Mashadi: Tinggalkan Semua yang Tak Islami


Berikut ini wawancara dengan pelaku sejarah seorang Dai yang awalnya berjuang mengikuti deokrasi untuk tegaknya syariat allah, namun hasilnya nihil seperti menggarami air laut.

ImageMashadi |
Mantan Anggota DPR RI |

Para capres-cawapres mengumbar janji untuk perubahan. Bahkan mereka menggunakan idiom-idiom dan simbol-simbol Islam untuk menggaet hati para pemilih Muslim. Itu yang terjadi berulang-ulang menjelang pelaksanaan pemilihan presiden di Indonesia.

Sayangnya, apa yang ditampakkan para kandidat itu hanya aksesoris yang digunakan semata-mata untuk meraup suara. Begitu berkuasa, mereka melupakan Islam itu sendiri dan asyik dengan sekulerisme dan materialisme.

Bagaimana perilaku para kandidat pemimpin Indonesia dalam pandangan mantan anggota DPR RI Mashadi, berikut wawancaranya dengan Joko Prasetyo dari Media Umat.

Bagaimana pendapat Anda tentang penggunaan isu agama oleh capres saat ini ?

Sebenarnya yang pokok itu kan semua capres punya kepentingan terhadap umat Islam. Karena memang jumlah/populasi umat Islam mayoritas, 80-90 persen Muslim. Jadi  mereka punya kepentingan untuk mendapat dukungan umat Islam. Tapi memang  ada yang bukan sekadar mereka punya kepentingan untuk  mendapatkan dukungan semata, juga mungkin ada secara nilai atau ideologis mempunyai kedekatan meskipun kadarnya relatif. Pengertian kedekatan itu untuk diri sendiri. Bisa saja secara sosiologis, mungkin  latar belakang mereka itu dari keluarga yang memiliki misi visi Islam. Sehingga mereka sedikit banyak masih memiliki hubungan emosional dengan umat Islam.

Itu kan ditujukan hanya sebagian kecil umat Islam, misalnya hanya juga dengan menggunakan kerudung. Padahal sebelumnya kebijakan mereka jauh dari ajaran Islam. Apakah itu dijadikan mainan ?

Kalau kita lihat dari sisi pandangan Islam,  apalagi menyangkut hal-hal yang  bersifat prinsip, mendasar,  saya kira itu tidak bisa menjadi indikator, tapi bahwa untuk menbangun sebuah komunikasi, untuk  membangun suatu suasana dialog itu saya kira  diantara capres  berbeda beda. Dan itu sangat terkait pada  latar belakang  sosiologis masing-masing capres .

Lalu bagaimana meletakkan agama dalam pemerintahan?

Siapa pun yang berkuasa di Indonesia, selama mereka mengesampingkan agama  dan agama tidak menjadi parameter  atau ukuran dalam masalah pengelolaan negara, maka mereka tidak akan pernah mencapai tujuan-tujuannya. Jadi selama mereka tidak menjadikan Allah, Rasul dan akhirat sebagai tujuan, mereka itu tidak akan pernah  menghasilkan sebuah pemerintahan yang  bahagia, bermanfaat, berguna, dan bermartabat. Jika mereka mengatakan bermartabat, saya kira tidak akan pernah bermartabat kalau semata-mata indikatornya itu hanya ekonomi.

Apakah Anda melihat ketiga pasangan capres-cawapres ini yang menjadikan Allah, Rasul, akhirat sebagai tujuannya?

Kalau secara filosofis, meskipun sebenarnya masih sangat jauh, tapi ada dari mereka yang menggunakan idiom atau kata-kata  yang relatif  bisa umat Islam berkominikasi dengannya. Bentuk kominikasinya ya persoalan-persoalan yang sekarang menjadi konsep  umat Islam dan yang selama ini tidak pernah terpecahkan problemnya itu.

Misalnya terkait  dengan pembubaran Ahmadiyah?

Makanya saya katakan itu, seperti masalah-masalah yang pokok seperti Ahmadiyah, usaha mulai dilakukan  umat Islam di berbagai daerah untuk menerapkan syariat Islam. Ya itulah yang harus dikomunikasikan  dan  menjadi platform umat Islam untuk  semacam kontrak yang harus  disampaikan pada mereka. Kita lihat siapa sebenarnya mereka yang serius untuk mendapat dukungan pada umat Islam.  Kalau tidak ada, kita tidak perlu memberikan dukungan pada mereka .

Sepertinya mereka cuma mencari suara saja, menurut Anda?

Ya inilah susahnya kita untuk percaya. Tapi bahwa semua langkah ini sebenarnya harus kita lakukan bagaimana menbangum adanya kepercayaan  bersama antara ormas-ormas Islam, di  antara pimpinan umat Islam dengan capres. Siapa sebenarnya yang mempunyai komitmen yang sungguh-sungguh untuk kepentingan umat Islam yang akan datang ini.

Bagaimana agar Islam eksis di Indonesia?

Kalau mau bisa eksis atau tegak memang harus ada sebuah  kekuatan  yang memang sungguh-sungguh serius. Orientasinya hanya untuk Allah, Rasul dan akhirat. Jadi kalau di luar itu, akhirnya mereka itu akan terbeli. Artinya selama mereka orientasinya  pada kehidupan dunia akan terbeli baik dengan harta, tahta, dan wanita. Seperti di Surat Ali Imran ayat 14 itu kan memang sudah melekat di dalam jiwa manusia syahwat terhadap wanita, anak-anak dan harta benda. Itu kan bukan dalam bentuk tunggal, tapi jamak.

Nah kita membutuhkan seperti yang digambarkan oleh Ali Imran ayat 15 yaitu orang-orang yang samata-mata hidupnya itu orientasinya untuk Allah, Rasul, dan Akhirat. Nah, kalau muncul kekuatan yang seperti itu, itulah yang akan menjadi solusi bagi masa depan Indonesia. Jadi orang itu harus hidup dengan zuhud, wara’ dan dengan prinsip-prinsip hidup yang benar-benar dilandasi oleh prinsip-prinsip Islam dalam segala aspek kehidupan. Selama itu tidak ada, ya susah kita.

Tapi orang sekarang itu menjadi pragmatis. Menimbang-nimbang mana di antara kandidat presiden yang ada dengan maslahat yang lebih besar kepada umat. Kalau kita berpikir ideal ya tidak ada. Karena sampai sekarang ini siapa di antara mereka itu yang benar-benar mencintai Allah, mencintai Rasul, dan juga hidupnya semata-mata berorientasi di akhirat?

Bagaimana agar melahirkan calon-calon pemimpin yang berorientasi kepada Allah, Rasul dan akhirat?

Ketiadaan pemimpin yang cinta kepada Allah, Rasul, dan akhirat karena tahapan-tahapan dalam perjuangan itu tidak melalui tahapan yang jelas. Saya lihat memang belum ada yang beritiba’ secara serius kepada Rasul dalam perjuangan itu. Yang ada hanyalah orang-orang yang berpikir semata-mata kekuasaan. Kan dengan kekuasaan itu identik dengan ‘kemuliaan-kemuliaan’ di dunia. Itulah yang menyebabkan kita selalu gagal dan jauh dari apa yang kita cita-citakan itu.

Jadi memang harus ada kekuatan yang memang serius dan mereka membangun kekuatan dengan sabar menciptakan orang-orang yang memang berorientasi hanya mencintai Allah, Rasul dan akhirat. Jadi kalau masih digambarkan oleh Surat Ali Imran ayat 14 itu ya mereka besar secara politik, akhirnya terjadi politik dagang sapi lagi. Kemudian agama dengan prinsip-prinsip yang mulia itu tidak lagi menjadi rujukan untuk menjadi patokan di dalam berpolitik.

Nah perpolitikan semacam itu yang terus terulang kembali. Dan Islam yang sangat mulia dengan nilai-nilainya itu tidak pernah dijadikan konsep hidupnya secara konsisten. Karena memang tidak ada yang menjadikan Islam secara serius sebagai ajaran yang aplikatif dan diamalkan.

Bagimana contoh Rasul dalam melahirkan pemimpin yang islami yang menegakkan syariah Islam secara kaffah?

Kalau kita kembali melihat, membaca sejarahnya Rasul, itu kan intinya ada proses yang diawali oleh Rasul dengan membentuk akidah keimanan yang hanya berorientasi kepada Allah, Rasul dan akhirat. Jadi awal ayat-ayat Makkiyah itu sebenarnya membentuk generasi seperti itu. Sehingga mereka menghadirkan sebuah peradaban yang besar sampai sekarang ini. Yang bukan hanya berkembang di jazirah Arab tetapi di seluruh dunia.

Produknya adalah orang-orang yang memiliki prinsip dan pedoman hidup yang orientasinya itu hanya semata-mata mahabbah ilallah, ilarasul, dan ilaakhirah. Selama itu belum ada dan tujuannya hanya untuk kekayaan dunia, apalagi sekadar untuk kesejahteraan perut, jadi sama saja seperti binatang. Burung juga dikasih rezeki oleh Allah kalau sekadar begitu saja kan. Burung pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.

Jadi apa bedanya manusia dengan binatang kalau orientasinya hanya menyangkut masalah kesejahteraan, income perkapita, pertumbuhan ekonomi, dan standar kesejahteraan secara umum lainnya. Ya, kalau seperti itulah, manusia tidak ada bedanya dengan binatang. Jadi maksud saya itu, manusia harus mempunya orientasi yang lebih dari sekadar hanya nilai ekonomi.

Bagaimana agar lahir generasi yang tetap istiqamah?

Ya mereka harus dididik dan diciptakan melalui sebuah proses yang sungguh-sungguh dan serius. Mereka dikenalkan dengan prinsip-prinsip Islam ini agar mereka memahami dan kemudian mereka menerima dengan ikhlas dan mengamalkan prinsip-prinsip atau nilai-nilai yang mereka pahami dalam seluruh aspek kehidupan itu.

Bisa dicontohkan lebih teknis lagi?

Yaa… dalam Islamkan banyak dalam aspek ekonomi, politik, sosial termasuk aspek pendidikan, budaya. Banyak sekali prinsip-prinsip Islam itu. Dalam berpolitik saja kan mereka sekarang tidak menggunakan etika atau fatsun politik secara umum kan? Belum lagi dengan kaidah-kaidah politik secara Islam. Itu masih sangat jauh. Prinsip-prinsip moral yang secara umum saja itu belum mereka laksanakan. Yang ada sekarang itu adalah prinsip satu teori yang memang sekarang ini sudah menjadi suatu  kebiasaan yang dibilang oleh Nicolo Machiavelli sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Politik Machiavelli inilah yang saya lihat berkembang sekarang. Karena memang prinsip dasar dalam kita membangun kehidupan itu adalah materialisme itu sendiri, bukan berasal dari prinsip-prinsip ajaran Islam. Jadi sulit kita untuk membawa diri kita untuk kehidupan yang lebih baik dan beradab  ke depan. Kalau kita baca kembali pidato almarhum M. Natsir itu, prinsip yang menjadi dasar negeri ini ya sebenarnya prinsip sekularisme. Nah, untuk mengganti prinsip dasar ini harus ada suatu kekuatan.

Bagaimana agar masyarakat sadar, ya terutama politisinya agar mengganti sistem sekuler ini menjadi sistem Islam?

Ada banyak wasilah yang bisa digunakan,misalnya dengan menggunakan partai politik. Oke lah partai politik. Tetapi orientasi parpol ini seharusnya orientasinya tidak semata-mata kekuasaan. Karena kekuasaan juga sebuah instrumen, bukan tujuan akhir, yang digunakan untuk mencapai dan melaksanakan misi kehidupan manusia di dunia menjadi khalifatullah fil ardhi seperti yang termaktub dalam Surat Al Baqarah ayat 30. Tetapi sekarang orang berlomba-lomba an sich dalam rangka untuk mendapatkan kekuasaan.

Kekuasaan itu sendiri digunakan untuk apa? Kalau sekarang semua capres berorientasi kepada kesejahteraan. Artinya tujuannya itu hanya semata-mata materi. Bukan lagi bagaimana orang itu ya terkait perilakunya, kebiasaan-kebiasaannya, dasar filosofis dalam hidupnya itu, tidak ada yang pernah berbicara soal itu.

Kalau begitu kan, harus menciptakan generasi baru yang akan menerapkan syariah?

Ya. Sekarangkan banyak gerakan di Indonesia ini. Mereka punya model-model. Mereka punya metodologi dan manhaj yang bermacam-macam. Tapi bagaimana agar berbagai gerakan ini orientasinya adalah membangun, membentuk karakter orang yang orientasinya hanyalah mencintai Allah, Rasul dan akhirat. Sehingga mereka tidak bisa lagi disogok atau menggelembungkan anggaran karena kepentingan. Artinya semua yang dijalani itu harus terus membawa misi. Misi dalam hidupnya itu seorang Mukmin yang menjalankan misi yang diwajibkan oleh Allah SWT. Tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan ridha dari Allah SWT.  Itu sudah menjadi ultimate goal yang paling tinggi manusia.

Karena itu kita harus mendidik orang untuk menjadi paham dan berkomitmen terhadap Islam. Soalnya sekarang banyak orang yang paham tetapi tidak komitmen. Sekarang kan banyak ulama-ulama, tokoh-tokoh Islam. Tetapi mereka kan mengalami disorientasi kalau sudah menyangkut persoalan-persoalan yang prinsipil. Karena memang agama itu masih sangat parsial dalam kehidupan mereka. Artinya tidak secara total mereka pahami dan mereka amalkan sehingga menjadi suatu komitmen buat mereka. Komitmen yang seperti ini lah yang sangat sulit.

Jadi untuk bisa begitu, orang memang harus punya komitmen yang serius, sungguh-sungguh bahwa tujuan mereka itu adalah semata-mata hanya untuk Allah, Rasul dan akhirat.  Ya seperti apa yang kita baca ketika shalat, inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil ‘alamiin. Ya ucapan itu harus diwujudkan dalam semua aspek kehidupan mereka. Kalau mau serius begitu.

Memang persoalannya adalah bi’ah atau lingkungan kita yang sangat materialistik ini sehingga orang itu sulit untuk keluar dari sebuah lingkungan yang materialistik seperti sekarang.

Ada formula untuk keluar dari kungkungan materialisme sehingga dapat mewujudkan amanah dari Allah dan Rasul?

Kalau bagi saya ya tinggalkan saja semua sekarang. Mau itu disebut sistem, mau itu disebut ideologi, atau yang disebut dengan nilai-nilai apapun yang tidak islami, ya harus kita tinggalkan! Dan kita mulai tata kembali kehidupan ini dengan apa yang diinginkan oleh Allah dan Rasul dan menjadikan kehidupan kita di akhirat menjadi orang-orang yang mulia di sisi Allah SWT.[]

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: