M. Ismail Yusanto:Tokoh-Tokoh Islam Harus Bersatu Padu


Insiden Monas membawa berkah tersendiri, ummat Islam mulai berpikir tentang nasib Islam jik tidak ada pembelanya. Pemerintah selama ini belum berpihak terhadap ummat dan malah membiarkan pemicu konflik terus hidup di masyarakat. Siapa lagi pemicu konflik tersebut jika bukan kaumsekuler liberal yang inginmengadu domba ummat dengan terus membela dan menumbuhsuburkan aliran atau ajaran yang berseberangan dengan Islam. Liberal radikal sengaja membuat konflik di tengah ummat dengan pemikiran-pemikiran yang diluar Islam, diadopsi seolah-olah menjadi bagian dari Islam, termasuk kebebasan berkeyakinan untuk mebela Ahmadiyah. Bersatulah para ulama-ulam Islam penjaga Qur’an dan sunnah secara murni dan konsekuen.

images.jpgHTI-Press.Jakarta. Ustadz Ismail Yusanto, Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia menengarai ada pihak-pihak tertentu yang berusaha memecah belah umat dengan mengalihkan isu Insiden Monas itu menjadi isu pembubaran FPI. Menurutnya, ini adalah bukti kesekian kali dari kelompok sekuler untuk melakukan politik belah bambu, devide et impera. Ada yang ditekan dan ada yang diangkat-angkat. Ini juga khas dari politik neoimperialisme dan neokolonialisme. Mereka memanfaatkan Insiden Monas ini untuk memecah belah umat. “Nah umat Islam, ormas Islam dan tokoh-tokohnya harus bersatu padu, dan tidak boleh bercerai berai,” ujar Ustadz Ismail. Berikut petikan wancaranya dengan Abu Ziad di Jakarta beberapa waktu lalu.

Komentar Anda terhadap Insiden Monas?

Yang pertama, tentu kita sangat prihatin atas terjadinya Insiden Monas. Semestinya insiden semacam itu tidak perlu terjadi bila saja pemerintah bersikap tegas terhadap Ahmadiyah jauh-jauh hari. Karena sesungguhnya menurut saya perangkat yang diperlukan pemerintah untuk segera membubarkan Ahmadiyah itu lebih dari cukup.

Sudah ada dialog dalam 12 putaran, kemudian sudah ada komitmen 12 poin dari Ahmadiyah sendiri. Sudah ada 3 bulan kesempatan untuk membuktikan komitmen 12 poin itu, sekaligus selama tiga bulan juga dilakukan pemantauan oleh petugas dari pemerintah, yakni Bakorpakem. Dari hasil pemantauan itu Bakorpakem sudah mengambil kesimpulan bahwa Ahmdiyah itu memang menyimpang dari Islam. Karenanya sekali lagi saya melihat perangkat untuk mengambil keputusan itu lebih dari cukup. Semestinya setelah Bakorpakem menyatakan bahwa Ahmadiyah itu menyimpang, maka segera dikeluarkan apa yang mereka sebut sendiri dalam keputusan itu, SKB tiga menteri. Tapi yang terjadi kan ini ditunda-tunda. Pemerintah bilang minggu depan, ternyata minggu depan tidak. Terus minggu depannya lagi, ternyata juga tidak, sampai sekarang ini. Berarti sudah lebih dari satu satu bulan berlalu sejak pemerintah berjanji akan segera mengeluarkan SKB.

Artinya insiden itu akarnya adalah kelambanan dari pemerintah menuntaskan kasus Ahmadiyah?

Ya, kelambanan pemerintah itulah yang menimbulkan ketidakpastian di tengah-tengah masyarakat. Nah situasi ketidakpastian itu dengan mudah memancing ketegangan. Apalagi pemerintah berulang kali minta supaya berbagai pihak tidak melakukan tindakan sendiri-sendiri. Harus menahan diri segala macam. Nah ketegangan itu saya kira memuncak pada peristiwa Monas kemarin.

Insiden itu juga tak perlu terjadi andai tidak ada provokasi dari kelompok pro Ahmadiyah yang mengatasnamakan diri Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB). Provokasi itu sudah dimulai sejak pemasangan iklan besar-besaran di berbagai media massa, yang dari narasi atau redaksi publikasi itu sendiri sudah memancing reaksi dari kelompok lain karena di dalamnya ada tuduhan bahwa ada kelompok-kelompok yang akan mengganti Pancasila dan segala macam. Provokasi semakin bertambah ketika dalam aksinya mereka nyata-nyata mengatakan Komando Laskar Islam sebagai laskar setan, laskar kafir. Ditambah lagi dengan letusan senjata api dari tengah-tengah massa AKKBB.

Pasca insiden itu mulai muncul konflik horizontal terutama antara pendukung Gusdur dengan FPI, apa Anda melihat ada upaya pemecah belahan dari komparador asing?

Ya itu tampak sekali. Bahwa akibat insiden itu ada sejumlah korban, dan dari korban itu ada tokoh dari pesantren NU, memang kenyataannya seperti itu. Memang begitulah akibat dari sebuah insiden. Wajar. Nah yang tidak wajar adalah ketika peristiwa itu lantas dieksploitasi sebegitu rupa pada arah yang jelas sekali diliputi oleh sebuah maksud yang saya katakana sangat jahat. Pertama, insiden ini dibawa kepada isu penistaan, penghinaan atau penyiksaan tokoh NU, karenanya kemudian muncul reaksi dari keluarga besar NU. Dan ini terus menerus diblow up oleh media massa, dan memang ada sejumlah media massa cetak dan elektronik yang tampak sekali mengeksploitasi hal itu untuk menimbulkan amarah bagi keluarga besar NU. Tampaknya itu berhasil. Hingga kemudian muncul amarah yuang luar biasa, karena ungkapan-ungkapan dan komentar dari sejumlah tokoh yang memang sangat provokatif. Padahal kan kejadian sesungguhnya tidak seperti itu. Ini bukan penistaan terhadap tokoh NU. Ini sebuah insiden, maka siapa pun juga bisa terkena.

Saya katakan ini provokasi jahat, mengapa? Karena KH Hasyim Muzadi sendiri sudah menolak mengaitkan NU dengan Insiden Monas. Insiden Monas tidak ada hubungannya dengan NU. Dia juga sudah mewanti-wanti agar jangan sampai warga NU itu terprovokasi. Dia juga mengingatkan orang supaya tidak memprovokasi keluarga besar NU untuk bereaksi secara berlebihan. Bahwa ada sejumlah warga NU marah menunjukkan ada orang yang memang memanfaatkan insiden ini, lalu mengaitkannya dengan NU supaya menimbulkan gelombang kemarahan yang luar biasa dari warga NU. Jadi kalau dikatakan pecah belah, iya, jelas.

Termasuk isu pembubaran FPI?

Ya, ada upaya sistematis untuk menggeser isu dari sekadar insiden menjadi isu pembubaran FPI. Bahwa insiden itu dilakukan oleh teman-teman laskar FPI itu adalah fakta. Tetapi fakta kekerasan itu tidaklah bisa serta merta dijadikan dasar untuk mempersoalkan eksistensi sebuah lembaga atau sebuah institusi. Mengapa? Karena kalau begitu cara berfikirnya maka berbahaya sekali. Polisi kemarin baru saja melakukan kekerasan di Kampus UNAS, apakah kemudian polisi harus dibubarkan? Kemudian juga ada banyak aksi kekerasan menyusul Pilkada. Di Tuban, karena calonnya kalah dalam Pilkada, massa PDIP menghancurkan pendopo kabupaten, membakar rumah bupati terpilih. Apakah kemudian bisa diterima kalau PDIP dibubarkan? Dan massa PDIP melakukan tindakan anarkis bukan hanya sekali. Ketika Megawati kalah dalam pemilihan presiden di MPR melawan Gusdur, juga terjadi anarkisme di Solo. Rumah Pak Amien dibakar. Jadi kalau kita melihat skala kekerasannya, yang mereka lakukan jauh lebih besar daripada yang dilakukan FPI. Yang dilakukan FPI, yang luka-luka paling kira dua puluh, tiga puluh, atau ada yang bilang 70. Oke lah itu soal angka. Tapi kan tidak sampai ekskalasinya sebagaimana anarkisme yang terjadi di Tuban. Bila karena Insiden Monas FPI dibubarkan, mestinya PDIP juga harus dibubarkan. Tapi ini terus dihembuskan dengan sangat intensif. Saya juga melihat ada provokasi-provokasi yang terus menerus dengan memanfaakan massa NU tadi itu.

Apa tujuannya ideologis?

Sudah jelas nampak bahwa ini tujuannya ideologis. Battle ground (medan pertarungan) sesungguhnya bersifat ideologis. Insiden Monas sesungguhnya adalah percikan dari benturan antara arus liberalisme dan Islamisme. Isu Ahmadiyah hanyalah case (kasus) yang mendorong kelompok liberalisme untuk bergerak memberikan reaksi, sebagaimana yang mereka lakukan dalam kasus RUU APP. Dalam pandangan mereka, bila Ahmadiyah berhasil dibubarkan, ini bakal menjadi preseden buruk, yakni menangnya arus Islamisme terhadap liberalisme. Oleh karena itu mereka menggunakan berbagai cara untuk menghentikannya. Apel Akbar AKKBB hanyalah satu caranya. Dengan mengambil momentum peringatan Kelahiran Pancasila 1 Juni, mereka ingin mengasosiasikan bahwa ada ancaman terhadap Pancasila dan keutuhan Indonesia. Pencantuman sejumlah nama beken dalam iklan separoh halaman di sejumlah media cetak hanyalah cara untuk menunjukkan seolah gagasan mereka didukung oleh figur-figur tersebut.

Mereka lantas mencoba untuk membenturkan antara kelompok-kelompok yang mereka tidak sukai, yaitu kelompok yang sangat kokoh dalam mengeluarkan aspirasi Islam termasuk pembubaran Ahmadiyah, itu dengan jargon-jargon yang sangat populer di masa Orde Baru seperti anti Pancasila, anti NKRI segala macam. Padahal apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam itu adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar. Itu adalah perintah Allah SWT. Bukankah ini sesuai dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa? Termasuk juga ketika kita menolak BBM, sesungguhnya ini merupakan penolakan terhadap ketidakadilan, dan ini sesuai dengan falsafah dari sila-sila Pancasila itu.

Membenturkan dengan Pancasila adalah upaya untuk menstigmasi kelompok-kelompok Islam agar posisi tersudut. Dengan isu anti Pancasila mereka berharap supaya mendapat dukungan seolah-olah betul bahwa kelompok-kelompok ini membahayakan Pancasila, membahayakan negara. Padahal patut dipertanyakan siapa sebenarnya yang selama ini berkolaborasi dan menjadi kaki tangan agen asing?

Apa Anda menduga ini disengaja untuk mengalihkan isu seperti kenaikan BBM dan pembubaran Ahmadiyah?

Oh itu jelas. Jelas sekali. Faktanya memang lantas sekarang ini isu kenaikan BBM tenggelam Tapi saya kira rakyat tidak terlalu bodoh. Bahwa selepas ini saya kira isu itu akan mencuat lagi. Dan tuntutan pembubaran Ahmadiyah mungkin akan lebih keras lagi disuarakan. Tidak kurang Ketua DPR Agung Laksono sendiri menilai bahwa akar masalahnya adalah kelambanan pemerintah dalam soal Ahmadiyah. Saya yakin soal BBM itu kan tidak bisa dihilangkan sekadar ditutupi dengan isu Insiden Monas karena kenaikan BBM sangat dirasakan memberatkan masyarakat. Saya kira nanti akan mencuat lagi.

Lalu apa yang mesti dilakukan tokoh Islam meredam itu?

Iya, perlu dipahami bahwa ini adalah bukti kesekian dari kelompok sekuler dalam melakukan politik belah bambu, devide et impera. Ada yang ditekan dan ada yang diangkat-angkat. Ini khas dari politik neoimperialisme dan neokolonialisme. Dalam rangka menguasai negara ini memang harus ada yang ditekan dan ada yang harus diangkat. Nah mereka memanfaatkan insiden Monas ini untuk memecah belah umat. Oleh karena itu maka penting sekali tokoh-tokoh Islam tidak menambah keruhnya suasana dengan memberi komentar-komentar yang menyudutkan FPI atau siapa pun dalam kasus Monas.

Bahwa kekerasan itu tidak bisa diterima itu sudah sangat jelas, dan Habib Rizieq pun tegas mengatakan kalau salah maka mereka siap bertanggung jawab. Dan sekarang sejumlah anggota FPI kan sudah ditahan oleh polisi. Jadi persoalannya sederhana. Bisa diselesaikan. Yang jadi soal kan rangkaian selanjutnya. Kalau ini tidak disikapi secara bijak oleh tokoh-tokoh umat maka itu akan memicu terjadinya disintegrasi sosial, khususnya antara keluarga besar NU dengan FPI dan kelompok yang bersimpati dengan perjuangan FPI.

Kini penting untuk kita menyatukan langkah, bahwa di hadapan kita memang kekuatan yang mendukung liberalisme, baik liberalisme di bidang agama, politik, ekonomi, politik, sosial dan budaya sudah sedemikian nyata. Umat Islam, ormas Islam dan tokoh-tokohnya harus bersatu padu, dan tidak boleh bercerai berai. Ini adalah momentum yang sangat berharga untuk kita menyatukan langkah. Kondisi ini memberikan kita berkah terselubung. Memang ada nada kesedihan, kegetiran, tapi sesungguhnya ini menyikap tabir, bahwa siapa sesungguhnya orang-orang yang selama ini memendam kebencian terhadap Islam. Tokoh-tokohnya pun mulai terkuak. Karena itu, saya pikir harus ada langkah-langkah yang terpadu dari tokoh-tokoh Islam untuk menghadapi ini semua dan yang paling penting adalah bagaimana syariah dan khilafah bisa tegak karena semua kemelut ini berpangkal dari sistem sekuler dan kepemimpinan yang tidak berpihak pada Islam.

Tampaknya ada upaya menyeret HTI dalam kasus ini?

Kita memang sudah menenggarai ada upaya dari mereka untuk melanjutkan isu ini bukan hanya sampai pada FPI tapi kepada kelompok lain yang akan dijadikan sasaran tembak, bahkan kalau bisa sampai dibubarkan. Misalnya Goenawan Muhamad sudah mulai angkat bicara. Di tvone, ia mengatakan selain FPI, sebenarnya Hizbut Tahrir juga sebenarnya tidak layak hidup di Indonesia, sebab di Timur Tengah saja juga dilarang. Ada masalah apa, tiba-tiba Goenawan Muhamad ngomong seperti itu? Lalu tanpa dasar Asvinawati Direktur LBH Jakarta mengatakan bahwa ini dilakukan oleh massa HTI.

Saya perlu tegaskan di sini Hizbut Tahrir Indonesia tidak terlibat dalam insiden itu. HTI pada waktu yang sama saat itu sedang melaksanakan demo besar tolak kenaikan BBM. Insiden Monas itu melibatkan laskar dari Komando Laskar Islam, yang terdiri dari Laskar Pembela Islam, Gerakan Reformis Islam (Garis), Gerakan Anti Pemurtadan (GAP), Missi Islam, Hizbullah dan Laskar Majelis Mujahidin. Jadi Hizbut Tahrir tidak ikut dalam lascar itu, karena memang HTI tidak punya laskar. Tapi ada saja orang-orang yang penuh kebencian di dalam hatinya untuk coba menarik-narik HTI. Tujuannya jelas, HTI jadi sasaran tembak.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: