Mubarak Terus Menekan Ikhwanul Muslimin

Menjelang Pemilu pemerintah Mesir terus menekan kelompok Ikhwanul Muslimin. 40 tokohnya ditangkap. Mubarak takut tumbang?

ImageHidayatullah.com—Beberapa hari ini sejumlah aktivis mahasiswa pendukung kelompok Al Ikhwan Al Muslimun atau kerap disingkat Ikhwanul Muslimin terus melancarkan aksi demo di Kairo, Mesir.

Aksi dipicu karena 40 tokoh Ikhwanul Muslimin, yang ditahan tanp kejelasan hukum.  Pengusutan berkas perkara 40 tokoh penting Ikhwanul Muslim sudah satu tahun berlalu, tapi nasib mereka masih tak jelas. Sebelumnya, pengadilan sipil negara ini sebanyak tiga kali membebaskan mereka dari pelbagai tuduhan.

Menyusul penangguhan vonis terhadap mereka, kordinator tim pembela hukum para tersangka menentang kebijakan ini dan menyatakan kekhawatiran soal penundaan tersebut, yang bisa jadi malah membuat lebih beratnya hukuman.

Para pengamat politik menilainya sebagai langkah yang disengaja, mengingat pernyataan Ikhwanul Muslimin untuk ikut serta dalam pemilu daerah dan kota di Mesir. Menurut mereka, hal ini bisa dijadikan sebagai alat untuk menekan Ikhwanul Muslimin, menyusul kesediaan gerakan ini untuk ikut serta dalam pemilu.

Zahra Akhirah As-Shater, salah satu istri tersangka dalam pengadilan tersebut, mengatakan, “Pengadilan itu hanya sekedar pertunjukan konyol. Ini bukan lah pengadilan. Pada faktanya, para tersangka dijadikan sebagai sandera. Dengan cara ini, pemerintah Mesir dapat menekan Ikhwanul Muslimin dan para tokoh reformis negara ini.”

Seraya menyinggung dukungan warga Mesir atas gerakan Ikhwanul Muslimin, para pengamat politik menjelaskan, pemerintah dan militer negara ini berupaya membatasi ruang lingkup Ikhwanul Muslimin yang kian meluas.

Pada tahun 2005, Ikhwanul Muslimin berhasil mengirim 88 kandidatnya ke Parlemen Mesir. Hal yang sama juga akan dilakukan untuk pemilu daerah dan kota negara ini. Tentu saja, langkah ini membuat pemerintah Mesir untuk lebih berhati-hati dalam menyikapi cakupan gerakan Ikhwanul Muslimin yang kian diapresiasi oleh warga setempat. Untuk itu, sangatlah wajar, bila pemerintah Mesir menggunakan segala cara guna menekan infiltrasi Ikhwanul Muslimin.

Dalam kondisi seperti ini, kalangan politis malah justru menilai tekanan pemerintah Mesir terhadap Ikhwanul Muslimin sebagai langkah yang tak efektif, bahkan cenderung kontraproduktif. Menurut mereka, gaya konvensional pemerintah Mesir dalam menekan kelompok opisisi dapat dipastikan tidak memberikan hasil apapun.

Ikhwanul Muslimin berdiri di kota Ismailiyah, Mesir pada Maret 1928 dengan pendirinya Hassan al-Banna, bersama keenam tokoh lainnya, yaitu Hafiz Abdul Hamid, Ahmad al-Khusairi, Fuad Ibrahim, Abdurrahman Hasbullah, Ismail Izz dan Zaki al-Maghribi.

ImagePada tanggal 12 Februari 1949, pendiri Ikhwanul Muslimin, Hassan al-Banna, misterius meninggal dunia karena dibunuh. Di masa Mantan Presiden Gamal Abdel Nasser, sejumlah tokoh Ikhwanul Muslimin seperti, Sayyid Quthb, Yusuf Hawasi dan Abdul Fattah Ismail, dihukum gantung. Meski tidak sekeras rezim-rezim sebelumnya, Presiden Husni Mobarak tetap menilai gerakan Ikhwanul Muslimin sebagai ancaman bagi kekuasaan.

Meski dikenal kejam menganiaya aktivis Ikhwanul Muslimin, beberapa hari lalu, Syeikh Mahmud Luthfi, seorang tokoh penting menganut pemahaman salafi membebri gelar pada Husni Mubarak sebagai “amirul mukminin.”

mengatakan,”Hal ini bukanlah perkara yang diada-adakan, atau ijtihad yang baru, akan tetapi merupakan hal yang ada di masa salaf shalih”. Di samping itu, ia juga “menggelari” Husni Mubarak dengan gelar “amirul mukmin”

Respond to this post