Kemarin Nabi Saw. Dihina, Kini Islam Dilecehkan


Penghinaan terhadap Nabi saw. dan Islam memang penuh kesengajaan. Buktinya, penghinaan terhadap Nabi, al-Quran, dan Islam itu sendiri terus dilakukan. Beberapa tahun lalu, Ayaan Hirsi Ali, mencari popularitas dan jabatan politik dengan menghina Islam. Politisi Belanda kelahiran Somalia ini mengecam Islam sebagai agama terbelakang dan merendahkan wanita. Dia juga menuduh Rasulullah Muhammad saw. sebagai orang yang sesat karena menikahi Aisyah ra. yang masih kanak-kanak. Dengan sangat keji, dia menuduh Rasulullah saw. itu pervers (mempunyai kelainan seksual). Hirsi juga membantu Theo Van Gogh membuat film yang berjudul, ”Submission”. Dalam film itu dia menuduh al-Quran mendorong kekacauan dan pemerkosaan terhadap seluruh anggota keluarga. Dalam film itu terdapat adegan seorang Muslimah yang sedang menunaikan shalat dengan berpakaian tembus pandang dan di tubuhnya tertulis ayat-ayat al-Quran.

Luka masih menganga. Pada tahun 2005 lalu, Koran Jyllands-Posten Denmark menerbitkan kartun-kartun Kanjeng Nabi Muhammad saw. Dalam kartun itu digambarkan Rasulullah saw. membawa pedang dan menenteng bom. Bahkan dalam salah satu kartunnya, Rasulullah saw. digambarkan sebagai orang yang bersorban. Di sorbannya terselip bom (terlihat dari bentuk dan sumbunya). Lalu Januari 2006 kartun-kartun itu dimuat di media massa Norwegia. Bahkan karikatur-karikatur tersebut muncul di berbagai koran harian Prancis, seperti France Soir. Februari 2008, kartun-kartun tersebut dimuat kembali oleh sebelas media massa terkemuka di Denmark dan televisi nasional; juga sedikitnya tiga harian di Eropa, yaitu Swedia, Belanda dan Spanyol mencetak karikatur penuh kebencian itu.

Hati umat Islam masih sakit! Kini bukan hanya Nabi saw. yang dihina, al-Quran dan Islam juga dilecehkan. Akhir Maret 2008, beredarlah film Fitna. Dalam tayangan awal film tersebut dimunculkan kartun Nabi saw. berserban dan di kepalanya terselip bom. Kartun ini dimuat sebelumnya di berbagai media. Lalu ditayangkan ayat al-Quran dan terjemahannya. Berikutnya digambarkan peristiwa Peledakan WTC dan berbagai peledakan lainnya. Secara keseluruhan, film berdurasi 15 menit tersebut menyebarkan pesan bahwa al-Quran adalah sumber kekerasan, Nabi Muhammad saw. adalah teroris dan Islam adalah agama pemicu kerusakan.

Sebelumnya banyak pihak yang meminta agar film itu tidak diedarkan. Namun, atas nama kebebasan, Geert Wilders, anggota Parlemen Belanda yang membuat film itu, tetap ngotot mengedarkan film itu. Ini menunjukkan bahwa apa yang dilakukannya penuh kesadaran dan kesengajaan. Film berjudul ”Fitna” itu pun menuai kecaman dari berbagai pihak. Negara-negara Muslim seperti Iran, Bangladesh, Pakistan, dan Yordania langsung bereaksi keras mengecam film ini. Indonesia pun mengutuknya. Kecaman yang sama muncul dari Uni Eropa dan Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-Moon. Menurutnya, film Wilders merupakan film jahat.

Pemerintah Belanda dan Barat Hanya Diam!

Pemerintah Belanda mengaku tidak bisa berbuat banyak melarang film itu. Perdana Menteri Belanda Dr. Jan Peter Balkanende, seperti yang tertulis dalam surat yang ditujukan kepada Ketua Umum PB NU KH Hasyim Muzadi, mengatakan bahwa Wilders tidak mewakili Belanda. Masih menurut PM Jan Peter, hukum Belanda tidak bisa menindak tegas pemutar film apabila aspek yang ditimbulkan dari film itu belum terlihat. Aparat baru bisa melakukan investigasi apabila film tersebut sudah berdampak pada aspek kriminal di tengah-tengah masyarakat. Sikap seperti ini hanyalah dalih belaka. Bukankah Wilders adalah anggota parlemen yang merupakan salah satu wakil rakyat Belanda? Bukankah kalau Pemerintah Belanda diam berarti membiarkan penghinaan terhadap Islam terus berlanjut? Lihatlah, penghinaan terhadap Islam yang dilakukan di Belanda, bahkan oleh anggota parlemen yang sama bukan kali pertama. Wilders pernah mengatakan al-Quran adalah buku fasis yang menyebarkan kebencian dan kekerasan. Dia juga menyerukan agar al-Quran dilarang, sebagaimana dilarangnya Mein Kampf, buku Hitler. “Muslim yang tinggal di Belanda harus menyobek setengah dari al-Quran. Jika Muhammad tinggal di sini (Belanda) sekarang, aku akan menyuruhnya keluar dari Belanda dengan belenggu,” hina Wilders. Ucapannya itu terdokumentasi dengan baik dalam berbagai situs internet.

Jika dalam faktanya Pemerintah Belanda dan negara-negara Eropa tidak melarang penghinaan terhadap Islam itu dengan dalih kebebasan berpendapat, menunjukkan mereka telah menerapkan standar ganda. Di Eropa siapapun yang meragukan atau mengkritik kebenaran Hollocaust (Pembantaian Massal) yang dilakukan oleh Nazi terhadap orang-orang Yahudi di Eropa akan diseret ke pengadilan sebagai tindakan kriminal. Bukankah mengkritik Hollocaust juga adalah bagian dari kebebasan berpendapat? Mengapa kritik terhadap Hollocaust dilarang, sementara penghinaan terhadap Islam dibiarkan atas nama kebebasaan?

Inkonsistensi dan standar ganda yang demikian mencolok semakin menjelaskan bahwa nilai-nilai Kapitalisme Barat yang sering diklaim sebagai peradaban terbaik dunia saat ini hanyalah dusta belaka. Sungguh sangat mengerikan kalau kebebasan diartikan sebagai bebas menghina agama dan keyakinan orang lain. Jika mereka mengatakan, atas nama kebebasan boleh menghina nabi., kitab dan agama lain, bukankah ini bukti bahwa Kapitalisme yang mereka serukan adalah ideologi kebencian? Bukankah ini fakta lagi bahwa ideologi sekulerisme yang mereka elu-elukan adalah ideologi permusuhan dan karenanya tidak akan mungkin menjadikan dunia penuh dengan kedamaian dan keamanan? Bukankah hal ini pun menjadi bukti bahwa slogan perdamaian dunia hanyalah dusta belaka dan hanya untuk mereka, bukan untuk umat Islam? Bukankah ini juga menegaskan bahwa demokrasi yang mereka bangga-banggakan adalah memecah-belah umat manusia? Jika demikian, bukankah demokrasi, kebebasan dan perang melawan terorisme hanyalah alat mereka untuk menghancurkan dan menghinakan umat Islam? Ini semua menunjukkan kegagalan peradaban Barat yang sangat kronis.

Berdasarkan hal ini juga patut dipertanyakan kampanye yang menolak radikalisme dan mendorong umat Islam menjadi Muslim yang moderat dan toleran terhadap nilai-nilai Barat. Sebabnya, pada saat yang sama Pemerintah Barat justru membiarkan pemikiran ekstrem dan radikal yang menghina Islam dan kaum Muslim atas nama kebebasan. Tidak hanya itu. Tindakan radikal juga dilakukan AS dan Israel terhadap negeri-negeri Islam yang telah menimbulkan banyak korban jiwa. Walhasil, dialog antar peradaban dan dorongan agar menjadi Muslim moderat terkesan dilakukan sekadar untuk membungkam perlawanan umat Islam terhadap negara-negara Barat yang menindas umat Islam dan mendorong umat Islam untuk mau diperlakukan secara semena-mena oleh mereka. Wahai, umat Islam sadarlah!

Kebencian

Penghinaan dan pelecehan Islam yang terjadi berulang-ulang hanyalah menunjukkan kebencian mereka kepada Islam. Itu lahiriahnya. Apa yang ada di dalam hatinya sungguh lebih besar daripada itu. Allah SWT berfirman:

قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. (QS Ali ‘Imran [3]:118).

Imam Ibnu Katsir, ketika menafsirkan ayat tersebut, menyatakan bahwa kebencian telah tampak dari wajah, sikap mereka serta ucapan mereka; namun apa yang mereka tunjukkan tidak mencakup semua kebencian yang ada di dalam dada mereka. Karenanya, jangan heran bila kebencian mereka berulang-ulang dan tidak akan berhenti hingga ada yang menghentikannya. Realitas menunjukkan negara-negara yang ada tidak dapat menghentikan. Aksi, protes dan kutukan pada pelakunya berlalu begitu saja. Hanya Khilafah yang dapat menghentikan para penghina Nabi saw., al-Quran dan Islam secara keseluruhan.

Wahai Umat Islam:

Belumkah tiba saatnya umat Islam untuk sungguh-sungguh berjuang bagi tegaknya Khilafah Islam? Tanpa Khilafah umat menjadi sangat lemah. Ini bukti ke sekian kali, betapa penghinaan terhadap Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran menunjukkan bahwa umat Islam dewasa ini memang dalam keadaan yang sangat lemah sehingga gampang diperlakukan secara semena-mena. Khilafah akan menyatukan umat. Dengan persatuan umat, Islam akan menjadi kuat kembali sehingga mampu menegakkan ’izzul Islam wal Muslimin, termasuk melindungi kehormatan ajaran Islam, al-Quran dan Nabi Muhammad saw yang mulia. []

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: