“Umi di rumah Yah, jaga adek, Azzam mau pergi cari Abi….!!”


Akibat dari War on terrorisme nya AS, warga Indonesia pun tak luput dari korbannya. Hak-hak hukum warga sipil pun bisa tidak diberlakukan ketika seseorang di”cap” sebagai teroris. Beginikah keadilan dari HAM yang mereka dengung-dengungkan?

Dakta.com–bagaimanakah nasib istri dan anak-anak para aktivis islam yang diduga “teroris”, yang ditangkap Densus 88 Antiteror Mabes Polri awal Juli lalu? Ternyata Sungguh miris. Mereka bertahan hidup mengandalkan bantuan dari tetangga. Sementara beban pikiran kian menggunung karena nasib sang suami dan ayah mereka belum jelas juntrungannya.

Christin dengan semangat melangkahkan kaki di Mapolda Sumsel, Kamis (10/7). Si bungsu yang masih berusia dua bulan dipeluk erat. Ia datang bermaksud mengajukan protes dan menanyakan kabar suaminya, Agustiawarman yang ditangkap pekan lalu.

Ibu lima anak ini mengenakan baju terusan warna putih dipadu cadar putih. Penampilan Islami yang hampir seluruh badannya–kecuali mata–tidak dapat menyembunyikan suasana hati yang sedang bersedih. Kelopak matanya memerah. “Tidak, saya tidak nangis. Saya memang sedih ditinggal suami,” kata Christin.

Ia datang bersama istri aktivis islam lainnya yang juga ditangkap densus 88 dan ditemani Tim Advokasi Martabat Umat (Tamat) untuk bersilahturahmi dengan Kapolda Sumsel Irjen Pol Ito Sumardi dan Forum Umat Islam (FUI) Sumsel. Awalnya Christin enggan bercerita saat dibincangi, tapi setelah diyakinkan tujuan wawancara tidak bermaksud buruk, ia mulai terbuka.

Manurut Christin, sejak ditinggal pergi suami kehidupan keluarganya jauh dari kebahagiaan. Tidak ada lagi sosok suami tampat ia berbagi cerita dan canda bersama lima anaknya. Christin sendirian mengurus anak-anaknya yang masih kecil.
Agustiawarman, ditangkap ditangkap Densus 88 dikediamannya Jl Ponorogo Lr Buntu RT 054 RW 7 Kelurahan Sukajaya Kecamatan Sukarami, Selasa (1/7) lalu sekitar pukul 18.30. Sejak itulah, tidak ada lagi pemimpin keluarga yang mencarikan nafkah.

“Saya pernah kuliah, tapi dulu suami melarang saya kerja. Sekarang jadi susah, tidak ada yang cari uang,” katanya.
Beban hidup diakui kian bertambah ketika melihat tatapan mata beberapa tetangga yang mencemooh keberadaannya. Padahal, kata Christin, suaminya bukanlah teroris seperti yang dituduhkan polisi. Namun, di tengah keprihatinan, masih ada tetangga yang berempati. “Saya dibantu tetangga. Ada yang beri uang, ada juga yang kasih beras. Untunglah. Di dunia ini orang memang ada dua, yang baik dan jahat,” katanya lirih.

Christin kembali menuturkan proses penangkapan suaminya yang dramatis. Betapa Christin sangat kaget melihat polisi masuk ke rumah menangkap Agus yang saat itu sedang makan mi sembari menggendong putra bungsunya. Saat itu, kata Christin, suaminya hanya meninggalkan uang sebesar Rp 60 ribu. “Di rumah masih ada uang Rp 1 juta. Itu rencananya untuk bayar utang. Tapi belum saya bayarkan, untuk jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak,” ujarnya.

Hal senada dikatakan Sayuti, istri tersangka Fajar Taslim yang membawa serta dua anaknya. Sayuti mengakui, bantuan dari tetangga tempatnya menetap di RSS Komplek Megah Asri II Kelurahan Sukajadi, sangat membantu. “Untunglah mereka baik semua, beri saya uang dan beras. Alhamdulillah tidak ada tetangga yang mengintimidasi keluarga saya,” katanya.

Sayuti menuturkan, Azzam, putranya, pernah dengan wajah yang sangat serius keluar dari rumah dan memakai sepatu. Azzam berkata, Umi di rumah saja, jaga adek, Azzam mau pergi cari Abi. “Betapa tidak hati saya bertambah sedih. Belum lagi, kalau anak saya yang kedua ini, sering kalau ada pria yang melintas diikutinya, karena dikira Abinya,” ujar Sayuti.
Sayuti saat ini dilanda kebingungan akan tingal di mana. Kontrakan rumah tiga bulan lagi habis. Ia memilih tidak menghubungi keluarganya di Rembang. Sementaara keluarga mertuanya, hingga saat ini belum mengontak.

“Biarlah saya tanggung sendiri. Pernah anak saya bertanya kemana Abi, Umi? Saya jawab saja Abi kerja dan tidak pulang-pulang. Kami jarang makan. Paling kalau lapar sehari sekali kami masak mi,” kata wanita yang sedang hamil lima bulan ini.
Sementara Fatimah alias Juju, istri tersangka Abdurahman, mengaku masih trauma dan belum bisa menerima suaminya ditangkap karena terlibat terorisme. Menurut dia, suami saya itu orang baik-baik.

“Saya tidak menyangka keluarga kami akan mengalami nasib seperti ini. Kemarin saat menangkap suami saya polisi juga ambil botol minyak wangi karena suami saya memang jualan parfum dan ada ponsel serta motor,” katanya.
Para istri tersangka teroris itu meninggalkan Mapolda Sumsel, sebelum acara silaturahmi antara Kapolda, FUI dan Tamat, selesai.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: