Menguak Strategi AS di Asia Tenggara


mediaumat.com–Dua kepentingan besar Amerika adalah mengamankan jalur laut dan pos pergerakan militer untuk membendung Cina.

Apa perlunya Amerika Serikat yang secara geografis letaknya sangat jauh dari kawasan ASEAN, hadir dalam KTT ASEAN? Pasti ada udang di balik batu! Tidak lain dan tidak bukan adalah menjaga kepentingan hegemoninya di kawasan ini.

Mengapa? Posisi Asia Tenggara terbentang di persimpangan dua jalur laut terbesar di dunia. Pertama: jalur timur-barat yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik. Kedua: jalur utara-selatan yang menghubungkan kawasan Asia Timur dengan Australia dan New Zealand serta pulau di sekitarnya. 

Tiga “pintu masuk” kawasan Asia Tenggara—Selat Malaka, Selat Sunda dan Selat Lombok—merupakan titik penting dalam sistem perdagangan dunia. Pintu tersebut menjadi sama pentingnya dengan jalur laut yang melintasi kepulauan Spartly di Laut Cina Selatan. Selat Malaka merupakan selat yang menghubungkan Samudera Hindia dengan Samudera Pasifik, sekaligus sebagai jalur terpendek yang terletak di antara India, Cina dan Indonesia. Oleh karena itu, selat ini dianggap sebagai “check points” Asia.

Secara garis besar ada dua kepentingan Amerika Serikat di Asia Tenggara. Pertama: Asia Tenggara membuka garis laut karena sebagian besar perdagangan dunia melewati Selat Malaka. Kedua: Asia Tenggara penting sebagai pos untuk pergerakan kehadiran militer Amerika Serikat di Pasifik Barat dan Samudera Hindia.

Asia Tenggara secara geopolitik sangat krusial tidak hanya untuk kepentingan nasional Amerika Serikat tapi juga secara global. Jalur laut yang melintasi kawasan Asia Tenggara mempunyai fungsi yang vital bagi ekonomi Jepang dan Republik Korea, Cina dan Amerika Serikat sendiri.

Selat Malaka, yang melintasi Singapura, Indonesia dan Malaysia, merupakan salah satu jalur laut tersibuk di dunia. Lebih dari 50.000 kapal per tahunnya transit di Selat Malaka. Padahal lebar selat ini hanya 1,5 mil dengan kedalaman 19,8 meter. Diperkirakan setiap hari sekitar 10.000 kapal masuk ke Singapura yang melintasi Selat Malaka, di antaranya 4.000 kapal dagang dari Indonesia. Kapal-kapal yang melintasi Selat Malaka ini merupakan sepertiga bagian dari perdagangan dunia. Dan  berdasarkan catatan Energy Information Administration (EIA), minyak bumi yang dibawa kapal-kapal tanker via Selat Malaka adalah 11 juta barel per hari.

Letak Asia Tenggara yang sangat strategis berdasarkan jalur ini tentu saja menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan yang sangat penting baik dari sisi ekonomi maupun keamanan. Oleh karena itu, Amerika Serikat memiliki sejumlah kepentingan untuk akses bebas dan terbuka di jalur di Asia Tenggara, baik untuk kepentingan ekonomi (prosperity) maupun militer (national security).

Kebangkitan pengaruh Cina di Asia Tenggara yang terus menguat baik secara ekonomi, politik maupun militer memberikan tantangan yang signifikan secara ekonomi, militer dan politik tidak hanya bagi Asia Tenggara, tetapi secara tidak langsung merupakan ancaman bagi Amerika Serikat. Yang terdekat adalah tantangan ekonomi yang dihadapi ASEAN. Tingginya tingkat pertumbuhan ekonomi Cina membuat Cina terdorong untuk melakukan investasi di negara-negara berkembang seperti kawasan ASEAN. Hal ini tentu saja menjadi persaingan karena Amerika Serikat juga merupakan mitra penting perdagangan dan investasi ASEAN.

Jumlah penduduk yang besar, kondisi sosial-budaya yang beragam, sistem pemerintahan yang cenderung lemah, serta krisis ekonomi yang masih belum pulih adalah gambaran kondisi aktual yang dialami sebagian besar negara Asia Tenggara. Semua ini secara tidak langsung memengaruhi kepentingan-kepentingan Amerika Serikat.

Peran Indonesia 

Dalam kondisi seperti itu, Amerika harus memiliki mitra yang kuat di kawasan ini. Indonesia pilihannya. Indonesia salah satunya karena Indonesia adalah negara keempat terbesar di dunia, berpenduduk Muslim terbesar di dunia, eksportir minyak dan gas terbesar di kawasannya dan merupakan titik tumpu ASEAN.

Bagaimanapun, kebutuhan energi Amerika Serikat sangat besar, dan Indonesia merupakan salah satu sumber pemenuhan kebutuhan tersebut. Perusahaan-perusahaan  migas multinasional Amerika beroperasi di Indonesia. Tidak ada alasan bagi Amerika Serikat untuk tidak memperhitungkan Indonesia dalam hal ini.

Dengan penduduk Muslim terbesar, Indonesia menjadi pemain kunci dalam keterikatan Amerika Serikat terhadap Dunia Islam. Ketika Amerika Serikat memiliki kepentingan untuk meyakinkan dunia bahwa “war against terrorism” bukan sebuah perlawanan terhadap Islam, maka dukungan negara yang mayoritas berpenduduk Muslim moderat seperti Indonesia menjadi sangat penting.

Terbukti, Indonesia telah masuk dalam perangkap tersebut. Ini bisa dilihat dalam pertemuan APEC di Honolulu, Hawai, Sabtu (12/11/2011) lalu. Di hadapan CEO Summit, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan bangganya menyebut Indonesia sebagai negara Muslim moderat terbesar dan akan mempertahankan Islam moderat itu. Bukankah ‘Islam’ moderat adalah dagangan Amerika?

Pemerintah Indonesia pun kepanjangan tangan Amerika dalam menghadang kebangkitan Islam di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Dengan dukungan dana Amerika, pemerintah Indonesia kini menggelar program deradikalisasi. Padahal semua orang tahu, radikal dalam konteks Amerika adalah kaum Muslim yang ingin menerapkan Islam secara kaffah. Amerika tak ingin Islam bangkit dan berhasil membangun institusi negara, karena hal itu bisa membahayakan eksistensi kapitalisme global yang dipimpinnya.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: