Haram Berdiam Diri Melihat Kemungkaran


TERHADAP KEMUNGKARAN/KEMAKSIATAN: UMAT ISLAM HARAM BERDIAM DIRI

Oleh: H.Adian Husaini, M.A.
(Anggota Komisi Kerukunan antar-Umat Beragama MUI
Pusat)

1. Kedudukan kemungkaran dalam Islam

Kemaksiatan/kemunkaran/kejahatan di negeri muslim
terbesar, Indonesia, sudah sangat keterlaluan.
Tindakan biadab yang merusak sendi-sendi keimanan dan
keharmonisan sosial itu sudah semakin merajalela dan
dibiarkan berkembang terus di tengah masyarakat
muslim. Lihatlah bagaimana para wanita Tuna Susila
beserta germo-germonya sudah berani melakukan unjuk
rasa di Surabaya, menuntut hak untuk berpraktik
maksiat. Para penjudi, pemabok, kaum homoseks, pecandu
dan pemasok minuman keras, pengedar narkoba, pemasok
barang-barang porno juga sudah secara terang-terangan
melakukan praktik kebejatan mereka. Di Jakarta, media
massa melaporkan banyaknya praktik perjudian,
pelacuran, bahkan Majalah Popular pernah melaporkan
adanya satu lokasi di Jakarta ( di kawasan “P”) yang
dijadikan tempat “Taman Eden”, yaitu suatu tempat
laki-laki dan perempuan berkumpul tanpa pakaian
selembar pun – persis seperti perilaku binatang.
Melihat semua kebobrokan moral tersebut, sudah
sama-sama dimaklumi, aparat pemerintah dan maysrakat
muslim seolah-olah tidak berdaya, dan membiarkan semua
kejahatan itu berlangsung terus. Apakah melihat semua
itu umat Islam boleh berdiam diri? Jawabnya jelas:
TIDAK! Umat Islam haram berdiam diri.
Kemaksiatan (kemungkaran) adalah perbuatan yang
jelas-jelas dikutuk oleh Allah SWT, pencipta Alam
Semesta. Karena itu, secara tegas, Nabi Muhammad SAW
memerintahkan agar setiap muslim terlibat aktif dalam
penghancuran kemunkaran. Setiap muslim tidak boleh
berdiam diri saat menyaksikan kemunkaran. Jika berdiam
diri – tetapi tidak setuju terhadap kemungkaran itu –
dia berada dalam kondisi “selemah-lemah iman”. Tentu
sangat tidak benar jika ada yang “setuju dan mendukung
kemungkaran”.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan, wajib
hukumnya mengingkari kemungkaran. “Hanya hal itu
dilakukan sesuai dengan kemampuan untuk melakukannya.
Adapun meningkari dengan hati adalah suatu yang mesti,
apabila tidak diingkari dengan hati maka hal itu
merupakan dalil (bukti) atas hilangnya iman di hati
seseorang.” (Ibnu Taimiyah, Manhaj Da’wah Salafiyah,
th. 2001 hal. 17)
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa diantara kamu
yang melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia
mengubah dengan tangannya; jika ia tidak mampu, maka
ubahlah dengan lisannya; dan jika tidak mampu,
(ubahlah) dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemah
iman.” (HR Bykhari, Muslim, dan Ashabus Sunan).
Jadi, umat Islam haram berdiam diri. Umat Islam wajib
bertindak. Jika tidak bertindak, maka mereka akan
terkena azab Allah SWT. Tatkala azab Allah datang,
maka azab itu tidak pandang bulu, tetapi akan menimpa
semua warga masyarakat, baik si pelaku maksiat atau
pun orang-orang baik diantara masyarakat.
Allah SWT berfirman: “Dan jagalah dirimu dari bencana
yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja
diantara kamu. Dan ketahuilah, Allah sangat keras
siksanya.” (QS Al Anfal:25).
Juga, Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya manusia,
jika mereka melihat kemunkaran, sedangkan mereka tidak
mengubahnya, maka datanglah saatnya Allah menjatuhkan
siksa-Nya secara umum. (HR Abu Dawud)
“Kamu harus mengajak mereka kepada yang makruf dan
harus mencegah kemunkaran; jika tidak (kamu lakukan),
maka Allah pasti akan menjadikan orang-orang paling
jahat diantara kamu sebagai pemimpinmu (penguasa); dan
jika orang-orang baik diantara kamu berdoa, maka doa
mereka tidak dikabulkan.” (HR Al Bazzar dan Thabrani).
Jadi, dalam pandangan Islam, meluasnya kemungkaran,
adalah sesuatu yang harus disikapi dengan serius,
sebab hal itu berdampak langsung kepada kehancuran
masyarakat. Kemungkaran bukanlah urusan pribadi yang
setiap warga masyarakat boleh melakukannya dengan
semena-semena atau seenaknya sendiri. Cara pandang
seperti itu merupakan adalah cara pandang
individualistik dan zionistik (lihat bagian
berikutnya). Rasulullah SAW mengibaratkan, bahwa suatu
masyarakat itu seperti para penumpang perahu. Dalam
sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari,
Nabi SAW membuat paparan tentang sekelompok penumpang
kapal sebagai tamsil sebuah masyarakat. Penumpang
menempati tempat duduknya masing-masing, ada yang
dibagian atas dan ada yang di bagian bawah. Penumpang
yang dibagian bawah, enggan naik ke atas, untuk
mengambil air. Karena tidak mau repor-repot, maka ia
melobangi saja bagian bawah tempat duduknya, untuk
mengambil air. Digambarkan oleh Rasulullah SAW, jika
para penumpang lainnya mendiamkan saja tindakan si
penumpang, maka akan binasalah si penumpang, dan juga
binasa seluruh penumpang kapal itu.
Jadi, jika umat Islam berdiam diri, dan mendiamkan
saja berbagai tindak kemungkaran melanda masyarakat
mereka, maka umat Islam akan binasa bersama-sama
dengan para pelaku maksiat.

2. Proyek zionis dan misi Kristen?

Umat Islam memiliki catatan-catatan sejarah dan
bukti-bukti yang kuat, bahwa penyebaran kemaksiatan
adalah merupakan suatu usaha penghancuran Islam oleh
musuh-musuh Islam, terutama kaum zionis dan misionaris
Kristen. Cara-cara seperti ini sudah lazim digunakan
oleh penjajah Krsiten Barat dalam menghancurkan
berbagai budaya negeri jajahannnya, seperti halnya
cara Inggris menggunakan candu dalam menaklukkan Cina.

Dalam Konferensi Misionaris di Kota Quds tahun 1935,
Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur
organisasi misi Kristen menyatakan: “Misi utama kita
bukan menghancurkan kaum Muslimin sebagai orang
Kristen, namun mengeluarkan seorang Muslim dari Islam,
agar jadi orang yang tidak berakhlak sebagaimana
seorang Muslim. Dengan begitu akan membuka pintu bagi
kemenangan imperialis di negeri-negeri Islam. Tujuan
kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh
dari Islam. Generasi Muslim yang sesuai dengan
kehendak kaum penjajah, generasi yang malas, dan hanya
mengejar kepuasan hawa nafsunya.”
Dalam salah satu bukunya (edisi Arab: Al Gharah ‘Alal
‘Alam Islamiy, hal. 275), Zweimer menulis: “Di dalam
mata rantai kebudayaan Barat, gerakan misi punya dua
tugas: menghancurkan peradaban lawan (baca: peradaban
Islam) dan membina kembali dalam bentuk peradaban
Barat. Ini perlu dilakukan agar si Muslim dapat
berdiri pada barisan budaya Barat untuk melawan
umatnya sendiri.” (Majalah Sabili, No 19 Th VII, 8
Maret 2000).
Salah satu strategi misi Kristen saat ini adalah
“merusak Islam”. Mereka bukan hanya membujuk orang
Islam masuk Kristen, tetapi juga berusaha menjauhkan
umat Islam dari ajaran agamanya. Harry Dorman, dalam
bukunya Towards Understanding Islam, mengungkapkan
pernyataan seorang misonaris Kristen: “Boleh jadi,
dalam beberapa tahun mendatang, sumbangan besar
misionaris di wilayah-wilayah muslim akan tidak begitu
banyak memurtadkan orang muslim, melainkan lebih
banyak menyelewengkan Islam itu sendiri. Inilah bidang
tugas yang tidak bisa diabaikan.” Dr. Cragg, seorang
misionaris terkenal asal Inggris, menyatakan: “Tidak
perlu diragukan bahwa harapan terakhir misi Kristen
hanyalah melakukan perubahan sikap umat Muslim,
sedemikian rupa sehingga mereka mau bertoleransi.”
(Lihat buku Islam dan Orientalisme, karya Maryam,
Jameela (Margareth Marcus), 1994:8-9, 51-52).
Sidik Jatnika, dosen Hubungan Internasional
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, penulis buku
“Gerakan Zionis Berwajah Melayu” (tahun 2001, hal.
196) mencatat strategi gerakan zionis untuk
menghancurkan umat Islam:
“Agen gerakan Zionisme di Indonesia yang paling
mutakhir adalah gerakan dengan membonceng euforia
reformasi. Atas nama kebebasan, hak asasi manusia, dan
tetekbengeknya, mereka secara terang-terangan mulai
memperjuangkan pengakuan terhadap berbagai perilaku
penyimpangan sosial maupun seksual sebagai realitas
yang harus dihargai dan diberi hak hidup di Indonesia.
Mereka dengan lantang mengkampanyekan supaya komunisme
dan ateisme; ataupun pemujaan terhadap setan diberi
hak hidup di Indonesia sebagai layaknya sebuah agama
ataupun ideologi. Bahkan, mereka tidak malu-malu lagi
memperjuangkan supaya pelacuran, homoseksual, lesbian,
dianggap sebagai profesi dan perilaku yang sah
keberadaannya. Anehnya, jika masyarakat melakukan
penggerebekan atau penggropyokan terhadap para pelaku
penyimpangan sosial tersebut, bukan para pesakitan
yang disalahkan. Tetapi justru masyarakatlah yang
disalahkan karena telah melanggar hak asasi individu
manusia untuk berzina, melakukan homoseksual maupun
lesbian.”

Dalam Protokolat Zionis ke-17 dikatakan: “Kita telah
berhasil menyebar peradaban yang penuh kuman-kuman
penyakit kotor di negara-negara yang memiliki
peradaban yang terkenal luhur.”
Abdullah Patani, dalam buku “Gerakan Freemasonry di
Asia Tenggara” mengungkapkan sepuluh cara kaum Zionis
dalam melumpuhkan dan menghancurkan Islam,
diantaranya ialah: (1) menyebarkan pornografi dalam
segala bentuknya, (2) merusak generasi muda dengan
penyebaran segala jenis minuman memabokkan dan
narkotika.
Jadi, merupakan hal yang sangat mungkin dan sangat
masuk akal, jika penyebaran kemaksiatan sudah
merupakan sesuatu yang terencana dan tersistematis
yang dilakukan oleh agen-agen misi Kristen dan Zionis,
dengan mengerahkan segala cara, termasuk menyuap para
pejabat dan aparat agar mereka tidak bertindak untuk
menegakkan kebenaran, bahkan sebaliknya, memusuhi umat
Islam yang melaksanakan kewajiban menegakkan amar
ma’ruf nahi munkar.
Itulah fakta yang kini terjadi: para mujahid penegak
al-haq harus berhadapan dengan berbagai resiko,
sementara para penjahat dan penyebar kemungkaran
bersorak-sorai karena mereka dibela oleh sebagian
oknum-oknum zionis dan misionaris Kristen yang
menyusup di jaringan pemerintah dan media massa.

3. Mengubah kemungkaran dengan “tangan”

Ketika menyaksikan suatu kemungkaran, maka umat Islam
diperintahkan untuk mengubahnya dengan “tangan”,
“lidah”, dan kemudian (mengingakrinya) dengan hati.
Jadi, prioritas dalam mengubah kemungkaran adalah
dengan tangan terlebih dahulu. Artinya, menghentikan
langsung tindakan kemungkaran tersebut, dengan paksa,
sehingga kemungkaran itu tidak berlanjut lagi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada suatu kaum yang pada mereka dilakukan
kemaksiatan — kemudian mereka mampu untuk
mengubahnya, tetapi mereka tidak melakukannya —
kecuali hampir-hampir Allah akan meliputi mereka
dengan siksaannya.” (HR Abu Dawud)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menegaskan, bahwa
berdasarkan nash-nash Al Quran dan Sunnah, maka amar
ma’ruf nahi munkar adalah “fardhu kifayah” hukumnya.
Artinya, kewajiban itu dibebankan kepada seluruh
komunitas umat Islam, tetapi jika sebagian umat telah
melakukannya dengan efektif, maka kewajiban itu gugur
bagi yang lain.
Kewajiban mencegah kemungkaran dengan “tangan”
(paksaan) sebenarnya merupakan kewajiban negara untuk
melaksanakannya. Tetapi, jika negara tidak
melaksanakannya, maka umat Islam boleh melakukannya
dengan “tangan”. Dalam buku yang ditulis oleh Salman
bin Fahd al-‘Udah dengan judul Amar Ma’ruf Nahi
Munkar, disebutkan adanya empat syarat yang ditentukan
oleh para ulama jika kaum Muslim akan menggunakan
“tangan” untuk mengubah suatu kemunkaran. Keempat
syarat itu ialah:
1. Pada saar itu tidak ada instansi khusus yang
berwenang untuk mengubah kemungkaran dengan “tangan”.
Pada dasarnya, perubahan kemunkaran dengan “tangan”
menjadi tugas pemerintah. Akan tetapi, di kebanyakan
negeri Islam, institusi semacam ini biasanya tidak
ada, dan jika ada ternyata tidak melaksanakan tugasnya
secara maksimal. Pada kondisi ini, terbuka peluang
bagi rakyat biasa untuk melakukan perubahan kemunkaran
dengan “tangan”.
2. Tindakan — mengubah kemunkaran dengan tangan —
itu akan mendatangkan kemaslahatan yang lebih besar
dari pada kerusakan yang ditimbulkannya. Tapi, jika
tindakan itu akan menimbulkan bahaya yang lebih besar,
seperti penindasan terhadap aktivis dakwah atau malah
tersebarnya kemunkaran lebih luas lagi, maka dalam
kondisi seperti itu, tindakan mengubah dengan “tangan”
harus dihindari.
3. Tidak ada jalan lain kecuali mengubah kemunkaran
itu dengan “tangan”. Yakni, jika kemunkaran itu sudah
diupayakan untuk diubah dengan “lisan” semaksimal
mungkin, namun masih saja kemunkaran itu dilakukan
atau berlangsung. Maka dalam kondisi seperti ini,
diperbolehkan mengubah kemunkaran dengan “tangan”.
4. Ini merupakan syarat terpenting, yaitu selalu
berkonsultasi dengan para ulama. Tujuannya adalah
untuk menjaga keselamatan para pengubah kemunkaran
dengan “tangan” itu, sebab tidak jarang mereka
mengalami perlakuan yang kurang baik, termasuk
keluarganya. Tujuan lainnya, agar hal itu semakin
memperkuat kedudukan para ulama serta melipatgankan
efektivitas mereka dalam mengubah kemunkaran dengan
“tangan”..

Telah menjadi rahasia umum, bahwa
kemungkaran/kemaksiatan yang terjadi di
negeri/masyarakat muslim, justru sengaja dilestarikan,
dengan tujuan untuk mendatangkan keuntungan dari
sementara pihak, baik melalui
peraturan-perundang-undangan, maupun didukung secara
terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi oleh
oknum-oknum pejabat pemerintah. Kemaksiatan yang
merajalela di berbagai kota besar, seperti Jakarta,
dan berbagai kota di Indonesia lainnya merupakan
tindakan yang sudah sangat keterlaluan, karena selama
ini hal itu dibiarkan terus berlangsung. Melihat itu
semua, sudah semestinya umat Islam tidak berdiam diri.
Tentu umat Islam tidak mungkin berdiam diri, dan wajib
menegakkan yang haq. Sebab, kemaksiatan yang
merajalela akan mendatangkan hukuman dan azab dari
Allah SWT. Dan Allah SWT sudah mengingatkan: “Dan
periharalah dirimu dari azab Allah yang tidak hanya
menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu.
Dan ketahuilah, bahwa Allah sangat keras siksa-Nya”
(QS Al Anfal: 25)
Karena itu, menghadapi maraknya berbagai kemaksiatan
dan kemungkaran, umat Islam yang masih mempunyai iman
dan rasa takut tertimpa azab Allah SWT, pasti akan
berbuat sesuatu untuk menghentikan kemunkaran
tersebut. Tidak ada pilihan lain, jika mau selamat.
Wallahu a’lam.

3 Desember 2001

Advertisements
  1. #1 by Dono on December 30, 2006 - 9:14 am

    Ass.wr.wb,
    Astafirallah alazim, saya klo baca iklan ini teringat saya akan aceh.
    InsyaAllah Allah mengampuni mereka2 yg tidak bersalah.amin.
    Wassalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: