Perjuangan Melawan Kapitalisme dan Imperialisme


mediaumat.com–Kapitalisme adalah ideologi yang cacat dan terbukti gagal membawa kebahagiaan bagi manusia di muka bumi ini.

Mungkin hanya Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang menentang kedatangan Presiden Barack Obama ke Indonesia. Tidak hanya kali ini saja, tahun yang lalu penolakan terhadap hadirnya dedengkot imperialis ini pun dilakukan oleh kader dan simpatisan HTI di seluruh Indonesia.

Penentangan HTI terhadap Amerika dengan kapitalisme dan imperialismenya ini, menurut juru bicara HTI M Ismail Yusanto semata-mata didorong oleh panggilan akidah dan kecintaan terhadap negeri ini.  “Ini untuk menyelamatkan negeri ini dari kerusakan yang lebih dahsyat akibat dari kapitalisme dan imperialisme itu tadi.

Secara akidah, Obama adalah musuh umat Islam. Tentara Amerika yang ada di bawah kendali presidennya telah membunuh jutaan kaum Muslimin di dunia. Bahkan imperialisme fisiknya bisa dilihat di Irak dan Afghanistan hingga kini. Amerika pun telah memaksa kaum Muslim memeluk ideologi kapitalisme yang yang bertentangan dengan akidah Islam. Tidak layak ‘raja pembunuh’ mendapat sambutan layaknya sahabat karib.

Perjuangan HTI merupakan bagian dari perjuangan Hizbut Tahrir secara global untuk menghancurkan kapitalisme dan imperialisme yang masih bercokol di seluruh dunia. Sejak kelahirannya, sesuai dengan namanya Hizbut Tahrir (partai pembebasan), partai politik Islam ini berjuang membebaskan manusia dari penghambaannya kepada sesama manusia. Hizb mengajak kaum Muslimin dan umat lainnya hanya menghamba kepada pencipta manusia, Allah SWT, melalui penerapan Islam secara kaffah dalam institusi khilafah.

Dalam pandangan Hizb, kapitalisme adalah ideologi yang cacat dan terbukti gagal membawa kebahagiaan bagi manusia di muka bumi ini. Kapitalisme gagal menyejahterakan warga dunia dan hanya melahirkan kapitalis-kapitalis yang tega menghisab darah sesama manusia. Kapitalisme juga telah menciptakan ketidakadilan ekonomi dan kemiskinan absolut. Semua itu terjadi akibat prinsip kapitalisme itu sendiri yang salah.

Bertahannya kapitalisme dalam kurun waktu seabad tidak lepas dari adanya dukungan imperialisme atau penjajahan global. Imperialisme-lah yang menyebarkan paham ini ke seluruh dunia. Kapitalisme bersama turunannya yakni sekulerisme, demokrasi, HAM dipaksakan oleh para kapitalis yang bekerja sama dengan imperialis agar dipeluk oleh warga dunia. Tujuannya agar mereka bisa menciptakan kondisi yang kondusif untuk mengeruk kekayaan warga dunia.

Karena itulah, Hizbut Tahrir senantiasa berjuang menyadarkan umat manusia—baik Muslim maupun non Muslim—akan bahaya kapitalisme ini. Hizb pun memberi tahu bahwa dedengkot imperialisme global adalah Amerika.

 

Lawan

 

Tidak hanya menguak kerusakan kapitalisme dan imperialisme, Hizbut Tahrir pun melawan ideologi kapitalisme dan imperialisme itu. Secara kontinyu, Hizb menyadarkan umat tentang bahaya ideologi buatan manusia tersebut dalam berbagai kesempatan. Terus menerus, tak pernah berhenti.

 

Di samping itu, Hizb menyodorkan alternatif pengganti bagi ideologi itu. Bukan komunisme/sosialisme—yang sudah runtuh—tapi Islam. Menurut Ismail, penerapan Islam secara kaffah akan mampu menghancurkan kapitalisme global. Tentu hal itu hanya bisa terwujud bila ada institusi negara yang melaksanakannya. Itulah khilafah.

 

Tegaknya khilafah akan menghentikan imperialisme, sekaligus kapitalisme. Sebab, negara imperialis pastilah sebuah negara besar dengan kekuatan global baik secara ekonomi, politik maupun militer. Nah, kekuatan negara imperialistik besar dengan kekuatan global seperti itu hanya mungkin bisa dihadapi oleh negara yang sepadan yang juga memiliki kekuatan global yakni khilafah.

 

Khilafah bakal menyatukan 1,7 milyar Muslim di seluruh dunia dengan segala potensi geoekonomi, geopolitis dan geostrategisnya. Dengan semua potensi itu, khilafah pasti akan menjadi negara adikuasa baru. “Kalau bukan khilafah, kekuatan apa yang bisa menghadang kekuatan imperialisme Barat saat ini?” tanyanya.

 

Selanjutnya, khilafah melalui penerapan syariah secara kaffah nantinya akan mewujudkan kehidupan Islam di seluruh aspek. Di bidang ekonomi, syariah akan menggantikan kapitalisme yang telah gagal mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang adil, stabil dan berkah.

 

Makanya Hizbut Tahrir senantiasa menyerukan kaum Muslim agar kembali kepada Islam sesuai metode Islam. Hizb mengecam sebagian kaum Muslim yang menjadikan turunan ideologi kapitalisme global sebagai sandaran/jalan kebangkitan. Jalan itu pasti akan menemui kegagalan.  Hizb pun menentang sikap para penguasa di negeri-negeri Islam yang bekerja sama dengan Amerika dan Barat. Tindakan para penguasa tersebut adalah sebuah pengkhianatan terhadap amanah Allah SWT.

 

Antek Pasti Bokek

 

Banyak penguasa kaum Muslim yang tidak yakin akan agamanya. Mereka dengan sukarela malah mengambil Amerika dan sekutunya sebagai pelindungnya. Sebagai imbalannya, para penguasa boneka itu menyerahkan harta milik rakyat yang dipimpinnya kepada para penjajah. Harapannya, kekuasaannya akan dilindungi.

 

Padahal, imperialis tetaplah imperialis. Tidak ada prinsip balas budi. Yang terpenting adalah keuntungan. Maka bukan hal aneh bila para penguasa boneka itu dianggap tidak lagi memberikan keuntungan sesuai keinginan Amerika dan Barat, mereka akan dijatuhkan. Bahkan dengan kejatuhan yang sangat menyakitkan.

 

Kasus paling mutakhir menunjukkan hal itu. Siapa yang tak tahu Presiden Mesir Husni Mubarak. Ia begitu setia mengabdi kepada Amerika dengan menjaga Israel. Ia rela mengorbankan agama dan rakyatnya demi mendapatkan dukungan Paman Sam. Namun apa mau dikata, ia pun didepak dari singgasananya. Kini ia sakit-sakitan dan harus menghadapi pengadilan dari rakyatnya. Amerika? Diam saja.

 

Nasib serupa dialami Presiden Libya Muamar Qaddafi. Berkuasa selama lebih dari 40 tahun tak membawa kebaikan bagi akhir hayatnya. Barat yang telah diberinya ladang-ladang minyak dan gas, akhirnya memusuhinya. Ia dijatuhkan dengan kondisi terhina. Bahkan rakyatnya pun tak ada yang bersimpati atas jasadnya.

 

Sebelumnya Presiden Irak Saddam Hussein nasibnya tak berbeda. Beberapa tahun ia bergandengan tangan dengan Amerika menghadapi Iran. Eh, ternyata teman setia ini pula yang menjatuhkannya. Ia digantung oleh Amerika di negerinya sendiri. Padahal Amerika telah diberi banyak sumber daya alam Irak.

 

Di Indonesia, Soeharto yang dinaikkan menjadi Presiden Indonesia atas bantuan Amerika pun mengalami nasib tragis. Ia harus rela diturunkan dengan paksa melalui tangan rakyat karena sudah tidak disukai oleh Amerika. Padahal Soeharto telah menyerahkan ladang-ladang migas Indonesia sejak awal kekuasaannya.

 

Di Pakistan, Presiden Musharraf juga dijatuhkan oleh Amerika. Padahal semua orang tahu Musharraf sangat setia kepada tuannya itu. Di beberapa negara Timur Tengah, para penguasa antek kini sedang menghadapi badai penggulingan. Untuk bertahan, mereka rela membunuh rakyatnya sendiri dan meminta bantuan sesama antek yang berdekatan. Akankah mereka bisa selamat? emje

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: