Deplu: Asing Jangan Terlalu Ikut Campur Soal Insiden Monas


Eramuslim–Aksi kekerasan sekelompok orang beratribut Front Pembela Islam (FPI) di Jakarta 1 Juni lalu, mendapat sorotan media Australia.

Departemen Luar Negeri meminta agar tanggapan yang dikeluarkan oleh media asing tidak terlalu mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dalam menyelesaikan kasus bentrokan Monas tersebut.

“Saya rasa kalau sekedar menanggapi itu wajar-wajar saja, semua negara mempunyai pertimbangan masing-masing untuk menyampaikan suatu tanggapan, dan selama tanggapan itu tidak mencampuri urusan dalam negeri Indonesia dalam penanganan satu isu, ” ujar Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah kepada pers, di Kantor Deplu, Jakarta.

Menurutnya, tanggapan itu akan lebih pas diberikan, apabila dalam suatu peristiwa menimbulkan korban dari warga negara mereka sudah sewajarnya akan bereaksi, namun dalam insiden ini secara umum tidak ada yang berhubungan langsung dengan warga asing.

Dalam kesempatan itu, Faiza menyayangkan, terjadinya kembali peristiwa kekerasan di tanah air, yang dikhawatirkan akan memunculkan citra negatif di luar negeri.

“Kita berharap tidak terjadi hal-hal seperti ini, karena akan disorot media dan pemerintah asing yang akan mengganggu upaya kita untuk memunculkan citra positif Indonesia, yang selama ini diupayakan dengan jerih payah yang tidak mudah untuk membangun citra positif itu, bukan satu hal yang sederhana, ” tandasnya.

Meski demikian, Ia mengakui, citra negatif itu juga tidak terlepas dari pemberitaan yang serba instan dan cepat menjadi konsumsi masyarakat internasional.

“Bayangkan apa yang terjadi kalau pemberitaan itu berimbas pada travel restriction atau travel ben, itu sangat kita sayangkan, kalau isu itu melebar, ” pungkasnya.

Harian nasional “The Australian” dan jaringan pemberitaan “ABC” edisi Selasa menurunkan berita seputar ancaman FPI maupun tekanan terhadap pemerintah RI yang dianggap gagal menindak FPI.

Melalui korespondennya di Jakarta, Stephen Fitzpatrick, Suratkabar “The Australian” menurunkan berita berjudul “We`ll wage war: Indonesian Muslim hardliners” (Kami Akan Nyatakan Perang: Para Muslim Indonesia Garis Keras.” (novel)

  1. #1 by dani on June 5, 2008 - 9:31 am

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Ustadz, saya mau menanyakan mengenai masalah FPI. Saya sebenarnya salut terhadap pergerakan mereka yang langsung terjun memberantas kemaksiatan dimasyarakat.

    Tetapi saya melihat di media TV kelompok tersebut tidak terkendali sampai melakukan tindakan anarkis seperti merusak bus/kendaraan yang dikendarai oleh sebuah kelompok partai yang dianggap beraliran Komunis.

    Ustadz, apakah FPI itu sebenarnya dan apakah jalur dakwah mereka baik?

    Akhwat

    Jawaban

    Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Sebenarnya yang paling berhak untuk menjawab pertanyaan anda adalah teman-teman dari FPI sendiri, bukan kami. Namun kalau sekedar memberi komentar sekilas yang mungkin benar dan mungkin tidak, kira-kira jawabannya begini:

    Apa yang anda lihat tentang ‘aksi-aksi anarkis’ Front Pembela Islam (FPI) di media, tidak pernah lepas dari penilaian subjektif dan objektif media itu sendiri. Kalau kesannya aksi-aksi itu anarkis, memang liputanya memang dibuat sedemikian rupa, setidaknya kesan anarkis itu memang diekspose, entah tujuannya untuk memojokkan posisi FPI, atau untuk menggambarkan betapa umat Islam itu anarkis atau memang sekedar kerjaan insan media yang haus sensasi.

    Yang terakhir itu dimungkinkan karena karekteristik media, terutama televisi memang butuh liputan dan gambar yang sensasional. Gambar-gambar yang menampilkan proses awal di mana para anggota FPI sedang melakukan negosiasi kepada para pemilik tempat hiburan yang secara hukum memang melanggar peraturan resmi, nyaris tidak menarik untuk ditampilkan.

    Tetapi ketika pihak pengelola tempat hiburan melakukan pelemparan dan provokasi, lalu FPI mempertahankan diri atau balas menyerang, secara gambar memang merupakan momen yang cukup menarik. Gambar para aktifis merusak tempat hiburan itulah yang dinaikkan di layar kaca. Karena secara visual, gambar itu lebih menarik ketimbang gambar orang sedang diskusi yang terlihat hanya pasif dan itu-itu saja.

    Namun tidak tertutup kemungkinan ada unsur kesengajaan dalam penayangan gambar anarkisme yang terjadi. Sangat dimungkinkan bahwa pihak media dimanfaatkan oleh para cukong pemilik tempat hiburan yang bergelimang dengan harta itu untuk menampilkan kesan seolah-olah FPI itu tidak lebih dari segerombolan orang yang bertindak anarkis.

    Mengapa analisa itu muncul?

    Karena tindak anarkis yang ditampilkan berulang-ulang di media itu nyaris tidak pernah menyentuh akar masalah. Tidak pernah diulas kenapa sampai terjadi tindakan itu. Media seolah-olah bagai macan ompong ketika harus bicara tentang para pengusaha tempat hiburan yang melanggar Perda dan perundangan. Yang dimunculkan selalu kesan bahwa FPI adalah pelaku tindak anarki. Namun pengusaha tempat maksiat yang jelas-jelas melanggar hukum negara dan sekaligus hukum agama, sama sekali tidak pernah diungkap.

    Mengapa tidak pernah diungkap?

    Karena para cukong itu punya uang tak terhingga jumlahnya untuk bisa membuat para wartawan, jurnalis bahkan pemred media sekalipun untuk duduk manis dan tenang, tidak mengorek kesalahan para pengusaha maksiat. Sebaliknya, uang juga bisa membuat mereka lebih fasih untuk mengatakan bahwa biang keroknya adalah FPI.

    Bahkan uang mereka bisa membuat pihak aparat kepolisian pun duduk manis, diam seolah-olah tidak tahu bahwa ada pelanggaran berat yang sedang terjadi di depan hidungnya.

    Di negeri kita, kebanyakan media dan institusi kepolisian memang masih belum bisa gagah seperti yang sering kita lihat di film-film idealis. Mungkin semua itu masih ada di ‘Republik Mimpi’.

    Dan kekuatan rakyat yang diwakili oleh organisasi semacam FPI masih harus terus menerima nasib buruk, yaitu dipelintir posisinya di media. Sayangnya, FPI sendiri juga tidak punya kekuatan media yang kuat untuk menangkis fitnah yang selalu memojokkan posisi mereka. Ini kritik positif buat teman-teman di FPI untuk punya perhatian lebih dari sisi media center.

    Niat, tujuan dan idealisme mereka untuk beramar makruf dan nahi mungkar tidak pernah ada yang menyangsikan, kecuali oleh mereka yang suka maksiat dan berlumur dosa. Tinggal bagaimana mereka sering-sering duduk bersama dengan elemen lain umat Islam, bertukar pikiran dan berdiskusi, sebelum melakukan aksi dan tindakan. Agar tindakan mereka tidak terkesan bersifat individualis dan jalan sendiri, melainkan hasil dari musyawarah dengan banyak unsur dan elemen umat.

    Ajaklah ormas-ormas Islam untuk mengupas semua masalah yang ada, tampilkan data dan fakta, beri informasi dan bangkitkan semangat perjuangan para petinggi ormas dan orsospol yang punya perhatian dalam masalah ini. Dan minta masukan dari masing-masing mereka dan jadikan masalah ini menjadi masalah bersama, bukan hanya masalah buat FPI saja.

    Dan jangan lupa, FPI perlu menggandeng secara lebih serius teman-teman jusnalis muslim termasuk media-media yang konsern dengan amar makruf nahi mungkar. Agar tindakan mereka diback-up oleh kekuatan media tandingan.

    Kalau dijelek-jelekkan oleh media tertentu, setidaknya ada media lain yang bisa memberi second opinion yang berbeda.

    Nah, bola ada di tangan anda teman-teman FPI, semoga Allah SWT selalu membimbing niat dan tujuan anda menjadi sebuah solusi yang baik dan jauh dari fitnah.

    Sekedar membuat press release tentu teramat lemah, karena pembentukan opini pada dasarnya adalah sebuah medan jihad tersendiri. Kita tidak bisa hanya sekedar melakukan klarifikasi. Kita butuh dukungan dari opini yang kita bentuk sejak awal leat jaringan pers yang kuat, kokoh dan didukung oleh semua elemen umat.

    Kenapa tidak dibuat media massa khusus yang selalu mengangkat dasar tindakan dan asal muasal suatu tindakan, jauh sebelum tindakan itu diambil? Mengapa FPI tidak punya 100-an situs yang bekerja keras 24 jam untuk mengundang simpati dan membentuk opini?

    Mengapa FPI tidak berpikir mendirikan sebuah stasiun radio yang akan menggiring opini umat Islam agar berpikir kritis dan menyampaikan informasi yang sebenarnya-benarnya? Atau setidaknya mengapa FPI tidak menggandeng umat Islam yang lain yang punya radio-radio? Banyak radio milik umat Islam dibiarkan ‘nganggur’ tidak punya konten, yang pada akhirnya cuma menyetel lagu dangdut. Sayang sekali bukan?

    Ketika Amerika menyerbu Iraq kemarin, apa yang dilakukan oleh TV Aljazeera sudah sangat luar biasa. Opini bahwa Amerika itu penjahat perang berhasl dibentuk. Hampir semua mata tidak lagi mempedulikan TV asing lainnya. Yang mereka tonton hanya satu, Aljazeera.

    Sangat berbeda ketika dahulu di zaman Iraq vs Kuwait yang masih dikuasai CNN. Umat Islam saat itu belum punya kekuatan pers yang berani mengatakan tidak ketika dipaksa bilang iya.

    Nah, sudah saatnya teman-teman FPI membentuk jaringan pers yang kuat dan mantap, mencakup semua jaringan pers yang milik umat Islam yang ada.

    Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

    Ahmad Sarwat, Lc
    Sumber : eramuslim.com

  2. #2 by Apop Tosis on June 5, 2008 - 2:19 pm

    Simaklah baik2 ayat2 di bawah ini (sy kutip dari Quran terjemahan DEPAG),

    QS 16:48
    Apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri?

    QS 16:49
    Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua mahluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.

    Apakah pertanyaan Allah (QS 16:48) sudah dijawab oleh teman2 yang mengklaim dirinya paling dekat dengan Allah, yang paling membela Islam, yang paling tahu soal syariat Islam? Kalau sudah menjawab dan melakukan perintah QS 16:48 mestinya mereka bisa menyaksikan bagaimana segala cara benda (ciptaan Allah) bekerja sesuai perintahnya. Jika hati dan pikiran belum bisa menyaksikan benda2 itu beraktivitas, maka berdayakanlah pikiran kita di bangku sekolah, bila perlu sampai ke negeri China agar bisa menyaksikan cara benda itu bergerak. Jika kita memang sudah bisa memahami bagaimana benda2 itu menuruti perintah Allah*), percayalah, kita tidak perlu pakai pentungan dan semacamnya untuk mengalahkan musuh Islam. Amerika pasti takluk pada orang yang tahu bagaimana benda2 ciptaan Allah bekerja (beribadah, sujud pada Allah).
    Selama pertanyaan Allah ini tidak bisa kita jawab, saya yakin kita tidak akan menjadi “good moslem” seperti yg dicita-citakan. Selama itu juga kita mudah diperbudak oleh nafsu ekonomi, nafsu politik, nafsu kekuasaan. Selama itu juga kita hanya mengatasnamakan Allah…
    (*cara benda bergerak sujud kepada Allah tak lain tak bukan adalah ilmu. Bagi orang sekular, ilmu diterjemahkan sebagai science). Ilmu bukanlah science, seperti juga malaikat bukanlah angel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: