82 Persen Penggilingan Padi di Jabar Gunakan Klorin


Senin, 03 September 2007

82 Persen Penggilingan Padi di Jabar Gunakan Klorin

Penggilingan padi terpaksa gunakan klorin karena permintaan pasar.

BANDUNG — Masyarakat diminta berhati-hati dalam mengonsumsi beras super yang dijual di pasaran. Beras yang terlihat putih, belum tentu alami. Berdasarkan hasil survei, banyak penggilingan padi di Jabar menggunakan klorin untuk memutihkan beras.

Hasil survei yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Jabar menunjukkan, dari 34 penggilingan padi dan dijadikan sampel, 28 di antaranya, atau sekitar 82 persen menggunakan klorin untuk memutihkan beras. ”Penggilangan padi merespon permintaan pasar, masyarakat kan inginnya beras super dengan putih yang mengkilap,” ujar Kepala Dinas Pertanian Jabar, Asep Abdi, Sabtu (1/9).

Asep mengatakan, selama ini masyarakat tidak sadar kalau beras yang dibelinya menggunakan bahan klorin yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Mereka, kata dia, tertipu oleh penampilan beras yang putih .”Masyarakat inginnya beras yang bagus, tapi tidak tahu apakah beras itu aman atau tidak,” katanya.

Dinas Pertanian Jabar, lanjut Asep, melakukan survei berdasarkan laporan dari masyarakat tentang beras putih yang berindikasi menggunakan klorin. Karena laporan itu harus dibuktikan, maka pada Juli-Agustus dilakukan survei. Penelitian sendiri, imbuh dia, dilakukan dengan mengambil sampel beras di tempat-tempat penggilingan.

Untuk menguji kandungan bahan kimia pada beras, lanjut Asep, pihaknya tidak memiliki hambatan karena sudah memiliki laboratorium kimia agro. Jadi, tidak hanya beras saja yang diteliti, sayuran dan bahan olahan pun menjadi sasaran.

Khusus untuk penggilingan yang terbukti menggunakan klorin, kata Asep, pihaknya belum memberikan sanksi. Untuk sementara waktu, mereka dianggap tidak tahu. ”Jadi kita maafkan dulu sambil memberikan sosialisasi. Tapi, kalau sudah diberi penjelasan masih menggunakan klorin untuk memutihkan beras, sanksi kepada tempat penggilingan baru akan diberikan,” tutur dia.

Agar penggilingan beras di Jabar tidak menggunakan klorin, cetus Asep, pihaknya mencanangkan penghentian penggunaan bahan kimia berbahaya itu. Ia mengakui, pencanangan penghentian penggunaan zat kimia itu akan berdampak pada omzet penggilingan padi. ”Penghasilan mereka akan berkurang. Sebagai perbandingan, harga beras biasa Rp 4.500 tapi beras super ada yang mencapai Rp 8.000 per kg,” ujar dia.

Dikatakan Asep, pengelola penggilingan mencampur klorin saat padi sudah menjadi beras. Karena campuran itu, beras pun terlihat putih bersih. Padahal, lanjut dia, untuk menghasilkan beras yang putih alami, produsen bisa menggunakan teknologi pangan. Caranya, setelah panen padi harus cepat dikeringkan.

Cara lain, kata Asep, mengurangi Nitrogen pada padi sebelum digiling, akan memberikan warna yang jernih alami, tidak kuning, dan sehat. ”Menghasilkan beras yang bagus tidak perlu pakai pemutih. Kalau zatnya seimbang dan beras cepat dikeringkan maka beras bisa putih,” katanya.

Bahan klorin sendiri, ungkap Asep, berbahaya bagi manusia tapi bersifat akumulatif. Efeknya akan terasa setelah sekitar 20 tahun dan menyerang bagian usus. Usus akan tergerus dan sering menimbulkan penyakit maag.

Untuk mengetahui beras yang menggunakan pemutih dan tidak sangat mudah. Beras yang tak menggunakan pemutih warnanya tidak mengkilap dan jernih. Kalau diraba, beras yang tak menggunakan pemutih tidak licin. Saat dicuci, beras yang alami akan keruh seperti air sabun.

Sementar itu, ketika Republika menemui sejumlah pedagang beras di pasar tradisional di Kota Bandung, menyatakan sudah lama tak menjual beras yang dicampur klorin. Menurut Wati, pedagang beras di Pasar Ujungberung, sudah lama ia tak menerima pasokan beras bercampur klorin.

Wati mengaku menjual beras tanpa merek dengan kualitas baik. Meski beras tersebut tak bermerek, kata dia, ia menjamin barang dagangannya itu tak dicampur klorin. ”Saya sangat menjaga kepercayaan pelanggan. Karena itu beras yang saya jual tak mengndung klorin,” ujar dia, Jumat (31/9).

Advertisements
  1. #1 by andy_lho on December 6, 2007 - 2:23 pm

    selamat anda telah mengerti dan sadar akan bahaya “this chemical’s danger” huehehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: