Rekayasa CIA Dalam Kasus Bom Kuningan Mulai Terendus


Jakarta (SuaraMedia News) – Serangan dua bom bunuh diri di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz Carlton Jakarta pada Jumat 17 Juli 2009 sangat mengejutkan. Apalagi belakangan diketahui teroris sengaja menyasar pertemuan para pebisnis di Marriott.

Mengapa bisa ada serangan bom  bunuh diri di dalam hotel milik Amerika Serikat tanpa sepengetahuan intelijen AS (CIA)?

Kepada ABC News, salah seorang staf CIA mengakui saat bom bunuh diri terjadi CIA ‘tidak dalam keadaan siaga’

Menurutnya serangan dua bom bunuh diri yang meledak hampir bersamaan itu adalah sebuah ‘kejutan’.

Sumber yang lain, dari lembaga antiteroris AS, mengatakan CIA dan lembaga lain padahal baru saja melapor ke Gedung Putih, ‘bahwa tidak ada laporan ancaman dalam 18 bulan terakhir’ yang melibatkan Jamaah Islamiyah (CIA), yang dipercaya sebagai sayap Al Qaeda di Indonesia.

Atau dengan kata lain, mereka tidak mencium adanya rencana teror di Indonesia.

Pernyataan beberapa sumber langsung dibantah Juru Bicara CIA. “Anggapan bahwa CIA tak menganggap serius ancaman JI dalam beberapa tahun terakhir adalah salah, kata Juru Bicara CIA.

“Tak satupun dari CIA yang pernah mengatakan bahwa kelompok teroris tak lagi beroperasi,” tambah dia.

Amerika Serikat terlanjur percaya bahwa kelompok teroris telah terbongkar atau dilemahkan setelah beberapa pimpinannya semisal Azhari, Hambali tewas atau tertangkap dalam operasi gabungan yang melibatkan aparat Indonesia, AS, dan Australia.

Padahal, “meski mereka diam bukan berarti mereka mati, kata mantan staf antiteroris Gedung Putih, Richard Clarke.

“Mereka hanya pura-pura mati,” tambah dia.

Tak adanya peringatan dari CIA juga menuai tanggapan dari pimpinan Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, Abu Bakar Ba’asyir. 

Dia menuding balik AS merekayasa pemboman untuk menyudutkan umat Islam.

Kata Ba’asyir, hanya orang bodoh yang mempercayai bom itu bukan rekayasa karena hotel sekelas JW Marriott dan Ritz Carlton mempunyai sistem pengamanan yang sangat ketat.

Karenanya sangat tidak mungkin pelaku bom dapat keluar masuk hotel dengan leluasan bila membawa bahan peledak, merakit, kemudian meledakannya dengan mudah. Ba’asyir menduga CIA ada dibalik peristiwa tersebut.

“Saya merasa itu adalah rekayasa CIA, karena tidak mudah masuk Hotel Marriott membawa bom meski dicicil, pasti ketahuan,” kata dia di rumahnya, Kompleks Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo Rabu, 22 Juli 2009.(vvn)www.suaramedia.com

  1. #1 by nonatelat on August 7, 2009 - 4:29 am

    wahh,.setuju itu,.
    karena emang ga mungkin Hotel sekelas Ritz Carlton bisa kecolongan,.
    biasalah orang licik kan selalu lempar batu sembuni tangan,.hehehe,.
    heran, hari gini masih aza ada yg kayak gitu,….

  2. #2 by hansen on August 7, 2009 - 9:06 am

    Serangkaian teror bom telah melanda Tanah Air sejak lima tahun terakhir. Kelompok Jamaah Islamiyah dituding menjadi biang keladinya. Benarkah tidak ada tangan lain yang beraksi?
    Buummm! Cuaca cerah di kawasan jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004 lalu seolah berubah menjadi kiamat. Bumi berguncang, asap putih laksana cendawan membubung tinggi. Pagar kedutaan besar Australia rusak; kaca-kaca gedung dalam radius 300 meter rontok dan pecah berkeping-keping. Enam pohon di pembatas jalan langsung meranggas, mobil-mobil yang lewat jebol kacanya, sepeda motor hangus, sementara puluhan orang di dekat pusat ledakan terkapar.

    Tak pelak lagi, ledakan dahsyat di jantung kota Jakarta itu segera mengundang reaksi dunia, terutama para pemimpin Barat. Lima jam setelah ledakan, dalam konferensi pers di rumah sakit MMC, Kuningan, Kapolri Da’i Bachtiar langsung menunjuk hidung dua lelaki asal Malaysia, Dr. Azahari Husin dan Noordin M. Top sebagai otak pemboman itu. Kapolri mendasarkan tuduhannya pada analisis kesamaan modus pemboman itu dengan aksi pemboman di Kuta, Bali, 12 Oktober 2002, dan pemboman Hotel JW Marriott, Kuningan, 5 Agustus 2003. “Dari hasil analisis, pembuat bom adalah Dr. Azahari,” ujarnya.

    Tidak hanya itu saja, lagi-lagi Kepala Polri menyatakan bahwa kelompok Jamaah Islamiyah berada di balik pemboman ini. Di samping kasus Bom Kuningan, Bom Marriott, dan Bom Bali, kelompok itu juga dituduh terlibat dalam kasus pemboman di depan rumah Duta Besar Filipina untuk Indonesia, 1 Agustus 2000; pemboman beruntun di malam Natal tahun 2000; bom di Mal Atrium, Senen, Jakarta; dan ledakan granat di dekat gudang Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta pada 23 September 2002.

    Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi meragukan keberadaan Jamaah Islamiyah. “Ada atau tidak hanya orang intel yang tahu,” ujarnya kepada pers ketika polisi mulai menyebut-nyebut nama kelompok itu pasca pemboman di Kuta, Bali, beberapa waktu lalu.

    “Binatang apa itu Jamaah Islamiyah? Saya ingin bukti dulu!” kata Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah M. Syafi’i Maarif pula. Ia tidak yakin organisasi itu benar-benar ada.

    Lalu bermunculanlah dugaan bahwa terminologi baru Jamaah Islamiyah sebagai sebuah organisasi Islam hanya rekayasa intelijen untuk mendiskreditkan umat Islam. Kecurigaan ini dapat dimaklumi karena berdasarkan pengalaman sejarah, rekayasa dan stigmatisasi seperti ini sudah umum pada zaman Orde Baru. Dalangnya pun sudah jelas. Siapa lagi kalau bukan pemerintah Orde Baru yang militeristik.

    Tengoklah berbagai investigasi terhadap sejumlah gerakan seperti Komando Jihad, Jamaah Imran, Jamaah Warsidi, gerombolan massa perusuh dalam Peristiwa Malari, juga peristiwa Cicendo dan Tanjung Priok. Menurut mantan Wakil Ketua MPR Muhammad Husni Thamrin, beberapa kerusuhan itu bermula dari operasi intelijen yang digalang aparat keamanan. “Hampir semua kerusuhan itu pekerjaan Ali Moertopo,” ujarnya. Saat itu Ali Moertopo menjabat sebagai Kepala Operasi Khusus dan Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN).

    Menurut penjelasan seorang bekas perwira tinggi TNI, agen-agen BAKIN yang ditanam dalam beberapa faksi elemen kelompok Islam memang acap kali “dipakai” dalam operasi intelijen. Biasanya, mereka dimanfaatkan untuk mematangkan situasi agar aparat bisa menggebug orang-orang yang dibidik setelah mereka muncul ke permukaan. “Kami dulu memang dilatih untuk melakukan hal-hal semacam itu,” kata sang perwira yang kini mengaku sudah insyaf itu.

    Husni Thamrin, misalnya, bercerita tentang rekayasa aparat dalam kasus Tanjung Priok, 12 November 1984. Dalam sebuah diskusi yang dihadiri Ali Moertopo, Husni Thamrin mempertanyakan kebijakan pemerintah yang terus-menerus menekan umat Islam, padahal mereka sudah menerima asas tunggal. Namun, Ali tidak menggubris. Ia bahkan mengatakan, “Tunggu saja apa yang akan terjadi di Tanjung Priok!” Padahal peristiwa kerusuhan itu baru terjadi setengah tahun kemudian.

    Menjelang terjadinya peristiwa kerusuhan di Tanjung Priok itu, Husni pun merasakan keanehan yang terjadi di sana. Saat itu khutbah-khutbah Jumat yang mengecam pemerintah “ditertibkan”. Beberapa khatib pun diinterograsi dan dijebloskan ke bui. Anehnya, di Tanjung Priok justru terkesan dibiarkan. Beberapa kali ia diundang ke sana, namun ditolaknya. “Ternyata perkiraan saya benar. Mereka mencoba memancing kita untuk kemudian dihabisi,” ujarnya.

    Peristiwa spektakuler lainnya adalah pengakuan Haji Ismail Pranoto alias Hispran, Pemimpin Komando Jihad dalam sidang pengadilan yang menyidangkan kasusnya pada tahun 1980-an. Menurut Hispran, aksi Komando Jihad dilakukan atas persetujuan Ali Moertopo. Karena itu, ia pun meminta pengadilan untuk menghadirkan sang jenderal. Namun belakangan, sebelum Ali Moertopo dihadirkan, ia tewas secara misterius. “Ia diracun,” kata seorang tokoh Islam.

    Akan tetapi, hasil investigasi dan temuan media massa kali ini cukup mencengangkan. Tidak seperti pada masa Orde Baru yang serba tertutup, kini beberapa orang yang didakwa terlibat dalam kasus Bom Bali berhasil diwawancarai media massa. Para tersangka seperti Imam Samudera, Ali Imron, dan beberapa tersangka kasus pemboman lainnya telah mengakui bahwa mereka adalah pelaku pemboman tersebut.

    Meskipun demikian, sebagian masyarakat masih meragukan keterlibatan murni mereka. Apalagi penyebutan keterlibatan kelompok Jamaah Islamiyah dalam serangkaian teror bom dahsyat selama empat tahun terakhir ini. Sebab, tidak lama sesudah pemboman di Kuningan, Menteri Luar Negeri Australia diberitakan mengetahui akan adanya serangan bom itu 45 menit sebelumnya lewat pesan pendek SMS. “Saya mengetahui adanya SMS ini tadi pagi,” kata Downer, usai bertemu dengan Kapolri Jenderal Da’i Bachtiar di Mabes Polri ketika itu.

    The International Crisis Group pun mengendus beberapa aspek mencurigakan dalam jaringan pemboman itu. Misalnya, saat membahas keterkaitan Jamaah Islamiyah dengan Gerakan Aceh Merdeka. Dalam tulisan yang berjudul “Bagaimana Jaringan Teroris Jamaah Islamiyah Beraksi”, disebutkan bahwa almarhum Fauzi Hasbi Geudong, salah satu pembelot GAM yang sering kontak dengan Jamaah Islamiyah, adalah informan aparat intelijen. “Ia menganggap Hambali putranya sendiri,” tulis ICG. Hambali adalah orang yang disebut-sebut sebagai matarantai jaringan al-Qaidah di Asia Tenggara.

    Fauzi Hasbi Geudong juga dikabarkan mengenal Omar al-Faruq, warga Kuwait yang diciduk Badan Intelijen Negara (BIN) dan kemudian diserahkan kepada Biro Intelijen Federal Amerika Serikat (Federal Beureau Infestigation/FBI) tahun lalu. “Dia pernah tidur di rumah saya 3 malam,” ujarnya kepada Majalah TEMPO sebelum diculik dan dibunuh di Ambon Februari tahun lalu.

    Keterlibatan agen BIN bernama Abdul Haris dalam kasus penangkapan al-Faruq, di Bogor, 5 Juni 2002 juga sempat terendus majalah TEMPO. Konon, Abdul Haris yang punya posisi sebagai Ketua Hubungan Antar Mujahiddin di Majelis Mujahidin Indonesia adalah orang yang membantu Faruq menguruskan paspornya. Namun belakangan, menurut majalah TEMPO, ia disebut polisi sebagai agen utama BIN yang ikut mendampingi Brigjen Aryanto Sutadi saat menginterograsi Faruq di Bagram, Afganistan.

    Majalah TEMPO juga mendapatkan informasi dari Imam, tangan kanan Fauzi. Ia mengaku telah dua kali menemani Fauzi dan Hambali ke markas BIN di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan. Pada kali pertama hanya Fauzi yang menghadap pejabat BIN, sementara Hambali menunggu di mobil bersamanya. “Yang kedua, Hambali ikut turun menghadap pejabat itu,” ujarnya kepada majalah itu.

    Sementara itu, bekas Kepala BAKIN Letjen Purn. ZA Maulani, di majalah GATRA mengungkapkan tentang operasi intelijen yang disebut false flag. Menurut dia, false flag adalah kegiatan atau operasi yang dilakukan suatu pihak sehingga dampak kejadian itu akan dinisbatkan kepada pihak yang dikehendaki. Israel dan AS dikenal sangat sering melancarkan operasi false flag dalam rangka menyudutkan lawan-lawan mereka.

    Ia mencontohkan peristiwa ledakan bom yang terjadi di Filipina, 16 Mei 2002. Saat itu seorang laki-laki yang dikenal sebagai pemburu dan pedagang barang antik berkebangsaan Amerika, Michael Meiring (65), ditemukan terkapar di kamar Evergreen Hotel, di Ramon Magsaysay Avenue, Manila. Ia bergelimang darah dengan kaki dan tangannya bergelayutan hampir putus. Rupanya ia tengah merakit bom di kamarnya namun keburu meledak. Tentu saja Kejaksaan Manila menuduh Meiring sebagai teroris.

    Namun, atas perintah Gedung Putih kepada Kedutaan Besar AS di Manila, Meiring segera diungsikan dari tempatnya ditahan dan dirawat, Davao Medical Mission Hospital, dengan pesawat carter khusus. Ia pun langsung diterbangkan ke San Diego, California, pangkalan angkatan laut AS terbesar, dengan kawalan khusus. Pihak imigrasi Filipina menggambarkan bahwa lelaki itu dikawal agen-agen US National Sucurity Agency dan FBI. Wakil Konsul AS di Davao, Michael Newbill, atas perintah Kedubes di Manila, langsung melunasi kuitansi tagihan rumah sakit pula.

    Koran Manila The Times kemudian mengutip keluhan seorang pejabat Departemen Kehakiman Filipina. Pejabat itu bercerita bahwa mereka menerima surat dari Kedubes AS yang berisi larangan jika Meiring dituduh sebagai teroris sehubungan dengan kasus ‘kecelakaan’ di hotel itu. Penyelidikan ke arah itu harus dihentikan. Pemerintah Filipina pun tidak kuasa menolaknya.

    The Manila Times pun mengungkapkan bahwa Meiring sebenarnya agen CIA. Sehari-hari ia mengaku sebagai penggemar dan pedagang barang-barang antik. Meiring mondar-mandir selama 10 tahun di Davao. Ia bukan hanya bersahabat karib dengan para petinggi di Mindanao Selatan, dengan perwira-perwira kepolisian, tetapi juga dekat dengan tokoh mantan ketua Moro Islamic Liberation Front (MILF) Nur Misuari, ketua Hashim Selamat, tokoh MNLF panglima Tony Masa, dan beberapa orang lagi di Kotabato yang berperan sebagai penghubung dengan kelompok Abu Sayyaf, bahkan juga dengan pemimpin The New People’s Army yang komunis, Romo Navarro.

    Selama itu ia diketahui membelanjakan uang jutaan dolar, sedangkan sumber dananya tidak jelas. Menurut The Times, sebagian dolar itu berasal dari kelompok Abu Sayyaf. Menurut bualan Meiring kepada kawannya David Hawthorn yang menceritakan kepada The Times, uang itu berasal dari jual-beli ‘barang-barang antik’. Akan tetapi, intel Filipina mencium duit itu berasal dari jual-beli bahan peledak dengan pemberontak MILF, MNLF, Abu Sayyaf, dan berbagai kelompok pemberontak lainnya.

    Sebuah studi dari Rand Coorporation menyarankan agar pemerintah AS membangun kembali pangkalan militernya di Filipina. Operasi serangan gerilya dan peledakkan bom yang menjadi-jadi di Mindanao Selatan dan Manila oleh kelompok yang dikoordinasi Meiring, membuat pemerintah Arroyo menyetujui ‘bantuan’ berupa penguatan pasukan Amerika ke Mindanao Selatan untuk menumpas ‘teroris’ Islam MILF, Abu Sayyaf, dan lain-lain.

    Tiga tahun pasca Tragedi WTC, peta dan wajah politik internasional telah berubah. Kini situasinya mirip dengan saran ilmuwan AS, Samuel Huntington yang menempatkan ‘Islam fundamentalis’ sebagai musuh utama dunia internasional. Karena itu, kini kaum Muslim, termasuk yang berada di Indonesia, harus memahami benar situasi ini. Kehati-hatian sangat diperlukan agar mereka tidak terjebak dalam skenario Perang Dingin Baru ini. Tengoklah dampak Tragedi WTC, Bom Bali, dan bom-bom lainnya terhadap kaum Muslim di penjuru dunia. Aksi-aksi pemboman itu —jika benar dilakukan sebagian kaum Muslim— terbukti justru menyulitkan posisi kaum Muslim sendiri dalam perjuangan melawan kezaliman global.

    Memperluas Dugaan Pelaku Bom

    Teror bom yang selama ini terjadi jelas bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, yang lepas dari konstelasi internasional. Kampanye AS dalam perang melawan terorisme, persaingan Inggris-AS sebagai penjajah dalam rebutan pengaruh, serangan ke Irak dan Afganistan, dan pendudukan Israel di Palestina merupakan setting internasional yang turut mempengaruhi. Karena itu, menjadikan kelompok Islam sebagai pihak yang terus-menerus dituduh sebagai pelaku adalah pembodohan politik yang berbahaya.

    Memperluas kemungkinan pelakunya AS dan negara-negara Barat adalah sangat rasional. Sebab, AS adalah pihak yang sebenarnya paling diuntungkan oleh berbagai aksi teror ini. Pemboman-pemboman yang mengorbankan rakyat sipil dan bukan pada wilayah perang justru akan memperkuat ‘arahan’ oponi internasional bahwa terorisme itu kejam dan tidak berperikemanusiaan, karenanya layak diperangi. Kalau opini seperti ini terbangun, bukankah hal itu justru memperkuat legitimasi kampanye perang melawan terorisme AS, yang masih lemah argumentasinya?

    Memang, sebagai pelaku, bukan berarti AS —melalui agen-agennya— secara langsung terlibat dalam berbagai kasus peledakan tersebut, tetapi ia bisa menggunakan agen-agen lokal yang dibayar; bisa memperalat agen-agen Israel yang dikenal canggih; dan bisa juga menciptakan kondisi yang direkayasa sedemikian rupa hingga pelakunya justru muncul dari elemen Islam sendiri, yang sadar atau tidak mereka telah diperalat untuk kepentingan AS .

    Tidak bisa juga dilupakan, bahwa selama ini ada persaingan yang kadang-kadang terbuka tetapi juga sering tersembunyi antara kekuatan-kekuatan negara penjajah, seperti antara AS dan Inggris. Persaingan ini sangat terasa di Timur Tengah. AS berupaya keras menggeser dominasi Inggris di negeri kaya minyak ini. Momen penting untuk itu adalah serangan Irak ke Kuwait. Sudah barang tentu Inggris yang sebelumnya memiliki pengaruh yang dominan di Timur Tengah tidak berdiam diri. Untuk secara langsung melawan AS, tidak memungkinkan bagi Inggris saat ini. Jadi, cara yang paling mungkin adalah seakan-akan menjadi mitra koalisi AS tetapi membuat jebakan untuk mengacaukan keinginan AS. Kekacauan terus-menerus di Irak atau Pakistan merupakan contoh kasus yang mengacaukan planning AS untuk menguasai daerah ini, yang bisa jadi pelakunya adalah agen-agen Inggris.

    Memang, kalau ditanya pelaku langsung, ada kemungkinan elemen kelompok umat Islam yang terlibat, setidaknya dari pengakuan-pengakuan yang ada selama ini. Namun, kemungkinan elemen Islam ini dijebak atau diperalat adalah juga sangat logis. Bukti sederhana, bagaimana pelaku Bom Bali, meski mengakui merekalah yang meledakkan, mereka tidak menyangka bahwa bom mereka sedahsyat itu. Lantas dari mana bom yang begitu dahsyat tersebut?

    Reaksi Terhadap Kezaliman AS

    Perlu juga diungkap bahwa tindakan pemboman ini, lepas dari siapapun pelakunya, muncul sebagai reaksi dari perlawanan terhadapan penindasan dan dominasi AS di dunia internasional. Roger Garaudi, salah seorang intelektual Barat, melihat faktor utama pendorong munculnya ‘fundamentalisme’ Islam adalah kolonialisme Barat, dekadensi Barat, dan munculnya fundamentalisme zionis Israel. Pendudukan Israel di Palestina diungkap pula sebagai faktor utama. Pendapat ini muncul antara lain dari Yvonne Haddat, profesor sejarah Islam Universitas Massachussets. Dalam debat terbuka antarcapres AS, John Kerry dan Goege W. Bush, terungkap bahwa tindakan terorisme semakin banyak muncul justru sejak AS menyerang dan menduduki Afganistan dan Irak.

    Berdasarkan pengakuan dari para pelaku Bom Bali, terungkap pula bahwa apa yang mereka lakukan adalah sebagai reaksi dari kekejaman AS terhadap umat Islam. Di Irak dan Afganistan, ribuan kaum Muslim terbunuh dalam skenario perang melawan terorisme yang sering didasarkan atas argumentasi bohong seperti senjata pemusnah massal. Penyiksaan di penjara Abu Ghuraib semakin memperluas kebencian umat Islam terhadap AS. Belum lagi dukungan AS yang membabi buta terhadap Israel, yang secara sistematis membunuh dan menghancurkan kaum Muslim di sana. [Majalah al-wa’ied, Edisi 51] http://www.suaramedia.com/nasional/rekayasa-cia-dalam-kasus-bom-kuningan-mulai-terendus.html

  3. #3 by dafauga on August 26, 2009 - 6:19 pm

    Sejak terjadinya peledkan bom di dua hotel besar di Jakarta, hati saya mulai terasa sesak…saat itu saya berfikir Rekayasa dan fitnah apalagi yang bakal diterima umat Islam setelah peledakan ini, dan sejak awal saya selalu merasa yakin bahwa setiap pledakan itu adalah adalah rekayasa, kenapa intelejn polisi seperti bodoh tidak mau nengok samasekali kearah sana, atau justru petinggi2 mereka ikut bermain bersama “bos” besar mereka….ah tidak tahu lah…….., lihatlah drama menggelikan penangkapan 1 orang yang dianggap teroris (padahal belum tentu) oleh 600 orang anggota densus 88 yang katanya terlatih selama 17 jam kelihatan banget bodorannya, kalau emang benar serahin aja ama dua orang kopasus 5 menit beres tanpa banyak omong…………
    Skarang densus 88 sperti diberi kukuasaan mutlaq mebabi buta, bahkan dengar kabar bahwa mereka akan mengontrol setiap kegiatan keagamaan umat Islam, dan setiap orang yang beratribut Islam….itulah ujung2nya yang diharapkan oleh pembuat skenario yaitu stigmatisasi buruk trhadap kaum muslimin di Indonesia, lalu kenapa proyek penangkapan orang yang dianggap teroris itu gencarnya selalu paska peledakan, kenapa sebelumnya adem ayem….mana fungsi Intelejennya….?
    Saya sebagai bagian kecil dari warga negara tercinta ini hanya bisa berharap, Pak Polisiku sayang semoga anda tetap bisa profesional, MANDIRI, Cerdas dan bermoral…..jangan resahkan umat Islam yang 200 jutaan ini dengan pernyataan dan tindakan yang tidak realistis, jangan menyelesaikan masalah dngan menambah masalah………….Viva Pak POLISIKU……Hancurlah Pembuat Skenario

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: