Preman Di Bebaskan, Aktivis Islam Di Tangkap


Ketidakadilan selalu terjadi pada ummat Islam ketika membela agamanya. Baik dan buruk pun sudah menjadi terbalik. Polisi hanya sebagai penjaga kemaksiatan bahakn sebagian telah menjadi bagian maksiat itu sendiri. sampai kapan ummat Islam akan terus begini? jika para pejabat dan aparat jauh dari islam?Persatuan ummat islam sungguh bukan lgi hal-hal yang bisa ditawar. Penyatuan gerak visi dan misi demi tegaknya  syariat allah di muka bumi adalah harga mati yang harus segera dilakukan. Islam tegak di jiwa-jiwa muslim yang bertaqwa, yang membelaagamanya dengan harta, tenaga bahakan nyawanya. Berikut ini peristiwa di daerah Jawa tengah, bagaimana perlakuan ketidakadilan aparat terhadap ummat Islam ketika membela agamanya dari serangan para  preman durjana.

Sikap para pemabuk itu benar-benar keterlaluan. Diingatkan bukannya sadar dan insyaf, malah melawan dan menghina. Mereka pun menebarkan teror dengan mengancam aktivis masjid. Akhirnya, bentrok pun terjadi antara preman pemabuk dan para aktivis masjid. Preman yang bernama Heru Yulianto alias Kipli tewas.Namun anehnya aktivis masjid malah dituduh membunuh. Sapa yang seharusnya ditangkap ? preman atau aktivis masjid
Tim Pengacara Muslim (TPM) bersama 25 aktivis yang ditangkap dalam insiden bentrok Joyosuran Maret lalu, melaporkan Kapoltabes Solo Kombes Pol A Syukrani kepada Kapolri Jenderal Pol Sutanto. Mereka menuding Kapoltabes bersama puluhan anggotanya melakukan tindakan kejahatan HAM saat penangkapan sejumlah aktivis masjid dalam insiden tersebut.

Selain melaporkan ke Kapolri, mereka juga melaporkan Kapoltabes ke DPR RI dan Komnas HAM Jakarta. Tombongan tersebut berangkat ke Jakarta kemarin.

Awod, komandan Brigade Hizbulah Kota Solo yang mendampingi 25 aktivis masjid itu ke Jakarta mengatakan, Kapolatbes memang tidak secara langsung menyiksa aktivis masjid yang ditangkap beberapa saat setelah bentrokan terjadi. Namun, sebagai pimpinan, dia harus bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukan anak buahnya.

Apalagi kata Awod, saat itu Syukrani melihat penyiksaan yang dilakukan oleh anak buahnya. “Kalau dia (kapoltabes,Red) tidak melihat itu, tentunya tidak akan kami laporkan,” katanya.

Sedangkan Direktur Eksekutif Fron Perlawanan Penculikan (FPP) Khalid Syaefulah mengatakan, laporan itu sebenarnya lebih ditujukan pada Poltabes sebagai institusi. Karena Kombespol A Syukrani menjadi pimpinan, maka dia menjadi orang yang berada dalam daftar urut nomor satu di laporan tersebut. “Kami sudah koordinasi dengan TPM. Dan TPM bersedia menjadi fasilitator,” kata Khalid yang juga menjadi pendamping keberangkatan 25 aktivis masjid itu.

Lebih jauh, dia mengatakan laporan ke DPR-RI, Komnas HAM, dan Kapolri itu merupakan tindak lanjut atas laporan sama ke Polda Jawa Tengah beberapa waktu lalu. Namun, karena Polda Jawa Tengah tidak menangggapi laporan itu, maka mereka memutuskan langsung melapor ke Jakarta. “Ada rencana ke presiden juga. Tapi kan prosedurnya mesti rumit. Jadi sementara itu tidak kami lakukan,”lanjutnya.

Khalid dan Awod berharap laporannya ke Jakarta akan mendapat tanggapan. Langkah itu, lanjut Khalid, bukan untuk balas dendam kepada polisi. Tapi merupakan bentuk pencarian keadilan serta pembelajaran hukum terhadap aparat penegak hukum.

Menurutnya, apa yang dilakukan polisi setelah meringkus 118 aktivis masjid itu sangat tidak pantas. Polisi seharusnya memberikan perlindungan, bukan malah memberi penyiksaan. Sementara itu, hingga kemarin malam, belum diperoleh konfirmasi dari Kapoltabes Solo Kombespol A Syukrani mengenai laporan aktivis masjid itu.

Kronologis Peristiwa

Edi Lukito, Ketua DPP Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), menjelaskan kronologi penyerangan para preman itu terhadap jamaah Masjid Muslimin, Kusumodilagan, Surakarta kepada Suara Islam. Ia mengatakan, bentrok massal itu diawali oleh peristiwa pada Sabtu, 8 Maret 2008, pukul 20.00 WIB. Kala itu, enam orang termasuk Kipli, sedang mabuk-mabukan di sekitar pertigaan Pasar Besi, Kusumodilagan.

Beberapa jamaah masjid yang berjarak “50 m dari tempat mereka mabuk, kemudian mengingatkan secara baik-baik agar para pemabuk itu tidak mabuk di tempat itu. Para pemabuk itu pun pergi. Namun ketika pergi itu mereka mengeluarkan kata-kata kotor (Jawa: misuh-misuh).

Permasalahan tidak lantas berakhir. Di waktu yang lain, Kipli mendatangi rumah Abu Hurairah sambil membawa pedang. Ia menggedor pintu rumah Abu Hurairah sambil berkata, “Mana Abu Hurairah, tak patenane! (mau saya bunuh!)”

Ia kemudian mondar-mandir di depan Masjid Muslimin sambil membawa pedang dan berkata, “Mana sih orang Islam, tak cukur jenggotnya, tak slomot (mau saya sundut) rokok mukanya.” Kejadian tersebut disaksikan oleh jamaah masjid dan warga sekitar.

Pada Kamis, 11 Maret 2008, pukul 20.00 WIB di sekitar pertigaan daerah Pasar Besi Kusumodilagan, tiga orang pemuda termasuk Kipli kembali mabuk. Ia kembali diingatkan. Namun yang terjadi ia justru mengancam dengan membawa senjata tajam (2 bilah pedang) dan kembali mencari Abu Hurairah.

Ahad, 15 Maret 2008, pukul 19.30 WIB, mereka mengulangi ancamannnya terhadap Abu Huroiroh. Ia katanya akan membunuhnya.

Pada Senin, 17 Maret 2008, sejak pukul 18.30 hingga 21.00 WIB para preman yang jumlahnya lebih kurang 50 orang itu berkumpul dan mereka pun mabuk. Mereka diduga akan menyerang Masjid Muslimin.

Mengetahui hal itu, jamaah masjid pun berjaga-jaga. Mereka kurang lebih 50 orang. Salah seorang jamaah kemudian menelpon Polsekta Pasar Kliwon dan diterima polisi jaga bernama Samingun. Namun aparat kepolisian tidak segera merespon aduan itu.

Sementara itu, sepuluh orang jamaah masjid memantau situasi di jalan utara Masjid Muslimin. Dari arah timur, tampak kelompok yang dipimpin Kipli semakin banyak. Sebagian membawa pedang dan pentungan. Salah seorang anggota jamaah kembali menelpon polisi, kali ini ke Kasat Intel Poltabes, Jaka Wibawa. Jawabannya, Jaka berjanji untuk segera mengirim aparatnya ke lokasi.

Saat itu tiba-tiba kelompok Kipli merangsek ke arah barat sambil mengacung-ngacungkan pedang. Sepuluh orang jamaah yang berjaga-jaga dan memantau gerak gerik kelompok preman itu spontan bertakbir. Mendengar takbir, jamaah segera keluar dari masjid.

Para pemabuk dan preman dengan menggunakan senjata berupa pedang, besi dan lainnya langsung menyerang jamaah masjid yang ada tepat di jalan utara Masjid Muslimin. Mendapat serangan seperti itu, jamaah masjid terpaksa membela diri. Tawuran pun tak dapat di hindarkan. Sayangnya aparat tak kunjung datang. Polisi justru datang setelah bentrokan selesai.

Perlakukan Sewenang-wenang

Setelah tawuran, sebagian besar jamaah membubarkan diri dan sebagian kecil berjaga-jaga di masjid. Penyerangan oleh preman itu mengundang simpati beberapa elemen masyarakat untuk berpartisipasi menjaga Masjid Muslimin. Pada saat seperti itu, tersiar kabar Kipli mati di rumah sakit Kustati.

Penjagaan aparat semakin bertambah. Polisi kemudian mendekat ke Masjid Muslimin. Tiba-tiba aparat kepolisian itu meminta jamaah masjid yang ada di dalam masjid segera keluar untuk kemudian dibawa ke Poltabes. Beberapa elemen yang bersimpati dan berjaga di luar masjid Muslimin pun ditangkap paksa dan diangkut dengan truk Dalmas ke Poltabes. Mereka ditangkap tanpa dilengkapi surat penangkapan. Atas bujukan dua orang negosiator yang di dalam masjid akhirnya sebanyak 117 orang terpaksa keluar menuju truk Dalmas dengan jaminan tidak diperlakukan sewenang-wenang oleh aparat. Untuk membuktikan janji polisi itu, beberapa takmir masjid memantaunya ke Poltabes.

Namun janji polisi itu bohong. Polisi menurunkan para jamaah masjid itu dengan tendangan, injakan dan pukulan serta makian. Kata-kata kotor pun keluar dari lisan oknum polisi seperti: ”Bajingan, whedus-whedus “embeeek”(kambing), kethek-kethek (monyet). Ini mau jihad atau mau perang?”

Bahkan, menurut Edi Lukito, bendera tauhid Islam yang bertuliskan La illaha ilallah pun diperlakukan tidak sewajarnya. Jamaah masjid ini lalu disuruh melepas baju/kaos dan berjalan sambil jongkok dari halaman Reskrim menuju aula Reskrim lantai dua, sambil ditendang aparat. Melihat kejadian ini beberapa orang takmir masjid meminta kepada salah seorang Kanit di intel, Syakir dan Kanit di Reskrim, AKP Digdo Kristanto untuk menghentikan perlakuan sewenang-wenang tersebut. “Tetapi kami justru diusir dari lokasi tersebut. Kami pun pulang namun penganiayaan secara bersama-sama yang dipimpin AKP Antonius Digdo Kristanto itu terus berlanjut,” ujar Edi. (pa)

Dakta.com

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: