Muhammadiyah Nilai UU SDA Bernuansa Kapitalistik


Muhammadiyah meminta kepada pemerintah untuk melakukan amandemen terhadap UU SDA yang berlaku saat ini.

 Suara-islam.com–Berkaitan dengan pengelolaan dan pemanfaatan air dan sumber air, Muhammadiyah memandang bahwa Un’dang-Undang Sumberdaya Air (UUSDA) yang diberlakukan saat ini bernuansa kapitalistik dan kurang memihak kepada kepentingan pengguna air lainnya, sehingga asas manfaat dan kelestarian air dan sumber air menjadi terancam.

Oleh karena itu, Muhammadiyah meminta kepada pemerintah untuk melakukan amandemen terhadap UU SDA yang berlaku saat ini.

Demikian pernyataan pers yang disampaikan oleh Muhjidin Mawardi yang didampingi Ketua Lembaga Lingkungan Hidup Dasron Hamid pada Selasa (18/3). Dalam pengantarnya, Muhjidin menyatakan bahwa sikap PP Muhammadiyah ini merupakan wujud kepedulian Muhammadiyah dalam pelestarian lingkungan, termasuk ditinjau dari alasan teologis. Pernyataan itu juga disampaikan dalam rangka menyambut hari Air Sedunia tanggal 20 Maret 2008.

Selain itu,  Lembaga Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga  menyampaikan,  Air merupakan sumberdaya alam yang sangat vital dan merupakan sumber kehidupan di muka bumi. Oleh karena itu, perlindungan dan konservasi terhadap air dan sumber-sumber air sangat asasi (fundamental) sangat urgen untuk dilaksanakan agar fungsi dan manfaatnya tetap terjaga lestari demi keberlanjutan kehidupan masa kini dan akan datang. Artinya, kewajiban untuk melakukan perlindungan dan konservasi air mempunyai nilai yang sama dengan kewajiban menjaga keberlaniutan kehidupan itu sendiri. 

Setiap tindakan yang menganggu atau merusak fungsi biologis, kesehatan, sosial, ekonomi, dan fungsi religius air baik yang berupa perusakan atau pencemaran air dan sumber air akan mengakibatkan air tidak bisa dimanfaatkan untuk kehidupan, sehingga fungsi dasar air sebagai sumber kehidupan menjadi terganggu atau rusak dan hal ini berarti sama dengan merusak kehidupan itu sendiri.

Negara Indonesia yang berada di wilayah tropika basah, kata Muhjidin,  mempunyai curah hujan sebagai sumber air yang melimpah, akan tetapi sebaran ruang dan waktunya tidak merata sepanjang tahun. Oleh karena itu, diperlukan kearifan dalam tata kelola air (ketersediaan dan pemanfaatan) agar fungsi air bagi kehidupan dapat berkelanjutan.

“Muhammadiyah memandang bahwa persoalan ketersediaan air baik secara kuantitatif maupun kualitatif di negara kita saat ini sudah berada dalam keadaan yang kritis, sehingga memerlukan perhatian yang serius oleh pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat,” ujarnya.

Persoalan air, sumber air dan ketersediaan air, lanjut dia, merupakan persoalan bersama karena menyangkut masa depan seluruh kehidupan termasuk kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, dalam melakukan penQelolaan air dan sumber air, harus dilakukan secara terpadu dengan mempertimbangkan barbagai kepentingan dan berwawasan lingkungan.

”Muhammadiyah menghimbau kepada pemerintah dan seluruh komponen masyarakat khususnya warga Muhammadiyah, agar lebih menghargai nilai air sebagai anugerah Allah swt dan sumber kehidupan, dengan demikian menjaga kelestarian sumber air, melakukan penghematan pemakaian air dan tidak melakukan perusakan atau pencemaran air serta sumber air perlu disadari dan dilakukan saat ini juga baik secara individual maupun komunal.” ujar Muhjidin. [www.suara-islam.com]

 

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: