DPR Ingin Tiru Parlemen AS Berlimpah Fasilitas


 

Masihkah anda akan percaya dengan para amggota parlemen? sungguh tidak berhati nurani, mereka tidak pernah mewakili rakyat. Lifestyle merka layaknya Raja, sedangkan rakyat sebagi hamba. Apakah masih layak untuk menyerukan memilih mereka?

Kalangan DPR berusaha mengubah citra negatif lembaganya. Sejumlah aturan tambahan terkait upaya peningkatan kinerja dewan siap dimasukkan dalam pembahasan RUU Susunan dan Kedudukan (Susduk) DPR. Kiblatnya adalah dua parlemen di negara maju, yaitu Amerikat Serikat (AS) dan Jerman.

Aturan tambahan yang siap disisipkan itu berasal dari bahan laporan dua tim Pansus RUU Susduk, yang baru saja pulang studi banding di kedua negara tersebut pada 25-26 Januari lalu.Paparan kedua tim, baik yang dari AS maupun Jerman, memang lebih banyak mengungkap berlimpahnya fasilitas dewan di sana. Di AS, misalnya. Setiap anggota memiliki staf ahli hingga 22 orang untuk masing-masing isu. Jumlah itu hampir sama dengan jumlah kementerian yang ada.

“Tidak hanya anggota, semuanya dibekali fasilitas, mulai Blackberry hingga laptop, yang biayanya diambilkan dari anggaran. Nah, kalau kita, laptop untuk anggota saja sudah jadi skandal,” ujar Wila Chandra Wila, salah seorang peserta studi banding, sambil tersenyum. 

Kemarin (3/2) kedua tim yang dipimpin masing-masing Wakil Ketua Pansus RUU Susduk Mufid Busyairi dan Nursanita Nasution tersebut menyampaikan paparan dalam rapat internal pansus.

“Ini bukan lagi masalah perlu atau tidak lagi, tapi sudah menjadi keharusan,” ujar Ketua Pansus RUU Susduk Ganjar Pranowo, memberikan tanggapan hasil laporan, di gedung DPR Senayan, Jakarta, kemarin. Menurut dia, pansus siap mengadopsi sejumlah sistem dan mekanisme yang dipakai kedua negara tersebut.

“Kita tidak perlu takut masyarakat marah. Selama ini kita belum bisa mengomunikasikan saja dengan mereka,” yakinnya kepada rapat pansus. Penambahan fasilitas kedewanan, lanjut dia, memang tidak bisa dihindari sebagai bagian dari upaya peningkatan kinerja dewan.

Secara umum, hampir semua anggota pansus sepakat untuk mengadopsi beberapa sistem di AS dan Jerman itu. Namun, anggota dari FKB Ida Fauziah mengingatkan bahwa tidak semua sistem di Jerman dan AS cocok dengan kondisi di Indonesia. Berbagai fasilitas memadai yang didapat anggota parlemen di sana tetap harus disesuaikan dengan kondisi di Indonesia.

“Sebab, parlemen di sana memiliki kehormatan dan kepercayaan dari publik yang sangat besar. Harus diakui, kita belum,” ujarnya. Karena itu, seluruh perbaikan sistem harus didasarkan pada semangat perbaikan kinerja, bukan semata penambahan fasilitas. 

 sumber: jawapos 
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: