Jual-Beli Saham Dalam Pandangan Islam


Ketika kaum Muslim hidup dalam naungan sistem Khilafah, berbagai muamalah mereka selalu berada dalam timbangan syariah (halal-haram). Khalifah Umar bin al-Khaththab, misalnya, tidak mengizinkan pedagang manapun masuk ke pasar kaum Muslim kecuali jika dia telah memahami hukum-hukum muamalah. Tujuannya tiada lain agar pedagang itu tidak terjerumus ke dalam dosa riba. (As-Salus, Mawsû‘ah al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu’âshirah, hlm. 461).

Namun, ketika Khilafah hancur tahun 1924, kondisi berubah total. Kaum Muslim makin terjerumus dalam sistem ekonomi yang dipaksakan penjajah kafir, yakni sistem Kapitalisme yang memang tidak mengenal halal-haram. Ini karena akar sistem Kapitalisme adalah paham sekularisme yang menyingkirkan agama sebagai pengatur kehidupan publik, termasuk kehidupan ekonomi.

Walhasil, seperti kata as-Salus, kaum Muslim akhirnya hidup dalam sistem ekonomi yang jauh dari Islam, seperti sistem perbankan dan pasar modal (burshah al-awraq al-maliyah) (Ibid., hlm. 464). Tulisan ini bertujuan menjelaskan fakta dan hukum seputar saham dan pasar modal dalam tinjauan fikih Islam.

Fakta Saham

Saham bukan fakta yang berdiri sendiri, namun terkait dengan pasar modal sebagai tempat perdagangannya dan juga terkait dengan perusahaan publik (perseroan terbatas/PT) sebagai pihak yang menerbitkannya. Saham merupakan salah satu instrumen pasar modal (stock market). Dalam pasar modal, instrumen yang diperdagangkan adalah surat-surat berharga (securities) seperti saham dan obligasi, serta berbagai instrumen turunannya (derivatif) yaitu opsi, right, waran, dan reksadana. Surat-surat berharga yang dapat diperdagangkan inilah yang disebut efek (Hasan, 1996).

Saham adalah surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Dalam Keppres RI No. 60 tahun 1988 tentang Pasar Modal, saham didefinisikan sebagai, “surat berharga yang merupakan tanda penyertaan modal pada perseroan terbatas sebagaimana diatur dalam KUHD (Kitab Undang-Undang Hukum Dagang atau Staatbald No. 23 Tahun 1847).” (Junaedi, 1990). Adapun obligasi (bonds, as-sanadat) adalah bukti pengakuan utang dari perusahaan (emiten) kepada para pemegang obligasi yang bersangkutan (Siahaan & Manurung, 2006).

Selain terkait dengan pasar modal, saham juga terkait dengan PT (perseroan terbatas, limited company) sebagai pihak yang menerbitkannya. Dalam UU No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas pasal 1 ayat 1, perseroan terbatas didefinisikan sebagai, “badan hukum yang didirikan berdasarkan perjanjian, yang melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham”. Modal dasar yang dimaksud terdiri atas seluruh nilai nominal saham (Ibid., pasal 24 ayat 1).

Definisi lain menyebutkan, perseroan terbatas adalah badan usaha yang mempunyai kekayaan, hak, serta kewajiban sendiri yang terpisah dari kekayaan, hak dan kewajiban para pendiri maupun pemiliknya (M. Fuad, et.al., 2000). Jadi, sesuai namanya, keterlibatan dan tanggung jawab para pemilik PT hanya terbatas pada saham yang dimiliki. Perseroan terbatas sendiri juga mempunyai kaitan dengan bursa efek. Kaitannya, jika sebuah perseroan terbatas telah menerbitkan sahamnya untuk publik (go public) di bursa efek, maka perseroan itu dikatakan telah menjadi “perseroan terbatas terbuka” (Tbk).

Fakta Pasar Modal

Pasar modal adalah sebuah tempat modal diperdagangkan antara pihak yang memiliki kelebihan modal (pihak investor) dan orang yang membutuhkan modal (pihak issuer/emiten) untuk mengembangkan investasi. Dalam UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995, pasar modal didefinisikan sebagai “kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek.” (Muttaqin, 2003).

Para pelaku pasar modal ini ada 6 (enam) pihak, yaitu:

1. Emiten, yaitu badan usaha (perseroan terbatas) yang menerbitkan saham untuk menambah modal, atau menerbitkan obligasi untuk mendapatkan utang dari para investor di Bursa Efek.

2. Perantara Emisi, yang meliputi 3 (tiga) pihak: a. Penjamin Emisi (underwriter), yaitu: perusahaan perantara yang menjamin penjualan emisi, dalam arti, jika saham atau obligasi belum laku, penjamin emisi wajib membeli agar kebutuhan dana yang diperlukan emiten terpenuhi sesuai rencana; b. Akuntan Publik, yaitu pihak yang berfungsi memeriksa kondisi keuangan emiten dan memberikan pendapat apakah laporan keuangan yang telah dikeluarkan oleh emiten wajar atau tidak. c. Perusahaan Penilai (appraisal), yaitu perusahaan yang berfungsi untuk memberikan penilaian terhadap emiten, apakah nilai aktiva emiten wajar atau tidak.

3. Badan Pelaksana Pasar Modal, yaitu badan yang mengatur dan mengawasi jalannya pasar modal, termasuk mencoret emiten (delisting) dari lantai bursa dan memberikan sanksi kepada pihak-pihak yang melanggar peraturan pasar modal. Di Indonesia Badan Pelaksana Pasar Modal adalah BAPEPAM (Badan Pengawas dan Pelaksana Pasar Modal) yang merupakan lembaga pemerintah di bawah Menteri Keuangan.

4. Bursa Efek, yakni tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang didirikan oleh suatu badan usaha. Di Indonesia terdapat dua Bursa Efek, yaitu Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang dikelola PT Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (BES) yang dikelola oleh PT Bursa Efek Surabaya.

5. Perantara Perdagangan Efek, yaitu makelar (pialang/broker) dan komisioner yang hanya lewat kedua lembaga itulah efek dalam bursa boleh ditransaksikan. Makelar adalah perusahaan pialang (broker) yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan orang lain dengan memperoleh imbalan. Adapun komisioner adalah pihak yang melakukan pembelian dan penjualan efek untuk kepentingan sendiri atau untuk orang lain dengan memperoleh imbalan.

6. Investor, yaitu pihak yang menanamkan modalnya dalam bentuk efek di bursa efek dengan membeli atau menjual kembali efek tersebut (Junaedi, 1990; Muttaqin, 2003; Syahatah & Fayyadh, 2004).

Dalam pasar modal, proses perdagangan efek (saham dan obligasi) terjadi melalui tahapan pasar perdana (primary market), kemudian pasar sekunder (secondary market). Pasar perdana adalah penjualan perdana saham dan obligasi oleh emiten kepada para investor, yang terjadi pada saat IPO (Initial Public Offering) atau penawaran umum pertama. Kedua pihak yang saling memerlukan ini tidak bertemu secara fisik dalam bursa, tetapi melalui pihak perantara seperti dijelaskan di atas. Dari penjualan saham dan efek di pasar perdana inilah pihak emiten memperoleh dana yang dibutuhkan untuk mengembangkan usahanya.

Adapun pasar sekunder adalah pasar yang terjadi sesaat atau setelah pasar perdana berakhir. Maksudnya, setelah saham dan obligasi dibeli investor dari emiten, investor tersebut lalu menjual kembali saham dan obligasi kepada investor lainnya, baik dengan tujuan mengambil untung dari kenaikan harga (capital gain) maupun untuk menghindari kerugian (capital loss). Perdagangan di pasar sekunder inilah yang secara reguler terjadi di bursa efek setiap harinya.

Jual-Beli Saham dalam Pasar Modal Menurut Islam

Para ahli fikih kontemporer sepakat, bahwa haram hukumnya memperdagangkan saham di pasar modal dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha yang haram. Misalnya, perusahaan yang bergerak di bidang produksi minuman keras, bisnis babi dan apa saja yang terkait dengan babi; jasa keuangan konvensional seperti bank dan asuransi; industri hiburan, seperti kasino, perjudian, prostitusi, media porno; dan sebagainya. Dalil yang mengharamkan jual-beli saham perusahaan seperti ini adalah semua dalil yang mengharamkan segala aktivitas tersebut. (Syahatah dan Fayyadh, Bursa Efek: Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal, hlm. 18; Yusuf as-Sabatin, Al-Buyû‘ al-Qadîmah wa al-Mu‘âshirah wa al-Burshat al-Mahalliyyah wa ad-Duwaliyyah, hlm. 109).

Namun, jika saham yang diperdagangkan di pasar modal itu adalah dari perusahaan yang bergerak di bidang usaha halal (misalnya di bidang transportasi, telekomunikasi, produksi tekstil, dan sebagainya) Syahatah dan Fayyadh berkata, “Menanam saham dalam perusahaan seperti ini adalah boleh secara syar‘i…Dalil yang menunjukkan kebolehannya adalah semua dalil yang menunjukkan bolehnya aktivitas tersebut.” (Syahatah dan Fayyadh, Ibid., hlm. 17).

Namun demikian, ada fukaha yang tetap mengharamkan jual-beli saham walau dari perusahaan yang bidang usahanya halal. Mereka ini, misalnya, Taqiyuddin an-Nabhani (2004), Yusuf as-Sabatin (Ibid., hlm. 109) dan Ali as-Salus (Mawsû‘ah al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu‘âshirah, hlm. 465). Ketiganya sama-sama menyoroti bentuk badan usaha (PT) yang sesungguhnya tidak islami. Jadi, sebelum melihat bidang usaha perusahaannya, seharusnya yang dilihat lebih dulu adalah bentuk badan usahanya, apakah ia memenuhi syarat sebagai perusahaan islami (syirkah islâmiyah) atau tidak.

Aspek inilah yang tampaknya betul-betul diabaikan oleh sebagian besar ahli fikih dan pakar ekonomi Islam saat ini. Terbukti, mereka tidak menyinggung sama sekali aspek krusial ini. Perhatian mereka lebih banyak terfokus pada identifikasi bidang usaha (halal/haram), dan berbagai mekanisme transaksi yang ada, seperti transaksi spot (kontan di tempat), transaksi option, transaksi trading on margin, dan sebagainya (Junaedi, 1990; Zuhdi, 1993; Hasan, 1996; az-Zuhaili, 1996; al-Mushlih & ash-Shawi, 2004; Syahatah & Fayyadh, 2004).

Taqiyuddin an-Nabhani dalam An-Nizhâm al-Iqtishâdi (2004) menegaskan bahwa perseroan terbatas (PT, syirkah musâhamah) adalah bentuk syirkah yang batil (tidak sah), karena bertentangan dengan hukum-hukum syirkah dalam Islam. Kebatilannya antara lain karena dalam PT tidak terdapat ijab dan kabul sebagaimana dalam akad syirkah. Yang ada hanyalah transaksi sepihak dari para investor yang menyertakan modalnya dengan cara membeli saham dari perusahaan atau dari pihak lain di pasar modal, tanpa ada perundingan atau negosiasi apa pun baik dengan pihak perusahaan maupun pesero (investor) lainnya. Tidak adanya ijab-kabul dalam PT ini sangatlah fatal, sama fatalnya dengan pasangan laki-laki dan perempuan yang hanya mencatatkan pernikahan di Kantor Catatan Sipil, tanpa adanya ijab dan kabul secara syar‘i. Sangat fatal, bukan? Maka dari itu, pendapat kedua yang mengharamkan bisnis saham ini (walau bidang usahanya halal) adalah lebih kuat (râjih), karena lebih teliti dan jeli dalam memahami fakta, khususnya yang menyangkut bentuk badan usaha (PT). Apalagi sandaran pihak pertama yang membolehkan bisnis saham—asalkan bidang usaha perusahaannya halal—adalah al-Mashâlih al-Mursalah, sebagaimana analisis Yusuf As-Sabatin (Ibid., hlm. 53). Padahal menurut Taqiyuddin an-Nabhani, al-Mashâlih al-Mursalah adalah sumber hukum yang lemah, karena ke-hujjah-annya tidak dilandaskan pada dalil yang qath‘i (Asy-Syakhshiyah al-Islâmiyah, III/437).

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb. [KH M. Shiddiq al-Jawi]

Daftar Pustaka

Al-Mushlih, Abdullah & Ash-Shawi, Shalah, Fikih Ekonomi Keuangan Islam (Mâ Lâ Yasa’u at-Tâjir Jahlah), Penerjemah Abu Umar Basyir. Jakarta Darul Haq, 2004.

An-Nabhani, Taqiyuddin, An-Nizhâm al-Iqtishâdi fî al-Islâm. Beirut: Darul Ummah, Cetakan VI, 2004.

As-Sabatin, Yusuf Ahmad Mahmud, Al-Buyû‘ al-Qadîmah wa al-Mu‘âshirah wa al-Burshat al-Mahalliyyah wa ad-Duwaliyyah. Beirut: Darul Bayariq, 2002.

As-Salus, Ali Ahmad, Mawsû‘ah al-Qadhaya al-Fiqhiyah al-Mu‘âshirah wa al-Iqtishâd al-Islâmi. Qatar: Daruts Tsaqafah, 2006.

Az-Zuhaili, Wahbah, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, Juz IX (Al-Mustadrak). Damaskus: Darul Fikr, 1996.

Fuad, M, et.al., Pengantar Bisnis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000.

Hasan, M. Ali, Masail Fiqhiyah: Zakat, Pajak, Asuransi, dan Lembaga Keuangan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996.

Junaedi, Pasar Modal Dalam Pandangan Hukum Islam. Jakarta: Kalam Mulia, 1990.

Muttaqin, Hidayatullah, Telaah Kritis Pasar Modal Syariah, http://www.e-syariah.org/jurnal/?p=11, 20 des 2003.

Siahaan, Hinsa Pardomuan & Manurung, Adler Haymans, Aktiva Derivatif: Pasar Uang, Pasar Modal, Pasar Komoditi, dan Indeks. Jakarta: Elex Media Komputindo, 2006.

Syahatah, Husein & Fayyadh, Athiyah, Bursa Efek: Tuntunan Islam dalam Transaksi di Pasar Modal (Adh-Dhawâbit asy-Syar‘iyah li at-Ta‘âmul fî Sûq al-Awraq al-Mâliyah), Penerjemah A. Syakur. Surabaya: Pustaka Progressif, 2004.

Tarban, Khalid Muhammad, Bay’u ad-Dayn Ahkâmuhu wa Tathbîquha al-Mu‘âshirah (Al-Azhar: Dar al-Bayan Al-’Arabi). Beirut: Dar al-Kutub al-’Ilmiyah, 2003.

Zuhdi, Masjfuk, Masâ’il Fiqhiyah Kapita Selekta Hukum Islam. Jakarta: CV Haji Masagung, 1993.

About these ads
  1. #1 by krisdianto on November 8, 2007 - 4:45 am

    ass.wr.wb bisakah dan bagaimanakah saya mendapatkan referensi tersebut. tks. was

  2. #2 by andy on November 19, 2007 - 3:27 am

    bapak/ibu pengelola saya ikut investasi 10 tahun dalam satu perusahaan swasta dan saya membeli dana reksa saham, dengan tujuan untuk berinvestasi serta untuk biaya pendidikan anak saya. Bagaimana menurut islam karena itu sama saja menabung dan dan yang saya tabung diinvest ke saham.bgm menurut islam?

    • #3 by 2345678 on March 31, 2012 - 2:13 pm

      Bagai mana hukum brinvestasi di sebuah perusahaan yang jelas agoqnya,presentasinya jelas menurut hukum islam

  3. #4 by nizaminz on January 2, 2008 - 9:11 am

    Saya pernah ketemu dengan orang yang kalah main saham sebesar Rp 4 milyar. Teman saya rugi sampai rp 12 juta.

    Info tentang jual-beli saham lebih lanjut silahkan baca di:

    http://www.media-islam.or.id

  4. #5 by titok on January 10, 2008 - 6:25 am

    Sebenarnya, fakta bahwa PT itu merupakan syarkah di satu sisi, dan saham yang diperjual belikan, di sisi lain, merupakan indikasi yang nyata atas kesimpang siuran transaksi jual-beli saham.

    Jika kita mau menjadi anggota suatu syirkah, maka wajib melakukan aqod untuk saling mengikat dalam suatu syrkah. Jadi aqodnya adalah aqod dengan para anggota syirkah untuk berserikat.

    Tapi, untuk menjadi bagian dari investor sebuah PT, cukup dengan membeli saham. Padahal, untuk menjadi anggota sebuah syirkah itu harus dengan aqod tertentu, tidak cukup dengan aqod jual beli saham. Sebab, keanggotaan syirkah itu bukan barang dagangan dalam islam. Sehingga dia tidak sah untuk dijual belikan. Di sinilah simpang-siurnya. MAka dari itu, aqad jual-beli saham itu bathil, dan haram.

    • #6 by sri on August 7, 2010 - 7:53 am

      assalamu alakum pak,, saya seorang pencaker,, baru-baru ini saya ikut mlmar di sebuah perusahaan saham, dan saya di terima sebagai WPB atau pialang gt deh.. jd yang saya tanyakan adalah bagaimana hkmnya pak saya bekerja disitu? apakah saya terima atau tidak ? saya ragu coz dari fenomena yang berkembang saham itu haram.. tapi kita sama2 tau cr krj itu sulit sekali sekarabng sudah ada peluang kerja yang didepan mata kenapa gak diambil gt,, sementara zaman skrg cr krj yang sesuai syariah itu sdkt dan bayak saingan sehingga sdkt peluang untuk bkrj di sayariah. bgmn komentar bapk? terima ksh?

      • #7 by bapak on August 9, 2010 - 5:17 am

        Sebagai org beriman, yakinlah pada Allah bahwa pilihan sesuai syariat Islam adalah yg terbaik. sy yakin anda bisa mendapatkan pekerjaan yg halal. jk org lain bisa anda pun pasti bisa. terus berikhtiar dan berdoa.

      • #8 by teja on July 10, 2011 - 11:36 pm

        yang halal sama yang haram sekarang ini sama-sama ada yang mudah ada yang susah, ada yang aman ada yang berisiko. kalau sama-sama aja kenapa pilih yang haram?

        bidang bisninis masih banyak peluang. kalau sulit cari kerja bisnissaja

  5. #9 by ied on September 22, 2009 - 5:32 am

    jangan asal tulis dong…

    klo jual beli saham haram karena ng’ ada aqad, coba anda tinjau ke semua tempat transaksi jual beli (pasar), apakah ada yang namanya ijab kabul…….?

    dalam 10000 cuma ada satu….

    jangan cuma baca dua tiga buku udah tulis ini itu….

  6. #10 by Ahmad Endry Husein on November 17, 2009 - 8:06 am

    saham ini hukumnya syubat dan meragukan. Jadi lebih baik menjauhi yang meragukan. Mau ratusan buku juga ngulas ini kalau namanya meragukan lebih baik dijauhi. Apalgi saham ini resikonya besar. Mending dagang atau kerja aja deh. Halal dunia akherat…

  7. #11 by b_palgunadi on January 30, 2010 - 9:47 pm

    “respon jangan asal tulis dong”
    Saudara mestinya jangan takabur begitu, dgn merasa telah membaca banyak buku tentang masalah jual beli saham. Menurut saya, bukan banyaknya buku yang telah dibaca, tapi masalah jual beli saham, memang banyak pandangan ulama/jumhur yang berbeda. Tiap muslim boleh ber ijtihat sesuai dengan yg ia yakini dan pahami.

  8. #12 by riyani on August 18, 2010 - 11:16 am

    askum…
    pa muph saya mw nanya,
    sbenernya boleh gagh sih kita kerja di perusahaan pialang?
    halal/ga klo kita kerja disana?
    trs gmn klo kita dah terlanjur di lanjut tw gagh

  9. #13 by riyani on August 18, 2010 - 11:16 am

    makasih sblumnya..
    ^_^

  10. #14 by payahx on September 28, 2010 - 1:58 am

    saya kerja di perusahaan sekuritas nih ,,, semua saham dimaenin ama sales , saya orang IT nya … gmn dung ?

  11. #15 by jabon on October 6, 2010 - 4:18 am

    terimakasih atas infonya,,,subhanallah

  12. #16 by manifest on December 11, 2010 - 1:52 pm

    izin copy dulu mas utk dibaca..maaf sdg ngantuk T_T
    syukron jzk

  13. #17 by jangkrik on December 28, 2010 - 10:32 pm

    info yang menarik kawan,terimakasih sudah berbagi.Berkunjung sekalian ijin baca buat belajar :D
    STOP KORUPSI dan SUAP di Indonesia

  14. #18 by Mas Say Laros on September 20, 2011 - 6:02 am

    Thanks..infonya gan…

  15. #19 by andrey on November 2, 2011 - 2:09 pm

    1. bagaimana dengan asuransi(proteksi/Perlindungan diri) dan saham yang berbasis syariah misalkan prusahaan tsb sbagai wadah/pengelola dana yg dikumpulkan dari para peserta asuransi dimana para peserta diawal telah membuat kontrak/perjanjian terhadap dirinya /keluarganya apabila terjadi sebuah risiko di kemudian hari. hingga terkumpul sejumlah dana(tabaru) dimana dana itu akan bekerja apabila ada slah satu peserta terkena risiko sakit/kematian maka uang itulah yg akan bekerja…KLO KASUSNYA SEPERTI ITU BAGAIMANA DALAM PANDANGAN ISLAM?haram/halal?

    2. Bagaimna jika sebuah perusah berjanji bahwa dari dana yg terkumpul akan dibelikan unit/saham yang sesuai syariah misal tidak invest ke bank/tempat hiburan/rokok dll…dan alokasi investnya transparan sudah ada di jakarta islamic indeks bagaimana menurut pandangan islam klo kasusnya seperti itu,?

    kami mohon jawaban saudara,,terima kasih sebelumnya,

    wasalam

  16. #20 by andre..... on November 26, 2011 - 3:01 am

    Ass. kepada siapa sebenrnya hati harus bertanya.. saya baru saja bekerja di sebuah perusahaan pialang saham (trading future). dan saya berniat berinvestasi disana dan saya yang akan mengelola dana tersebut, keuntungan yang saya peroleh untuk menutupi hutang dari keluarga sebesar 200jt an, saya sendiri merasa takut dengan banyaknya hutang yang di tanggung oleh keluarga. saya takutnya jauh sebelum hutang itu lunas ortu saya sudah tiada bagaimana caranya dengan ketidak mampuan yang saya miliki. ada 1 orang yang mau membantu untuk saya dapat melunasi hutang tersebut, jadi intinya dia meminjamkan uang kepada saya untuk investasi disana dan keuntungannya akan saya gunakan menutupi hutang ortu saya, saya kasihan dengan kedaan ini tapi saya bingung dengan cara apa bisa menutupi hutang ini. apakah saya salah jika saye gabung dan invest di tempat kerja krn dari penghitungannya saya dapat melunasi hutang ortu lebih cepat dari perkiraan.. itu saja niat saya…… mohon di bantu untuk rekan2, yang bisa membantu sumbang saran . trimakasih untuk sebelum dan sesudahnya.. Wss

  17. #21 by HTTP://Sayyesofficialweddingdressesblogsite.Edublogs.org on April 8, 2013 - 3:55 am

    “Jual-Beli Saham Dalam Pandangan Islam | Be a good Moeslim” was in fact
    a superb blog post and therefore I really was
    in fact extremely satisfied to locate the article. I appreciate it-Cristine

  18. #22 by kredit tanpa agunan on June 10, 2013 - 8:07 am

    Jual beli saham memang sangat menguntungkan, tapi dibalik semua itu hauslah kita sesuaikan dengan kaidah agama. trima kasih pencerahnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: