Berpikir dalam Konteks Politik


BERPIKIR DALAM KONTEKS POLITIK
Amerika Serikat mengumumkan telah menangkap Hambali, seseorang yang konon merupakan tokoh penting jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI) dan penghubung JI dengan al-Qaidah pimpinan Usamah bin Ladin. Hambali pula yang konon mendalangi serangkaian pemboman, termasuk Bom Bali 2002.
Ketika bom meledak di Hotel JW Mariott 5 Agustus 2002 lalu, pemerintah Australia dan Singapura langsung menunjuk JI sebagai dalangnya. Beberapa saat kemudian, ada telepon gelap di Singapura dari seseorang yang mengaku sebagai anggota JI seraya mengatakan bahwa bom itu adalah pesan kepada Megawati “agar tidak menekan Islam militan di Indonesia”. Kebetulan, pekan itu memang dua “tokoh” sedang diadili, yaitu Amrozy yang kemudian dijatuhi hukuman mati dan Abu Bakar Baasyir, tokoh MMI, yang juga dituduh merupakan amir JI di Asia Tenggara. Beberapa petinggi negeri ini bahkan bereaksi dengan mengusulkan agar pemerintah merevisi UU Anti Terorisme, bahkan bila perlu mengadopsi Internal Security Act (ISA) ala Malaysia yang akan mengizinkan negara menahan seseorang tanpa bukti apapun melainkan cukup diduga akan melakukan aksi teror (yang disebut dengan tindakan pencegahan). Orang yang ditahan itu juga tidak diizinkan untuk didampingi pengacara atau berhubungan dengan dunia luar.
Sementara bom di Mariott langsung dialamatkan kepada teroris, padamnya listrik di sejumlah kota penting di Amerika Serikat dan Kanada pada 14 Agustus 2003 lalu sama sekali tidak dialamatkan kepada teroris, padahal sebagian besar penduduk New York semula berpikir begitu.
Bagaimana Seorang Muslim Berpikir

Bom meamang telah meledak di Mariott, listrik telah padam di seantero kota penting di AS, dan seseorang bernama Amrozy telah mengaku berperan dalam peristiwa bom di Bali. Semua itu adalah fakta. Sebaliknya, bahwa Bom Mariott didalangi JI atau padamnya listrik di New York bukan aksi teror baru merupakan sebuah opini. Selain itu, masih ada “fakta” yang samar-samar, semacam Hambali yang dituduh sebagai tokoh penting JI, yang berhasil ditangkap dan langsung dibawa ke AS.
Sebagaimana diketahui, cara orang menilai dan menyikapi suatu benda atau peristiwa bergantung pada cara dia berpikir. Berpikir itu sendiri adalah suatu aktivitas yang melibatkan setidaknya tiga komponen:
(1) input data/fakta dari dunia realita ke otak kita (yaitu melalui panca indera dan alat bantunya);
(2) otak kita sebagai alat pemroses data untuk mengaitkan antar data;
(3) data dan informasi yang telah terekam sebelumnya (pemahaman sebelumnya) dalam memori kesadaran kita yang akan kita hubungkan secara terus-menerus dengan fakta-fakta baru.
Komponen ke-3 adalah komponen yang sangat penting. Bahkan inilah faktor yang membedakan seorang awam dengan pakar atau seorang yang berpikiran dangkal dengan yang berpikiran mendalam.
Seseorang yang dihadapkan pada peristiwa yang sama, misalnya bom, akan menilai berbeda-beda berdasarkan pemahaman yang ada sebelumnya. Karena itu, sebenarnya hampir mustahil seseorang memberikan penilaian atas suatu peristiwa hanya dengan mengandalkan “fakta-fakta di lapangan”.
Setiap polisi, misalnya, pasti memiliki suatu pemahaman yang sesuai dengan pendidikannya, pengalamannya, juga apa yang dia dengar dan lihat selama ini. Karena itu, sangat wajar jika seorang polisi yang “dibesarkan” dengan teori-teori “JI”, tentu pikirannya akan otomatis mencoba mencari fakta di lapangan yang memang “cocok” untuk dijadikan bukti atau indikasi JI. Tidak aneh, dalam kasus Bom Bali, yang turut dijadikan barang bukti dalam penggeledehan para tersangka adalah termasuk buku-buku dan majalah Islam, yang sebenarnya juga dijual bebas di mana-mana.
Karena itu, seorang Muslim seharusnya mampu:
1. Berpikir mendalam, majemuk, dan non-linier; membedakan antara opini dan fakta, antara fakta satu dan fakta lainnya, serta antara fakta asli dan fakta yang direkayasa. Memang, ada teroris yang kebetulan memiliki ciri-ciri: berjenggot, mencita-citakan penerapan syariat Islam, dan anti AS. Namun demikian, tentu tidak tepat untuk menarik kesimpulan umum bahwa semua orang yang berjenggot, merindukan penerapan syariat dan anti AS adalah “teroris potensial” atau “teroris laten” sehingga pantas ditahan dengan prinsip “preemptive” sesuai ISA. Ini bukanlah bentuk pemikiran yang mendalam. Sama dangkalnya dengan cara berpikir, bahwa karena seekor monyet itu suka loncat-loncat, makan pisang, dan memanjat pohon, maka semua binatang yang suka loncat-loncat, makan pisang, dan memanjat pohon pastilah seekor monyet.
2. Berpikir ideologis dan sistemik. Islam adalah agama untuk mengatur kehidupan manusia; baik dalam hubungannya dengan Rabb-nya, dengan dirinya sendiri, maupun dengan manusia lain. Karena itu, ajaran Islam pastilah suatu ajaran yang sistemik, yang meliputi seluruh aspek kehidupan. Karena Islam diletakkan di atas dasar akidah rasional yang khas, yang juga memberi jawaban atas pertanyaan asal-usul serta tujuan hidup manusia, Islam juga merupakan sebuah ideologi. Karena itu, seorang Muslim mestinya terbiasa berpikir ideologis dan sistemik, tidak cuma berpikir parsial. Setiap masalah yang parsial akan diletakkan dalam kerangka sistem. Sebagai contoh, ketika dia berpikir tentang pornografi, fokusnya tidak sekadar larangan Islam atas mempertontonkan aurat, namun juga mencakup aturan-aturan Islam tentang ekonomi, pranata sosial, politik dan bahkan hubungan internasional. Bukankah sebagian pengedar pornografi melakukan aktivitas itu karena desakan ekonomi? Bukankah pranata sosial yang materialis telah menyebabkan rasa malu lenyap? Bukankah negara tidak menerapkan aturan-aturan yang mampu menjerat pelaku pornografi dengan efektif? Bukankah pula Barat menginginkan gaya hidup mereka ditiru oleh dunia Islam?
Kesadaran Politik Islam

Seseorang yang berpikir ideologis dan mendalam akan memiliki kesadaran politik yang kuat. Kesadaran politik ini akan membimbingnya sehingga tidak terombang-ambing oleh berbagai skenario politik. Ia akan bisa membedakan opini Islam dari opini kufur yang berbaju Islam atau membedakan tradisi Islam dari tradisi yang kebetulan berkembang di negeri Muslim namun bukan berasal dari Islam. Dia juga mampu memisahkan antara membela Islam dan membela kepentingan seorang Muslim yang boleh jadi melanggar aturan Islam. Dia tidak akan diam saja menyaksikan kemaksiatan, namun ia juga tidak mudah dihasut untuk “menari dalam irama gendang” musuh-musuh Islam. Dia tidak akan terpancing untuk melakukan perusakan atau pemboman sarana-sarana publik, seperti yang dilakukan para teroris di Bali atau di Hotel Mariott, karena merusak sarana umum adalah haram, dan itu bukan cara yang dicontohkan Rasulullah saw. untuk menegakkan syariat Islam.
Barangkali, sejumlah pelaku lapangan dalam aksi-aksi teror memang seorang Muslim yang ikhlas dan ingin berjihad menegakkan Islam. Namun demikian, keikhlasan saja tentu tidak cukup, karena diperlukan syarat lain, yakni sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda:
Siapa saja yang melakukan suatu tindakan yang tidak diperintahkan oleh kami, maka tindakannya tertolak. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Mengomentari hadis ini, Ibn Katsir, dalam tafsirnya (II/302), menyatakan bahwa siapa saja yang melakukan tindakan yang menyalahi syariat yang dibawa Rasulullah, dia harus hati-hati dan takut akan fitnah/azab yang menimpanya.
Banyak tukang ibadah atau orang yang gemar beribadah yang memang ikhlas mengabdikan dirinya untuk Tuhannya. Namun demikian, jika ibadah itu dilakukan dengan kebodohan, bisa jadi keikhlasannya itu membawa bencana bagi dirinya sendiri ataupun bagi kemanusiaan. Tentu saja, tukang ibadah yang bodoh ini juga merupakan “makanan empuk” bagi para pakar (atau secara generik dalam bahasa Arab disebut “ulama”) yang jahat. Para pakar jahat ini bisa mewujudkan berbagai kepentingan busuknya, baik bagi dirinya sendiri, penguasa yang zalim, maupun pihak asing yang ingin menghancurkan Islam melalui tangan-tangan orang-orang ikhlas di antara kaum Muslim sendiri; yang tidak memiliki kesadaran politik akibat tidak berpikir mendalam, majemuk, non-linier, serta ideologis dan sistemik.
Seruan kepada kaum Muslim

Sungguh, al-Quran telah mengajarkan kepada kita untuk banyak berpikir dan memperhatikan baik kejadian alam maupun peristiwa-peristiwa politik. Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya telah berlalu sebelum kalian sunnah-sunnah Allah. Karena itu, berjalanlah kalian di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan. (QS al-Imran [3]: 137).
Tidaklah kalian memperhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman. Orang-orang itu bukan dari golongan kalian dan bukan dari mereka. Mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedangkan mereka mengetahui. (QS al-Mujadilah [58]: 14).
Al-Quran juga mengajarkan kepada kita agar selalu waspada dan siap dalam menghadapi makar-makar orang-orang kafir.
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kalian sehingga kalian mengikuti kemauan mereka. (QS al-Baqarah [2]: 120).
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, periksalah dengan teliti, agar kalian tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan kalian itu. (QS al-Hujurat [49]: 6).
Umat Islam harus mampu meningkatkan kualitas berpikir mereka agar mereka memiliki kesadaran ideologis. Dengan begitu, mereka tidak terus-menerus hanya menjadi buih di era globalisasi ini. Allah Swt. berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. (QS ar-Ra‘du [13] : 11).

Advertisements
  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: