#Boikotsariroti merupakan Reaksi Pengumuman Sariroti terkait Aksi 212

Pengumuman Sariroti terkait berita viral pembagian gratis roti oleh hamba Allah menjadi bumerang bagi manajemen Sariroti. Secara psikologi, ummat Islam masih “marah” dengan lambatnya proses hukum penista agama. Aksi super damai 2 Desember 2016 (212) membuktikan kekuatan ummat dengan keimanannya siap berkorban demi membela agamanya. Sariroti perlu belajar dari bagaimana aksi 411 dan 212 terjadi yaitu melalui kekuatan network kaum muslimin terutama di medsos. Meskipun media-media elektronik dan cetak nasional dikuasai oleh para pemodal yang tidak berpihak kepada ummat Islam, bukan berarti tidak ada jalan lain dalam membntuk opini dan persatuan ummat.

Ibrah dari boikot sari roti ini dan kasus boikot metro tv menjadi parameter bahwa ghirah ummat Islam dalam membela keyakinan dan agamanya cukup tinggi. Salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh pihak sariroti dan metrotv adalah menampakkan rasa menyesalnya dengan meminta maaf kepada ummat Islam dan mencoba mendekati ummat Islam sebagai konsumen terbesar. Informasinya, dalam satu hari saja nilai saham sariroti turun hingga 20 poin. Apalagi jika pesaing sariroti mampu menagkap peluang ini dengan mengambil ceruk konsumen yang berjumlah jutaan untuk pindah dari sari roti, pasti kelar urusan bisnis lo.

mari kita cermati dan dukung segala upaya ummat Islam untuk persatuan Islam.

Leave a comment

Bertawakal

Oleh: Hisyam Rusyda

Jika hati ini masih bergetar setiap disebut nama Allah tak perlu ragu akan nasib masa depan. Ketika setiap dibacakan ayat-ayat-Nya, semakin teguh imannya maka tak perlu kuatir akan rizkiNya.

Ingatlah! kunci rizki Allah hanyalah tawakal kepadaNya. Tengoklah, bagaimana burung yang terbang di pagi hari dengan perut kosong dan kembali ke sarang dengan perut kenyang. 

Jika Allah menjamin semua rizki mahluk Nya, mengapa kita masih takut miskin dan menggadaikan harga diri kepada mahluk hanya untuk mendapatkan harta dan kekuasaan yang sifatnya sementara?. Bukankah siapa saja yang bertawakal (berserah diri) kepada Allah, maka cukup baginya?. Cukuplah Allah, Dzat Yang Menjadi tempat menyerahkan segalanya (Al Wakiil).

Hanya Allah yang mempunyai ilmu dan kemampuan yang sempurna untuk memenuhi kebutuhan manusia,  yang mempunyai kasih, perhatian dan rasa sayang yang sempurna kepada manusia. Tidak ada lagi kekuatan lain melebihi kekuatan-Nya dan yang bisa menandingi ilmu-Nya. 

Tiada daya dan kekuatan apapun kecuali daya dan kekuatan Allah. 

Ya Allah, jadikanlah tawakal kami secara sempurna sehingga rela atas apa yang diputuskan oleh-Mu. Ya Allah, gantikan rasa kuatir ini dengan kebulatan tekad bertawakal, jadikan pengorbanan dan rasa sakit karena mengikuti syariat-Mu menjadi kebahagian dan ketenteraman di dunia dan akhirat.

Wahai Rabb, anugerahkan kepada setiap mukmin kecukupan dalam setiap urusan karena bertawakal kepada-Mu sebagaimana janji-Mu “Barang siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Allah pasti mencukupinya”. 

Ya Allah, sirnakan keraguan akan kepastian rizki-Mu dan gantilah menjadi keyakinan sebagaimana keyakinan kami akan terbit dan tenggelamnya matahari. Sirnakan dari kami rasa takut miskin, cinta harta (dunia) hingga menghilangkan akal sehat kami. Ya Allah, menangkanlah kami dari godaan setan yang terkutuk yang menawarkan kesenangan dunia semata hingga kami lupa akan aturan halal haram-Mu.

Kami berlindung kepada-Mu dari setiap keraguan akan kepastian rizki Mu. Hanya kepada Allah kami bertawakal dan jadikan rizki kami dari cara yang halal sebagaimana firman-Mu:

“Makanlah apa saja yang telah Kami berikan kepada kalian yang baik-baik (halal).” (QS. Al-Baqarah:57)

 

Sumber: http://mastw.blogspot.com/2014/05/bertawakal.html

1 Comment

BERBAHAGIALAH ORANG YANG TERASING

Oleh: Abu Athaya Al Jambary

Rasulullah saw bersabda “Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)

Al ghuraba’ (orang-orang yang terasing) memiliki sifat diantaranya:

  1. Reformis atau revolusioner

Tidak diterapkan aturan Allah SWT  (syariat Islam) di segala lini kehidupan menjadikan manusia hidup dengan aturannya sendiri, kerusakan di lautan dan di daratan telah tampak akibat ulah-ulah manusia. Banyak manusia tidak tahu akan syariat Allah sehingga terbiasa dengan meninggalkan kewajiban dan menjalankan yang haram. Riba sudah menjadi nadi kehidupan ekonomi. Dalam mengatur rakyat (berpolitik) tidak lagi menggunakan siyasah syar’iyyah melainkan politik dagang sapi (transaksional). Halal dan haram bukan lagi standar dalam setiap perbuatan melainkan asas manfaat yang menjadi pilihannya. Pada kondisi sekarang ini, jika masih ada yang mau terikat dengan hukum-hukum Allah, berani jujur tidak korupsi karena Allah, tidak menjual ayat-ayat Allah dan berdakwah hanya karena Allah maka orang tersebut pasti akan dimusuhi oleh khalayak ramai dan menjadi terasing karena syiar Islam. Meskipun sudah menjadi kebiasaan banyak orang dengan suap-menyuap, meminum khamr, berzina, korupsi, berbohong, menghalalkan segala cara maka bagi al ghuraba’ tetap kokoh memegang prinsip Islam untuk meninggalkan semua yang haram serta berdakwah amar ma’ruf nahi munkar untuk mengajak manusia ke jalan Allah SWT. 

  1. Jumlahnya sedikit dan dari kaum beraneka ragam

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah ada sekelompok manusia. Mereka bukan para nabi dan juga bukan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada pun berghibthah[i] pada mereka di hari kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Swt. Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepada kami siapa mereka itu?’ Rasulullah bersabda, “Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan “ruh” Allah, padahal mereka tidak memiliki hubungan rahim dan tidak memiliki harta yang mereka kelola bersama-sama. Demi Allah, wajah mereka adalah cahaya. Mereka ada di atas cahaya. Mereka tidak takut ketika manusia takut. Mereka tidak bersedih ketika manusia bersedih.” Kemudian Rasulullah membacakan firman Allah, “Ingatlah sesungguhnya para kekasih Allah itu tidak mempunyai rasa takut (oleh selain Allah) dan tidak bersedih”.

Mari kita perhatikan di sekeling kita termasuk diri kita, apakah kita masih takut kehilangan pekerjaan atau harta ketika kita berbuat jujur? apakah kita masih takut dimusuhi banyak orang ketika kita mau mencegah kemungkaran? apakah kita masih takut miskin ketika tidak mendapatkan uang suap (gratifikasi)? Jika ketakutan-ketakutan itu masih ada dalam hati dan perbuatan kita maka kita tidak layak menjadi al-ghuraba’. Orang-orang yang berani bilang “tidak” terhadap suap menyuap, korupsi, kolusi dan segala hal yang haram tentu jumlahnya sangat sedikit karena di jaman ini susah mencari orang yang terikat dengan hukum-hukum Allah. 

Dalam hadis diatas disebutkan meskipun jumlah sedikit hamba-hamba Allah tersebut namun saling mencintai karena Allah dan tidak takut kecuali takut kepada Allah SWT. Mereka juga berkumpul karena Allah dari berbagai suku bangsa yang berbeda. Mereka juga bukan bagian dari para Nabi dan Syuhada’. Sungguh ini adalah kesempatan bagi setiap hamba Allah untuk menjadi al-ghuraba’ dengan terikat kepada syariat Allah ketika masyarakat meninggalkan syariatNya.

 Ketika Rasulullah saw pertama kali menyiarkan RisalahNya, Islam sungguh asing dan aneh bagi kaum jahiliah Qurais karena Islam membawa pemikiran dan syariat yang baru yang menyalahi (menentang) peradaban jahiliah mereka. Pun demikian di jaman jahiliah modern ini, ketika hukum-hukum Allah digantikan oleh hukum-hukum manusia, seolah syariat Islam menjadi asing kembali. Hamba-hamba yang menginginkan kembalinya kehidupan Islam juga menjadi terasing. Inilah kesempatan kita untuk memantaskan diri menjadi al ghuraba’ dengan kemuliaan dan kebahagiaan yang dijanjikan Allah dan RasulNya. Barangsaiapa yang mau menerima Islam secara menyeluruh, menerapkannya dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat dan negara pasti akan mendapati pertentangan dari masyarakat jahiliah. Ingatlah, sungguh beruntung al ghuraba’ yang senantiasa memperjuangkan Islam tegak dalam kehidupan karena janji Allah (kebahagiaan) itu pasti adanya.

Akhirnya, marilah kita berdoa agar kita bisa termasuk menjadi al ghuraba’ dan pengikut ahli syurga, segala puji hanya milik Allah SWT.

*)Disarikan dari buku “Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah”

 

Sumber: http://mastw.blogspot.com/2014/05/berbahagialah-orang-yang-terasing.html

1 Comment