Pembunuhan Marak Karena Sistem Sekuler


”Maraknya kasus pembunuhan di negeri ini adalah akibat dominannya kehidupan sekuler (kehidupan yang memisahkan agama dengan kehidupan dunia-red) dan gaya hidup hedonis serta semakin kuatnya gaya hidup materialistik, sehingga masyarakat menjauh dari ajaran-ajaran agama”. Demikian disampaikan oleh Sekjen Forum Umat Islam, KH Muhammad Al Khaththath pada Suara Islam, Rabu (30/1).

Selain itu kata, Al Khaththath, karena lemahnya tradisi amar ma’ruf nahyi munkar atau saling menasihati di antara warga masyarakat akibat sikap hidup mereka yang individualistis dan cuek.

Faktor lain yang juga tak kalah pentingnya adalah tidak diterapkannya sistem pidana Islam, yakni qishash atau balas mati. Padahal kata pengurus pusat MUI ini, bila Qishash ini dilaksanakan akan membuat publik berpikir seribu kali bila akan melakukan pembunuhan.

”Penerapan hukum qishash adalah untuk mencegah maraknya pembunuhan. Maka Allah Swt mengatakan walakum fil qishash hayatun yaa ulil albaab (sungguh di dalam qishash bagi kalian ada kehidupan),” ujar Al Khaththath.

Di tempat yang terpisah ketua PBNU, KH Hasyim Muzadi mengatakan pada wartawan bahwa balasan yang setimpal ditimpakan kepada pembunuh berantai adalah hukuman mati. ”Orang yang membunuh apalagi pembunuhan secara berantai menurut Islam harus dihukum mati. Ini bukan kejam tapi pembelaan HAM atas orang yang dimatiinnya,” ujar Hasyim Muzadi di Jakarta pada Rabu (30/7/2008).

Tuntutan agar pembunuh berantai itu dihukum mati belakangan mencuat setelah Verry Idham Henyaksah alias Ryan (30) mengaku telah melakukan pembunuhan berantai. Tersangka yang ditangkap dalam kasus pembunuhan dengan mutilasi, Heri Santoso, beberapa waktu lalu, ternyata juga telah membunuh secara keji sekitar sepuluh korban lainnya, termasuk pembunuhan terhadap teman fitnes tersangka serta putrinya beberapa waktu lalu. Sepuluh korban lainnya itu dikubur di sekitar halaman rumahnya di Dusun Maijo, Desa Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jawa Timur.

Dari bebeberapa kasus pembunuhan sadis yang marak belakangan ini, pembunuh yang dilakukan sang jagal Ryan yang juga seorang homo, memang termasuk kasus pembunuhan yang paling banyak mendapat perhatian publik. Karena korban yang dibunuh Ryan terbilang cukup banyak dan sadis. Bahkan halaman rumah Ryan pun seolah menjadi kuburan masal bagi para korban. Karena itu banyak pihak yang meminta Ryan dihukum mati.

Kita tahu beberapa pembunuhan sadis lainnya juga marak sekarang ini di antaranya adalah perampokan yang disertai pembunuhan, kasus pembunuhan anak oleh ibu kandungnya sendiri, pembunuhan ibu kandung, pembunuhan korban yang kemudian tubuhnya disimpan dalam koper seperti yang terjadi di Jakarta dan Bogor dan kasus terbaru pembunuhan seorang laki-laki gay di Jakarta dengan puluhan tusukan.

  1. #1 by hadi on August 4, 2008 - 4:52 am

    kenapa komen saya dihapus mas ayok?

    kenapa takut dg kebenaran? jelas2 si Ryan muslim dan guru ngaji.

    salah kalau saya bilang kita harus koreksi internal umat islam dulu?

    jangan cuma maunya nyalahin.. tapi dikritik gak mau

    memalukan

  2. #2 by Django on August 4, 2008 - 11:50 am

    Pemikiran mas ayok yg ditampilkan di situs ini, yg merupakan klaim atas syariat Islam, belum tentu syariat Islam yg sejati. Dia cuma meng-interpretasi-kan ajaran Islam. Cuma interpretasi. Banyak org muslim seperti ini, terutama kaum muda yg setengah mateng

  3. #3 by masayok on August 11, 2008 - 1:57 am

    @Hadi
    Maaf jika ke hapus, karena menurut saya kurang layak “tuduhan” tersebut.
    Kita harus amakan duu tentang “ngaji” dan “guru”.
    Ryan adalah guru belajar membaca iqro’ (bagaimana membaca huruf-huruf hijaiyah), tapi sya yakin ia sendiri tidak pernah paham arti bahasa qur’an.

    seperti ngajari cara baca bahasa inggris atau sangsekerta tetapi ga pernah paham apa areti bahsa tersebut. begitu

    sehingga penyudutan bahawa ia adalagh guru sebagaiaman guru mengajarkan ajaran qura’n tetu inii perlu diluruskan.
    Ia hanyalah guru belajar cara membaca huruh hijaiyah

  4. #4 by masayok on August 11, 2008 - 2:03 am

    Jangan menyudutkan Islam dengan pelaku yang “muslim”
    jika ingin tahu Islam ya harus tahu bagaimana Islam memandang perilaku.
    Karena mayoritas warga negara indonesia adalah muslim tetu banyak pelaku kejahatan ber KTP Islam

    bagaimana dengan di Barat?
    Di Amrik yang mayoritas Nasrani?

    Di Israel yang mayoritas Yahudi
    tau di Tahiland yang mayoritas Budha?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: