Berharaplah Pertolongan Hanya Kepada Allah


oleh Mashadi

eramuslim.com–Al-Qur’an ingin menjadikan Mukmin hidup dengan memiliki sikap dan perasaan yang peka. Selalu berhubungan dengan Rabbnya. Seakan ia melihat tangan Allah menurunkan hujan dari langit. Tanpa henti. Kemudian menghidupkan tumbuh-tumbuhan yang mati, dan membangkitkan kehidupan di bumi yang mati. Pada saat yang sama hatinya selalu bergetar bersama dengan fenomena alam. Perasaannya selalu tersentuh dengan alam, dan memuji Dia dengan kekuasaan-Nya.

أَفَرَأَيْتُم مَّا تُمْنُونَ ﴿٥٨﴾ أَأَنتُمْ تَخْلُقُونَهُ أَمْ نَحْنُ الْخَالِقُونَ ﴿٥٩﴾ نَحْنُ قَدَّرْنَا بَيْنَكُمُ الْمَوْتَ وَمَا نَحْنُ بِمَسْبُوقِينَ ﴿٦٠﴾ عَلَى أَن نُّبَدِّلَ أَمْثَالَكُمْ وَنُنشِئَكُمْ فِي مَا لَا تَعْلَمُونَ ﴿٦١﴾ وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْأَةَ الْأُولَى فَلَوْلَا تَذكَّرُونَ ﴿٦٢﴾ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَحْرُثُونَ ﴿٦٣﴾ أَأَنتُمْ تَزْرَعُونَهُ أَمْ نَحْنُ الزَّارِعُونَ ﴿٦٤﴾ لَوْ نَشَاء لَجَعَلْنَاهُ حُطَامًا فَظَلَلْتُمْ تَفَكَّهُونَ ﴿٦٥﴾ إِنَّا لَمُغْرَمُونَ ﴿٦٦﴾
بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ ﴿٦٧﴾ أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاء الَّذِي تَشْرَبُونَ ﴿٦٨﴾ أَأَنتُمْ أَنزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنزِلُونَ ﴿٦٩﴾ لَوْ نَشَاء جَعَلْنَاهُ أُجَاجًا فَلَوْلَا تَشْكُرُونَ ﴿٧٠﴾ أَفَرَأَيْتُمُ النَّارَ الَّتِي تُورُونَ ﴿٧١﴾ أَأَنتُمْ أَنشَأْتُمْ شَجَرَتَهَا أَمْ نَحْنُ الْمُنشِؤُونَ ﴿٧٢﴾

“Maka terangkanlah kepadaku tentang nutfah yang kamu pancarkan. Kamukah yang menciptakannya, atau Kami-kah yang menciptakannya? Kami telah menentukan kematian di antara kamu dan Kami sekali-kali, tidak dapat dikalahkan, untuk menggantikan kamu dengan orang-orang yang seperti kamu (dalam dunia) dan menciptakan kamu kelak (di akhirat) dalam keadaan yang tidak kamu ketahui. Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui penciptaan yang pertama, maka mengapakah kamu tidak mengambil pelajaran (untuk penciptaan yang kedua)? Maka terangkanlah kepadaku tentang yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkannya? Kalau Kami kehendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur; maka jadilah kamu heran tercengang. (Sambil berkata) ‘Sesungguhnya kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami menjadi orang yang tidak mendapat hasil apa-apa.’ Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah kamu tidak bersyukur? Maka terangkanlah kepadaku tentang api yang kamu nyalakan (dari gosokan-gosokan kayu). Kamukah yang menjadikan kayu itu atau Kami-kah yang menjadikannya?” (QS. al-Waqi’ah [56] : 58-72)

Dalam al-Qur’an terdapat isyarat yang membuka cakrawala berpikir kita, dan memberikan kesan yang mendalam dan bekal bagi diri kita. Isyarat yang sangat sarat dengan berbagai peristiwa itu, seperti kisah Maryam. Ia seorang remaja yang beriman berada di mihrabnya dengan mendapatkan rezeki tanpa melalui sebab-sebab lahir, sehingga Nabi Zakaria alaihissalam, menanyakan kepadanya tentang asal rezeki itu.

فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا وَكَفَّلَهَا زَكَرِيَّا كُلَّمَا دَخَلَ عَلَيْهَا زَكَرِيَّا الْمِحْرَابَ وَجَدَ عِندَهَا رِزْقاً قَالَ يَا مَرْيَمُ أَنَّى لَكِ هَذَا قَالَتْ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ إنَّ اللّهَ يَرْزُقُ مَن يَشَاء بِغَيْرِ حِسَابٍ ﴿٣٧﴾

“Maka Rabbnya menerimanya (sebagai nadzar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan disisinya. Zakariya berkata, ‘Hai Maryam, darimana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab, ‘Makanan ini dari sisi Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (QS. Ali Imran [3] : 37)

Nabiyullah Zakariya alaihissalam usianya sudah sangat lanjut, tulang-tulangnya sudah rapuh, dan pisiknya lemah, kepalanya sudah beruban, Istrinya mandul, sementara itu dia merindukan keturunan. Melihat kondisi seperti itu, ia berpikir mana mungkin ia akan mempunyai keturunan anak. Kemudian ia melihat Maryam mendapatkan rezeki tanpa melalui sebab-sebab. Lahir seorang anak. Zakariya menjadi tidak putus asa dan kehilangan harapan. Hatinya dipenuhi optimisme dan cita-cita. Maka ia berdo’a dalam al-Qur’an.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاء ﴿٣٨﴾
فَنَادَتْهُ الْمَلآئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿٣٩﴾

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, ‘Wahai Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.’ Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedangia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya), ‘Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran seorang putramu Yahya, yang membenarkan kalimat yang datang dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu dan seorang Nabi dari keturunan orang-orang shalih’, Zakariya berkata, ‘Wahai Rabbku, bagaimana aku bisa menapatkan anak, sedangkan aku tlah tua dan Isteriku pun seorang yang mandul?’ Berfirman Allah, ‘Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya’.” (QS. Ali Imran [3] : 38-40)

Kejadian berupa datangnya rezeki kepada Maryam tanpa sebab lahiriyah dan lahirnya Yahya dari Zakariya, padahal menurut perhitungan manusia tidak tidak mungkin terjadi, karena kondisi yang ada. Maka hal itu merupakan tarbiyah (pendidikan) bagi seorang wanita yang suci dan beriman untuk mendapat mukzijat, yaitu lahirnya Isa tanpa bapak.

Lahirnya Isa alaihissalam tanpa bapak telah menimbulkan kegoncangan yang dahsyat bagi umat manusia, dan bagi Bani Israel yang telah dipalingkan oleh sebab-sebab lahiriah (sebab-seba bumi), sehingga melupakan sebab-sebab langit. Namun, kelalaian dan ketumpulan perasaan serta kebutaan mereka telah mendorong telah menuduh Maryam alaihissalam berbuat bohong dan men jadikan orng-orang Nasrani terperosok ke dalam kemusyrikan yang abadi. Sikap ini muncul, karena kebodohan, dan manusia gagal melihat penomena alam, yang diturunkan oleh Allah Rabbul Alamin.

Pertolongan Allah Rabbul Alamin bersifat kekal kepada orang-orang Mukmin dan para Mujahid. Mereka yang hidup dan berjuang di jalan-Nya akan senantiasa mendapatkan petunjuk dan pertolongan. Allah Rabbul Alamin akan selalu menolong mereka yang berjihad dan berkorban dalam rangka menegakkan agama-Nya. Tidak ada keraguan lagi, bahwa Allah Rabbul Alamin akan selalu menolong orang-orang Mukmin, yang dengan ikhlas membela agama-Nya. Seberapapun kekuatan yang mereka miliki, kekuatan ahlul haq, pasti akan mendapatkan kemenangan, dan pertolongan Allah Azza Wa Jalla.

Terkadang Allah Ta’ala menunda pertolongan-Nya untuk suatu hikmah yang diingikan-Nya, sehingga yagn tampa adalah kekalahan. Adakalanya haq ‘kalah’ dan kebathilan yang ‘menang’. Dalam logika al-Qur’an semua itu merupakan potret-potret kemenangan yang hikmahnya tidak diketahui oleh manusia. Bagi orang-orang Mukmin sendiri tidak dituntut hasil, tetapi mereka dituntut untuk berjalan di atas manhaj al-Qur’an, perintah-perintah-Nya, dan sesudah itu kemenangan adalah urusan Allah Rabbul Aziz.

… إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ ﴿٧﴾

“Jika kamu menolong agama Allah, pasti Allah menolong kamu.” (QS. Muhammad [47] : 7)

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ ﴿٦٩﴾

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar berserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al-Ankabut [29] : 69)

فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاء حَسَناً إِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ﴿١٧﴾

“Maka yang sebenarnya bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka, dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang Mukmin, dengna kemenangan yang baik, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Anfal [8] : 17)

Masih pantaskah orang-orang Mukmin mengharap dan bergantung dengan pertolongan selain dari Allah Rabbul Aziz? Tidak ada lagi alasan kaum Mukminin bergantung dan berharapkan pertolongan kepada selain Allah. Karena Allah Rabbul Alamin menjamin pertolongan bagi orang-orang Mukmin.

Belum pernah dalam sejarah kemenangan orang-orang Mukmin melawan dan menghadapi musuhnya, kafirin, musyrikin, dan munafiqin dengan pertolongan mereka dengan pertolongan selain Allah. Sepanjang sejarah Islam, selalu kemenangan itu ditentukan oleh pertolongan AllahAzza Wa Jalla, yang memberikan kemenangan bagi orang-orang Mukmin yang hakiki.

Kemenangan orang-orang Mukmin itu erat sekali hubungannya dengan keyakinan mereka akan pertolongan Allah. Sebagai contoh peristiwa yang terjadi pada perang Hunain. Sebagian orang-orang Mukmin dengan jumlah mereka yang banyak, sehingga mereka yakin tidak akan kaalah. Mereka berkata, “Hari ini kita tidak akan dikalahkan oleh musuh yang sedikit jumlahnya”.

Mereka seakan-akan yakin kepada hakikat kekuatan jumlah mereka yang besar, dan akan mendapatkan kemenangan dengan jumlah mereka yang banyak. Mereka bangga dengan jumlah yang banyak. Padahal, semua itu hanyalah menipu belaka. Ternyata mereka kalah. Kemudian, Allah Azza Wa Jalla menurunkan bantuan kepada mereka ketenangan, dan memberi kemenangan kepada mereka, dan dengan menurunkan balatentara-Nya.

Al-Qur’an bersimpati kepada kelemahan orang-orang Mukmin, dan ia tidak membiarkannya kalah, dan dengan caranya sendiri memberikan pengobatan orang-orang Mukmin, yang lupa dan mulai tersentuh oleh kesombongan, karena jumlah mereka banyak.

Al-Qur’an mengobati akar-akarnya dalam jiwa mereka. Sehingga, membersihkan mereka dari berbagai kotoran dan faktor yang menghimpit diri mereka.

Rezeki dan ajal merupakan titik kelemahan manusia yang ada pada diri manusia. Rezeki dan ajal merupakan hak Allah, yang manusia tidak dapat melakukan campur tangan. Manusia tidak dapat menambah dan mengurangi atau mencegahnya.

Betapa hari ini begitu banyak manusia yang berlari ke sana kemari mencari pertolongan kepada selain Allah. Mencari mencari pertolongan yang berkaitan dengan rezeki dan ajal. Mereka lari kepada para toghut (para penguasa fasik) yang berkuasa dan memiliki kekuasaan, dan mereka bersandar, dan meminta pertolongan, karena mata hati mereka telah tertipu dengan dengan dunia.

Mereka menyangka para toghut itu dapat menolong dan menyelamatkan mereka. Mereka menyangka para toghut itu dapat memberi rezeki dan mencegah ajal mereka. Kemudian, mereka jatuh tesungkur, menjadi hina, dan tidak memiliki lagi kemuliaan di sisi-Nya. Itulah nasib manusia hari ini. Begitu hina. Karena meminta pertolongan dan bersandar kepada para toghut. Wallaahu’alam.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: