Perbedaan Penetapan Idul Adha 1428 H


KANTOR JURUBICARA HIZBUT TAHRIR INDONESIA
بسم الله الرحمن الرحيم
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Nomor: 124/PU/E/12/07
Jakarta, 13 Desember 2007 M

PERNYATAAN HIZBUT TAHRIR INDONESIA
Perbedaan Penetapan Idul Adha 1428 H

Sekali lagi umat Islam harus mengalami peristiwa yang sangat menyedihkan sekaligus memalukan. Yakni perbedaan dalam penetapan hari Idul Adha 1428 Hijriah. Sebagaimana telah diberitakan, pemerintah melalui Departemen Agama telah menetapkan bahwa Idul Adha 1428 H tahun ini jatuh pada hari Kamis, 20 Desember 2007. Bila Idul Adha adalah 10 Dzulhijjah, maka 9 Dzulhijjah-nya atau Hari Arafah, hari dimana jamaah haji wukuf di Arafah, mestinya jatuh sehari sebelumnya, yakni Rabu, 19 Desember 2007.

Tapi ketetapan pemerintah itu tidak sama dengan apa yang telah ditetapkan oleh Mahkamah Agung Kerajaan Arab Saudi yang telah mengumumkan bahwa wukuf atau hari Arafah (9 Dzulhijjah) jatuh pada Selasa, 18 Desember 2007 (Republika, 12 Desember 2007). Dengan demikian Idul Adha (10 Dzulhijjah) akan jatuh pada hari Rabu, 19 Desember 2007, bukan hari Kamis, 20 Desember 2007 seperti yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Tentu keadaan ini mengundang tanya, bagaimana umat harus bersikap? Bila ingin puasa hari Arafah, kapan harus dilakukan: Selasa, 18 Desember sesuai dengan hari ketika jamaah haji wukuf di Arafah, atau Rabu, 19 Desember sesuai dengan ketentuan pemerintah Indonesia? Bila memilih Rabu, 19 Desember, pertanyaannya, betulkah hari itu adalah hari Arafah, mengingat jamaah haji di sana hari itu justru tengah merayakan Idul Adha dan sudah melakukan wukuf sehari sebelumnya? Bila benar seperti ketetapan pemerintah bahwa hari Arafah jatuh pada hari Rabu tanggal 19 Desember, bukankah berpuasa pada Rabu, 19 Desember berarti berpuasa di hari yang justru dilarang untuk berpuasa karena pada faktanya hari Arafah yang sesungguhnya – saat para jamaah haji melakukan wukuf di Arafah – terjadi pada Selasa, 18 Desember? Bila pemerintah bersikeras bahwa hari Arafah jatuh pada Rabu 18 Desember, lantas Arafah mana yang dimaksud oleh pemerintah, mengingat Arafah hanya ada satu, yakni di tanah suci, tempat para jamaah haji melakukan wukuf. Dan bila memilih puasa di hari Selasa 18 Desember, kapan harus shalat Idul Adha-nya? Rabu, 19 Desember atau Kamis, 20 Desember?

Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak sulit untuk dijawab. Tapi menjadi sulit ketika, otoritas di negeri ini dengan kekuasaannya telah menetapkan peristiwa agama tidak berdasar landasan yang benar. Maka, timbullah persoalan di atas.

Kenyataan ini juga menunjukkan betapa umat Islam dewasa ini telah kehilangan jatidiri, bahkan untuk hal-hal prinsip yang menyangkut perihal ‘ubudiyah yang mestinya tidak sulit diselesaikan. Perpecahan umat sudah demikian nyata. Setelah runtuhnya Khilafah Utsmani pada 1924 M memang tidak ada lagi yang memimpin umat Islam se dunia. Umat terpecah belah ke dalam lebih dari 50 negara, yang bergerak berdasar dan demi kepentingan negara masing-masing. Sampai-sampai untuk menetapkan hari-hari ibadah, seperti Hari Arafah, Idul Adha, juga awal dan akhir Ramadhan, kita selalu mengalami masalah.

Berdasarkan kenyataan di atas, Hizbut Tahrir Indonesia menyatakan:

1. Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

«اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»

Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “Hadits ini sahih, sekalipun beliau berdua [Bukhari-Muslim] tidak mengeluarkannya.”).

Juga sabda beliau:

«فِطْرُكُمْ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ وَأَضْحَاكُمْ يَوْمَ تُضَحُّوْنَ، وَعَرَفَةُ يَوْمَ تُعَرِّفُوْنَ»

Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).

Maka mestinya, umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji menjadikan penentuan hari Arafah di tanah suci sebagai pedoman. Bukan berjalan sendiri-sendiri seperti sekarang ini. Apalagi Nabi Muhammad juga telah menegaskan hal itu. Dalam hadits yang dituturkan oleh Husain bin al-Harits al-Jadali berkata, bahwa Amir Makkah pernah menyampaikan khutbah, kemudian berkata:

«عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ  أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا»

Rasulullah saw. telah berpesan kepada kami agar kami menunaikan ibadah haji berdasarkan ru’yat (hilal Dzulhijjah). Jika kami tidak bisa menyaksikannya, kemudian ada dua saksi adil (yang menyaksikannya), maka kami harus mengerjakan manasik berdasarkan kesaksian mereka. (HR Abu Dawud, al-Baihaqi dan ad-Daruquthni. Ad-Daruquthni berkomentar, “Hadits ini isnadnya bersambung, dan sahih.”).

Hadits ini menjelaskan: Pertama bahwa pelaksanaan ibadah haji harus didasarkan kepada hasil ru’yat hilal 1 Dzulhijjah, sehingga kapan wukuf dan Idul Adhanya bisa ditetapkan. Kedua, pesan Nabi kepada Amir Makkah, sebagai penguasa wilayah, tempat di mana perhelatan haji dilaksanakan, untuk melakukan ru’yat; jika tidak berhasil, maka ru’yat orang lain, yang menyatakan kesaksiannya kepada Amir Makkah.

Berdasarkan ketentuan ru’yat global, yang dengan kemajuan teknologi informasi dewasa ini tidak sulit dilakukan, maka Amir Makkah berdasar informasi dari berbagai wilayah Islam dapat menentukan awal Dzulhijjah, Hari Arafah dan Idul Adha setiap tahunnya dengan akurat. Dengan cara seperti itu, kesatuan umat Islam, khususnya dalam ibadah haji dapat diwujudkan, dan kenyataan yang memalukan seperti sekarang ini dapat dihindari.

2. Menyerukan kepada seluruh umat Islam, khususnya di Indonesia agar kembali kepada ketentuan Syariah, baik dalam melakukan puasa Arafah maupun Idul Adha 1428 H, dengan merujuk pada ketentuan ru’yat untuk wuquf di Arafah, sebagaimana ketentuan hadits di atas.

3. Menyerukan kepada umat Islam di Indonesia khususnya untuk menarik pelajaran dari peristiwa ini, bahwa demikianlah keadaan umat bila tidak bersatu. Umat akan terus berpecah belah dalam berbagai hal, termasuk dalam perkara ibadah. Bila keadaan ini terus berlangsung, bagaimana mungkin umat Islam akan mampu mewujudkan kerahmatan Islam yang telah dijanjikan Allah? Karena itu, perpecahan ini harus dihentikan. Caranya, umat Islam harus bersungguh-sungguh, dengan segala daya dan upaya masing-masing, untuk berjuang bagi tegaknya kembali Khilafah Islam. Karena hanya khalifah saja yang bisa menyatukan umat. Untuk perjuangan ini, kita dituntut untuk rela berkorban, sebagaimana pelajaran dari peristiwa besar yang selalu diingatkan kepada kita, yaitu kesediaan Nabi Ibrahim as. memenuhi perintah Allah mengorbankan putranya, Ismail as. Keduanya, dengan penuh tawakal menunaikan perintah Allah SWT itu, meski untuk itu mereka harus mengorbankan sesuatu yang paling dicintai. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا ِللهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila dia menyeru kalian demi sesuatu yang dapat memberikan kehidupan kepada kalian. (QS al-Anfal [8]: 24).

Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia

Muhammad Ismail Yusanto

Advertisements
  1. #1 by naf'an abu mansur on December 15, 2007 - 9:14 am

    saya sependapat dengan anda, bahkan puasa arafah dan idul adha merupakan momentum ummat Islam sedunia bersatu, karena kiblatnya sama yaitu pada saat ummat Islam yang sedang berhaji melaksanakan wukuf di Arofah. jika seluruh ummat Islam sedua memakai pelaksanaan wukuf sebagai pijakan puasa arofah, maka tidak akan terjadi perbedaan. dan perlu diketahui hadisnya sudah jelas berbeda dengan perintah puasa romdlon yang dasarnya adalah tanggal/hilal.

  2. #2 by junior .com on December 16, 2007 - 4:16 pm

    hei….. kalau idul adha-nya ikut makkah, waktu sholat maktubah juga ikut makkah dong!. ……. mathla’ indonesia sama makkah kan beda

  3. #3 by abu tholib on December 17, 2007 - 2:56 am

    semakin orang mengerti (faqih) dalam beragama, maka semakin tidak mau dirinya menyalahkan/menyepelekan orang lain dalam berprinsip…
    Anyway, mathla’ pun juga ada dua perbedaan yg signifikan, dan masing-masing pun ada dalilnya serta ada pula kelemahannya, silakan buka-buka referensi mengenai hal tsb di internet.
    Jazaakalaah & Wassalam…Abu Tholib

  4. #4 by abu fairuz on December 18, 2007 - 2:11 pm

    ass…wr.wb.
    al haqq mir robbihim, wa khoiru hadist kitabullah, wa khoiru haddyu hadiy muhammadin saw. wasyarrol umuri muhdatsatuha.
    jika di tanya apa yang paling besar di dunia, jawabnya nafsu manusia.
    nafsu manusia yang kurang “ta’at” terhadap aturan Alloh SWT dan sunnah Rosululloh SAW.
    nafsu manusia yang tidak jeli dengan aturan yang sedemikian jelas.
    Hari Raya Idul Fitri kalian adalah hari ketika kalian berbuka (usai puasa Ramadhan), dan Hari Raya Idul Adha kalian adalah hari ketika kalian menyembelih kurban, sedangkan Hari Arafah adalah hari ketika kalian (jamaah haji) berkumpul di Arafah. (HR as-Syafii dari ‘Aisyah, dalam al-Umm, juz I, hal. 230).
    Mudah-mudahan Alloh mengampuni setiap khilaf kita yang disengaja atau tidak.
    Semoga Alloh memberi kita jalan untuk selalu berada dalam hidayahNya. Amien
    wass…. wr.wb.

  5. #5 by Dzulfajar on December 18, 2007 - 4:22 pm

    sampai kapan perbedaan ini terus berakhir,…???!!
    kapan umat satu pemimpin…!!??
    kapan kita bisa shalad ied bersama,…..!!!?
    ya Allah, berikanlah kami kesempatan nikmatnya beribadah dalam naungan kejayaan islam,..amiiiiiiiiiiiiiin.

  6. #6 by abu syauqi on December 18, 2007 - 7:46 pm

    sudahlah umat islam ini memang harus bersatu, tetapi memang masalah ibadah tidah bisa dipaksakan, sebab punya dalil yang kuat satu sama lainnya. Jadi hemat saya, yang rabu kita hormati dan yang kamis juga kita hormati…sehingga itu justru umat islam menjadi besar dan bersatu.
    Wallahu’alam.

  7. #7 by andi maipa on December 18, 2007 - 11:13 pm

    baca ini juga donk
    http://rukyatulhilal.org/visibilitas/1428/zulhijjah.html

    secara ilmu falak hisab dan rukyat modern dan bisa di percaya, idul adha jatuh pada hari rabu, hanya saja metode standarasisasi saudi tidak menyerahkan kepada yang ahlinya (menggunakan alat yang canggih dan sensitif, beserata para ahli astronomi dan ilmu falak yang memang capable)

    Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi. Tidak hanya di Indonesia bahkan di negara-negara lain kasus ini sering terjadi misalnya Arab Saudi sebagai contoh. Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi”.

    Kasus Idul Adha 1424 H yang lalu merupakan salah satu contoh. Bahkan baru-baru ini Saudi juga mengklaim dapat menyaksikan hilal Sya’ban pada 14 September 2007 saat hilal baru berumur sekitar 4 jam selepas ijtimak. Namun demikian keputusan Saudi taat diikuti oleh rakyatnya bahkan banyak diikuti juga oleh negara-negara lain termasuk sebagian masyarakat Indonesia.

    Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Quro” telah berkali-kali mengganti kriterianya. Ironisnya banyak istbat penentuan awal bulan justru tidak menggunakan kriteria kalender ini. Sulitnya merumuskan kriteria berdasarkan “klaim rukyat” ini karena kriteria rukyatul hilal yang dipakai Saudi hanya mendasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap laporan tersebut. Hanya dengan mengucapkan syahadah maka laporan tersebut sah adanya begitu tuntunan syariatnya.

    Berdasarkan laporan-laporan klaim rukyat tersebut semakin nampak jelas bahwa kriteria awal bulan yang digunakan oleh Saudi lebih mengarah kepada kriteria “Ijtimak Qablal Ghurub” yaitu “.. jika ijtimak terjadi sebelum waktu maghrib maka esoknya adalah bulan baru tanpa mengindahkan faktor-faktor yang lain misalnya ketinggian hilal saat terbenamnya matahari ..”.

    melihat keputusan kontroversial ini tetap saja keputusan idul adha melihat kapan wukuf di arab walaupun bisa jadi metode rukyatul hilal arab saudi menggunakan standart yang dibawah standart, yang membolehkan siapa saja yang mampu melihat hilal dan bersyahadat melaporkan hilal tersebut (tdk memperdulikan dia menggunakan alat yang hebat sekalipun atau tidak),

    jadi walaupun demikian tetap saja kita berpatokan dengan wukuf arofah sesuai dengan dalilnya

    Bahwa bila umat Islam meyakini, bahwa pilar dan inti dari ibadah haji adalah wukuf di Arafah, sementara Hari Arafah itu sendiri adalah hari ketika jamaah haji di tanah suci sedang melakukan wukuf di Arafah, sebagaimana sabda Nabi saw.:

    «اَلْحَجُّ عَرَفَةُ»

    Ibadah haji adalah (wukuf) di Arafah. (HR at-Tirmidzi, Ibn Majah, al-Baihaqi, ad-Daruquthni, Ahmad, dan al-Hakim. Al-Hakim berkomentar, “

  8. #8 by Fayyaz on December 19, 2007 - 3:56 am

    Ass wr wb. Sebenarnya di sini ada dua masalah, pertama masalah penanggalan dan masalah syariah. Yang jadi persoalan sekarang adalah masaalah penanggalan. Mengapa idul adha di Mekah dan di Indonesia berbeda harinya dan tanggal masehinya? Hal itu berbeda karena kita berfikir dengan kalender syamsiyah. Sebernanya kalau kita berfikir dengan kalender komariah tanggalnya sama.

    Tanggal syamsiah ditentukan dari garis tanggal di samudara pasifik. Sehingga bila wilayah dari garis tsb ke barat adalah tgl 2 (misalnya hari senin), maka wilayah dari garis tsb ke timur adalah tgl 1 (hari minggu).
    Sedangkan tgl komariah ditentukan dari garis tanggal komariah. Garis tgl komariah ini tidak tetap, tapi berubah-ubah dan kadang-kadang dalam bentuk garis lengkung karena mengikuti posisi hilal.
    Sekarang tgl komarih itu ada diantara Mekah dan Indonesia.

    Jadi kalau keluarnya fajar hari arafah di Mekah (selasa tgl 18) , maka beberapa saat fajar akan keluar pula di daratan Eropa (masih selasa), lalu diikuti Amerika (juga masih selasa) kemudian lautan pasifik. Tapi setelah melewati garis tgl syamsiah di pasifik maka daratan Asia menyebutnya hari Rabu (tgl 19) yang sebenanya kalau kita konsisten dengan penanggalan komariah hari tsb masih hari yang sama dengan Mekah (hari selasa) (karena belum melewati garis tgl komariah yang terletak diantara Mekah dan Indonesia).

    Jadi jangan kejebak dengan hari yang sama atau tgl yang sama dengan Mekah karena sistem hari & tgl sekarang berpatokan pada penanggalan sistem syamsiah.

    Jadi bila kita berpuasa yang dimulai dari fajar hari selasa, sebenarnya itu fajar tgl 8 Dzulhijah, dan fajar tgl 9 Dzulhijjah itu masih harus menunggu setelah matahari berkeliling dulu (relatif) ke daratan Eropa, Amerika, Samudara pasifik baru ke daratan Asia (hari rabu menurut sebutan tgl syamsiah).

    Mudah-mudahan bvisa sedikit mengena menginai penjelasan perbedaan hari tsb, dan kalau ada yang keliru mohon dikoreksi.
    Untuk jelasnya bisa baca-baca tulisannya Pak Jamaluddin. Silakan di search dgn googel.
    Wassalam

  9. #9 by Fayyaz on December 19, 2007 - 5:39 am

    Ini ada link yang sejenis yang seperti di atas:
    http://rasalfa.wordpress.com/2007/09/25/hari-lebaran-berbeda-lagi/

  10. #10 by Whie on December 19, 2007 - 6:45 am

    Assalamu Alaikum Wr. Wb

    Bersedih umat lagi – lagi harus terluka karena kebohongan publik,
    akan di bawa kemana umat Islam saat ini oleh “pemerintah”????
    Kerinduan akan Tegaknya Daulah semakin mendalam,
    Smoga Daulah Khilafah Segera tegak di bumi Allah ini, Amin.

    Waas

  11. #11 by nurudin on December 19, 2007 - 9:01 am

    assalamualaikum

    Tidak ada peristiwa yang menyedihkan, apalagi memalukan kecuali mempermalukan saudaranya. saya kira kita sudah kenyang dengan perbedaan. toh pada dasarnya nabi muhammad saw juga sangat toleran dengan perbedaan. banyak kasus-kasus sahabat yang berbeda tapi disikapi nabi dengan arif spt jika ijtihadnya salah maka dapat satu, tapi jika ijtihadnya benar dapat 2 dll. jadi perbedaan furu’ itu tidak perlu dipersoalkan, yang perlu dipersoalkan adalah justru orang yang selalu mempersoalkan perbedaan.
    afwan
    wassalamu’alaikum

  12. #12 by Sony Wreksono on December 19, 2007 - 10:08 am

    Bagusnya memang waktu solat di Indonesia dan seluruh dunia juga ikut dengan waktu Makkah. Sekalian supaya selalu sama dengan Saudi.
    Pertanyaannya: apakah ada panduan seperti itu di dalam Al Qur’an dan Sunnah? Tolong dijawab.
    Fi amani Allah.

  13. #13 by A Hilman Yahya on December 20, 2007 - 2:49 am

    Mas Sony, Al-quran dan sunnah sudah jelas-jelas menegaskan agar manusia menggunakan akal fikirannya untuk membaca alam semesta yang ada dan bisa kita jangkau dalam hal menentukan waktu shalat. Dan dalam hal waktu shalat al-quran menjelaskan bahwa peredaran matahari dijadikan patokan.
    Tidaklah Islami jika waktu sholat harus sama dengan Saudi. Coba bayangkan kalau di Saudi sedang memasuki waktu dhuhur sekitar tengah hari, apakah umat muslim di negara seperti Peru shalat dhuhurnya harus tengah malam ??? kalau dilakukan tengah malam jelas akan bertentangan dengan tuntunan al-qur’an.
    Memang sulit kalau masalah fiqhiyah sudah dimasukkan dalam wilayah politis. Everything is depend on Saudi’s Polecy. Sungguh sangat impossible.
    Kayanya kita perlu interupsi juga dech, mengapa dulu para nabi diturunkan di seputar wilayah Jazirah Arab. Apakah mungkin karena kebodohan mereka dalam menata peradaban.
    Saya bukan tidak sepakat dengan konsep khilafah Islam, tetapi jika hal-hal seperti ini masuk juga dalam dominasi konsep politik khilafah maka Islam akan dijerumuskan lagi ke dalam kepentingan kerdil dominasi politis dengan memakai Islam sebagai topengnya.
    Bagi para propagandis khilafah Islamiyah, tolong dijawab pertanyaan saya berikut ini :
    pertama :
    Kalau memang konsep khilafah Islamiyah merupakan alternatif terbaik untuk menata kehidupan manusia di dunia saat ini, mengapa kejayaan khilafah Islamiyah pada jaman dahulu kok sempat-sempatnya runtuh ???
    Di mana kesalahannya, apakah konsep Allah yang salah atau penafsiran manusia yang keliru ???
    Tolong jangan menyalahkan konsep Allah dan maaf jangan pernah mencoba berlaku dominatif dalam wilayah penafsiran manusia. Manusia itu makhluk yang unik hormatilah keunikan itu sebagai sunnatullah.

    Kedua :
    Siapa sih yang sebenarnya pantas jadi pucuk pimpinan khilafah Islamiyah ? Bagaimana mekanisme penobatannnya ?
    Tolong jangan dijawab dengan mekanisme pemilihan antar manusia dalam berbagai bentuknya, karena katanya konsep itu bukan konsep Islam.

    Ketiga :
    Mungkinkan pada saat ini Allah menurunkan lagi seorang nabi yang secara khusus diturunkan untuk menjadi kholifah dalam daulah Islamiyah ?
    Cukup dijawab mungkin atau tidak. Karena dengan dua jawaba itu saya sudah bisa menerka tendensi dari typikal akidah Islam Anda.

    Finally, selamat berjuang para kholifah !!!! saya baru 36 tahun jadi kholifah untuk saya sendiri dan keluarga saya.

    Wassalam
    A. Hillman

  14. #14 by daisy on December 30, 2007 - 5:42 am

    That’s guuuuud coyyy

  15. #15 by ryan on January 12, 2008 - 1:59 am

    ‘hukum asal ibadah (mahdhoh) adalah tauqifi’
    karena penentuan waktu ibadah adalah bagian dari plaksanaan rukun ibadah, ya.. pnentuan wktu ibadah harus dijauhkan dr matematika, astronomi dan lainnya, apabila nash tlah mendefinisikanny scara jelas dan terperinci.
    Masa shabat dan tabi’in tlah menggunakn metode rukyat yg mliputi sluruh wilayah kekuasan Islam, tiada tempat buat metode hisab.

  16. #16 by ALBI FITRANSYAH on April 29, 2008 - 6:06 pm

    ALBI FITRANSYAH

    HATI-HATI DALAM MEMAHAMI SUATU AYAT AL-QURAN DAN AS-SUNNAH. JANGAN MENTERJEMAHKAN LANGSUNG. PERLU DIAJARKAN OLEH GURU, ‘ULAMA, DAN PARA AHLI AGAMA ISLAM.

    JANGAN SAMPAI ORGANISASI INTERNASIONAL INI MENJADI SESAT DAN ANEH. TIDAK ILMIYAH. YANG MEMBAWA KEUNDURAN DAN KEHANCURAN UMAT MANUSIA.

  17. #17 by Abu Athaya on April 30, 2008 - 1:56 am

    @Albi
    Jangan menuduh dengan nada emosi, duduk dulu jika sedang berdiri atau ambil wudhu dulu.

    Katakanlah adakah kesamaan antara orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?

    Albi, perlu baca detai lagi tentang penetapan Ramadhan, Ied dengan melihat hilal yang berbeda dengan penetapan sholat dengan matahari.

    Semoga lebih dewasa dalam menyikapi pemikiran Islam dan bagaimana menghukuminya secara Fiqh.

  18. #18 by Abu Athaya on April 30, 2008 - 8:59 am

    Entah kepongahan atau kesombongan dengan mengatakan saya astronomer dan matematikawan.

    @Albi
    Siapakah yg mampu menentukan dan membagi dunia ini dengan garis tanggal wujudul hilal?tentunya penguasa adidaya, bagimana jika penguasa adidayanya bukan ideologi islam?ya seperti sekarang lah kejadiannya

    Titik point yang ditekankan bahwa kaum muslim sedunia berhari raya dan beramadhan pada hari yang sama adalah suatu keniscayaan.

    Malah yang tidal logis dan tidak masuk akal jika berbeda hari, karena melihat hilal tidak serta merta pada waktru itu juga melaksanakan ibadah sebagaimana sholat.

    Hadits dari Ibnu abbas itu lemah, karena tidak sampe kepada Rasul, itu hanya ijtihad beliau.

    Maka dengan menghormati berbagai ijtihad, tentu yang terkuatlah yang kita mabil.
    Dan yang terkuat itu adalah rukyat global.

    Semoga selain belajar tentang astronominya juga belajar bagaimana penguasa Islam dulu menentukan penanggalan yang sama di seluruh wilayahnya.

  19. #19 by Albi Fitransyah, S.Si on January 8, 2009 - 10:35 am

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’laikum. Warahmatullahi wabarakatuh.

    Albi Fitransyah, S.Si.

    Dengan hormat,

    Kepada seluruh pengguna Internet sebagai media penyalur aspirasi, bahwasanya saya yang bernama Albi Fitransyah, S.Si menyatakan bahwa: ”Tulisan yang dimuat sebelumnya yang bernada tinggi dan keras adalah bukan tulisan saya.” Setelah hampir 2 tahun lamanya, ada orang (hacker/cracker) yang telah menerobos email saya, sehingga bisa mengetahui email dan password untuk menggunakan email saya. Setelah itu, saya langsung lapor ke yahoo.com, setelah itumulai tahun 2009, saya dapat menggunakan kembali email tersebut.

    Albi juga tidak menyalahkan pendapat Rukyat Global. Rukyat Global = Benar. Rukyat lokal = Benar.

    Apabila ada kalimat/pernyataan yang salah/menyinggung, sekali lagi Albi ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

    Demikian. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum.Warahmatullahi Wabarakatuh.

  20. #20 by Albi Fitransyah, S.Si on January 8, 2009 - 10:36 am

    Bismillaahirrahmaanirrahiim.

    Assalamu’laikum. Warahmatullahi wabarakatuh.

    Albi Fitransyah, S.Si.

    Dengan hormat,

    Kepada seluruh pengguna Internet sebagai media penyalur aspirasi, bahwasanya saya yang bernama Albi Fitransyah, S.Si menyatakan bahwa: ”Tulisan yang dimuat sebelumnya yang bernada tinggi dan keras adalah bukan tulisan saya.” Setelah hampir 2 tahun lamanya, ada orang (hacker/cracker) yang telah menerobos email saya, sehingga bisa mengetahui email dan password untuk menggunakan email saya. Setelah itu, saya langsung lapor ke yahoo.com, setelah itumulai tahun 2009, saya dapat menggunakan kembali email tersebut.

    Albi juga tidak menyalahkan pendapat Rukyat Global. Rukyat Global = Benar. Rukyat lokal = Benar.

    Apabila ada kalimat/pernyataan yang salah/menyinggung, sekali lagi Albi ucapkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya.

    Demikian. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum.Warahmatullahi Wabarakatuh.
    fgjf

  21. #21 by masayok on January 9, 2009 - 9:51 am

    @ Albi
    Terimakasih atas pengakuannya.
    Oleh karena itu dengan rasa hormat dan menghormati kebenaran maka komentar yang terdahuli atas nama Akbi tidak akan saya tampilkan. Karena tulisannya seorang pembohong tidak layak di baca.

    Untuk albi yang asli.. selamat membaca artikel-artikel Islam disini.

  22. #22 by RW 01 SUKAAMAN on June 9, 2010 - 8:40 am

    RW 01 SUKAAMAN BANDUNG

    Selasa, 08 Juni 2010
    KETUPAT MERDEKA RW 01 SUKAAMAN BANDUNG
    RW 01 Sukaaman Bandung, Masjid Al-Bayyinah Bandung, dan Masjid Al-Hassanah Bandung akan menyelenggarakan kegiatan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65 tahun sekaligus bertepatan dengan Bulan Suci Ramadhan 1431 Hijriyah.
    Untuk itu, beberapa point acara yang akan diselenggarakan di antaranya:
    1. Tanggal 25 Juli 2010 (Minggu), jam 07:00 WIB – selesai: Perlombaan Umum (Pancalomba), terdiri dari: Balap makan kolek, balap karung, balap kelereng, balap balon, futsal, lari marathon. Ditambah dengan kegiatan bazzar dari sponsor-sponsor yang ikut berpartisipasi pada acara ini.
    2. Tanggal 1 Agustus 2010 (Minggu), jam 07:00 WIB -selesai: Perlombaan Religi Islami, terdiri dari: Lomba adzan, lomba menggambar, kaligrafi, Musabaqah Tilawatil Quran, tahfidzul quran, cerdas cermat anak-anak, cerdas cermat remaja, cerdas cermat ibu-ibu dan bapak-bapak, debat islami, lomba busana muslim, Al-Bayyinah & Al-Hassanah Idol. Ditambah dengan kegiatan bazzar dari sponsor-sponsor yang ikut berpartisipasi pada acara ini.
    3. Tanggal 7 Agustus 2010 (Sabtu), jam 16:00 WIB – 22:00 WIB: “PENTAS SENI RELIGI DALAM KETUPAT MERDEKA”. Acara ini menampilkan kolaborasi nilai-nilai juang patriotisme dalam melawan penjajah dan nilai-nilai religi. Acaranya menampilkan: Nasyid, Pop Islami, Qashidah, Band-band Religi, Operet Lebaran, Puisi, Busana Muslim, pembagian hadiah, salam-salaman.
    4. Tanggal 16 Agustus 2010 (Selasa), jam 16:00 WIB – 22:00 WIB: “BUKA BARENG SEPANJANG JALAN SUKAAMAN + LAYAR TANCAP FILM RELIGI”. Bertepatan dgn Bulan Ramadhan menyambut buka puasa dan sholat taraweh bareng, setelah itu pemutaran Film Religi yang keren abizz.
    5. Tanggal 26 Agustus 2010 (Kamis), jam 20:00 WIB – selesai: “NUZULUL QURAN”. Syukuran khataman Quran 2 masjid Al-Bayyinah + Al-Hassanah.
    6. Tanggal 9 September 2010, jam 18:00 WIB – pagi: “WIRANTA BERTAKBIR”. Takbir bersama 2 masjid (Al-Bayyinah dan Al-Hassanah) kemeriahan sepanjang jalan wiranta.
    7. Tanggal 10 September 2010, jam 06:00 WIB: “SHOLAT IED + HALAL BIHALAL”.

    Bagi yang ingin menyumbangkan donatur dan ikut menyumbangkan lagu-lagunya harap menghubungi Albi Fitransyah dengan:
    albi_fit@yahoo.co.id
    08121479212

  23. #23 by Sukandar sp on October 29, 2011 - 4:00 pm

    Piye cak agus iki. Perintah taat kepada pemimpin itu diwajibkan allah kdp semua musim seluruh dunia. ga ada keteranga bhwa muslim indo taat kpd pemerintah indo. muslim malay taat pd pemerintah dst… itu menunjukkan wajibnya kesatuan pemimpin. Siapa yg dimaksud di alquran dan sunnah yaitu Pemimpin yg taan kpd allh dan Rasulnya. lah pemerintahnya cak agus malah nolak hukum Allh kok ditaati???kan lucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: