ISTRI KEDUA YANG (MERASA) DINOMORDUAKAN


ISTRI KEDUA YANG (MERASA) DINOMORDUAKAN

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullah

Ustadz yang saya hormati,

Saya termasuk warga yang diuji Allah ta’ala dengan musibah gempa bumi yang terjadi baru-baru ini. Dan sekarang ini istri dan anak-anak saya tinggal di pengungsian yang jaraknya sekitar 100 km dari tempat tinggal kami. Diantara teman-teman istri saya di dalam pengungsian terdapat beberapa akhwat yang melaksanakan poligami. Di antara mereka ada yang menghadapi masalah berat kaitannya dengan kehidupan rumah tangga poligami mereka dan sering curhat kepada istri saya. Walaupun sebenarnya masalah keluarga kami juga tidaklah ringan, tetapi kami berempati terhadap masalah yang mereka hadapi. Atas permintaan istri saya, salah seorang dari mereka (sebut saja fulanah) sering saya tolong dalam memenuhi kebutuhannya ketika di pengungsian. Kami berdua sangat peduli karena melihat yang bersangkutan sebagai istri muda agak dinomorduakan dari pada madunya. Padahal saat ini dia amat membutuhkan pertolongan terutama karena tekanan mental yang dialaminya pasca kejadian gempa. Adapun pertanyaan saya adalah:

1. Apakah yang sebaiknya dilakukan oleh ukhti fulanah tersebut dalam menghadapi masalah ini? Dan bolehkah saya mengingatkan suami yang bersangkutan untuk lebih memerhatikan istri mudanya (tentunya tanpa menzhalimi istri tuanya)?

2. Apakah diperkenankan oleh syariat Islam apabila saya –bersama-sama dengan istri tentunya- memberi nasihat-nasihat agama walaupun secara tidak langsung kepada fulanah tersebut. Adapun tujuannya agar kondisi mentalnya pulih kembali seperti semula?

3. Bolehkah saya menolong akhwat tersebut (dan juga akhwat lainnya yang mengalami masalah yang sama), karena kadang saya harus mengantarkannya ke tempat pengungsian dengan ditemani istri saya, karena yang bersangkutan tidak mempunyai mahrom lain selain suaminya (sementara menurut penjelasan si fulanah, madunya lebih mendapat perhatian). Perlu ustadz ketahui, kami melakukan ini karena darurat.

Kami ucapkan syukron katsiron dan jazakumullah khairon atas dimuatnya pertanyaan kami ini. Dan kami berdoa semoga amal yang dilandasi maksud baik kami ini tidak melanggar aturan Allah ta’ala dan semoga juga pasangan suami istri lain yang mengalami masalah yang kurang lebih sama dengan fulanah dan suaminya dapat mengambil pelajaran dari nasihat-nasihat ustadz.

Wassalamu’alaikum warahmatullah

Abang

Di kota Gudeg

Jawaban:

Hukum asal dalam berpoligami adalah suami harus berbuat adil di dalam memberikan hak-hak lahiriah terhadap istri-istrinya.

“ Janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan kamu biarkan yang lain terkatung-katung”. (An-Nisa: 129)

Syaikh Abdur Rahman As Sa’dy v berkata,”Adapun memberi nafkah, pakaian dan jatah gilir dan yang semisalnya, maka wajib bagi kalian untuk berlaku adil. Berbeda dengan cinta dan jimak dan masalah-masalah batin yang lainnya”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang memiliki dua istri lalu dia melebihkan dalam masalah dzahir terhadap salah satunya, maka dia pada hari kiamat nanti akan berjalan dalam keadaan miring”.

Namun dalam kondisi dan kasus tertentu, atas dasar kerelaan sebagian istri, suami diperbolehkan untuk tidak berlaku adil terhadap semua istrinya. Sebagaimana firman Allah dalam surat An-Nisa ayat 128.

Contoh-Contoh Kasus

Karena faktor tertentu suami tidak mencintai istrinya sedangkan istri masih membutuhkan suaminya, maka si istri boleh mengajukan tawaran kepada suaminya. Memohon agar tetap menjadi istrinya, walaupun dia tidak mendapatkan sebagian haknya atau keseluruhan haknya. Dan bagi suami sebaiknya menerima tawaran istrinya, karena keutuhan keluarga lebih baik dan lebih disukai Allah ta’ala daripada perceraian.

Dan kasus ini pernah dialami sebagian istri nabi dan sebagian istri sahabat.

Dan dalam hadits Bukhari diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa ketika di akhir hayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau meminta izin kepada istri-istri beliau untuk tinggal di rumah Aisyah dan kemudian diizinkan oleh istri-istri beliau.

Jadi adil antara semua istri tidak mutlak harus/wajib. Dalam kondisi-kondisi tertentu, atas keridhoan sebagian istri, suami diperbolehkan untuk tidak berlaku adil.

Berkaitan dengan kasus di atas, memang sebaiknya suami dinasihati agar tidak berbuat zhalim, tapi sang istri juga jangan berburuk sangka dan tergesa-gesa dalam menilai suami. Apalagi dalam keadaan tertimpa musibah seperti ini dan dipisahkan oleh jarak yang cukup berjauhan. Perlu dilihat dulu kondisi suami, apabila tidak memungkinkan baginya untuk dapat berbuat adil, mungkin karena faktor jarak atau biaya, atau tempat, atau mungkin istri pertama dalam keadaan sakit atau punya banyak anak yang masih kecil-kecil, atau faktor-faktor lain, maka istri kedua hendaknya berusaha untuk berlapang dada dan memaklumi serta berusaha bersabar sambil terus berdoa, semoga suaminya segera diberikan kemudahan oleh Allah untuk bisa memenuhi hak-hak istri-istrinya sebagaimana yang digariskan oleh syariat.

Adapun seorang laki-laki memberikan nasihat kepada wanita, hal itu diperbolehkan, akan tetapi jika nasihat tersebut diberikan oleh sesama wanita, maka hal itu lebih baik karena wanita lebih memahami tentang kondisi sesama wanita.

Adapun mengantarkan wanita yang bukan mahrom dalam jarak yang belum dianggap safar, asalkan masih tetap menjaga batasan-batasan syar’i dan aman dari fitnah serta diizinkan oleh suaminya, insyaallah diperbolehkan. Adapun jika jarak yang sudah dianggap safar maka hal itu tidak diperbolehkan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak diperbolehkan seorang wanita melakukan safar kecuali ditemani oleh mahromnya”.

Adapun dalam keadaan darurat yaitu dalam kondisi yang apabila wanita tersebut tidak pergi maka jiwa dan agamanya terancam, insyaallah dibolehkan. Kaidah ushul mengatakan,”kondisi terpaksa membolehkan untuk melakukan sesuatu yang dilarang”.

Wallahu a’lam.

(ustadz syamsuri)

Advertisements
  1. #1 by Putri on January 26, 2009 - 3:38 pm

    Assalamu’alaikum wr.wb.

    Ustadz, saya ingin menanyakan beberapa hal menyangkut dengan posisi saya sebagai istri kedua. Saya sudah tiga tahun menikah dengan suami saya dalam kondisi saya sebagai istri kedua, dan sebelumnya saya sudah mempunyai anak yang berumur 6tahun dan tinggal dengan orang tua saya. Saat pertama menikah dengan suami, ia telah pisah rumah dengan istri pertamanya, namun tidak melakukan perceraian. Namun, setahun terakhir suami saya sudah merasa siap untuk pulang ke rumah istri pertama dengan pertimbangan anak2. Masalah yang saya hadapi saat ini adalah: saya merasa suami berlaku tidak adil,
    pertama; karena keluarga besar dari suami saya tidak ada yang mengetahui tentang pernikahan kami, maka suami saya harus berlaku selayaknya tidak mempunyai istri kedua. Saya tidak pernah sekalipun bertemu dengan keluarga besarnya, orang tuanya, maupun anak istrinya untuk diperkenalkan. Sehingga saya harus mengerti kebutuhan waktu untuk keluarga suami saya dan tidak dapat diganggu gugat.
    kedua; saya merasa suami saya tidak adil dalam hal materi dalam hal tempat tinggal, yang sampai saat ini saya harus tinggal terpisah dengan anak saya karena belum memiliki tempat tinggal.
    Ketiga; suami saya sering kali berubah2 perlakuannya tergantung dari kondisi rumah tangga nya dengan istrinya. Apabila kondisi rumah tangga sedang membaik, maka saya akan jarang dikunjungi maupun dihubungi. Namun apabila kondisinya sedang memburuk, suami saya akan sering mengunjungi saya. dengan kondisi tersebut saya menjadi sangat tidak nyaman.
    yang ingin saya tanyakan adalah:
    1. apakah seorang istri kedua tidak boleh dikenal atau diketahui oleh keluarga besar suami?
    2. apakah anak yang saya miliki yang bukan dari pernikahan kami merupakan tanggung jawab lahir batin suami saya saat ini atau tidak.
    3. apa yang harus saya lakukan terhadap perilaku tidak adil yang dilakukan suami.

    syukron sebelumnya ustadz.

    Wassalam.

  2. #2 by bunda cenna on October 8, 2009 - 2:20 am

    Saya juga sama istri kedua kalo mengikuti nafsu saya sudah tidak kuat lagi karena memang kita harus slalu d nomer duakan dan slalu harus mengalah dengan istri pertama…tapi saya kembalkikan lagi pada allah ini semua takdir yang harus kami lalui…dg sabar dan iklas karena allah saya yakin pasti ad hikmah d semua ini

  3. #3 by ceu ijah on April 22, 2013 - 3:10 pm

    tp bgmn meyakinkan suami nya krn saya sbg istri muda mers suami tdk adil,apa2 slalu istri tua.

  4. #4 by Gita Agustina on June 27, 2013 - 6:23 am

    ass…
    sama halnya seperti mba putri diatas,posisi saya menjadi istri ke2.tp alhamdulillah keluarga suami saya mengetahuinya,sesekali sayapun bermain dgn anak suami dri istri pertamanya.istri pertamanya tdk mengetahui keberadaan saya.sakit sich sebetulnya menjadi yang ke2,tapi mau gimana lagi semua udah dijalankan seperti ini..

    • #5 by Imam Imam Muslim on May 2, 2015 - 11:09 am

      Bunda2 kita memiliki pengalaman yg hampir sama.memang sulit tp tetep sabar ya

      • #6 by norzae on May 4, 2015 - 12:03 am

        Saya merupakan isteri kedua yg dinikahi selama setahun. Saya dgn suami tidak mempunyai zuriat dan saya masih tinggal bersama anak saya hasil perkongsian dgn suami pertama sehingga skrg kerana suami tidak menyediakan tempat tinggal untuk saya cuma nafkah bulanan sahaja. Isteri pertama suami tidak redho dan tidak boleh menerima org ketiga dlm hidupnya dan meminta suami meninggalkan nya dan sekira suami tidak sanggup dia mendesak suami meninggalkan saya. Suami saya amat menyayangi isteri dan keluarganya dan tidk sanggup berbuat demikian. Suami amat stress akibat dari tekanan sebelah pihak pertama. Saya bertemu dgn suami sekiranya ada urusan di negeri tempat tinggal saya sahaja kadang2 2 bulan atau 3 bulan sekali sahaja walaupun perjalanan dari tmpt saya cuma mengambil masa selama 3 jam sahaja dari rumahnya bersama isteri pertama.
        Apa pendapat ustaz mengenai masaalah saya ini. Tidak kah ini suatu ketidakadilan bagi isteri kedua seperti saya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: