Ismail Yusanto : Pemerintah Belanda Harus Bertanggung jawab


photo-kedubes-as-edit.jpgHTI-Press. Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam pertemuan dengan Dubes Belanda untuk Indonesia Nikolas van Dam menyatakan pemerintah Belanda tidak bisa mengelak soal film Fitna. Menurut Ismail , Wilders sang Sutradara, adalah warga negara Belanda dan anggota Parlemen Belanda, sementara pemerintah Belanda memiliki otoritas untuk mencegah film tersebut dan menghukum Wilders.

Sebelumnya Dubes Belanda menyampaikan hal tersebut saat menemuai utusan Hizbut Tahrir Indonesia di Kedubes Belanda, selasa (1/04/2008). Menurutnya apa yang dilakukan Wilders tidak mencerminkan sikap pemerintah Belanda dan mayoritas rakyat Belanda. “ Demontrasi terhadap kedubes Belanda adalah salah alamat, seharusnya yang demontrasi ditujukan kepada Wilders,” ujarnya.

Namun hal ini dibantah oleh Ismail Yusanto, kedubes Belanda adalah tempat yang tepat, karena mewakili pemerintah Belanda. “ Wilders adalah warga negara Belanda, pemerintah Belanda harus bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukan warganya, apalagi Pemerintah Belanda memiliki kewenangan dan otoritas untuk mencegah kejahatan yang dilakukan Wilders dengan menghina Al Qur’an dan Islam,” tegas Ismail

Dalam kesempatan itu juga , Nikolas van Dam mengatakan, dia senang menerima kedatangan utusan Hizbut Tahrir. Dalam pandangannya, perbedaan pendapat adalah wajar, yang perlu dikembangkan adalah sikap saling menghormati dan toleransi. Menurutnya, negeri Belanda memiliki tradisi toleransi yang kuat dengan menghormati kebebasan beragama.

Menjawab hal itu, Ismail mengatakan pemerintah Barat sering kali mengajari umat Islam agar moderat, mengembangkan sikap toleransi, dan saling menghormati. Namun Ismail mengatakan, apa yang dilakukan pemerintah Barat adalah sebaliknya. Pemerintah Barat justru tidak mencegah dan membiarkan media massa dan orang-orang yang menghina Islam atas nama kebebasan. “ Rosul kami dihina lewat kartun, Al Qur’an dituduh kitab fasis, kerudung dilarang di Perancis, dimana letak saling menghormati itu?”,tanya Ismail.

Sikap tidak tegas pemerintah Barat membiarkan tindakan ekstrim warganya yang menghina Islam membuktikan toleransi dan saling menghormati sekedar basa-basi. “ Pemerintah Barat bicara tentang dialog antar peradaban, di sisi lain pemerintah Barat mendukung tindakan teroris dan ekstrim AS menyerang dan membunuh rakyat Irak dengan korban hingga 1 juta orang, dengan alasan memberikan ‘kebebasan’ kepada Irak”, kritiknya.

Dialog antara Dubes Belanda dengan utusan HTI berlangsung secara terbuka dengan menggunakan bahasa Inggris, Arab dan Indonesia. Nikolas van Dam yang pernah lama bertugas di beberapa negara Timur Tengah fasih berbahasa Arab. Dia menceritakan mempelajari Islam di Universitas Leiden Belanda, termasuk membaca karya Imam al Ghozali kitab Ihya ulumuddin dan hadist Bukhori. Pada akhir acara, Ismail Yusanto, mengajak sang Dubes untuk masuk Islam. “ Dari lubuk hati yang paling dalam saya mengajak anda untuk masuk Islam, aslim taslam,” ajak Ismail . (FW/LI)

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: