau memahami maksud sebenarnya akan perintah qiyadah itu.

      permasalahan yang sering kali terjadi pada kita bukan terletak pada manhaj dakwah ini tetapi pada human error dan letaknya adalah pada komunikasi kita yang masih kurang. dan masalah yang kedua adalah pandangan kita yang over estimate terhadap orang-orang di jamaah ini.kita sering kali menganggap orang-orang yang ada dalam jamaah dakwah ini para malaikat yagn tak pernah salah.mereka semua itu masih manusia yang tidak di maksum oleh allah.

      yangterakhir saran saya adalah jika kita berada dalam rumah dakwah ini dan melihat banyak debu dan kotoran maka tugas kita sebagai penghuni adalah membersihkannya bukan malahan tambah mengotorinya dan bahkan pergi berlalu begitu saja.rumah dakwah ini mlik kita,klo kita tidak merawatnya dengan baik dari berbagai macam kotoran dan makhluk-makhluk yang akan menggrogoti dakwah ini ( rayap dakwah ) maka kita sendiri pula yang akan tertimpa bangunan dari rumah ini jika suatu saat rumah dakwah ini runtuh.

      best regard
      andriyans

    1.  2007 Desember 30 19:33,     Anonymous antoben menulis…

      Mas, punten…
      Balik lagi ke poin tabayun. Utk info dr ‘mbak di Indramayu’ sdh ditabayun lgs ke orang-nya blm? Atw DPD di kota si Mbak.

      Bukan apa2, khawatir ada oknum yg memanfaatkan blog ini. (semoga sy tidak su’udzhon… jagahati…jagahati…)

      Afwan jika kurang berkenan

    1.  2007 Desember 31 03:18,     Anonymous kaderPKSygBerusahaNyapuRumahDakwahYgKotor menulis…

      Wah betul tuh DOS.
      Jujur saya juga pernah punya pengalaman kayak begitu. Tapi memang saya gak ngalamin separah itu. Dan saya masih memaklumi karena memang di PKS gak ada yang isinya malaikat, semua manusia lemah yang pasti bisa berbuat kekhilafan. Toh zaman Rasulullah juga banyak kasus seperti mis informasi tersebut. Tapi itu pun diselesaikan melalui mekanisme jama’ah.

      Justru komentar si Mba itu membuat saya jadi curiga… (mudah-mudahan tidak su’udzon). Saya minta kesediaan DOS untuk tabayun lagi ke pembuat komentar (yang ngakunya akhwat dari Indramayu) sekaligus untuk memastikan, DOS minta data orang-orang yang terkait dalam cerita di komentar ke si Mba untuk tabayun juga k mereka. Jangan-jangan ini fitnah juga.

      Kalo DOS sebelum meng-up-load komentar si mba ini, belum tabayun ke pihak-pihak yang ada dalam komentar si mba, maka sebenarnya DOS pun bisa termasuk oknum yang menyebar informasi fitnah yang diperoleh dari si mba Indramayu tersebut. Tapi korbannya adalah para kader PKS dan PKS itu sendiri.
      Yang jelas menurut saya DOS harus bertanggungjawab atas dipublikasikannya komentar ini. Caranya? Yah, DOS harus mentabayun ke si Mba dan pihak-pihak terkait di komentar tersebut dan menyampaikan hasil tabayun tersebut dalam blog ini. Biar para pecinta blog ini (termasuk saya) tidak mendapat informasi yang salah. Kalo tidak, yah gak salah kan kalo saya bilang DOS bagian dari oknum yang nyebar fitnah tanpa tabayun???
      Yah DOS,ya! Please…!
      Kalo DOS mampu mentabayunkannya, maka saya yakin Blog ini semakin banyak peminatnya karena kredibilitas Blog ini (Kredibilitas DOS) tetap terjaga.
      Tapi Kalo tidak justru akan semakin menjatuhkan kredibilitas Blog ini (DOS). Dan saya akan menjadi salah satu dari pecinta blog ini yang perlahan-lahan akan meninggalkan blog ini.
      Jangan sampe ya DOS. Secara saya adalah kader PKS yang cinta blog ini dan mempromosikan Blog ini ke teman-teman kader PKS lainnya untuk di baca dan dijadikan pelajaran.
      Terimakasih DOS… ^___^

    1.  2007 Desember 31 03:42,     Blogger DOS menulis…

      #3 & #4: salah satu pertimbangan saya untuk meloloskan tulisan ini, yang sebelumnya adalah sebuah komentar, adalah karena di situ tidak menyebut satu namapun.

      Kalau di situ tertulis ‘kader PKS’, sehingga komentar #4 mengkuatirkan kader PKS akan menjadi korban, maka ini adalah suatu hal yang sudah menjadi rahasia umum.

      Sama dengan kalau saya menyatakan, “berdasarkan apa yang saya baca dan saya dengar langsung, bahwa PKS mulai melenceng keluar dari jalur dakwahnya.”
      Saya mau tabayun ke siapa?

      Beberapa komentar sudah menyatakan pernah mengalami, orang-orang yang saya kenal baik juga mengalami hal yang lebih parah dari ini. Jadi apanya yang mau ditabayunkan?

      Kisah yang ada di tulisan ini tidak spesifik ke orang tertentu, atau peristiwa tertentu, ini adalah kisah umum, yang bisa dialami siapa saja, termasuk oleh orang-orang yang saya kenal langsung dan juga mengalaminya. Sehingga, it does NOT matter whether this is a true story or not. It does matter that, this kind of story is not a new thing in this jamaah. This is a common story.

      Komentar #4 menyebutkan saya kudu tabayun ke pihak-pihak terkait. Ke siapa?

      Mudah-mudahan Anda mau menyatakan hal itu kepada pemimpin jamaah ini atas ta’zir mereka kepada seorang ustadz yang saat ini dikenal sebagai dai kondang, kira-kira waktu pergantian abad, tanpa basa-basi tabayun kepada sang ustadz. Itu hanya satu contoh kasus, dari sekian banyak.

    1.  2007 Desember 31 07:51,     Anonymous wongyojo menulis…

      PKS memang bukan kumpulan malaikat,maka bisa saja mereka (oknum) melakukan kesalahan. Sangat bisa jadi partai lain juga demikian. Namun bedanya PKS mendeklarasikan sebagai partai dakwah. Ini yg tidak bisa diterima.

      Saya sepakat, memang PKS/tarbiyah menguasai rohis dan LDK bahkan BEM universitas. Ironi memang, karena dengan demikian aktifitas mereka bukanlahi murni Islam, tapi sudah politis. Ini menurut saya tidak bisa di bantah. Politik itu mendambakan kuantitas bukan kualitas.

      Saya melihat fenomena seperti ini adalah imbas dari uforia para aktivis muda (tua juga) dalam berdakwah dan berpolitik. kader muda itu di kompori, disemangati secara membabi buta, hingga kemudian mereka “sendiko dhawuh” pada apapun yg diperintahkan.

      Untuk Kebijakan Publik KAMMI Bandung: wah saya lebih menghargai jika PKS dibubarkan saja, kembali pada gerakan tarbiyah seperti semula. PKS/partai/politik itu bikin sakit, sakit hati. Jika orang seperti Mbak yang menulis tadi (dimana dia dalam posisi dianiaya) kemudian terlontar doa jelek kepada para petinggi PKS, dan kader yang (maaf) brengsek, do’anya kemungkinan besar dikabulkan.

      Ya menurut saya itu sih, dari pada bikin malu (dan malu-maluin) mendingan PKS bubar sajalah.

      salam

    1.  2007 Desember 31 22:58,     Anonymous Habibie menulis…

      Untuk komentar #4, saya cukup sering mendengar kata-kata klise bahwa “pks bukanlah sekumpulan para malaikat”, dan bahkan kata-kata ini diungkapkan oleh qiyadah nomer wahid dijamaah dakwah ini (waktu itu saya kebetulan hadir dalam sebuah pertemuan yg cukup singkat dengan beliau). Janganlah kita terlalu mudah untuk mencari justifikasi atau dalih apapun tanpa betul-betul mencari “what the root causes are”. Justifikasi yg gak reasonable atau kadang doesn’t make sense itulah yang membuat sebagian kader pks menjadi kritis, jangan salahkan atau lakukan character assasination terhadat kader yg kritis tadi, tapi lihatlah apa sih yang sebenarnya sedang terjadi dengan pks? Bahkan shohib saya yg ada diDPP mengatakan bahwa PKS ekarang sudah mengalami dis-orientasi..apakah perlu tabayun untuk mengkonfirmasi ini..the fact is very obvious…if we are critical enough..
      Untuk Mbak di Indramayu, masih begitu banyak kejadian yang mungkin bisa membuat supply O2 tiba-tiba terhenti (shock), salah satunya adalah ancaman untuk dimejahijaukan terhadap salah satu Ustadz senior (Insya Allah semua kader pks mengenal beliau) karena mengkritisi “the way pks run the campaign” waktu pilkada dki…hal ini gak perlu ditabayun karena sang Ustadz mengirimi saya sms dan saya punya hubungnan yg cukup intens dengan beliau.

    1.  2008 Januari 1 19:59,     Blogger kobolog menulis…

      saya adalah kader PKS, saat ini saya sangat-sangat prihatin dengan kondisi PKS. mengapa dakwah yang dulu kita perjuangan dengan penuh kerendahan hati, sopan, santun, berbaik sangka sesama teman, hilang seperti ditelan oleh monster-monster, kemudian berubah menjadi fitnah yang besar.

      Fitnah saat ini menggejala di tubuh pengurus PKS dari DPP hingga DPRa. sungguh mereka (para pengurus) alergi dengan kritik dan saran yang sebetulnya membangun jaringan dakwah, namun hasilnya sibuk para pengkritik justru di fitnah.

      Masih ingatkah dengan awal perjalanan Partai Keadilan? ada beberapa anggota DPR yang tiba-tiba tidak kelihatan tidak tampil lagi? diantaranya “SB” (inisial) dan “MSHD” (inisial), kemana keduannya?

      tiba-tiba mereka berdua difitnah telah berduaan dengan wanita, berpegangan tangan, dan sebagainya. berdasarkan itu maka mereka di iqob (dihukum). mereka berdua juga di fitnah telah main-main duit, korupsi, terima uang suap kemudian mereka di PAW, dan sebagainya.. sebagainya.

      ukkti.. anti tidak sendirian saat ini, beberpa asatidh dan masyayikhpun juga terkena fitnah-fitnah yang anti alami. sungguh sangat menyedihkan hati saya kenapa partai meluluhlantakan gerakan dakwah yang sebenarnya dia bangun sendiri.

      saat ini ada gerakan pemurnian gerakan dakwah yang mudah-mudahan dapat sukses menjunjung kembali nilai-nilai dakwah.

      mari kita teruskan dakwah, rapatkan barisan hanya untuk Alloh, hilangkan semua beban-beban partai. mari kita mulai dari lingkungan kita, saat ini partai tidak mampu dan mengalami kesulitan dalam melakukun rekrutmen secara maksimal. TERBUKTI… TANPA BANTUAN PARTAI SAYA BISA MEREKRUT ORANG UNTUK MASUK DALAM BARISAN DAKWAH.

      Kita sepakat….
      Dakwah Yes.. Partai NO..

    1.  2008 Januari 2 02:34,     Anonymous ushul menulis…

      Perkenankanlah saya mengomentari beberapa hal:
      1. Memang benar kita semua bukan malaikat. Human error di tingkat bawah bisa dimaklumi. Tapi kalau terjadi di posisi atas/pejabat partai rasanya kok sulit diterima. MISALKAN ada kader yg sudah tarbiyah 25 tahun lebih dan punya jabatan tinggi di partai tapi masih mengganggu istri orang hingga mengakibatkan rumah tangga orang berantakan.
      Rasanya sulit untuk disebut human error. Ini adalah kesalahan sistem di partai. Ibarat kita memproduksi barang, kenapa cacat baru diketahui tatkala barang tsb akan dikirim ke customer?. Lebih parah lagi bila barang cacat tersebut ternyata dipaksakan dikirim juga ke customer (mengangkat kader bermasalah tsb ke posisi yg lebih tinggi).
      2. Bila keluh kesah, usul perbaikan ataupun kritik kader/simpatisan tidak direspon secara cepat atau ditanggapi dengan baik oleh partai, otomatis mereka akan mencari tempat lain untuk menyampaikan keluhkesah/usul/kritik nya, misalakan melalui blog ini. Ini membuktikan bahwa sistem kerja di partai memang belum bagus.
      3. Ini forum terbuka, dimana jutaan orang bisa mengakses forum ini. Kalau bukti bukti dilampirkan disini, akan dimanfaatkan oleh lawan lawan politik untuk menjatuhkan partai ini. Mau bukti?
      4. Lebih baik mengakui dengan rendah hati bahwa partai ini masih memerlukan berbagai macam perbaikan sistem.Terjadinya kesalahan bukan sekedar perilaku oknum atau human eror.
      5. Partai ini masih baru, jadi masyarakat belum begitu kenal, termasuk belum kenal terhadap kejelekan-kejelakannya.
      6. dsb.
      Salam

    1.  2008 Januari 2 19:13,     Anonymous Anonim menulis…

      sebagai hasil ijtihad jamai, hadirnya partai (PKS) sy fikr masih tetap relevn dengan situasi-kondisi saat ini. Jadi sy krg setuju dengan PKS No dakwah YES.

      persoalannya yang mendasar kenapa PKS seolah-olah tidak berpihak kepada rakyat juga terkait murni hasil ijtihad. Saya selalu berhusnzon dg batasan2 tertentu bahwa kebijakan itu melali proses2 yang rumit dan sebagian besar dari proses2 itu tidak diketahui oleh publik terutama kader.

      Pasti anda yang ‘kritis’ akan menganggap pendapat sy, klise banget. Sama persis apa yang disampaikan oleh petinggi2 partai. Tp yang pasti sy bukan petinggi, dan sy nyaris tidak pernah bersentuhan dengan orang2 yang memiliki jabatan.

      Akhirnya, dengan selalu berusaha mengambil jalan tengah antar yang kritis kebablasan dengan yang tsiqoh mati2an… produk ijtihad pks selama ini akan teruji pada tahun 2009. Jika pks babak belur, berarti mereka, para qiyadah, sudah salah berijtihad!

      Mengenai kondisi akhlaq/moral sebagian kader/petinggi pks memang diakui itu terjadi, apalagi di DKI. Sudah sulit mencari keteladanan dari pemimpin kita yang skrg ini menjadi aleg.

      Apakah itu semua terjadi karena aktivitas politik para qiyadah yang akhirnya terjerumus pada pergulatan politik? wallahu alam, barangkali sebagian benar.

      saat ini, minimal buat sy adalah sy tidak akan memilih lagi kader2 pks yang terbukti cacat moral dan cacat keteladan pada 2009 nanti.

      Kita tunggu aja

    1.  2008 Januari 2 19:31,     Blogger DOS menulis…

      #10: >persoalannya yang mendasar kenapa PKS seolah-olah tidak
      >berpihak kepada rakyat juga terkait murni hasil ijtihad

      Sedikit membahas ijtihad, istilah ini kelewat sering dikambinghitamkan.

      Ijtihad itu: berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menemukan keputusan hukum, yang tidak terdapat di dalam Quran dan sunnah, dengan ilmu, niat yang ikhlas, akal sehat, pertimbangan matang dan tidak bertentangan dengan aturan hukum yang lebih tinggi (Quran, sunnah, ijma salafus shalih).

      Ijtihad adalah bahasa syariah, di mana hasil sebuah ijtihad biasanya akan memperkaya khazanah fiqih Islam. Jadi sebuah ijitihadkah, menunjuk polisi yg tidak ketahuan kapan tarbiyahnya sebagai calon gubernur? Seperti apakah calon gubernur yang diperlihatkan dalam sunnah dan atsar?

      Itu hanya satu contoh, saya tidak mau berpanjang lebar dengan contoh lain lagi. Tapi saya mohon, please… berhati-hatilah menggunakan istilah-istilah seperti itu.

      Kalau betul memang ijtihad, apa susahnya untuk memberikan penjelasan mengenai dasar-dasar dan pertimbangan keputusan itu?

    1.  2008 Januari 3 11:46,     Anonymous Syahrul menulis…

      Assalamu’alaikum,
      saya sepakat dengan Sdr Ushul yang mengatakan bahwa hal ini adalah persoalan yang disebabkan oleh kekurangmampuan system untuk mengakomodasi. Sampai-sampai harus lewat media “swasta” macam blog ini.

      Namun, saya sendiri punya kegelisahan atas kiprah PKS disamping persoalan yang muncul macam masalah “fitnah memfitnah” dan ghibah-ghibahan.

      Dari pengamatan saya terhadap PKS saya menangkap indiskasi-indikasi berikut. Mungkin saja saya salah.

      Perubahan politik yang terjadi pada tahun 1998 telah memungkinkan berbagai elemen masyarakat untuk ikut serta dalam kancah perpolitikan dalam bentuk pendirian partai politik. Berbagai elemen masyarakat kemudian berduyun-duyun mendirikan partai politik untuk dapat masuk dalam struktur kekuasaan.

      Memang asumsi bahwa kekuasaan adalah modal penting dalam melakukan perubahan masyakarat adalah benar. Dengan kekuasaan akan memudahkan satu pihak untuk dapat mewujudkan apa yang diharapkan. Perundang-undangan tertentu yang sesuai dengan keinginan akan mudah disahkan. Dalam hal ini kekuasaan adalah alat. Melihat realitas politik yang demikian ditambah dengan asumsi kekuasaan tersebut, aktivis tarbiyah terdorong untuk ikut serta melahirkan parpol sebagai istrumen kekuasaan. Dengan harapan dapat meraih kekuasaan dan dapat dengan mudah melakukan perubahan masyarakat.

      Sampai disitu barangkali keputusan jamaah tarbiyah untuk ikut dalam pentas politik melalui jalur kepartaian dapat dikatakan tepat. Namun persoalan kemudian muncul pada tataran tataran startegi pencapaian kekuasaan. Seringkali kritik muncul tehadap sepak terjang PK/PKS. Mulai dari mengapa PKS turut serta mencalonkan kader baru yang belum jelas “siapa dia” sampai persoalan dengan siapa PKS berliansi. Kadang sulit memahami praktik aliansi PKS dengan partai tertentu pada tingkat daerah, padahal sebelumnya pada tingkat nasional betapa PKS sangat “membenci” partai tertentu tersebut. Pendek kata, saya melihat inkonsistensi pada praktik politik PKS pada tingkatan praktis. Inkonisten dengan misi PKS sebagai partai dakwah. Partai yang sejatinya membawa perubahan pada pola politik yang ada.

      Realitas politik di indonesia, meskipun telah mengalami perubahan, tidak dapat begitu saja dilepaskan dari realitas politik sebelumnya. Selama 32 tahun rezim politik Indonesia telah melahirkan rejim politik yang korup. Rejim ini meninggalkan budaya politik korup sampai-sampai slogan “politik itu kotor” menjadi semacam ideologi dan paradigma politik yang mesti “dianut” siapa saja yang terjun dalam kancah politik. Realitas politik di Indonesia juga tidak bisa dilepaskan dari motif material. Sehingga pratik politik yang dilakukanpun tidak lepas dari meterial. Seseorang atau sekelompok orang yang ingin berkuasa harus punya modal besar untuk dapat naik tampuk kekuasaan dengan asumsi setelah berkuasa semaua modal yang dikeluarkan akan kembali. Jangankan untuk jadi bupati, jadi kades saja harus keluar milyaran rupiah. Dua ciri itu, motif ekonomi dalam politik dan strategi politik menghalalkan segala cara nampaknya masih menjadi ciri umum relitas politik di Indonesia. Demokrasi yang ada masih sekadar prosedural.
      Di tengah realitas politik yang semacam ini, PKS nampaknya belum mampu secara utuh menampilkan model politik baru. Berbagai praktik politik yang dilakukan oleh PKS masih mengindikasikan belum mampunya PKS lepas dari jeratan realitas politik yang dominan. Politik berbasis materi dan politik yang menghalalkan segala cara. Idiom “politik itu memang kotor” atau “yaa namanya politik ya memang begitu” nampaknya jadi senjata untuk membela praktik-praktik politik yang inkonsisten dengan misi dakwah, atau setidaknya tidak jelas apa tujuannya. Saya menduga praktik aliansi dengan “berbagai mantan musuh politik” praktik politik PKS yang seringkali berlegitimasikan idiom-idiom di atas. Alasan “demi maslahat” hanyalah alibi belaka, untuk menutupi “kekalahan” PKS untuk bisa menghindar dari jeratan ideologi dan paradigma politik lama.

      Saya berkhuznudhan bahwa praktik-praktik politik PKS yang “tidak ada bedanya” dengan praktik politik lama lahir dari:

      1.Kegagalan PKS merumuskan stategi politik yang bersih yang seharusnya lahir dari misi dakwah PKS. Hal ini diakibatkan oleh tidak adanya grand desain perubahan masyarakat yang jelas yang seharusnya dimiliki oleh PKS. Grand desain yang jelas mau dibawa kemana masyarakat ini ketika PKS berkuasa. Absennya grand desain ini menjadikan PKS terombang-ambing dalam pusaran realitas politik yang ada.

      2. “Ketidaksabaran” komunitas tarbiyah untuk melihat perubahan masyarakat ini menjadi lebih baik. Ketidaksabaran ini melahirkan praktik-praktik perubahan masyarakat yang terkesan asal-asalan. Termasuk dalam praktik politiknya. Kecenderuangan ini penulis alami dan rasakan sendiri sewaktu masih aktif di aktivitas kampus. Seringkali aktivis kampus tidak sabar untuk segera melihat hasil dari apa yang diinginkan, sehingga hal-hal yang terkait dengan kualitas proses terabaikan. Pola kaderisasi yang acak-acakan, manajemen organisasi dakwah yang “alakadarnya” sehingga dicap ekslusif, memasung kreativitas dsb. Hal ini lahir dari katidaksabaran yang melahirkan budaya instan. Termasuk dalam praktik politik. Baru 5 tahun buat partai sudah ingin menguasai parlemen, kabinet bahkan pucuk pimpinan (presiden). Sementara, penyiapan kader birokrat belum siap, kaderisasi partai belum siap mencetak kader2 bangasawan yang handal. Termasuk partai belum mampu membuat sistem yang memungkinkan kader2 yang kristis terakomodasi.

      Bagi saya, PKS sebagai sebuah fenomena politik di Indonesia adalah harapan. Usaha yang dilakukan untuk masuk jalur politik adalah kemestian. Tapi kekuasan yang diperoleh dengan cara-cara yang intan apalagi mengahalakan segala cara hanya akan mengasilkan peradaban yang instan pula. Pendek umurnya. Seperti mie instan.

      ibnu_abee@yahoo.co.uk

    1.  2008 Januari 5 05:49,     Anonymous Abudiidaan menulis…

      Saya bukan kader maupun KADER…
      Saya hanya SIMPATISAN yang akhirnya memutuskan untuk menarik diri dari kumpulan orang-orang soleh di PKS. Sedih dan berat memang tapi itu sudah menjadi keputusan saya sejak tujuh bulan lalu… Setelah sekian lama saya mengingatkan para petinggi PKS di daerah saya tetapi tidak ada dampaknya bagi mereka semua, mungkin mereka menganggap saya hanyalah seorang muallaf yang kurang ilmunya.

      Aneh memang, sampai sekarang tidak ada satupun kader PKS yang bertabayun kepada saya… Atau mungkin mereka berprinsip bertabayun NO ditabayuni YES…

      Saya juga sering mendengar salah satu senjata pamungkas mereka yaitu kader PKS bukan malaikat tetapi hanya manusia biasa…
      Kalau menurut saya, manusia itu lebih baik dan mulia daripada malaikat lalu kenapa kita “memberhalakan” malaikat.

      Walaupun saya menarik diri,saya tetap mendukung PKS dan berharap PKS dapat lebih baik lagi dan istiqomah dalam memperjuangkan rakyat, khususnya rakyat kecil…

      Akhir kata, semoga dengan tidak adanya saya dijamaah tersebut, PKS semakin maju…

      Buat bung DOS selamat datang kembali, teruskan kritik membangunnya…

    1.  2008 Januari 5 08:50,     Anonymous Ikhwan Tarbiyah Mantan PKS menulis…

      Sebuah Tausyiah

      Tausyiah ini ana maksudkan dalam rangka tawashau bil-haqq,

      Kepada para Ikhwah Rahimakumullah :
      Sesunguhnya Allah telah memberikan akal kepada kita. Oleh karena itu mari kita manfaatkan karunia Allah itu untuk senantiasa kritis menetapi kebenaran. Kebenaran itu bukan berdasarkan kebanyakkan orang, bukan berdasarkan tradisi ataupun ajaran nenek moyang, bukan berdasarkan bayan dari murabi, dan juga berdasarkan keinginan pribadi. Akan tetapi kebenaran itu manakala sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
      Pahamilah firman Allah :
      Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (QS. Al-An’am:116)
      Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka itu akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk ? (Al-Maidah:104)
      Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah .. (At-Taubah:31)
      Ibnu Mas’ud dan Salman r.a. : “Sesungguhnya kepada orang alim, meskipun ia mendapat petunjuk, maka janganlah kamu bertaqlid kepadanya tentang agama kamu. ”
      Imam Hambali :” Janganlah engkau bertaqlid kepada seseorang tentang agamamu. Janganlah kamu bertaqlid kepadaku, kepada imam malik, ataupun kepada alim ulama lainnya, tetapi ambillah hukum-hukum darimana mereka itu mengambil.”
      Maka jika mereka tidak menjawab ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka . Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun? (Al-Qashash:50)

      Ikhwah fillah,
      Bila suatu saat sampai kepada kita berita tentang seseorang yang belum jelas kebenarannya maka janganlah kita mengikutinya sebelum meneliti kebenaran berita tersebut. Jangan karena yang membawa berita itu adalah murabi kita atau ikhwah kita, lantas kita tsiqah begitu saja. Jabatan seseorang tidak menjamin kebenaran, banyaknya orang tidak menjamin kebenaran, kebenaran bukan dilihat dari orang yang menyampaikannya tapi kebenaran dilihat dari substansinnya.
      Ingatlah firman Allah: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(Al-Hujurat,49:6)
      Seribu kali mendengar tidak sama dengan sekali menyaksikan, maka dari itu janganlah kita memendam prasangka terhadap orang itu yang menyebabkan kita berpikir tidak jernih karena telah terprovokasi. Janganlah kita bersekutu dengan isu, berserikat dengan prasangka, dan berkompromi dengan fitnah. Karena isu itu kebatilan, prasangka itu dosa, dan fitnah itu lebih kejam dari membunuh.
      Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa.(Al-Hujurat,49:12)
      Janganlah kita menyerupai suatu kaum yang kehidupannya diisi dengan gosip. Janganlah memori pikiran kita diisi dengan isu, karena isu menghalangi keberkahan turun kepada akal kita. Kebenaran akan suatu berita harus kita yakini, keyakinan muncul bila ada pemahaman, pemahaman tumbuh jika ada pengkajian, kajian ada bila kita bersilaturahim dan tabayun, maka tabayunlah supaya terbangun keyakinan akan berita tersebut. Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isro,17:36)

      lkhwah fillah, Bila kita menemukan saudara kita yang berbeda pemahaman dengan kita maka bersikap toleranlah selama ia masih sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Janganlah kita bersikap merasa paling benar kecuali jika kita telah berdiskusi dengannya, dan kita berada pada hujah yang unggul atasnya. Namun janganlah kita memaksakan pemahaman kita jika saudara kita masih berpegang teguh pada pemahamannya. Tidak ada paksaan dalam beragama ; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dengan jalan yang sesat. (Al-Baqarah,2:256)
      Janganlah kita bersikap sentimen bila kita kalah berargumen, karena itu bagian dari kesombongan, sedang kesombongan adalah menolak kebenaran yang datang pada kita. Jika kita mayoritas dan ia minoritas maka janganlah memonopoli dakwah karena dakwah adalah hak setiap muslim. Setiap orang tidak dimiliki oleh siapa-siapa kecuali Allah, maka dari itu biarkan mad’u kita memilih jalan hidupnya. Jangan menempuh cara yang batil dalam persaingan dakwah. Jangan memprovokasi, jangan membuat isu, jangan memfitnah, beranilah untuk bersaing secara sehat dan demokratis, fastabiqul khairat..
      Jangan menghalang-halangi saudara kita dalam berdakwah, baik secara tindakan ataupun sekedar lisan, takutlah firman Allah: Orang-orang yang kafir dan yang menghalangi manusia dari jalan Allah, Allah akan menghapus amal-amal mereka . (Muhammad: 1).
      Jangan mengintimidasi, jangan meneror, jangan berlaku zalim. Tidak akan ada orang yang tahu apa yang kita perbuat, tapi Allah ada di atas kita.
      Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maidah, 5:8)

      Ikhwah fillah pahamilah bahwa selain islam adalah sarana, alat, dan kendaraan bagi kita. Jangan jadikan golongan kita sebagai tujuan, jangan berbangga-bangga ashabiyah. karena itu adalah racun kecongkakkan yang bisa menghapus amal dalam dakwah kita. Orang luar biasanya suka lebih jeli dalam melihat kesalahan kita, maka dari itu mari kita membuka diri ketika ada orang yang mengkritik kita. Selama kritik itu dalam domain kebijakan publik dan tidak menyentuh masalah privasi personal atau membuka aib pribadi yang dilarang etika agama.
      Wahai ikhwah fillah ingatlah sabda Nabi SAW di haji wada ketika beliau akan meninggalkan ummatnya. Ingatlah desahan beliau ketika sakratul maut. Tidak tegakkah kita memperlihatkan perpecahan kita di hadapan beliau saw. Kapankah kita akan membuat beliau saw bangga dengan sikap kita. Kapankah kita akan bersatu dalam satu nama saja, tidak memakai embel-embel atau atribut apapun.
      Nama itu adalah Islam.. Siapakah yang akan memulainya? Darimana memulainya? Yang akan memulainya adalah kita sendiri. Kita memulai dari diskusi konsep Islam itu sendiri. Maka dari itu bila ada saudara kita yang menasehati kita meski sampai mengkritik pemahaman kita atas konsep kita yang ia anggap keliru terhadap Islam (bukan mengkritik diri), dimana ia berpijak atas hujah yang kuat dari Qur’an dan Sunnah, maka marilah kita membuka diri.
      Bila ternyata kita salah maka terimalah, jangan lantas kita ashabiyah mempertahankan kesombongan kita dan atau malah mengisukan ia bid’ah, sesat dsb. Karena ukuran bid’ah atupun sesat itu sendiri yang menghukuminya adalah kembali lagi kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.. jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul , jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya. (An-Nisa: 59).
      Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran:103)
      Demikianlah nasehat atau tausyiah dari ana sebagai orang yang merindukan keadilan dan persatuan islam.
      Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (Al-Ashr)

      -Ikhwan Tarbiyah yang Mantan Kader PKS-
      mantanpks@yahoo.com

    1.  2008 Januari 6 02:25,     Anonymous jundullah menulis…

      Respon untuk mahasiswi Indramayu, dari orang yang didzalimi karena dituduh memfitnah

      PKS memang menarik, namun ibarat pohon kelapa, semakin tinggi, semakin keras pula angin menerpa. harus difahami, diantara prinsip kami adalah ‘islamiyah qobla jam’iyah’, kami mengedepankan memperjuangkan Islam ketimbang jamaah, karena jamaah (PKS) bukan tujuan, tapi sekadar wasilah-sarana untuk da’wah.

      persoalannya adalah, ada beberapa kader yang mencoba merusak keharmonisan da’wah ini, dimulai dari menebarkan fitnah ttg PKS yang ternyata sumbernya pun gak jelas. misal: PKS dibiayai amerika, padahal kita selalu demo amerika, jg PKS bentukan Gus Dur, padahal kita yg jatuhin gus dur, jg PKS bentukan BIN, padahal kita menjadi korban konspirasi intel indonesia.

      Yang lebih mendasar adalah, anggapan mereka bahwa mengikuti pengajian yang dikelola PKS tidak baik, karena diatasnya thoghut. juga pemahaman tentang belum islamnya muslimin sepanjang belum melaksanakan syariat syahadat dihadapan saksi dari suatu kelompok. masyaallah.

      Mereka, ‘kader’ tersebut, menyebarkan fitnah itu tanpa tabayyun. apa salah kalau kemudian kader PKS melakukan counter.

      So, mahasiswi indramayu dkk yang merasa difitnah itu, ibarat menelan ludah sendiri. ibarat menebar angin menuai badai.

      Yang pasti, saudara/i-ku, isu tentang mereka terkait DO, nyebarin gambar porno, dll. itu bukan dari kader PKS. justru kami heran, dari mana angin busuk itu berhembus. saya justru khawatir dari pihak ketiga yang bekepentingan memecah belah keutuhan kader PKS.

      (Akhukum Fillah di Indramayu,pengurus DPD PKS Indramayu)

    1.  2008 Januari 6 05:14,     Anonymous pur menulis…

      Saya sudah kontak mbak yang dari Indramayu itu untuk mendapatkan artikel lengkap yang beliau kirim ke DOS.

      ada beberapa yang memang dipotong oleh DOS,kebanyakan yang menyebut nama orang. Sedikit bocoran nama tersebut adalah nama petinggi partai, yang mana jika apa yang ditulis beliau adalah sesuatu yang benar, maka menurut saya memang PKS harus bubar.

      Sumpah… memalukan bro and sis!!! memalukan..apalagi jika ditambah dengan fenomena yang disampaikan oleh rekan2 komentator diatas…

      salam

    1.  2008 Januari 6 07:09,     Blogger DOS menulis…

      #15: >Mereka, ‘kader’ tersebut, menyebarkan fitnah itu tanpa
      >tabayyun. apa salah kalau kemudian kader PKS melakukan counter.

      ‘Counter’? Seperti apa? Apa dalam bentuk fitnah juga? Baru-baru ini ada seorang asatidz yg mengarang buku tentang poligami. Saya tidak ingin membahas isi bukunya, tapi yg saya sayangkan, beredar kabar bahwa beliau itu intel. Apakah itu sebuah counter?

      Ada ustadz senior yang dituduh macam-macam, Anda cari sendiri lah, kalau Anda emang kader dan pengurus DPP, pasti Anda tahu. Itu sebuah counter?

      Saya sendiri kenyang dicap sebagai antek intel, peneror dakwah, pemecah belah, penggibah, pemakan bangkai, orang bayaran, dst. Itu counter?

      Betul, PKS juga banyak difitnah. Makanya komentar saya moderasi, karena fitnah atas PKS juga banyak. Namun demikian, tentu saja cara mengcounternya bukan dengan fitnah balik, tapi dengan ‘pertunjukan’ dari keteguhan integritas, sikap istiqomah, dan parameter-parameter mulia lainnya.

    1.  2008 Januari 7 02:31,     Anonymous Anonim menulis…

      kami mengedepankan memperjuangkan Islam ketimbang jamaah, karena jamaah (PKS) bukan tujuan, tapi sekadar wasilah-sarana untuk da’wah.

      >> syukur anda sadar tt hal ini.

      Mereka, ‘kader’ tersebut, menyebarkan fitnah itu tanpa tabayyun. apa salah kalau kemudian kader PKS melakukan counter.

      >> pernyataaan ini merupakan pernyatataan balas dendam, didasarkan pada fakta yg ditulis oleh mbak indramayu

      So, mahasiswi indramayu dkk yang merasa difitnah itu, ibarat menelan ludah sendiri. ibarat menebar angin menuai badai.

      >> ini memperkuat bahwa orang DPD “balas dendam”. Dalam bahasa jawa “Kapokmu kapan, makane rasah macem-macem”

      Yang pasti, saudara/i-ku, isu tentang mereka terkait DO, nyebarin gambar porno, dll. itu bukan dari kader PKS.

      >> tapi orang PKS {oknum) juga ada yang tukang fitnah tho? Anda mengakui tidak?

      justru kami heran, dari mana angin busuk itu berhembus. saya justru khawatir dari pihak ketiga yang bekepentingan memecah belah keutuhan kader PKS.

      >> untuk hal ini semoga Mbak Indramayui dapat memberikan tabayyun dalam diskusi ini.

    1.  2008 Januari 12 07:42,     Anonymous Ikhwan Tarbiyah Mantan PKS menulis…

      Kepada Akhi Jundullah komentar #15
      >>Jundullah:
      Respon untuk mahasiswi Indramayu, dari orang yang didzalimi karena dituduh memfitnah
      Mahasiswi Indramayu:
      Sebuah fitnah terlontar dari lisan beberapa kader dan pejabat DPD PKS di kota kami, saya dituduh sebagai orang dari kelompok aliran sesat yang ada di Indonesia. Data ini saya dengar dari adik kelas almamater saya bahwa salah satu petinggi DPD PKS menginformasikan kepada alumni binaannya untuk berhati-hati terhadap diri saya.
      MasyaAllah sungguh saya tak habis pikir bagaimana fitnah itu dibentuk dan disebarkan, padahal dalam diri dan perilaku saya tidak ada yang bertentangan dengan Islam dan pada saat itu saya masih mengikuti halaqoh PKS. Parahnya, apakah petinggi tadi lupa dengan mekanisme tabayun? Karena ketika melontarkan kepada alumni binaannya, beliau belum pernah menanyakan langsung kepada saya tentang kevalidan berita tersebut. Akhirnya saya dan keluarga ingatkan beliau sehingga beliau meminta maaf atas kesalahannya, walaupun nama saya sudah tercemar jelek di mata alumni binaannya.
      Ana:
      Setelah Ana cermati artikel Mahasiswi Indramayu (Akhwat) tadi, kesimpulan Ana Antum adalah petinggi DPD yang diceritakan. Dari keterangan Akhwat dinyatakan bahwa Antum menginformasikan kepada para kader PKS untuk berhati-hati kepada Akhwat. Berhati-hati karena apa? Dari penuturan Akhwat bahwa Antum menuduh Akhwat sesat, oleh karena itu para kader harus berhati-hati. Bisa Antum jelaskan mengapa Antum bisa menyimpulkan begitu? Coba jelaskan sesatnya di bagian mana? Sedangkan Antum sendiri belum tabayun kepada Akhwat yang akhirnya Antum telah mencemarkan nama baik Akhwat. Jika tidak bisa menjelaskan berarti Antum memang memfitnah. Bahkan di akhir antum meminta maaf atas kesalahan Antum kepada Akhwat dan keluarga.

      >>Jundullah:
      harus difahami, diantara prinsip kami adalah ‘islamiyah qobla jam’iyah’, kami mengedepankan memperjuangkan Islam ketimbang jamaah, karena jamaah (PKS) bukan tujuan, tapi sekadar wasilah-sarana untuk da’wah.
      Mahasiswi Indramayu:
      Demikianlah kisah beberapa oknum kader dan petinggi PKS di kotaku. Harapan saya semoga di kota yang lain tidak ada kader dan petinggi PKS yang menjadi tukang isu terhadap KADER yang kritis ataupun muslim yang berbeda paham dengan main stream PKS.
      Bila kita lihat di berbagai kota, tiap unit rohani islam di kampus dan sekolah selalu saja didominasi PKS bahkan dimonopoli. Bagi aktivis yang bukan kader PKS maka tidak ada tempat di unit kerohanian tadi. Namun yang saya rasakan hegemoni PKS terhadap rohis justru terkesan memasung kreativitas kemahasiswaan. Karena tiap program rohis harus senantiasa bersinggungan dengan kepentingan partai.
      Kritik terakhir saya kepada PKS, janganlah sampai lupa bahwa kita harus memperjuangkan Islam bukan PKS!
      Ana:
      Antara pernyataan Antum Akhi bersinggungan dengan pernyataan Akhwat. Bila kita simak fakta di lapangan banyak dari beberapa kader PKS tampil ekslusif dan fanatik. Ambil beberapa contoh saja ,di kampus ITB dua tahun ke belakang hampir terjadi adanya dua LDK (Lembaga Dakwah Kampus), penyebabnya aktivis-aktivis dakwah kampus yang bukan kader PKS tidak diakomodasi di LDK baik secara fungsional maupun struktural. Sungguh disayangkan memang bila ada mayoritas aktivis ber-main stream fikrah tertentu menjadikan wajihahnya sebagai tujuan dakwah.
      Kasus lain, apabila ditemukan seorang aktivis yang ternyata tidak terdata sebagai kader , akhirnya disimpulkan dengan dangkalnya sebagai anggota salah satu golongan sesat, sehingga kontan saja merugikan aktivis tersebut. Tidakkah kita berpikir boleh jadi ia tidak bergabung menjadi kader wajihah tertentu karena mempunyai prinsip dan tujuan menyatukan umat ke dalam satu islam (saja)=jamaah, sehingga ia tidak berbaju atau berbenderakan golongan tertentu. Bukankah itu mesti diacungi jempol? Bukankah seperti yang Antum nyatakan wajihah hanyalah sarana? Lantas mengapa mempermasalahkan aktivis yang tidak berwajihah? Dan Bila kehadirannya ternyata mempengaruhi prinsip dan pemahaman kader wajihah tertentu asalkan kader menerimanya, bukankah itu boleh-boleh saja ? karena itu adalah Hak Asasi Manusia yang menjadi pilihan hidup kader.
      Satu lagi, sering terjadi monopoli kebijakkan dalam penyelenggaraan kegiatan kerohanian di kampus. Bila suatu waktu ada kebutuhan dari LDK untuk mengundang pemateri (ustadz, da’i, trainer, entrepreneur, dll) yang berkompeten untuk mengisi kegiatan di kampus, mestilah koordinasi dan konfirmasi kepada Murabi atau DPD. Sehingga tidak jarang bila ternyata pematerinya tidak berafiliasi kepada wajihah, muncullah instruksi untuk membatalkan pengundangan pemateri tadi. Sungguh yang terjadi adalah islam sebagai sarana dan golongan adalah tujuan!
      Aktivis Dakwah Kampus adalah anak muda yang tengah belajar menimba ilmu keislaman dan berkarya di dalam rangka beramal shalih lewat dakwah di kampus. Menyedihkan sekali bila kenyataannya ada pemanfaatan dari partai politik tertentu terhadap ghirah para anak muda tadi. Sehingga lewat mekanisme terstruktur, penyelenggaraan dakwah di kampus diarahkan untuk memenuhi kepentingan politik partai tertentu. Apabila LDK telah menjadi alat politik suatu firqah, maka yang timbul adalah disintegrasi kesatuan dan persaudaraan aktivis di kampus.
      LDK merupakan unit kreativitas semua mahasiswa muslim yang tidak boleh bertendensi kepada orientasi pragmatis dominasi suatu firqah. LDK semestinya menjadi wahana berkarya dan beramal shalih bagi setiap mahasiswa muslim meskipun pemahaman fikrahnya heterogen, yang penting semua kegiatannya berarah kepada kemanfaatan bagi warga masyarakat kampus. Tidak boleh kita serta merta melakukan tindakkan yang merugikan aktivis yang berbeda fikrah dengan alasan tidak berkontribusi kepada golongan tertentu.

      >>Jundullah:
      persoalannya adalah, ada beberapa kader yang mencoba merusak keharmonisan da’wah ini, dimulai dari menebarkan fitnah ttg PKS yang ternyata sumbernya pun gak jelas. misal: PKS dibiayai amerika, padahal kita selalu demo amerika, jg PKS bentukan Gus Dur, padahal kita yg jatuhin gus dur, jg PKS bentukan BIN, padahal kita menjadi korban konspirasi intel indonesia.
      Ana:
      Pernyataan Antum diatas memang perlu dijelaskan oleh Akhwat. Oleh karena itu dimohon agar Akhwat bertanggung jawab untuk menjelaskan dalam forum ini jika memang melontarkan pernyataan-pernyataan kontroversial di atas seperti yang dituduhkan Pengurus PKS ini.
      Khusus untuk pewacanaan bahwa Gusdur terlibat berkontribusi dalam pembentukan PKS, Ana pernah mendapatkan referensi tertulisnya dari seorang ikhwan yang aktif di organisasi pemuda yang berafiliasi kepada salah satu ormas. Disana dicantumkan secara tersurat hal ikhwal pendirian PKS pada saat bernama PK.

      >>Jundullah:
      Yang lebih mendasar adalah, anggapan mereka bahwa mengikuti pengajian yang dikelola PKS tidak baik, karena diatasnya thoghut. juga pemahaman tentang belum islamnya muslimin sepanjang belum melaksanakan syariat syahadat dihadapan saksi dari suatu kelompok. masyaallah.
      Ana:
      Mohon Akhwat untuk menjelaskan jika memang melontarkan pernyataan demikian.
      Khusus untuk kasus terakhir Ana pernah mengkaji dan mentelaah sebuah tesis karya Muhammad Umar Jiau al Haq, M.A. Sekarang sudah dipublish menjadi sebuah buku dengan judul “Syahadatain: Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam”. Tesis adalah karya mahasiswa paska sarjana yang isi kemateriannya bisa dipertanggungjawabkan secara keilmuan. Telah lulus dari persidangan para pakar ilmu keislaman sehingga mempunyai kredibilitas sebagai khazanah intelektual. Coba Antum simak dengan cermat dan seksama isi kematerian bukunya. Mudah-mudahan menjadi tambahan ilmu dan wawasan bagi Antum. Jika isinya selaras dengan Al-Qur’an dan Sunnah maka terimalah, jika ternyata bertentangan maka patutlah kita mengecamnya. Berpikir terbuka dan objektif selalu lebih baik dari pada bersikap dogmatis dan spekulatif.

      >>Jundullah:
      Mereka, ‘kader’ tersebut, menyebarkan fitnah itu tanpa tabayyun.
      Ana:
      Pewacanaan yang diangkat Akhwat jika benar maka itu bukan fitnah, jika salah barulah fitnah. Sehingga belum bisa disimpulkan sebagai fitnah, boleh jadi itu fakta baik keseluruhannya maupun sebagiannya. Kita sikapi saja secara proporsional kekritisan mereka. Oleh karena itu dibutuhkan ketegasan Akhwat untuk segera mengklarifikasi artikelnya supaya jelas persoalannya.

      >>Jundullah:
      apa salah kalau kemudian kader PKS melakukan counter.
      Ana:
      Pernyataan ini menunjukkan bahwa memang Antum mengakui telah melakukan counter dengan mengisukan Akhwat dan para KADER kritis lainnya melalui sistem dan para kader PKS, seperti yang di-curhat-kan oleh Akhwat dalam artikelnya. Namun ironis sekali Antum dan kader PKS justru telah membuat isu, fitnah, stigma negatif, streotyping, dan black flag terhadap Akhwat cs yang membuat citra mereka rusak.

      >>Jundullah:
      Yang pasti, saudara/i-ku, isu tentang mereka terkait DO, nyebarin gambar porno, dll. itu bukan dari kader PKS. justru kami heran, dari mana angin busuk itu berhembus. saya justru khawatir dari pihak ketiga yang bekepentingan memecah belah keutuhan kader PKS.
      Ana:
      Boleh jadi Antum dan sistem di DPD berbohong, lempar batu sembunyi tangan. Dalam konteks keumuman sering terjadi beberapa kader PKS yang berbohong. Karena didorong oleh rasa kekhawatiran yang berlebihan dalam menjaga kepentingan politiknya, akhirnya mereka memfitnah dan mengisukan orang yang berbeda pemahaman dengan mereka sebagai counter. Oleh karena itu untuk meyakinkan kami harap Akhwat bercerita. Kalau perlu sanad, rawi, waktu, dan latar kejadiannya diungkapkan dengan jelas, tentunya dengan etika yang disepakati, bukan begitu DOS?
      Akhi Jundullah, nama Antum mengingatkan Ana kepada buku karya Said Hawa seorang ikhwan IM. Karakter Jundullah yang ditulis di dalam bukunya tadi adalah karakter yang akan mengantarkan seseorang mulia di hadapan Allah. Ana tidak tahu apakah Antum telah membacanya atau belum, berikut sebatas review dalam buku tadi semata-mata atas motivasi tawashau bil-haqq siapa dan bagaimana Jundullah itu:
      Barang siapa yang tidak berhukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Maidah: 44)
      Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, yaitu orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-temannya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka ketahuilah sesungguhnya semua kekuatan itu kepunyaan Allah. (An-Nisa: 138&139)

      Dan tidak ada orang yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali dialah orang-orang yang kafir. (Al-Ankabut: 47)
      Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan (kamu sebagai) orang-orang munafik dan orang-orang kafir (itu) di dalam Jahanam. (An-Nisa: 140)

      Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. (Al-Mujadilah: 22)
      Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, (Al-Fath: 29)

      Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu. Namun mereka malah berketetapan hukum kepada thaghut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari thaghut itu. (An-Nisa: 60)

      -Ikhwan Tarbiyah yang Mantan Kader PKS-
      mantanpks@yahoo.com

    1.  2008 Januari 15 21:56,     Anonymous Mahasiswi di Indramayu menulis…

      Saya merasa kaget ketika mengetahui komentar yang saya kirim kemudian oleh DOS dijadikan artikel dengan judul Aib, Ghibah, dan Fitnah (2). Namun saya pikir tak jadi masalah, karena setelah tulisan saya dimuat sebagai artikel ada celah kebaikan disana.

      Beberapa kader PKS yang mengenal baik kami terbukakan hatinya untuk membuka diri bertabayun kepada saya dan kawan saya. Bahkan salah satunya akan berusaha untuk membersihkan nama kami yang tercorengkan akibat lisan-lisan tak bertanggung jawab.

      Tulisan ini saya buat untuk menanggapi beberapa komentar dan e-mail yang masuk serta untuk memperjelas tulisan saya sebelumnya, terutama untuk komentar Pengurus DPD PKS Indramayu di paragraf terakhir komentarnya ”Yang pasti, saudara/i-ku, isu tentang mereka terkait DO, nyebarin gambar porno, dll. itu bukan dari kader PKS. justru kami heran, dari mana angin busuk itu berhembus. saya justru khawatir dari pihak ketiga yang bekepentingan memecah belah keutuhan kader PKS”. InsyaAllah keberanian saya untuk menulis apa yang terjadi terhadap saya karena saya dapat mempertanggungjawabkan keseluruhan isinya.

      Bagi komentar #4 >> Tabayun kepada orang-orang yang terlibat dalam cerita saya sudah dilakukan sebelum artikel saya dibuat. Kisah saya adalah kenyataan, bukan mengada-ada. Berikut adalah rincian pelaku, waktu, tempat, dan alur peristiwa (rawi, sanad, dan matan). Saya menuliskannya secara lengkap semata-mata menanggapi permintaan. Jika ternyata ada tulisan yang melanggar etika maka saya siap bila DOS men-sensor-nya. Pencantuman nama pun hanya sebatas inisial huruf depannya saja dengan kapital. Jika ingin tulisan yang utuhnya maka silahkan hubungi e-mail saya: tarbiyahyespksno@yahoo.com

      Pertama,
      Mengenai isu bahwa kami mengikuti aliran sesat, informasi yang pertama kali saya dapatkan tentang hal ini dari adik kelas di SMA dulu yang sekarang sedang melanjutkan studi di salah satu PTN di Jabar. Dia mengatakan bahwa M salah satu petinggi DPD PKS menginformasikan kepada alumni binaannya mantan ketua rohis SMA angkatan masuk 2004 untuk berhati-hati terhadap diri saya. Informasi kedua, saya dapatkan dari teman halaqoh saya semenjak SMA bahwa salah satu teman halaqohnya berkata agar hati-hati terhadap saya karena saya mengikuti aliran sesat. Informasi selanjutnya saya dapatkan dari teman-teman halaqoh saya terakhir dan anak-anak LDK plus KAMMI yang telah memberikan indikasi dari sikap yang sering diperlihatkan kepada saya dan teman saya. Lalu beredarnya isu di SMA almamater saya bahwa saya mengikuti salah satu aliran sesat didapatkan dari mantan Kaput Rohis angkatan 2005, bahwa W seorang guru yang juga kader PKS menginformasikan kepada pembina rohis dan guru-guru di sekolah. Saya mengikuti aliran sesat hal ini juga diperkuat statement dari M guru yang juga kader PKS lainnya, yaitu murrobi pertama saya. Yang saya sayangkan kenapa beliau tidak pernah tabayun kepada saya.

      Kedua,
      Fitnah bahwa saya sering melawan orang tua didapat dari ucapan M seorang ikhwan LDK kader PKS -tetangga seorang kawan saya yang juga diisukan.

      Ketiga,
      Fitnah kami di DO diperoleh dari seorang tetangga. Beliau mendapat informasi dari seorang guru yang sedang santai dirumahnya tiba-tiba didatangi F- seorang Kader Santika (nama kepanduan akhwat di PKS). Kader PKS tadi memberikan informasi bahwa kami di DO, dan setelah kami telusuri proses info itu dialurkan : Guru mendapat info dari F -Kader Santika PKS> Kader Santika berasal dari E yang merupakan kader PKS yang aktif di santika> E memperoleh dan miss-understanding dengan info yang diberikan R (ikhwan kepanduan PKS)> dan R mendapat info dari I seorang ikhwan yang berafiliasi kepada partai politik PKS.

      Keempat,
      Untuk fitnah yang mengatakan bahwa saya dan kawan saya digaji tiap bulannya dari salah satu aliran sesat (kali ini beda aliran sesatnya) dari seorang teman ammah yang mendapat info dari O adik iparnya T –T seorang akhwat Pos WK PKS. Jadi O mendapat info dari T bahwa kami tiap bulannya digaji. Fitnah yang tak jauh berbeda menimpa kawan saya yang diisukan diberi uang 1 juta dari dana aliran sesat (beda lagi nama aliran sesatnya yang diatas) ketika ayahnya dirawat di rumah sakit. Isu ini dibuat oleh M ikhwan LDK kader PKS yang juga tetangganya. Orang tua kami sudah bosan dengan fitnah-fitnah yang dibuat dan dilontarkan oknum kader PKS. Pernah suatu ketika ibu teman saya tadi tatkala saya bertandang kerumahnya sambil cengar-cengir bertanya ”Udah gajian..?” kontan kami tertawa. Amin sih, kapan ya bisa ngasih duit segede itu sama orang tua?? Dan nggak usah pusing-pusing mikirin duit untuk ngelunasin SPP kuliah sebagai prasyarat mengikuti UAS akhir Januari nanti.

      Kelima,
      Mengenai berkas pkswatch dan gambar porno yang saya dapat infonya dari teman sejurusan bahwa murrobinya mengatakan demikian. Akhirnya saya berikan backup CD data file-file pkswatch kepada beliau, beliau pun mengakui kekeliruannya mengenai gambar porno kepada teman saya tersebut. Dan komentar beliau kepada pkswatch : ”Hati-hati ini mah bisa jadi rekayasa internet saja..” Oalah,,, gimana tuh DOS? Polos atau gaptek??

      Keenam,
      Statement bahwa kami hanya sholat ditempat umum saja, saya peroleh info tersebut dari seorang teman akhwat. Ketika beliau sedang bersilaturahim kepada S -akhwat PKS. S menanyakan tentang “eksistensi kami dikampus”. Lalu teman saya tersebut membela kami dengan mengatakan bahwa kami masih melakukan ibadah vertikal seperti shalat. Namun si S-Akhwat PKS tadi membantah bahwa kami hanya melakukan shalat ketika di umum saja.

      Ketujuh,
      Mengenai kabar bohong dari SM-seorang akhwat PKS Garut tentang seorang ikhwan kawan saya, bahwa beliau kuliahnya amburadul dan tidak lulus-lulus (faktanya sudah bergelar sarjana dengan waktu yang tepat). SM mengisukan juga beliau dikeluarkan dari lembaga keprofesian padahal lembaga tersebut milik beliau sendiri. Sanad itu saya dapatkan dari PJ DK. Dan Akhwat tadi yang mengaku sebagai kakak kelas dari beliau sewaktu SMA-nya (faktanya beliau seangkatan malah lebih tua satu tahun dari si akhwat tadi dan sekolah merekapun berbeda) saya dapatkan langsung dari lisan SM.

      Kedelapan,
      Untuk komentar ”ada beberapa kader yang mencoba merusak keharmonisan da’wah ini, dimulai dari menebarkan fitnah ttg PKS yang ternyata sumbernya pun gak jelas. misal: PKS dibiayai amerika, padahal kita selalu demo amerika, jg PKS bentukan Gus Dur, padahal kita yg jatuhin gus dur, jg PKS bentukan BIN, padahal kita menjadi korban konspirasi intel indonesia”. Siapa yang dimaksud beberapa kader tadi? Kami atau kader-kader yang lain? Kalau yang lain kenapa ’counter’ berupa isu dan fitnah ditunjukkan kepada kami? Kalaupun maksud beberapa kader itu adalah kami mana buktinya? Saya justru baru mengetahui untuk kalimat yang di blog lebih lengkap tentang keadaan di PKS. Yang saya akui, bahwa saya dan seorang kawan pernah menanyakan isi dari selembaran AMM tentang PKS bentukan gusdur waktu bernama PK kepada D- ketua KAMMI Komsat kampus di depan masjid kampus. Hal itu terjadi karena justru di sekre KAMMI ditemukan selembaran tersebut yang katanya dibawa salah satu pengurus KAMMI.

      Kesembilan,
      “Yang lebih mendasar adalah, anggapan mereka bahwa mengikuti pengajian yang dikelola PKS tidak baik, karena di atasnya thoghut.” Masya Allah kami tidak pernah berucap seperti yang dituduhkan pemfitnah tadi. Yang pasti saya dan kawan saya yang diisukan memutuskan untuk keluar dari sistem PKS termasuk dari halaqoh yang kami ikuti sejak dari SMA. Kami utarakan kepada murrobi bukan karena ketidaknyamanan kami kepada beliau namun karena banyak yang tidak kami sepakati dengan sistemnya. Kami sempat menangis ketika membahas hal tersebut.

      Kesepuluh,
      ”juga pemahaman tentang belum islamnya muslimin sepanjang belum melaksanakan syariat syahadat dihadapan saksi dari suatu kelompok. masyaallah.” Sekali lagi kata siapa? Wallahi saya tidak pernah mengatakan pernyataan seperti yang dituduhkan jundullah-pengurus DPD PKS tadi. Saya juga tidak habis pikir pada ulah seorang akhwat PKS yang dengan tanpa izin menerebos masuk kamar saya dan ”mengobrak-abrik” tumpukan buku-buku saya ketika tidak ada seorang pun dirumah. Saya dan ibu saya dibuat terkaget-kaget mengenai hal itu.
      Saya juga tidak tahu bagaimana prosesnya buku ’Syahadatain’ karya Muhammad Umar, M.A. tiba-tiba sudah difotokopi dan berada di tangan PJ DK (sebelumnya tidak ada izin untuk memfotokopi dari yang meminjam buku). Buku tadi di-judge salah oleh PJ DK dan Pembina LDK pada rapat tertutup ADK yang tentunya saya tidak diikutsertakan. Padahal buku tadi adalah tesis yang mempunyai referensi yang bisa dipertanggungjawabkan dan sudah diuji oleh para pakar keislaman. Sedangkan PJ DK dan Pembina LDK menghakimi buku tadi bukannya dengan argumen tapi sentimen, bukannya lewat diskusi tapi dengan otoriter. Saya membacanya pun untuk menambah wawasan karena kesukaan saya terhadap buku-buku keislaman dan pergerakan.

      Bila kita amati maka sepuluh point isu dan fitnah selalu saja dibuat oleh orang-orang yang berafiliasi kepada PKS, baik itu kader maupun simpatisan fanatik. Sedangkan dari masyarakat umum tidak ada sama sekali. Mengapa bisa terjadi demikian? Mungkinkah di tubuh PKS tertanam secara otomatis keyakinan bahwa di luar PKS sesat dan PKS yang paling benar? PKS bukan tujuan akan tetapi sarana dari sekian sarana, sehingga tidak mengikuti PKS pun tidaklah bisa dikatakan sesat. Dan sampai sekarang tidak ada bukti sama sekali bahwa saya dan kawan saya mengikuti aliran sesat. Sedangkan terma sesat mestilah disematkan kepada orang atau kelompok yang menyimpang dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Wassalam.

      -Mahasiswi di Indramayu-

    1.  2008 Januari 17 23:39,     Anonymous wongyojo menulis…

      Sekarang hampir terkuak atau bahkan sudah terkuak semuanya.
      Yang mengaku Jundullah/DPD Indramayu memberi komentar, kemudian mbak Indramayu juga membalas komentarnya.

      Jika telisik ini berakhir disini, maka kesimpulannya adalah apa yang disampaikan oleh Mbak Indramayu adalah sebuah kebenaran, apalagi ditambah dengan dukungan dari beberapa rekan yang mengalami kasus serupa.

      —-

      Saya adalah salah satu dari yang tidak setuju gerakan tarbiyah menjadi partai. Terlalu banyak jeleknya dibanding ketika masih gerakan tarbiyah, ini dilihat dari kacamata dakwah lho….Contoh nyata, setelah menjadi partai malah terjadi gesekan dengan Muhammadiyah dan NU, ya kan?

      Dan saat ini PKS sepertinya dihadapkan pada pilihan sulit, lebih sulit daripada ketika dia masih menjadi jamaah tarbiyah. Pilihan2 PKS akan dihadapkan pada kalkulasi2 politik. Yang katanya politik sebagai sarana dakwah, menjadi dakwah menjadi sarana politik.

      maksud saya gini. Kalau Tujuannya adalah dakwah, maka jika dakwah sudah dicapai maka politik tidak perlu dilakukan. Namun apa yg terjadi. Saya pernah mendapat bantuan hewan qurban dari sebuah panitia qurban didaerah Yogja bagian timur, setelah hewan saya terima eee di kasih brosur PKS segala. Inikan sudah dakwah (bagi-bagi qurban) untuk politik (PKS) , bukan politik (PKS) untuk dakwah (hewan qurban). Mestinya jika dakwah sudah terlaksana, politik gak usah dibawa-bawa.

      Itu menurut saya sih.

      ———-

      Saya yakin borok PKS itu banyak, namun tidak banyak orang tahu. Termasuk apa yg kita diskusikan kali ini. Partai lain juga banyak boroknya.

      Perbedaannya partai lain lebih mudah diketahui dan mereka “gentleman” menghadapi itu. Golkar misalnya, dengan kasus YZ. Pecat, selesai.

      Namun PKS cenderung menutup-nutupi.

      Temen saya yang ada di partai lain (saya punya beberapa teman di partai yg berbeda) mengatakan jika PKS itu partai dengan model politik citra.

      Pencitraan yang dikeluarkan selalu yang baik2, yg buruk disimpan. Jika melakukan kebaikan, langsung undang media, jadi banyak yg tahu. Bagaimana dengan partai lain? sama saja. Persoalannya PKS adalah partai dakwah, partai islam. Jika demikian (yg baik di ekspose dan yg buruk di tutupi -seperti kasus ini–) yg dilakukan itu kan berarti bermuka dua, tidak jujur. Mau dakwah kok tidak jujur.

      Oke… menurut gue (niru gaya dos di PKSWATCH ver1🙂 ). Akui sajalah jika ada yang rancu, kacau, jelek, dll dll di partai.

      Umumkan saja, kader di DPRD A korupsi dan sudah dipecat…
      Atau kader di DPD Indramayu bla-bla-bla dan sudah ditindak tegas… dengan dipecat, dan disuruh ngapalin Quran 30 Juz (misalnya)..

      Dengan kejujuran ini, akan muncul simpati. Jujur bung-jujur. Susah memang jujur itu. tapi cobalah kita jujur..Gue juga susah, gue juga bukan orang sempurna.

      Kalau ada kesalahan trus di tutupi, dengan alasan akan mengacaukan kader dll, maka saya kira pKS masih ada pada pertimbangan UNTUNG-RUGI, belum naik pada pertimbangan BENAR-SALAH atau BAIK-BURUK.

      Kecurigaan saya, ada penyaringan informasi pada level2 kader. Kader tingkat rendah hanya boleh mendengan berita yang baik2 saja seputar PKS, yang tinggi boleh mendengar yang agak “jelek-jelek” dan seterusnya.

      ini kecurigaan lho. Jika benar maka menurut saya ini bukan sebuah pembelajaran yg baik.

      ——

      untuk DOS, Dari pengakuan DOS, tt tempat yg sering dikunjunginya…Saya menjadi sangat berhasrat untuk bertemu, berbincang tentang kehidupan, berbincang tentang semuanya….

  1.  2008 Januari 19 07:32,     Anonymous Ikhwan tarbiyah yang mantan pks menulis…

    Sebuah Himbauan untuk PKS: Luruskan Motivasi !

    Sudah ana prediksikan kiprah dan profil PKS akan seperti demikian. Sejak semula ana tidak sependapat sistem tarbiyah dilebur menjadi parpol PKS. Tarbiyah yang menekankan pembinaan akhlak kini menjadi partai politik yang menghalalkan segala cara demi mengejar pragmatisme kepentingan politik dan kekuasaan.

    Tindakan terpuji habluminannas hanya berlaku kepada masyarakat umum demi meraih simpati, namun tatkala berhadapan dengan aktivis di luar firqah-nya karena di rasa mengancam kepentingan berdustapun dilakukan.

    Keberpihakan kepada rakyat sirna ditelan motivasi terselubung. Perjuangan islam hanya merupakan janji-janji palsu mempertimbangkan oportunisme. Konsep Al-Wala wal Bara’ dalam materi dasar ketarbiyahan sekarang pudar bernegoisasi demi kekuasaan.

    Mengingat gencarnya upaya-upaya PKS dalam merekrut suara secara besar-besaran mulai dari pemasangan spanduk hingga penyelenggaraan kegiatan bertendensi. Memutuskan sebagai tawashau bil-haq ana menghimbau ke setiap elemen pendukung PKS untuk luruskan motivasi:

    I) Kepada Qiyadah/DPP PKS:
    Sudah sejauh manakah tanggung jawab antum dalam menjelaskan kasus:
    1. PKS melegalkan aksi perampokan uang negara sebesar 500 juta dalam masalah dana kavling, yang kemudian digunakan untuk kegiatan kampanye Partai?
    2. Kontroversi Walikota Depok Nurmahmudi Ismail, Mantan Presiden PKS, mengusulkan pasar tradisional supaya dihapus dari Jakarta?
    3. PKS mendukung perusahaan AS-zionis EMOI mengelola blok cepu?
    4. Aleg PKS mengusung pengesahan UU Liberalisasi Sumber Daya Air dan UU Migas? Dimana produk hukum yang menyengsarakan rakyat itu merupakan agenda neoimperialisme.
    5. Tifatul Sembiring selaku ketua PKS dengan santainya menyatakan setuju untuk mengimpor beras, yang kemudian berdampak memiskinkan petani?
    6. PKS mendukung kenaikan harga BBM dengan alasan ‘pertimbangan dakwah’ ??
    7. PKS menolak syariat islam yang termaktub dalam piagam jakarta, hingga sampai dua kali tidak mendukungnya?
    8. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR-Mantan Presiden PKS, secara eksplisit menyatakan tidak ada niat untuk menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.
    9. PKS sudah tidak meng-klaim lagi sebagai ‘Partai Dakwah’ sehingga akhirnya Tifatul sendiri harus berkata, “Jadi kita ini partai nasionalis.”??

    Tolong antum katakan dengan jujur, dengan sosialisasi dan rekrutmen besar-besaran apa yang PKS tawarkan kepada umat islam? Apakah menuju kesejahteraan? Maka jelaskan point 1 sampai 6! Atau apakah menuju perjuangan syariat islam? Maka jelaskan point 7 dan 8!

    Jika motivasi PKS tidak lurus maka PKS adalah partai politik yang menjadikan islam dan dakwah sebagai simbol komoditas politiknya demi mengejar kekuasaan. Sehingga Tak ada perjuangan mewujudkan kesejahteraan rakyat! dan juga tak ada perjuangan syariat islam itu! Maka jelaskanlah point 9!

    Ana harap DPP merespon permintaan ana dengan penjelasan yang mampu meredam kekecewaan ana dan ummah, jika tidak, maka kredibilitas PKS akan hancur di mata umat Islam Indonesia! Lihatlah bagaimana DPD Indramayu telah merespon artikel kader akhwatnya. Malulah bila tidak mencontoh sub-ordinat antum.

    II) Kepada DPD PKS Indramayu:
    Menanggapi keluguan komentar akhwat
    (mari kita simak kembali komentar 20#: “Bila kita amati maka sepuluh point isu dan fitnah selalu saja dibuat oleh orang-orang yang berafiliasi kepada PKS, baik itu kader maupun simpatisan fanatik. Sedangkan dari masyarakat umum tidak ada sama sekali. Mengapa bisa terjadi demikian? Mungkinkah di tubuh PKS tertanam secara otomatis keyakinan bahwa di luar PKS sesat dan PKS yang paling benar?”).

    Jika sepuluh point isu dan fitnah dusta tadi disematkan akhwat kepada inisiatif kader PKS itu ganjil sekali. Kemungkinan terbesar DPD PKS-lah sebagai sistem yang telah mengkoordinir dan mengorganisir bagaimana badai isu tersebut digulir ke publik. Oleh karena itu harap antum (DPD) jelaskan dan pertanggungjawabkan secara moril apa yang telah diperbuat, jika tidak citra antum rusak di masyarakat Indramayu!

    III) Kepada DPD PKS Garut:
    Iqof-lah akhwat yang berinisial SM yang telah berdusta karena itu wujud kepedulian antum terhadap pendidikan akhlak kader.

    IV) Kepada Murobi dan Murobiah PKS seluruh Indonesia:
    Pelajari dan kuasai materi dasar ketarbiyahan untuk bisa ditransfer kepada mutarobi antum. Sehingga mereka bisa memahami bagaimana konsep islam itu. Janganlah menghabiskan waktu liqo-at dengan obrolan-obrolan mubazir, cerita-cerita tidak berisi, dan indoktrinasi janji-janji kemenangan politik yang sejatinya antum sendiri tidak tahu mau dibawa kemana antum oleh qiyadah! Sebagai informasi: Materi Tarbiyah Panduan Murobi, suntingan Ummu Yasmin, bisa antum peroleh di kios-kios buku keislaman dengan harga yang murah.

    V) Kepada kader akar rumput/ ADK/Rohis:
    Belajarlah dan belajar. Jauhi Taqlid, jauhi ashobiyah, jauhi ekslusifisme, dan jauhi kefanatikan. Murobi/ah antum memang baik dari sikapnya, namun hal itu tidak menjamin pemahaman dan kebijakkannya baik pula. Karena mereka adalah alat dari qiyadah, maka bersikaplah proporsional antara menghormati mereka dengan mentsiqohinya. Bersikaplah moderat, bersikap objektiflah. Lanjutkan mentoringan/liqoan selama itu adalah baik bagi antum untuk mempelajari islam, namun hindarilah keterlibatan mendukung kepentingan politik PKS karena itu akan menjadi dosa dan kemaksiatan antum di hadapan Allah. Ambillah kebaikan dari sesuatu dan buanglah keburukannya.

    Wassalam,
    -Ikhwan Tarbiyah Mantan PKS-
    mantanpks@yahoo.com

, , ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: