Indonesia Kian Terkepung Produk Asing


Indonesia adalah negara “merdeka” yg masih terjajah, benarkah???

(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Sudah 64 tahun Indonesia merdeka. Tapi kemandirian ekonomi makin rentan dan rawan. Buktinya, serbuan produk asing, terutama dari China, kian deras. Tak hanya produk tekstil yang mengepung, tapi juga barang elektronik dan makanan.

Memang ini risiko dari era keterbukaan dan globalisasi. Tak ada lagi sekat antarnegara yang bisa menghambat produk suatu negara masuk ke negara lain. Namun, jika kondisi ini tak segera dibenahi, bangsa kita hanya akan terus menjadi penonton di negeri sendiri, sedangkan pemainnya adalah asing.

Ini terlihat dari serbuan produk China ke Indonesia yang semakin membabi buta. Jika dulu kita hanya menemukan gunting, petasan, atau jepit rambut, tapi sekarang tak sulit menemukan produk Negeri Tirai Bambu itu di segala sektor. Menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang dari China pada periode Januari hingga Mei 2009, mencapai US$ 4,85 miliar. Jauh mengalahkan Jepang dan Amerika Serikat.

Kondisi inilah yang kini terjadi pada sejumlah produk Indonesia. Padahal semua orang tahu, Indonesia negara yang kaya sumber daya alam dan manusia. Tapi konteks kekayaan saat ini adalah kaya dengan produk asing yang membanjiri pasar dalam negeri.

Sebut saja produk pertanian, tekstil, mesin, elektronik, otomotif, produk kimia, barang kerajinan, baja, apalagi mainan anak-anak. Mulai dari pedagang kaki lima hingga pusat perbelanjaan, tumpah ruah produk mainan asal China.

Padahal, produk yang sama juga diproduksi di dalam negeri. Tapi karena ongkos produksinya lebih tinggi dari Negeri Panda itu, maka bisa ditebak, harganya tak lagi bersaing. Negeri Tirai Bambu itu terus menyerbu dengan berbagai komoditi berharga murah berkualitas. Misalnya, sepasang sepatu impor China hanya dihargai Rp 60 ribu.

Bukan hanya produk tekstil dan elektronik, produk China lainnya yakni semen sudah menyerbu Indonesia. Tanpa disadari sejak 2002, serbuan semen China sudah menggerogoti pasar Indonesia dengan harga jual yang rendah. Dan asal tahu saja, barang-barang dari China yang masuk ke Indonesia, hingga saat ini masih menduduki peringkat pertama dalam hal nilai maupun volume.

Banjir produk asal China ini diperkirakan semakin berlipat ganda dan mengancam para pelaku ekonomi nasional. Dampaknya? Lihat saja deindustrialisasi yang terjadi dan surutnya usaha kecil menengah (UKM) di dalam negeri.

Pada 2007 saja, produk industri dalam negeri sudah kalah bersaing dengan barang impor dari China di pasar domestik. Penyebabnya, kebanyakan barang China adalah produk sisa ekspor sehingga harganya jauh lebih murah.

Indonesia sebenarnya mampu bersaing dengan China di pasar internasional, khususnya untuk barang kualitas menengah ke atas. Tetapi untuk barang menengah ke bawah China lebih unggul. Bahkan, pasar domestik dibanjiri produk mutu rendah dari China.

Terakhir, kasus produk baja yang menyerbu Indonesia dan mengancam pasar baja hilir domestik. Tahun ini Indonesia kebanjiran produk impor baja dari China, menyusul kebijakan pemerintah negara berpenduduk 1,3 miliar jiwa itu untuk menurunkan tarif pajak ekspor.

Penurunan pajak ekspor produk baja hilir itu dipastikan akan membuat ekspor China meningkat tajam terutama ke negara-negara yang memiliki tarif bea masuk rendah seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, Afrika, dan kawasan lainnya.

Impor produk sisa ekspor China ini sangat mengganggu produsen Indonesia yang menggarap pasar lokal. Yang menjadi pertanyaan adalah: apa solusi untuk mengatasinya?

Sejauh ini hambatan tarif dan hambatan nontarif untuk menghadapi produk sisa ekspor China itu sama tidak efektifnya. Masalah ini tidak hanya dihadapi Indonesia. Malaysia, Filipina, dan Thailand juga menghadapi persoalan serupa dan kalah bersaing dengan China.

Sejauh ini, sikap pemerintah sendiri cenderung ambivalen sekalipun hati-hati dalam mengatasi banjir produk China. Pasalnya, China merupakan pasar yang besar dengan 1,2 miliar penduduknya.

Sejak 2007, China menempati posisi ke-4 sebagai negara tujuan ekspor RI, setelah Jepang, AS, dan Singapura. China sangat haus sumber daya energi seperti batubara, sawit, migas dan komoditas lainnya.

Bagaimana pun, dunia usaha terus menunggu kebijakan pemerintah yang memihak kepentingan wirausaha dalam negeri. Pemerintah perlu menerapkan kebijakan pengamanan perdagangan dan jangan dipaksa bersaing. [E1/P1]

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: