Hizbut Tahrir Sadarkan AS Atas Runtuhnya Kapitalisme


Kelompok Hizbut Tahrir dalam salah satu konferensi untuk merubah sudut pandang Barat. (SuaraMedia News)WASHINGTON (SuaraMedia News) – Sebuah kelompok Islam politik internasional  menyelenggarakan konferensi pertamanya di AS pada hari Minggu, 19 Juli 2009, dengan tema “Runtuhnya Kapitalisme dan Bangkitnya Islam”. Konferensi ini terbuka untuk umum, Muslim dan nonmuslim, dan pengunjung pun tidak ditarik biaya.

Sponsor konferensi ini, Hizbut Tahrir, adalah sebuah organisasi yang telah dilarang keberadaannya di Jerman dan beberapa negara Timur Tengah karena sudut pandangnya. Kelompok ini kadangkala dianggap “ekstremis” dan “radikal” oleh sejumlah analis dan peneliti. Dalam sebuah wawancara telepon dengan CBS News, juru bicara deputi konferensi menekankan bahwa Hizbut Tahrir tidak menyebarkan ide-ide radikal atau menyerukan kekerasan.

“Itu semua hanya tuduhan,” ujar Reza Imam. “Catatan sejarah Hizbut Tahrir akan berbicara lebih keras daripada penjelasan yang dapat saya berikan,” tambahnya. Ia mengatakan kelompoknya tidak pernah mendapat tuntutan yang berkaitan dengan aktivitas kekerasan. Mereka juga telah menyatakan bahwa menyakiti warga sipil adalah perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Jeremy Binnie, seorang analis senior pemberontakan dan terorisme di Jane’s, sebuah kelompok informasi yang menyediakan konsultansi mengenai isu-isu strategis dan intelijen, mengatakan kelompok itu memiliki ide-ide yang serupa dengan kelompok-kelompok militan Islam mengenai pembentukan negara khalifah Islam yang berada di bawah hukum Islam. Yang membedakan adalah Hizbut Tahrir menentang upaya pencapaian tujuan tersebut melalui terorisme.

Hizbut Tahrir didirikan tahun 1952 dan memiliki cabang di banyak negara. Tujuan mereka adalah membentuk negara Islam dengan penduduk mayoritas Islam. Dari sana, kelompok ini berharap negara Islam akan menular ke negara-negara Muslim lainnya.

Di Barat, tujuan kelompok ini fokus pada penggalangan dukungan dan upaya rekrutmen anggota militer Muslim. Imam mengatakan peran kelompok ini di AS adalah “untuk mengingatkan Muslim pada budayanya” dan mempengaruhi opini publik di antara warga nonmuslim dengan menunjukkan “Islam sebagai sebuah jalan hidup”.

Salah seorang anggota Hizbut Tahrir di Inggris, Maajid Nawaz, bergabung dengan kelompok tersebut ketika usianya baru 16 tahun. Ia menjadi pengikut setia sekitar umur 20 tahun dan terlibat dalam kelompok tersebut selama 13 tahun. Tahun 2007, setelah mempelajari Islam selama beberapa tahun, Nawaz mengatakan, “Islam bukanlah agama seperti yang dibayangkan negara Barat. Semakin dalam saya mempelajari Islam, saya menjadi semakin toleran kepada agama lain.”

“Hizbut Tahrir bukan sebuah organisasi teroris, namun mereka memang meyakini penggunaan militer dalam negara-negara mayoritas Muslim,” jelasnya.

Imam mengatakan meski judul konferensi ini “Runtuhnya Kapitalisme dan Bangkitnya Islam” tidak berarti kelompok tersebut berpikir akan menjatuhkan kapitalisme. Konferensi ini menggarisbawahi perpecahan dalam kapitalisme yang dibuktikan dengan adanya krisis finansial global.

Ketika ditanya apakah ia benar-benar yakin rakyat Amerika siap menerima sistem ekonomi Islam, ia menanggapi, ”Menurut saya mereka telah siap dengan sepenuh hati,” menambahkan bahwa tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa Islam sebagai sebuah sistem ekonomi dapat menyelesaikan problem finansial yang kini dihadapi dunia. “Dunia sedang menanti sebuah alternatif.”

Jumlah pasti anggota kelompok ini di AS tidak diketahui, hal biasa bagi  sebuah kelompok internasional. “Organisasi kami adalah sebuah organisasi intelektual, sehingga siapa pun yang sepemikiran dengan kami adalah anggota kami,” ujar Imam.

Hizbut Tahrir tidak memiliki markas di AS dan tidak ada pemimpin, menambahkan bahwa mereka memiliki kehadiran yang cukup kuat di Chicago.

Untuk keuangan, Imam mengatakan Hizbut Tahrir tidak menggalang dana dan mendapat pemasukan melalui donasi yang berasal dari kontak personal.

Nawaz menjelaskan bahwa kelompok ini memiliki keuangan yang independen dan melalui apa yang ia sebut “peraturan donasi 10%”. Peraturan itu mengharuskan tiap anggota mendonasikan 10% dari pendapatannya tiap bulan untuk menopang aktivitas kelompok.

Di antara negara lain, Inggris mungkin yang paling kesulitan dalam memutuskan untuk melarang atau tidak kelompok ini.

Namun, karena kelompok ini tidak melakukan kekerasan apa pun, terdapat perdebatan mengenai apakah melarang mereka akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap kebebasan berekspresi terutama dalam masyarakat Barat.

Binnie yakin pemerintah Inggris mengawasi kelompok ini dengan ketat, terutama untuk mengecek  mereka yang mungkin meninggalkan Hizbut Tahrir dan bergabung dengan kelompok militan.

Tahun 2005, mantan perdana menteri Tony Blair berjanji akan melarang kelompok tersebut di bawah UU Terorisme yang baru. Fakta bahwa kelompok itu tidak melakukan kekerasan, membuatnya sulit dijerat dengan UU tersebut. Hizbut Tahrir masih beroperasi secara legal di Inggris dan akan menggelar konferensinya sendiri di London dan Birmingham tanggal 26 Juli dan 2 Agustus. (rin/cbn/prw) Dikutip oleh www.suaramedia.com

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: