Libatkan Yahudi, Monorail Saudi Lahirkan Kontroverasi


Salafy. Sebuah nama gerakan yang sering dipakai oleh pendukung Arab Saudi. Berisikan banyak syaikh dari Arab Saudi, telah mengkader banyak ustadz untuk disebar ke negeri-negeri islam yang subur gerakan islamnya, bukannya malah menyatukan, biasanya malah menyerang gerakan lain dengan istilah bid’ahnya. Kita bisa melihat secara politis bagaimana salafy adalah gerakan dari Arab Saudi dan pendukung setianya. Jika memang benar salafy adalah penegak tauhid dan sunnah, kemana suara dan dakwah mereka jika menemui par apenguasa Arab Saudi menyalahi tauhid dan sunnah. Sudah jelas dalam islam bahwa statsu Israel adalah kafir harbi yang wajib diperangi dan kaum muslimtidak boleh bekerjasama dengan mereka dalam bentuk apapun. Ternyata, Arab Saudi mempunyai hubungan spesial dengan Israel. Kemanakah para salafiun itu?

Arab Saudi mendapat kecaman berbagai Negara berpendudukan Islam setelah dianggap melihatkan Yahudi dalam proyek ini

Hidayatullah.com–Gulf News Rabu 03 Jun 2009 kemarin melaporkan rencana jalur kereta api antara Mekah dan Madinah akhirnya melahirkan kontroversi setelah ditengarai ada keterlibatan Yahudi.  Kejadian bermula ketika seorang pejabat Palestina mencoba untuk meyakinkan pihak berwenang Saudi untuk menarik kontrak proyek raksasa ini dari perusahaan yang diduga turut terlibat dalam ekspansi Israel di Yerusalem timur yang terjajah.

Pejabat kementerian luar negeri Palestina menyampaikan keberatan kepada pihak Saudi atas tindakannya yang dinilai  tidak terpuji karena menjalin kerjasama dalam proyek pembangunan jalur kereta Haramain Express dengan pihak konsorsium milik perusahaan Prancis, Alstom Transport.

Perlu diketahui, Alstom adalah bagian dari grup perusahaan yang membangun jaringan kereta api ringan di daerah pendudukan Yerusalem Timur dan pemukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat.

Pejabat Palestina mengatakan, pembicaraan dengan pemerintah Saudi dalam masalah ini masih terus berlangsung. “Pembicaraan dengan Saudi masih terus berlangsung,” ujar seorang pejabat  Palestina yang tidak bersedia disebut namanya. Dia tidak menjelaskan secara detil kepada wartawan hanya mengatakan bahwa isi pembicaraan tersebut berkenaan dengan keputusan Liga Arab yang melarang seluruh negara anggotanya untuk menjalin kerjasama dalam bentuk apapun dengan perusahaan yang membangun jalur kereta api di atas tanah Palestina.

Organisasi jalur kereta api Arab Saudi, yang menangani proyek ini  juga tidak bersedia memberikan keterangan.

Alstom dan Veolia, perusahaan Prancis lainnya yang terlibat dalam proyek di wilayah pendudukan Yerusalem, telah menjadi sasaran boikot di Eropa selama bebrapa tahun belakangan dan tengah menghadapi tuntutan hukum di Prancis yang diajukan oleh kelompok advokasi Association France – Palestina Solidarité dengan didukung oleh perwakilan Organisasi pembebasan Palestina (PLO) di Paris.

Alain Gresh, editor di harian Le Monde Diplomatique, mengatakan kontrak proyek rel kereta api Yerusalem tersebut jelas berhubungan dengan pemerintah Prancis karena ditandatangani di kantor duta besar Prancis untuk Israel, Gerard Araud.

“Pemerintah Perancis seharusnya tidak bisa mengabaikan hal tersebut begitu saja,” katanya.

Perwakilan PLO di Paris, Hind Khoury, mengatakan bahwa keterlibatan Alstom dalam proyek jalur kereta api Makkah–Madinah sangat meresahkan pemerintahan Palestina. Dia menambahkan ada mandat khusus dari presiden Palestina Mahmud Abbas untuk bertindak lebih agresif dalam menyikapi kasus tersebut.

Sejak 2005, pihak Palestina telah mencoba untuk membujuk Prancis untuk campur tangan dalam permasalahan tersebut. Abbas secara pribadi meminta keterlibatan langsung dari presiden Prancis saat itu, Jacques Chirac.

Pihak Palestina menekan Saudi untuk mundur dari kontrak mega proyek pembangunan jalur kereta api senilai 6 hingga 8 miliar riyal ($.1,81 miliar) yang  melibatkan Alstom Transport ini.

Pada bulan Maret 2006, Liga Arab juga telah memerintahkan jajaran kementerian di Khartoum untuk menyerukan agar para negara anggota turut berperan dalam menghentikan proyek trem Yerusalem terjajah dan jangan sampai menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Sejak saat itu, pemerintah Palestina lebih memfokuskan upayanya kepada negara-negara Arab agar tidak menuruti iming-iming kontrak dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembangunan jelur kereta api di Yerusalem terjajah, atau mendesak pemerintah Prancis untuk turun tangan.

Sementara itu, pendapat umum pada masyarakat Saudi juga mengatakan, mereka sangat tidak setuju dengan memberikan kontrak pada perusahaan yang masih memiliki hubungan dengan Yahudi atau ikut membantu Israel.

Dua Jam

Sebagaimana diketahui, pembangunan jalur kereta api untuk Jeddah-Mekah-Madinah sudah sangat siap dan sudah disepakati Majelis Anggaran Kerajaan Arab Saudi.  Dengan hadirnya jalur kereta ini, nantinya, jarak antara Mekah dan Madinah hanya ditempuh dua jam.

“Mekah-Jeddah hanya akan ditempuh setengah jam dan Madinah-Mekah atau Madinah-Jeddah akan ditempuh dalam waktu dua jam perjalanan yang menyenangkan,” kata Menteri Perhubungan dan Transportasi Kerajaan Arab Saudi Dr. Jabbara Ash-Sharaysiri.

Untuk proyek ini, anggaran yang disiapkan untuk itu mencapai 6,78 Milyar Riyal. Kecepatan kereta api mencapai 300 kilometer perjam.   [Gulf News/arb/cha/www.hidayatullah.com]

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: