Ngaku dari Partai Islam Tapi Kok Amalannya Tidak Islami


Tulisan ini kritik sekaligus koreksi terhadap sepak terjang para politikus yang berada di “Partai Islam” dan terjun menjadi PNS.

Tahun 2013 adalah tahun persiapan pemilu di 2014, masing-masing partai telah ancang-ancang dengan strateginya untuk seolah-olah menjadi partai yang paling dekat dengan rakyat. Advokasi-advokasi terhadap permasalahan rakyat kecil mulai dilancarkan. Politisi partai kembali tampil “berani” untuk menjadi oposisi pemerintah guna mengambil hati rakyat yang selama ini telah mereka lukai dengan segala kebijakan yang menyengsarakan. Patut dicermati bagaimana cara partai mendanai kampanye dan “mendekat” kepada rakyat, salah satunya adalah dengan memanfaatkan kekuasaan yang dipegang oleh kader-kader partai. Kementerian atau lembaga negara yang berhasil dikuasai oleh poltisi dijadikan ajang sebagai cara jitu mengumpulkan dana dan membuat program “mendekat” kepada rakyat. Aduan PNS terhadap Dipo ALam terkait kongkalikong lembaga negara dengan para pengusaha secara faktual mudah dibuktikan (apalgi yang berkecimpung di dunia PNS) bagi yang hidup di Jakarta.

Politisi partai yang menguasai kementerian akan melakukan beberapa hal untuk menguasai lembaga tersebut, diantaranya yaitu memasukkan orang-orang partai sebagai PNS atau menjadi staf ahli yang akan mengatur orang-orang yang duduk dalam posisi jabatan di struktur organisasi kelembagaan terkait. Bahkan, bisa jadi posisi-posisi jabatan tersebut menjadi jabatan politik karena bisa “dibeli” atau dipesan oleh para poltisi untuk mendudukkan orang-orangnya.  Jika jaman orde baru, PNS sangat mendekat kepada Soeharto agar bisa mendapat jabatan maka pada era reformasi semua mendekat kepada partai yang berkuasa. Cara-cara rusak dan batil demi meraih jabatan pun banyak dibicarakan di kehidupan kerja PNS yang lembaganya dikuasai oleh partai politik.

Bagaimana dengan partai-partai yang notebene membawa nama Islam? Berikut ini saya paparkan beberapa kisah yang terjadi di lembaga yang dikuasai oleh partai Islam. Sebut saja namanya Aceng, lulusan dari Bogor ini sudah lama berkiprah di partai bahkan sempat menjadi staf di senayan. Aceng mengambil kesempatan mengambil peluang bisa menjadi pejabat sebagai PNS. Dengan keterbatasan kemampuan,Aceng tak mampu menembus menjadi staf ahli atau jabatan yang memang membutuhkan keteladanan dan keilmuan. Namun dengan ambisi politik kekuasaan yang besar, Aceng tak pantang menyerah. Atas nama dakwah dan partai, dia mampu menembus ujian CPNS meskipun dapat jatah dari partai. Tidak berhenti disitu, partai membutuhkan orang-orang yang bisa “mengusai” lembaga sehingga peluang bagi kader-kader untuk menjadi pejabat karbitan. Acengpun dalam waktu hanya 2 tahun mampu menjadi pejabat Eselon bersamaan dengan SK menjadi PNS nya. Wow, para pegawai lain terbelalak (bisa dimasukkan di book of the record keajaiban dunia kolusi di Indonesia) dan geleng-geleng kepala melihat kesombongan Aceng bersama partainya yang konon sebagai partai dakwah. Tingkah polah Aceng berubah, yang awalnya dia suka “ngendon” di masjid menunggu pejabat-pejabat lembaga yang sedang sholat, sekarang dia petantang petenteng bisa mengatur anggaran bagiannya bahkan merekomendasikan siapa yang layak menduduki jabatan. Aceng berubah takabur.

Meraih simpati? tentu saja tidak. Para binaan Aceng pun mulai mengeluh karena Aceng sekarang sering tidak menghadiri liqo’ (kajian rutin mingguan). Dia lebih suka menghadiri rapat-rapat dengan jajaran pejabat partai. Kader Aceng yang awalnya taat terhadap arahan Aceng mulai meragukan kapabilitas Aceng sebagai pengemban dakwah. Aceng lebih mirip menjadi politisi sekuler daripada menjadi kader partai dakwah. Anehnya, partai pun seolah tutup mata dengan persoalan-persoalah seperti Aceng ini. Orang-orang seperti Aceng bisa melakukan apa saja termasuk melanggar syariat Islam dengan melakukan pengumpulan uang dan terkait dengan suap menyuap yang konon menjadi hal biasa di kalangan dunia PNS. Aceng bukan lagi sosok kader militan yang ingin merubah masyarakat dengan Islam. Tapi Aceng yang sekarang adalah Aceng yang haus kekuasaan dan harta seolah dia punya dendam kemiskinan. Kadernya yang mengetahui sepak terjang keburukannya pun tak bisa berbuat apa-apa kecuali menasihati binaan dibawahnya untuk tetap istiqomah memegang Islam. Sesungguhnya partai tersebut sudah hancur dan rusak akibat orang-orang seperti Aceng telah banyak yang menjadi leader di partai Islam. Para kader di bawah (daerah) dan bukan dari jajaran politisi partai banyak yang tidak tahu dan tidak mencoba kritis bagaimana atasan mereka bisa kaya dengan cepat dan kegiatan-kegiatan kepartaian begitu banyak mendapat kucuran dana. Orang-orang seperti Acenglah yang berani melakukan pencarian dana dengan cara haram yang juga turut membiayai kegiatan partai. Tetap bertenggernya Aceng di partai karena kontrol pembinaan keislaman partai mulai melemah dan kalaupun ternyata sepak terjang Aceng diketahui orang partai, namun dibiarkan karena Aceng menjadi salah satu pilar yang bisa mengumpulkan uang dari lembaga-lembaga negara.

Aceng berubah menjadi pejabat birokrat hanya dalam jangka waktu dua tahun. Atas nama dan demi partai dakwah, partai melakukan apapun untuk menempatkan orang-orangnya. Bukannya perbaikan sistem yang ada, malah teladan keburukan yang diberikan. Bagi PNS yang ingin menikmati kekuasaan pilihannya ada dua yaitu berpura-pura menjadi kader dengan ikut liqo dan kenal para petinggi partai atau kenal dengan makelar-makelar politik yang berasal dari partai seperti Aceng yang bisa merekomendasikan namanya agar menduduki jabatan tertentu, tapi bersiap-siaplah memiliki hutang budi dan menyiapkan uang (political cost) untuk menduduki jabatan tersebut.

Perubahan apa yang ingin ditawarkan dengan cara-cara Aceng ini? Partai dakwah telah rusak, para kader partai Islam yang ikhlas semakin resah melihat sepak terjang sosok-sosok seperti Aceng yang ternyata bukan hanya 1 atau 2 orang tetapi berjibun di lembaga-lembaga yang dikuasai partai. Keresahan kader yang ikhlas, untuk tetap bertahan tidak rela jika dipimpin oleh orang-orang rusak seperti Aceng. Tapi jika pergi dari partai dakwah masih terlalu sayang pada dakwah dan persaudaraan sesama ikhwah.

Seharusnya, kecintaan terhadap Allah dan RasulNya lah yang didahulukan, partai dakwah sudah tidak mendakwahkan Islam tetapi tak ubahnya partai sekuler lainnya yang haus akan kuasa dan harta.

NB: Nama Aceng bukan nama sebenarnya dan cerita yang diambil dari curhatan seorang kader di jakarta (true story) yang melihat pembinanya telah kehilangan azzam terhadap Islam tetapi masih menjadi pengurus di partai.

 

 

Tak berhenti

  1. #1 by adiy on January 4, 2013 - 4:16 am

    saya juga mendapati kader2 PKS di jakarta spt cerita diatas. Apa cerita tsb juga dari kader PKS?
    pantas kiranya jika asatidz yg ikhlas spt ustadz Yusuf, Ustadz Mashadi keluar dari PKS
    sangat disayangkan PKS telah berubah

  2. #2 by bakar on January 8, 2013 - 8:43 am

    Jangan menggunakan nama Aceng dong, kesannya Aceng Garut dari PKS.
    Tapi emang saya setuju dari tulisan diatas, kader2 partai yg notabene Islam yg masuk di PNS memanfaatkan jaringan partainya dan banyak membuat manajemen organisasi di lembaga negara tambah semrawut (tidak memberi solusi), malah tak ada bedanya dengan Golkar jaman soeharto yg bisa menempatkan org partai dimanapun meski tak sesuai aturan
    untuk tahun 2014, saya lebih memilih menjadi pemilih rasional untuk tidak memilih parpol yang telah merusak negara termasuk partai yg berlabel islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: