Komparasi aktifitas antara pejuang dakwah Islam via parlemen dengan di luar parlemen


Tulisan ini ingin mengetengahkan pembahasan tentang dakwah Islam demi perubahan masyarakat. Ada sebuah fenomena yang sering diungkapkan dan menjadi jargon bahwa yg dianggap berjuang secara riil adalah org2 yg berjuang demi mendapat kekuasaan di parlemen dan pemerintahan dalam kerangka demokrasi sekarang. Sehingga ukuran kesuksesan dakwah mereka adalah ketika berhasil mendudukkan para calon/wakilnya duduk menjadi penguasa baik mulai level kotamadya/kabupaten, provinsi hingga pemerintahan pusat.

Benarkah dakwah “luar parlemen” dikatakan hanya OMDO (omong doang) saja?sedangkan mereka yg berjibaku rebutan kue kekuasaan di sistem demokrasi adalah pejuang sejati?

Saya mencoba merenung dan lebih melihat secara pribadi terhadap dua pihak ini. Saya mencoba bergaul dengan para pejuang melalui parlemen dan yg di luar parlemen. Ternyata, ada banyak kesamaan aktifitasnya tetapi beda tujuan.

Org2 yg berjuang menikmati demokrasi dakwahnya mengumpulkan orang untuk dijadikan kader atau simpatisan agar memilih partainya atau calon2nya di pemilu. Mereka berjibaku dg segala strategi dan pengorbanan uang, waktu, tenaga bahkan nyawa demi kesuksesan partai mendudukkan org2nya di pemerintahan (ingat:semua atas nama dakwah). Rasa penat krn pengorbanan terobati ketika melihat kadernya menjadi pejabat. Motivasi para pejuangnya akan berlipat2 ganda ketika menjelang pemilu apalagi dimunculkan isu “musuh bersama” seperti kristen, yahudi dll di balik musuh politiknya. Seakan2 perjuangan mereka pun mendudukkan org di pemerintahan demi melawan musuh bersama itu. Benarkah?

Saya pun mencoba mendalami dan menyelami aktifitas para dai yg menolak untuk terjun di parlemen dan menghendaki ada perubahan massif melalui pencerdasan politik masyarakat, dan berharap dengan peningkatan kecerdasan masyarakat itulah masyarkat menghendaki beralihnya kepemimpinan kepada Islam. Benarkah mereka OMDO seperti yg dituduhkan pejuang via parlemen selama ini?

Ternyata, dilihat dari aktifitas mereka kesibukannya sama  dengan para pejuang via parlemen bahkan kesulitannya berkali lipat dan lebih sibuk karena tujuannya bukan hanya menarik simpati untuk memilih partai nya (bagaimana memilih krn tdk ikut pemilu) tetapi untuk menjajakan ide2 yg dibawa partai setelah mereka (masyarakat yg dikontak) sadar maka diharapkan mereka mendukung dengan menjadi kader atau pendukung ide dan aktifitasnya. Setiap hari para pejuangnya berusaha untuk berinteraksi dengan semua orang di segala kalangan, mereka merekrut (=pejuang via pemilu), mengkader/membina (=partai dakwah via pemilu), mengumpulkan massa dlm aksi besar atau edukasi2 politik (=via pemilu). Bedanya hanya dari ukuran kesuksesan saja. Dakwah di luar parlemen tdk perlu merasa sukses atau jumawa ketika hanya berhasil mendudukkan orgnya di pemerintahan tetapi malah menyeleweng dari ideologi partai yg diemban.

Jika saya komparasi dari segi aktivitas individu antara yg via parlemen dengan yg di luar parlemen, sungguh terlalu picik tuduhan pejuang parlemen yg menganggap perjuangan dakwah di luar parlemen hanya OMDO saja. Lebih jauh saya komparasikan juga tentang kebanggaan yg sering di adigung dan adiguna kan oleh pejuang via parlemen ketika mereka secara praktis melakukan bakti sosial dg bendera partai yg berkibar dimana2. Ketika saya bergaul dengan pejuang luar parlemen, mereka pun banyak sibuk di aktifitas harian yg bersifat sosial, tidak sedikit diantara mereka yg menjadi rujukan masyarakat dan diminta bantuannya ketika masyarakat dlm kondisi kesusahan, bedanya setiap aksi sosial yg dilakukan oleh pejuang di luar parlemen ini, tak ada satu bendera partai pun yg dikibarkan, karena mereka menganggap bahwa aktifitas sosial ini adalah kewajiban setiap muslim, bukan status dia sebagai anggota partai dakwah.

Kesimpulan sementara saya dari komparasi kedua aktifis beda cara dan tujuan ini: Sebenarnya tidak benar “tuduhan” para pejuang via parlemen yg menganggap perjuangan via parlemen yg riil sdgkan di luar parlemen dianggap OMDO. Karena pd hakikatnya aktifitas para pejuang di kedua partai tsb hampir sama yaitu merekrut, membina, mengumpulkan massa.

Sedangkan org2 yg mengklaim berjuang via parlemen, padahal yg beraktivitas di parlemen atau pemerintahan diantara mereka sangatlah sedikit (tidak sampai 1% kader dari total anggota dan simpatisannya). Lalu 99% org yg mengklaim dakwah via parlemen padahal bukan anggota parlemen apa saja kegiatannya?Bukankah 99% itu akan melakukan perekrutan, pembinaan, dan menarik simpati dengan mengumpulkan massa adalah kegiatan yg sama dilakukan oleh pejuang diluar parlemen? lalu letak OMDO hanya gara2 tdk mendudukkan orgnya di parlemen? Sungguh naif dan berpikir dangkal.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: