“Puasa dan Pengendalian Hawa Nafsu”


Oleh: Adian Husaini

Bagi kaum Muslim, ibadah puasa Ramadhan memang sangat istimewa. Ibadah ini memang dikhususkan untuk orang-orang yang beriman. Sebab, hanya yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya saja yang merasa terpanggil untuk menjalankan ibadah ini. Sebulan penuh kaum Muslim menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hanya dirinya saja dan Allah SWT yang tahu, apakah dia benar-benar berpuasa atau tidak. Tidak ada orang lain yang tahu. Anak istri atau orang tua pun tidak akan tahu, apakah seseorang benar-benar berpuasa atau tidak. Bisa saja kelihatannya seseorang berpuasa, tetapi siapa tahu apa yang dia lakukan ketika dia sendiri.

Karena itulah, puasa Ramadhan benar-benar merupakan ujian dan latihan yang sangat hebat dalam soal keimanan dan kejujuran. Selama Ramadhan inilah, kita, kaum Muslim, berlatih mengendalikan hawa nafsu kita. Betapa pun rasa lapar dan dahaga mencengkeram kita, kita dilatih untuk bersabar menunggu waktu berbuka tiba. Betapa pun kantuk dan lelah menerpa, kita paksakan untuk melangkahkan kaki ke masjid, melaksanakan shalat fardhu berjamaah atau shalat tarawih.

Sebagai manusia kita tentu punya berbagai keinginan dan kecintaan. Sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran ayat 14, sebagai manusia, kita juga menyukai apa yang disukai manusia pada umumnya, seperti menyukai lawan jenis, anak-anak, harta, kendaraan yang bagus, binatang ternak, atau pun sawah ladang. Manusia mana pun, yang normal, akan menyukai hal-hal itu. Islam tidak mengharamkan itu semua. Dan sebagai agama wahyu, Islam berhasil menyatukan hal-hal yang oleh sebagian agama dianggap bertentangan. Misalnya, antara menikah dengan ibadah. Antara kekuasaan dan harta benda dengan sikap zuhud.

Di masa lalu, kita melihat bagaimana Islam melahirkan manusia-manusia yang menaklukkan dunia, tetapi sekaligus seorang ahli ibadah (’abid) yang luar biasa. Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sebagainya adalah penguasa-penguasa negara yang tidak tunduk oleh godaan dunia. Mereka tetap menjadi ahli ibadah yang luar biasa ketika menggenggam kekuasaan dunia yang begitu besar.

Sebagian penganut agama lain menganggap bahwa untuk bisa mendekatkan diri kepada Tuhan, mereka harus meninggalkan istana, harta, dan wanita. Lalu, mereka menjauhkan diri dari kehidupan manusia, karena ingin memperoleh kesucian. Sebagian lagi mengharamkan untuk menikah, agar bisa lebih konsentrasi dalam beribadah. Tetapi, Islam tidak mengikuti kecenderungan semacam itu. Nabi Muhammad saw bahkan bersabda bahwa nikah adalah sunnah beliau dan siapa yang membenci sunnahnya maka tidak termasuk ke dalam golongannya. Jadi, Nabi Muhammad saw tidak terseret oleh tradisi berbagai agama yang mengajarkan bahwa kesucian bertentangan dengan kesenangan duniawi.

Islam tidak melarang umatnya untuk menjadi kaya raya, memiliki istri yang cantik, memiliki kendaraan yang baik atau sawah ladang yang luas. Tapi, Islam mengajarkan umatnya agar tidak diperbudak oleh kesenangan-kesenangan duniawi tersebut. Sebaliknya, setiap Muslim harus menundukkan semua potensi duniawi itu untuk beribadah kepada Allah. Karena itu, Allah mengecam keras manusia-manusia yang berhasil diperbudak hawa nafsu dan menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya.

”Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jatsiyah:23).

Jika orang sudah diperbudak hawa nafsunya, sudah gila wanita, gila harta, gila kekuasaan, atau gila kehormatan duniawi, dan menjadikan semua itu sebagai tuhannya, maka – seperti dijelaskan dalam ayat tersebut – akan tertutup pendengaran, mata, dan hatinya untuk melihat kebenaran. Orang-orang yang menuhankan hawa nafsunya sudah terkunci hatinya untuk menerima kebenaran. Saat ditunjukkan kebenaran, dia akan menutup rapat-rapat mata dan telinganya. Lebih jauh lagi, dia akan berusaha untuk mengaburkan kebenaran, atau menyelimuti kebenaran dengan kebatilan. Inilah dulu yang dikerjakan oleh sebagian kaum Yahudi yang dimurkai oleh Allah karena mengubah ayat-ayat Allah demi sepercik kesenangan dan kebanggaan dunia.

”Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: ”Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS al-Baqarah:79).

Kini, di zaman yang serba sulit ini, godaan dunia juga terasa begitu menyesakkan. Sebagian orang diuji dengan harta yang melimpah. Sebagian lain diuji dengan berbagai kondisi kekurangan. Para ilmuwan juga mendapat ujian yang berat. Tawaran-tawaran yang menggiurkan dari segi duniawi kadangkala datang, meskipun dengan imbalan untuk merusak agama. Berbagai proyek tentang Islam yang secara materiil sangat menggiurkan kini bergentayangan di mana-mana. Padahal, tak jarang, proyek-proyek itu secara terang-terangan merusak Islam, seperti proyek penyebaran paham sekular di Indonesia oleh Prof. Abdullahi Ahmed Naim, beberapa waktu lalu, yang dilakukan lembaga CSRC-UIN Jakarta.

Kabarnya, kini juga sedang ditawar-tawarkan proyek penerjemahan buku Fiqih Lintas Agama yang penerbitannya didanai oleh The Asia Foundation ke dalam bahasa Arab dan bahasa Inggris. Jika kabar ini benar, dan ada cendekiawan yang mau mengerjakan hal itu, alangkah memilukannya. Buku ini begitu vulgar dalam merusak Islam. Hari Rabu (19/9/2007), saya diminta menjelaskan isi buku ini dalam suatu pengajian dhuhur di sebuah perkantoran di Jakarta. Setelah saya paparkan isi buku tersebut dan berbagai kekeliruannya, banyak karyawan yang rata-rata mengaku sebagai orang awam dalam agama mendatangi saya dan bertanya, mengapa orang-orang yang pandai dalam agama (beberapa penulisnya adalah profesor dan doktor dalam keislaman dan dosen-dosen di perguruan tinggi Islam) sampai hati melakukan tindakan seperti itu.

Seperti pernah kita bahas dalam CAP yang telah lalu, sejumlah isi buku ini memang mengandung kesalahan yang fatal dan keterlaluan. Misalnya, menyebutkan bahwa ”karena (Imam) Syafi’ilah pemikiran-pemikiran fiqih tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad.” Bagian lain yang sangat fatal kekeliruannya, misalnya, dalam penjelasan tentang kitab suci agama-agama dan konsep ketuhanan. Misalnya disebutkan:

”Maka pada prinsipnya kitab-kitab suci tersebut tidak boleh dikonfrontasikan, tetapi justru harus dicari dan dihayati dasar-dasar pertemuannya. Al-Quran tidak menghendaki konfrontasi serupa itu, karena kitab suci kaum Muslim melihat dirinya sebagai kelanjutan yang konsisten dari Injil dan Taurat, bahkan kitab-kitab atau lembaran-lembaran (shuhuf) para Nabi sebelumnya. Kenyataan bahwa Al-Quran hadir setelah Injil mengisyaratkan adanya perkembangan maupun perbedaan, meskipun segi persamaannya lebih asasi. Titik persamaan antara kitab-kitab suci – tidak terbatas hanya Al-Quran, Injil, dan Taurat, tetapi juga kitab-kitab suci lain – jauh lebih banyak dibandingkan titik-titik perbedaannya.” (hal. 55).

Para penulis buku ini seperti sengaja meyembunyikan ayat-ayat dalam Al-Quran yang dengan tegas menyebutkan, bahwa kaum Yahudi telah mengubah-ubah kitab mereka, sehingga Torah yang sekarang dipegang oleh kaum Yahudi jelas tidak bisa lagi dipastikan sebagai kitab suci Taurat yang dulu diturunkan kepada Nabi Musa a.s. Karena itu, Judaisme (agama Yahudi) yang sekarang, dalam pandangan Islam, bukanlah sama dengan agamanya Nabi Musa a.s. Begitu juga Bibel Perjanjian Baru tidaklah sama dengan Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa a.s. Sebab, dalam Al-Quran jelas disebutkan, bahwa Nabi Isa a.s. telah mengajak kaumnya agar menerima kedatangan Nabi Muhammad saw dan mengimaninya. Tetapi, mereka akhirnya menolak. Bahkan, kemudian mengangkat Nabi Isa a.s. sebagai Tuhan atau anak Tuhan. Karena itulah, Al-Quran dengan tegas bahwa Allah sangat murka karena disebut memiliki anak. (QS Maryam:88-92).

Jika dicari-cari persamaannya tentu saja akan ketemu. Tetapi, justru masing-masing kitab suci itu memiliki perbedaan yang fundamental, terutama dalam konsep ketuhanan. Kaum Yahudi hingga kini gagal memecahkan misteri nama Tuhan dalam agama mereka yang disimbolkan dalam empat huruf mati (tetragrammaton), YHWH. Karena itu, kaum Yahudi dan Kristen di Barat tidak pernah menyebut nama Tuhannya. Penulis buku ini juga dengan sangat sembrono menyatakan, semua kitab suci lebih banyak mengandung persamaan ketimbang perbedaannya. Jelas ini klaim yang tidak masuk akal. Apakah mereka sudah sudah membaca semua kitab suci itu? Ini pasti khayalan, bukan hasil penelitian!

Karena kaum Yahudi dan Kristen di Barat tidak punya nama Tuhan, lalu para penulis buku Fiqih Lintas Agama ini dengan sembrononya menyatakan, bahwa nama Tuhan bukanlah soal yang asasi. Yang asasi ialah pengertiannya. (hal. 56). Cara pandang seperti ini adalah cara pandang Yahudi-Kristen dan agama lain yang dipaksakan kepada Islam. Sebab, Islam memandang nama Tuhan juga merupakan hal yang asasi. Sebab, dalam Islam, nama Tuhan sudah ditentukan dan disebutkan dalam Al-Quran, yaitu ’Allah’. Karena nama Tuhan dalam Islam sudah jelas dan final, maka kaum Muslim di seluruh dunia menyebut Tuhan dengan nama yang sama, baik Allah maupun nama-nama lain yang juga disebut dalam Al-Quran.

Ibn Katsir dalam Tafsir-nya menulis bahwa ‘Allah’ adalah ‘al-ismu al-a’dhamu’. ’Allah’ juga merupakan nama yang khusus dan tidak ada sesuatu pun yang memiliki nama itu selain Allah Rabbul ‘Alamin. Bahkan, sejumlah ulama seperti Imam Syafii, al-Khithabi, Imam Haramain, Imam Ghazali, dan sebagainya menyatakan, bahwa lafaz Allah adalah isim jamid, dan tidak memiliki akar kata. Menurut para ulama ini, kata Allah bukan ‘musytaq’ (turunan dari kata asal).

Karena merupakan nama, maka nama Allah, seharusnya tidak diterjemahkan. Karena itu, orang Muslim akan membaca syahadat: ”Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Kaum Muslim akan tercengang jika ada yang mengucapkan syahadat: ”Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan — dengan t kecil – kecuali Tuhan — dengan T besar. Dan saya bersaksi bahwa yang terpuji itu utusan Tuhan (dengan T besar).”

Yang juga keterlaluan dari buku ini adalah perombakan hukum soal perkawinan antar-agama, khususnya antara laki-laki non-Muslim dengan wanita muslimah. Disebutkan:

“Soal pernikahan laki-laki non-Muslim dengan wanita Muslim merupakan wilayah ijtihadi dan terikat dengan konteks tertentu, diantaranya konteks dakwah Islam pada saat itu. Yang mana jumlah umat Islam tidak sebesar saat ini, sehingga pernikahan antar agama merupakan sesuatu yang terlarang. Karena kedudukannya sebagai hukum yang lahir atas proses ijtihad, maka amat dimungkinkan bila dicetuskan pendapat baru, bahwa wanita Muslim boleh menikah dengan laki-laki non-Muslim, atau pernikahan beda agama secara lebih luas amat diperbolehkan, apapun agama dan aliran kepercayaannya.” (hal. 164)

Membaca tulisan semacam itu, kita patut bertanya, apa sebenarnya yang bersarang dalam benak para penulis buku ini? Apakah mereka tidak berpikir akan dampak dari tulisan mereka itu. Padahal, kaum Katolik saja berkeberatan dengan perkawinan beda agama. Dalam bukunya, Perkawinan Menurut Islam dan Katolik, Implikasinya dalam Kawin Campur, (Yogya: Kanisius, 1990), Dr. Al. Purwohadiwardoyo MSF, menyatakan, bahwa menurut hukum gereja katolik, perkawinan beda agama bukanlah sebuah sakramen, sebab salah satu tidak beriman kristen. Hukum gereja katolik memang dapat mengakui sahnya perkawinan mereka, asal diteguhkan secara sah, namun tidak mengakui perkawinan mereka sebagai sebuah sakramen (sebuah perayaan iman gereja yang membuahkan rahmat berlimpah.

“Kesulitan lain muncul dalam hal memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka. Pihak Katolik mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak dalam semangat katolik, bahkan ia harus berusaha sekuat tenaga untuk membaptis mereka secara katolik. Padahal kewajiban yang sama juga ada pada pihak yang beragama Islam,” tulis Purwohadiwardoyo.

Jika wanita Muslimah boleh kawin dengan laki-laki yang beragama agama apa saja atau penganut aliran kepercayaan apa saja, bagaimana jika wanita Muslimah itu menikah dengan laki-laki penganut paham Gatholoco atau Darmogandul yang secara tegas melecehkan Islam dan Rasulullah saw dalam kitab mereka?

Kita kasihan dengan nama-nama yang tercatat sebagai penulis dalam buku ini, seperti Nurcholish Madjid, Komaruddin Hidayat, dan sebagainya. Mestinya jika merasa namanya dicatut, sebaiknya segera membuat pengumuman ditengah masyarakat. Kita memaklumi, banyak yang meraih keuntungan duniawi dari buku proyek semacam ini. Mudah-mudahan tidak benar kabar yang menyatakan bahwa saat ini juga sedang berlangsung proyek penerjemahan buku ini ke bahasa Arab dan Inggris. Konon, bayaran untuk penerjemahnya juga cukup menggiurkan. Jika berita ini benar adanya, maka sungguh sangat menyedihkan. Mengapa ada ilmuwan yang mau menerima proyek semacam ini.

Tapi, kita hanya bisa mengingatkan dan mengimbau. Bagi kita amal kita dan bagi mereka amal mereka. Mudah-mudahan puasa Ramadhan kita kali ini semakin meningkatkan daya tahan kita dari berbagai godaan hawa nafsu duniawi dan semakin menajamkan mata, telinga, dan hati kita dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah, sehingga kita tidak terperosok ke dalam golongan yang merasa berbuat baik, padahal telah melakukan kerusakan. Amin.

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: