100 Tahun Kebangkitan Nasional: Kebohongan Publik Boedi Oetomo Terhadap Peran Umat Islam


Syabab.Com – Hari ini sebagian bangsa Indonesia mengakui sedang memperingati 100 tahun kebangkitan nasional. Ini dihitung dari kelahiran Boedi Oetomo (BO), padahal BO lahir hanya bersifat kesukuan dan tunduk pada Belanda. Peringatan kebangkitan nasional mengacu pada tahun 1908 dengan lahirnya Boedi Oetomo, merupakan peminggiran atau penghapusan peran Islam. Pembohongan publik sekularis Indonesia terhadap peran perjuangan umat Islam.
“Boedi Oetomo itu bertujuan menciptakan hubungan yang harmoni dengan priyayi yang birokratis, tidak berjuang untuk seluruh rakyat yang terjajah. Oleh karena itu tidak pantas sesungguhnya kalau Boedi Oetomo itu diperingati sebagai tonggak kebangkitan nasional,” kata Maman Kh, pengamat sejarah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada acara Diskusi Publik Menuju Kebangkitan Indonesia.

Acara yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia Jawa Barat pada Selasa (20/05) ini dihadiri lebih dari 1000 warga Jawa Barat dari berbagai kalangan baik anak muda maupun tua, pria dan wanita memadati Masjid Istiqamah Jalan Citarum. Selain Maman Kh, hadir sebagai pembicara lannya yaitu pengamat ekonomi dari Universitas Islam Bandung (UNISBA), Hady Sutjipto, SE., M.Si. dan ketua lajnah siyasiyah DPP HTI, Ir. M. Rahmat Kurnia, M.Si.

Menurut Maman Kh. banyak fakta-fakta sejarah yang diselewengkan. Menurut ia, pertama kali diadakannya peringatan hari kebangkitan nasional yaitu pada tahun 1948, setelah Indonesia merdeka. Yang dianggap sebagai tonggak kebangkitan nasional itu adalah Boedi Oetomo bukan Sarikat Islam. Padahal Syarikat Islam lahir lebih dulu, pada 1905 dengan nama Syarikat Dagang Islam dan sifatnya lebih nasional serta benar-benar berjuang untuk terlepas dari penjajah.

“Tidak pantas kalau Boedi Oetomo itu sebagai tonggak kebangkitan Nasional,” kata Maman Kh.

“Ada sekelompok elit politik yang tidak suka melihat Islam tapi ingin melihat Boedi Oetomo itulah yang ditampilkan sebagai pelopor kebangkitan nasional,” imbuhnya lagi.

Menurut Maman Kh. terdapat marginalisasi peran terhadap islam. Ini tidak terlepas dari pengaruh Belanda yang telah mendidik para intelektual negeri ini yang sekularisme. Dalam sebuah sumber disertasi, menurutnya Belanda sangat ketakutan terhadap Islam. Maka ada Snouck Hurgronje yang mengkaji masalah-masalah pribumi, yakni kaum Muslim. Ia mengeluarkan sejumlah rekomendasi kebijakan terhadap Islam.

Rekomendasi Snouck Hurgronje ini diantaranya tidak melakukan kristenisasi secara langsung, kecuali daerah Pelbegu dan Tapanuli, pemilahan ajaran Islam, asosiasi kebudayaan, ordonisasi guru, dan ordonasi sekolah liar. Intinya, Belanda mempersiapkan orang-orang yang sekular, yang memisahkan agama dari kehidupan. Belanda menginkan untuk menjauhkan umat Islam itu dari Islam dan dekatkan kepada budaya barat. Hal itu dilakukan dengan pendidikan bagi para bangsawan. Marginalisasi Islam ini diakui bukan hanya dalam aspek sejarah tetapi juga dalam aspek-aspek lainnya.

Memang, sejak awal Barat telah memberikan skenario dalam melenyapkan Islam. Diantaranya mendidik para intelektual-intelektual anak-anak muslim dengan cara pandang Barat yang sekular. Kebohongan publik akan sejarah kebangkitan negeri ini yang menjauhkan peran Islam terus dipaksakan baik melalui pendidikan sekular maupun melalui berbagai media. Tidak ada cara bagi kaum Muslim untuk mengungkap kebohongan publik ini. Sejarah Indonesia adalah sejarah perjuangan umat Islam mulai dari Pangeran Dipenogoro hingga Jendral Soedirman, mereka berjuang dengan landasan Islam. Namun ketika Barat mencengkram para elit politik negeri ini, TNI lebih didominasi oleh para sekularis. Menyedihkan. [z/m/syabab.com]

Perbandingan BO dan SI

No.

Aspek yang

Dibandingkan

Budi Utomo

SI/SDI

1

Tujuan

Menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura (Anggaran Dasar BO Pasal 2)

Islam Raya dan Indonesia Raya

2

Sifat

Kesukuan sempit, terbatas hanya Jawa-Madura.

Bersifat nasional untuk seluruh bangsa Indonesia.

3

Bahasa

Anggaran Dasar berbahasa Belanda

Anggaran dasarnya berbahasa Indonesia

4

Sikap

terhadap

Belanda:

Menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah.

Bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan kolonial Belanda.

5

Sikap

terhadap

Agama

Bersikap anti Islam dan anti Arab (dibenarkna oleh sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)

Membela Islam dan memperjuangkan kebenarannya,

6

Perjuangan Kemerde-kaan

tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan telah membubarkan diri tahun 1935.

SI memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan

7

Korban Perjuangan

Anggota BO tidak ada satu pun yang masuk penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul,

Anggota SI berdesak-desakan masuk penjara, ditembak mati, dan banyak anggotanya yang dibuang ke Digul, Irian Barat,

8

Kerakyatan

BO bersifat feodal dan keningratan

SI bersifat kerakyatan dan kebangsaan

9

Melawan Arus

BO menurutkan kemauan arus penjajahan,

SI berjuang melawan arus penjajahan


  1. #1 by wewendi on May 29, 2008 - 3:23 pm

    mas boleh bagi ilmu gak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: