Tentara dan Staf PBB Lakukan Kejahatan Seksual


Banyak anak di bawah umur di wilayah konflik menjadi korban perkosaan dan kejahatan seksual. Pelakunya, justru tentara penjaga perdamaian dan para pekerja PBB

Hidayatullah.com—Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Save the Children. Yang mengejutkan, perkosaan, serta hubungan seks dengan anak di bawah umur dilakukan dengan iming-iming makanan dan uang, bujuk rayu, tekanan atau ancaman, dilakukan banyak tentara dan petugas PBB di wilayah-wilayah konflik atau kawasan yang dilanda bencana kemanusiaan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, hanya sedikit kasus kejahatan seksual oleh para petugas PBB ini yang dilaporkan.

Dalam penelitian Save The Children di lapangan terbukti, banyak faktor yang menjadi sebab mengapa hanya sedikit kasus kejahatan seksual itu yang diproses.

“Tidak mudah bagi para bocah yang menjadi korban, juga keluarganya untuk melaporkan kasus yang menimpa mereka. Pertama karena bisa membuat keamanan mereka terancam. Dan lebih dari itu, mereka takut jika mengadukan kasunya, pasokan bantuan PBB untuk masyarakat itu akan dihentikan,” ujar Adrian Lovett dari Save the Children.

Ada suatu kasus yang diungkap juga dalam laporan kami. Kejadiannya di Pantai Gading. Seorang gadis umur 12 tahun diperkosa oleh kawanan serdadu PBB asal Pakistan berjumlah 10 orang. Usai diperkosa ia ditinggalkan begitu saja dengan badan penuh darah. Keluarganya melaporkan peristiwa ini ke markas pasukan PBB di sana. Tetapi panglima pasukan PBB sama sekali tidak menanggapinya, dan peristiwanya tidak ditindak lanjuti,” tambah Adrian Lovett.

Menurut catatan Adrian Lovett, tahun 2003, tercatat sejumlah serdadu Nepal didakwa melakukan kejahatan seks terhadap anak di bawah umur di Kongo. Tahun 2004, 2 serdadu PBB di Burundi didakwa. Tahun 2005, sejumlah tentara PBB juga didakwa memperkosa anak di bawah umur di Sudan. Tahun 2006 kasus serupa terjadi di Haiti dan Liberia. Dan tahun 2007 terjadi pula di Sierra Leone. Dari kesemuanya, hanya 6 serdadu Nepal yang dijatuhi hukuman penjara untuk perkosaan anak di Kongo. Sisanya, para pelaku lolos dari hukuman. Maksimum hanya di pulangkan ke negerinya.

“Jadi ini sungguh kenyataan yang sangat mengenaskan dan mengguncangkan. Bahwa anak-anak yang sudah hidup dalam keadaan yang tak terkira rentannya itu masih harus pula menderita suatu ketidak adilan puncak yang luar biasa, berupa kejahatan dan penyalahgunaan seksual di atas kenyataan hidup yang sudah demikian berat itu. Anak-anak paling menderita dan paling rentan di dunia itu menjadi korban kejahatan seksual dari orang-orang yang harusnya justru paling melindungi dan membantu mereka,” tambah Adrian Lovett.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: