Kisah Dua Orang Tak Bersalah Korban Premanisme Iwan Walet


Ada empat orang korban yang disebut pihak kepolisian Surakarta dalam kasus pengeroyokan sejumlah preman terhadap anggota laskar di Gandekan, Solo, Jumat (04/05/2012). Dua orang diantaranya terbilang korban yang tidak tahu persoalan awal. Nama keduanya Agus Pamuji dan Shandy Nino.

Agus Pamuji merupakan pedagang cemilan tradisional onde-onde di Pasar Gede, Solo dalam kesehariannya. Pada saat kejadian awal pemukulan dan pembakaran motor seorang anggota laskar, ia tengah beristirahat di sebuah masjid dekat lokasi.

Baru setelah terjadi keramaian dan keriuhan masyarakat di sekitar tempat pembakaran motor, yang diketahui ternyata milik Yunianto, seorang anggota laskar yang sempet terlibat percek-cokan dengan sejumlah preman di bengkel cuci motor Iwan Walet, Agus ikut-ikutan mendekat ke kerumunan warga.

Rasa penasaran dan keingintahuan mengundangnya untuk mendekat ke arah kerumunan sekadar ingin melihat apa yang tengah terjadi di lokasi kejadian.

Nahas bagi Agus, belum terjawab rasa penasarannya melihat apa yang terjadi, ia justru langsung terkena pukulan potongan besi tepat mengenai rahang kirinya. Secara membabi buta, sejumlah preman mengeroyoknya dengan menggunakan senjata tajam dan pentungan. Ia tak tahu alasan mereka memukulinya.

Tak berapa lama, ia pun tersungkur hingga tidak sadarkan diri. Segera, ia pun dilarikan ke Rumah Sakit Dr. Moewardi Solo.

“Menurut penuturan seorang petugas Hansip (Linmas) yang saat itu menyaksikan penganiayaan, Agus Pamuji dihajar massa preman karena ia dicurigai sebagai intel (informan) laskar karena penampilannya yang berjenggot,” kata Ketua Tim Pencari Fakta (TPF) Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Edi Lukito kepada wartawan dalam konferensi pers.

Nasib serupa juga dialami oleh Shandy, salah seorang jamaah Masjid Muhajirin, Semanggi. Sebelumnya ia ikut melayat bersama dengan rombongan termasuk Yunianto yang motornya dibakar di lokasi. Shandy termasuk rombongan pelayat yang pulang terakhir, setelah rombongan Yunianto. Melihat di tengah jalan ada kerumunan warga yang menyaksikan pembakaran sebuah motor, ia juga merasa penasaran ingin mengetahui.

Nasibnya tak jauh beda dengan Agus Pamuji, “Saat mendekat itulah iapun langsung dipukul dan disiksa oleh para preman bertubi-tubi dan terjatuh hingga dibawa ke rumah Sakit Islam Kustati. Ia mengalami luka di kepala dan harus menerima 6 jahitan,” jelas Edi Lukito saat menjelaskan kronologi kasus kericuhan Gandekan di Masjid Baitussalam, Tipes, Solo.

Baik Agus maupun Shandy sebenarnya bukanlah orang yang terlibat langsung dalam pertikaian antara laskar dan preman pimpinan Iwan Walet. Keduanya merupakan korban premanisme dari kelompok Iwan Walet yang secara membabi buta melakukan penganiayaan terhadap orang-orang yang tidak tahu apa-apa.

Tak salah jika aparat kepolisian menahan Iwan Walet dan satu orang anak buahnya di Polresta Surakarta dan ditetapkan sebagai tersangka.

“Dua orang tersebut sudah ditetapkan sebagai tersangka, dan ditahan di Mapolresta Solo. I dan C dinyatakan cukup bukti melanggar pasal 170 KUHP, dengan barang bukti yang disita adalah sepotong besi (LINGGIS), batu, jaket, dan motor supra X 125 AD 5423 HZ,” urai Edi Lukito, ketua TPF LUIS. [muslimdaily]

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: