Jalan Dakwah Antara Orisinilitas dan Penyimpangan


Oleh: Fathuddin Ja’far Lc MA

Pengantar

Alhamdulilahi robbil ‘alamin, wash-sholatu wassalamu ‘ala Rasulihil Al-Amin, Muhammad bin Abdillah, wa’ala aalihi washohbihi ajma’in.

Ini adalah catatan singkat tentang perjalanan dakwah dan tarbiyah yang kami lewati sekitar 25 tahun. Semoga suatu saat bisa diwujudkan dalam satu buku yang lebih baik dan rinci.

Catatan ini kami buat, tujuannya tidak lain kecuali sebagai upaya ishlah (perbaikan) dan peningkatan kualitas SDMD (Sumber Daya Manusia Dakwah). Selama ini ada kesan kuat SDMD tidak mengalami peningkatan yang signifikan sehingga mampu berfikir, berkata dan berbuat sesuai dengan manhaj dakwah kendati sudah melewati tarbiyah puluhan dan belasan tahun. Akhirnya, kerja dakwah dan tarbiyah mengalami jalan di tempat, dan bahkan dalam banyak hal mengalami setback (kemunduran). Anehnya, hal ini terjadi di tengah besarnya tantangan dan peluang dakwah yang terbuka.

Catatan ini sengaja dibuat sesingkat mungkin dan menyentuh inti persolan. Tentu saja tidak akan memuaskan ikhkwah/akhawat pembacanya karena tidak ada uraiannya. Hal tersebut disebabkan kami sedang menyiapkan buku seri manajemen dakwah dengan judul: Desain Gerakan Dakwah Masa Depan, yang semoga dalam waktu yang tidak lama lagi akan kami luncurkan. Ini adalah buku pertama dari buku seri dakwah yang kami rencanakan.

Namun, demikian, jika ikhwah/akhwat melihat perlu mendiskusikannya dalam acara-acara pengajian internal, maka kami juga akan sangat senang hati untuk memenuhi undangan antum semua.

Semoga Allah selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Amin

10 Fenomena Umum

  1. Tradisi keilmuan dan kaderisasi tidak berjalan dengan baik dan maksimal, sehingga yang berkembang adalah kaum ummiyyun, yakni tidak memahami Islam dan dakwah Islam secara utuh dan dalam banyak hal memahaminya berdasarkan persepsi, bukan berdasarkan ilmu). Bersamaan dengan itu, tumbuh subur pula sikap imma’ah (pak turut atau yes man) di kalangan aktivis dakwah.
  2. Akhlak mua’malah dan siyasiyah buruk (kurang amanah) sehingga terjadi berbagai praktek curang dalam bertransaksi dan berinteraksi kususnya yang menyangkut kedudukan dan keuangan.
  3. Terjangkit penyakit al-wahn (cinta dunia dan takut mati), khususnya sebagian pemimpin dakwah yang selalu membicarakan atau menampilkan pola hidup glamour dan orientasi kehidupan dunia yang serba mewah.
  4. Manajemen organisasi di bawah standar baik manajemen SDM, manajemen keuangan maupun manajemen operasional. Manajemen SDM dibangun di atas sistem nepotisme (orang yang dekat atau tidak kritis), bukan memakai konsep the right man on the right place dan sebagainya. Manajemen keuangan tidak profesional dan tidak transparan sehingga menimbulkan banyak kecurigaan. Sedangkan manajemen operasional dimenej dengan cara by accident, reaktif dan sebagainya.
  5. Leadership tradisional dan cenderung diktator sehingga pemimpin /leader memiliki hak kepemimpinan seumur hidup, kedudukan yang sangat dihormati nyaris didewakan atau dipertuhankan, serta tidak bisa menerima para aktivis yang berfikir besar, kritis dan visioner.
  6. Banyak melahirkan broker-broker dakwah dan politik sehingga aktivitas dakwah dan politik selalu ditawarkan dalam bentuk keuntungan duniawi yang dilegitimasi melalui beberapa istilah syar’i yang disalahgunakan seperti, kemaslahatan dakwah, mahar dakwah, biaya dakwah, mengembalikan hak kita yang diambil orang lain, bukan borjuis, tapi menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, yang penting kontribusi dan sederet istilah lainnya.
  7. Ukhuwwah rendah sehingga melahirkan pemimpin dan aktivis yang egois dan materialis. Akhirnya gerakan dakwah yang bertujuan rahmatan lil ‘alamin dan memakmurkan bumi hanya memakmurkan sekelompok elit gerakan dakwah. Boro-boro memakmurkan bumi dengan segala waran penduduknya, 60% aktivis dakwah yang hidup pas-pasan dan bahkan banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan saja belum tersentuh. Jangan-jangan terfikir juga belum, apalagi ingin memakmurkan mayoritas umat Islam Indonesia yang hampir 200 juta dengan konsep Islam yang lurus.
  8. Tidak bisa terbuka (ambivalence), tidak siap berdiskusi ilmiah dan menerima kritik. Sifat-sifat tersebut menimpa mayoritas aktivis dan elite dakwah. Untuk membungkus sifat-sifat negative tersebut mereka menggunakan berbagai istilah syari’i yang disalahgunakan seperti ta’at, tsiqoh, husnuzh-zhan dan sebagainya.
  9. Suburnya Ta’sh-shub jama’ atau hizbi. Fenomena ta’ash-shub jama’i ini amat nyata terlihat sejak dari awal-awal dakwah ini dirintis. Sebelum memasuki majal siasi, kita selalu mendengar ucapan, hati-hati, dia atau mereka bukan ikhwan atau akhwat kita dan berbagai ungkapan meremehkan tokoh atau kelompok dakwah lain. Anehnya, bersamaan dengan kebutuhan suara dalam PILKADA dan PEMILU, bid’ahpun dan bekerjasama dengan ahlul bid’ahpun tidak jadi masalah dilakukan, yang penting menangguk suara dalam pilkada dan pemilu.
  10. Terjadi tiga penyimpangan berat. Ketiga macam penyimpangan tersebut dapat dilihat dalam sub tema ” Tiga Bentuk Penyinpangan Berat” yang penulis nukil dari buku Syekh Mustafa Masyhur dengan judul ” Thariqu al-Dakwah baina al-Asholat wa al-Inhiraf” (Jalan Dakwah antara Orisinilitas dan Penyimpangan)

Tiga Bentuk Penyimpangan

  1. Penyimpangan “GHOYAH/TUJUAN UTAMA”
    1. Riya’, ghurur, kibr, cinta Kepemimpinan dan Ketenaran.
    2. Mengejar kepentingan duniawi berupa pangkat, kedudukan, harta dan kekuasaan.
  2. Penyimpangan “AHDAF/TARGET”
    1. Parsialisasi Ahdaf/target seperti ibadah dll.
    2. Fokus penerapan hukum Islam di kawasan tertentu saja dari dunia Islam.
    3. Meraih kekuasaan dengan melanggar ketentuan-ketentuan Islam, baik asalib (metode) ataupun wasa-il (sarana).
    4. Ridha terhadap Islamisasi sektoral sistem suatu negara/pemerintahan.
  3. Penyimpangan “KHUTHUWAT & WASA-IL”
    1. Mengikuti manhaj (konsep) partai-partai politik (umum), termasuk dominasi aktivitas politik terhadap tarbiyah, dakwah dan jihad.
    2. Mengabaikan unsur TARBIYAH dalam semua level anggota. Ciri-cirinya :
      1. Dominasi aktivitas politik terhadap aktivitas tarbiyah & dakwah.
      2. Tidak menyiapkan para murobbi yang handal (sesuai kebutuhan dan perkembangan dakwah).
      3. Aktivitas USAR beralih fungsi atau kurang berfungsi dalam pembentukan kader dan tarbiyah (akhlaqiyah serta ruhiyyah).
      4. Sibuk mengurusi suatu aktivitas tertentu (seperti pilkadal dll) karena kondisi dan peluang yang ada sehingga mengabaikan tarbiyah.
    3. Mengabaikan unsur wihdah (kesatuan) dan kekuatan hubungan antar anggota (Ukhuwwah).
    4. Mengabaikan faktor kekuatan bangunan jama’ah dan syarat-syaratnya. Ciri-cirinya :
      1. Mengabaikan terpenuhinya syarat-syarat keanggotaan.
      2. Menganggap enteng pemilihan para mas’ulin
      3. Membiarkan unsur-unsur perusak dakwah dalam jamaah (broker-broker dakwah).
    5. Mengabaikan Jihad dan persiapannya. Ciri-cirinya :
      1. Tidak memberikan perhatian yang cukup terhadap fardhu Jihad
      2. Hidup berfoya-foya dan bersenang-senang dengan harta yang menyebabkan tersedot kehidupan duniawi.
      3. Tidak mau berkorban dengan harta dan jiwa di jalan Allah (fi sabilillah)
      4. Penyimpangan niat Jihad untuk menegakkan Kalimatullah menjadi perolehan keuntungan dunia.
      5. Tidak komitmen dengan adabul qital (akhlak berperang)
      6. Tergesa-gesa menggunakan kekuatan senjata dalam melawan musuh sebelum tiba waktu yang tepat.
      7. Lamban dalam menghadapi musuh dan menyetop kejahatan mereka setelah persiapan yang cukup dan waktu yang tepat.
    6. Dakwah dan harokah didasari dorongan wilayah dan kesukuan.
    7. Mengangkat bendera ideologi bumi (ciptaan manusia).
    8. Menghadapkan Jama’ah pada pengaruh atau dominasi penguasa atau pihak asing yang tidak sesuai dengan jati dirinya (jama’ah) yang Islami.
    9. Musyarokah dengan pemerintahan yang tidak berhukum dengan hukum Allah. Jika terbuka peluang, Musyarokah harus berdasarkan analisa syar’iyyah yang amat teliti. Musyarokah tidak lain hanya langkah yang diperlukan (milestone) untuk menuju sebuah pemerintahan Islam secara menyeluruh.
      Musyarokah seperti itu tidak masalah asalkan terpenuhi persyaratan yang menjamin terealisasinya tujuan utama dan dengan kesepakatan-kesepakan yang jelas.
      Masalah ini tidak boleh diserahkan kepada ijitihad individu (pemimpin). Jika kesepakatan tersebut diingkari (oleh pihak yang kita bermusyarokah dengannya) atau terjadi pergeseran niat (dari pihak kita), maka segera meninggalkan musyarokah, agar kita tidak terjebak pada tipu muslihat dan memalingkan dari target-target besar kita dan rela hanya dengan jalan tengah (kompromi) tanpa melahirkan solusi yang mendasar dan fundamnetal.
    10. Berkoalisi dengan orang/kelompok lain yang berimplikasi terhadap penodaan prinsip-prinsip dan target-target dakwah.
    11. Mencederai prinsip “SYURA”.
    12. Tergesa-gesa dan tanpa strategi yang kuat.
    13. Memasuki pertempuran dalam masalah yang tidak fundamental dan masalah-masalah furuiyah.
    14. Uzlah (menghindar) dari masyarakat awam atau mengabaikan kelompok-kelompok tertentu.

Solusinya: Back To Basic

  1. Pilar-Pilar Dakwah
    1. Allah Tujuan Kami
    2. Rasul Saw. Teladan Kami
    3. Al-Qur’an Konstitusi Kami
    4. Jihad Jalan Kami
    5. Mati di Jalan Allah Cita-Cita Kami
  2. Ideologi Dakwah
    1. Dakwah/Aqidah Salaf
    2. Metode Sunnah
    3. Hakikat Sufi
    4. Lembaga Politik
    5. Klub Olah Raga
    6. Ikatan Ilmiah & Kebudayaan
    7. Institusi Ekonomi
    8. Pemikiran Sosial
  3. Karekteristik Dakwah
    1. Menjauh dari Khilafiyah Fiqhiyah
    2. Menjauh dari Dominasi Tokoh dan Pembesar
    3. Menjauh dari Dominasi Partai-Partai & Lembaga-Lembaga
    4. Konsen Terhadap Kaderisasi, Tahapan dan Langkah
    5. Mengutamakan Aspek Keilmuan yang Produktif Ketimbang Propaganda dan Promosi
    6. Paling Banyak Diterima Generasi Muda
    7. Berkembang Pesat di Desa dan Kota
  4. Aspek Reformasi
    1. Politik, Hukum dan Manajemen Pemeritahan (10 Poin).
    2. Sosial dan Imu Pengetahuan/Pendidikan (30 Poin)
    3. Ekonomi (10 Poin)

Catatan : Untuk lebih rinci mengenai poin-poin reformasi/ishlah dalam 3 aspek tersebut, dapat dilihat dalam buku Majmu’at Rosail Bab : Nahwa Annur Menuju Cahaya.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: