FPI Berdzikir, AKKBB Nyalakan Lilin


Eramuslim–Sejak tengah malam, Jalan Petamburan III yang telah dihalangi sejumlah bambu yang dililit kawat duri tampak dipenuhi oleh massa dan simpatisan Front Pembela Islam. Jalan selebar lebih kurang lima meter yang berada di depan markas FPI tampak ditutupi karpet dan tikar seadanya. Acara dzikir bersama dilantunkan dipimpin oleh Ustadz Alwi dari FPI.

“Kami di sini, malam ini, berdzikir kepada Allah agar kami diberi kekuatan menghadapi cobaan ini dan semoga Allah membuka mata hati saudara-saudara Muslim yang ada di mana pun agar bisa membeakan mana yang haq dan mana yang bathil, ” ujar Ust. Alwi.

Suasana syahdu tampak terasa di sekitar markas FPI ini. Lantunan ayat-ayat suci dan dzikir terus bergema memenuhi langit Petamburan.

Sementara itu, di Yogyakarta, puluhan massa Gerakan Integrasi Nasional (GIN) yang termasuk dalam kelompok AKKBB menggelar malam renungan dengan menyalakan lilin. Menyalakan lilin bukan bagian dari tradisi Islam, melainkan tradisi orang-orang kafir. Walau demikian, sejumlah perempuan berkerudung ketat (bukan jilbab) tampak mengikuti acara tersebut. Entah, mereka paham atau tidak bahwa Rasulullah SAW empatbelas abad lalu sudah memperingatkan umatnya agar tidak sekali-kali menyerupai atau melakukan hal-hal yang menyerupai orang kafir, seperti menyalakan lilin untuk suatu acara tertentu.

Hal yang dilakukan AKKBB memang tidak istimewa. Karena aliansi yang terdiri dari banyak orang dari agama yang berbeda tersebut, bahkan ada yang mengaku tidak beragama namun menggunakan istilah ‘penghayat terhadap ketuhanan’–sudah terbiasa atas nama pluralisme dan liberalisme mengerjakan hal-hal yang bukan tuntutan agamanya sendiri. Abdurrahman Wahid sebagai sesepuh AKKBB misalnya, sering berkunjung ke gereja dan bahkan ke Israel menemui tokoh-tokoh Zionis di sana sembari mengecam HAMAS yang merupakan kelompok pejuang kemerdekaan Palestina.

Dari dua momen ini sudah jelas bisa ditangkap simbol-simbol atau ideologi kedua kelompok tersebut. FPI jelas berideologi Islam dengan menggelar acara dzikir, sedangkan yang menyalakan lilin di Yogya adalah elemen dari AKKBB. (rz)

  1. #1 by andie on June 4, 2008 - 8:43 am

    ada pepatah orang yg alim tdk pernah mengaku dirinya alim…..

  2. #2 by Apop Tosis on June 7, 2008 - 4:05 am

    Ketika saya melihat cara seorang kyai memandang wajah seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan, saya langsung menaruh rasa curiga pada kyai tersebut. Namun betapa terkejutnya saya ketika beliau langsung menjawab rasa curiga saya yang saya sembunyikan dalam hati. “Tenang, saya sedang berdzikir” Tak berapa lama kemudian sang kyai memberikan saran bijak pada wanita karir tersebut tentang satu aspek kehidupan. Dari kejadian ini, saya mungkin mempunyai kemiripan dgn kyai tersebut tentang konsep berdzikir. Cara berdzikir juga bisa dengan menghayati apa saja di depan kita yang kita yakini ciptaan Allah. Lilin juga ciptaan Allah, juga kemenyan. Bersentuhan dengan kedua benda tsb yg dianggap bukan bagian dari budaya Islam tidak lah berarti keluar dari jalur Islam. Saya yakin, Islam tidak sesempit itu. Bisa jadi bahwa kesempitan wilayah Islam yang diklaim adalah akibat kekurang tahuan terhadap bagaimana segala benda tunduk pada perintah Allah. Oleh karena itu, asahlah batin agar bisa menyaksikan benda2 yg sedang melakukan ibadah terhadap Sang Pencipta. Kalau anda (yg mengaku Islam) tidak pernah penasaran akan hal ini, maka anda akan selalu menganggap bahwa kebenaran keyakinan anda yang paling benar, termasuk memaksa orang lain dengan kemarahan yang emosional tak terkendali berdarah-darah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: