Isu Video Mesum di NAD


31/05/07 17:45

Isu Video Mesum di NAD
Oleh Azhari

Banda Aceh (ANTARA News) – Jutaan penduduk di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) agaknya tersentak atas beredarnya video mesum melalui telepon seluler (HP) dan internet, pasalnya rekaman adegan panas itu diyakini berlokasi di daerah berjuluk Serambi Mekah tersebut.

Berbagai gambar dengan beragam pose bugil, seperti beberapa aksi panas di atas ranjang dua insan berlainan jenis yang beredar di HP dan internet itu diisukan pengambilan gambarnya di lakukan di daerah yang berjuluk “Serambi Mekah” itu.

Akan tetapi, dari beberapa gambar adegan panas yang telah tersebar di HP dan internet itu satu kasus mendapat perhatian masyarakat di Aceh, yakni rekaman paksa yang dialami dua remaja yang diperkirakan lokasinya di pantai wisata Lhoknga, Aceh Besar.

Gambar dua remaja berlainan jenis yang sedang beradegan panas bagaikan cerita cinta dalam sebuah film itu juga beredar cepat melalui HP dan internet, sehingga menimbulkan beragam tanggapan publik di Aceh.

Namun, reaksi keras itu bukan ditujukan kepada kedua remaja tanggung yang sedang beradegan panas, tapi kutukan terhadap perekam paksa di “negeri” yang telah diberlakukan undang-undang syariat Islam kaffah (menyeluruh) di Indonesia.

Sebab, video adegan panas dilakukan dua remaja (anak baru gede:ABG) itu berlangsung di bawah ancaman belasan pemuda yang berlagak seperti polisi yang sedang melakukan proses rekonstruksi (reka ulang) atas salah satu kasus kejahatan.

Perbuatan belasan pemuda merekam dengan HP secara paksa terhadap dua remaja di atas pasir putih yang diperkirakan itu merupakan tindakan biadab, demikian komentar sejumlah kalangan perempuan di Kota Banda Aceh.

“Itu tontonan tidak etis dan sangat menjijikkan. Apalagi adegan tersebut dilakukan dua remaja berlainan jenis di bawah tekanan/paksaan sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab,” kata sejumlah perempuan di Kota Banda Aceh.

Despriyani, seorang perempuan Aceh menyatakan terkejut ketika membaca sebuah berita terkait adegan panas yang dilakukan sepasang remaja di bawah paksaan dan rekaman videonya tersebar di Aceh.

Adegan sepasang remaja yang direkam dan beredar melalui telepon seluler (HP) dan internet serta disadurkan media cetak itu harus diusut pihak kepolisian untuk memberikan kepastian hukum bagi orang yang telah dikorbankan secara kejiawaan dan martabatnya.

Despriyani minta aparat penegak hukum serius menangkap pelaku perekam video tersebut, karena selain berdampak buruk bagi dua remaja yang dipaksa melakukan adegan panas, juga sangat memalukan daerah ini.

Itu tindakan bejat dan perbuatan orang-orang jahil, dengan sengaja memaksa orang melakukan perbuatan mesum sambil merekam gambarnya.

Ujian Syariat Islam

“Kita tidak bisa menerima perbuatan itu, namun kalau memang dua remaja telah melakukan perbuatan mesum serahkan ke polisi atau diadili secara adat, bukan memaksa mereka ulang, kemudian disebarluaskan,” ujarnya.

Fitri, seorang ibu lainnya, juga menyatakan prihatin atas sikap sekelompok pemuda yang telah melakukan pelecehan terhadap sepasang remaja tersebut.

“Kalau memang sepasang remaja itu telah berbuat salah, tangkap dan diserahkan kepada orangtua atau masyarakat desa untuk diberikan sanksi, bukan memaksa mereka malakukannya lagi untuk kemudian direkam dan disiarkan dalam bentuk kaset video,” katanya.

Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Tgk Muslim Ibrahim mengatakan, maraknya kasus video mesum di Aceh itu merupakan ujian bagi penerapan syariat Islam di daerah tersebut.

“Maraknya video mesum bahkan yang lebih parah yang dibuat di bawah tekanan terhadap sepasang remaja merupakan ujian bagi pelaksanaan syariat Islam yang kita terapkan di Aceh,” katanya.

Dia mengatakan, kasus pelanggaran terhadap syariat itu merupakan salah satu godaan dan cobaan bagi umat Islam khususnya di provinsi berjuluk Serambi mekah dalam menegakkan aturan Allah SWT yang kaffah.

“Syaitan dengan berbagai cara terus berupaya mengajak manusia untuk berbuat dosa agar menemaninya di neraka, salah satunya adalah melalui video mesum yang dapat merusak aqidah dan menjadi cobaan bagi kita untuk benar-benar menegakkan syariat secara kaffah,” katanya.

Dia juga mengutuk pelaku pemaksaan video asmara yang dilakukan sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab kepada sepasang remaja dikawasan pantai Lhoknga Aceh Besar pada Kamis (17/5) yang saat ini telah ditangani polisi.

“Kepada aparat polisi kita harapkan penegakan hukum dan usut tuntas kasus pemaksaan perbuatan asusila itu. Polisi seharusnya merasa malu karena kasus tersebut terjadi di wilayah hukumnya yang memberlakukan syariat Islam,” katanya.

Selain itu, semua pihak harus terlibat bahu membahu mengusut dan menegakkan syariat Islam termasuk media massa dengan memberitakan informasi terkait kasus tersebut secara bijaksana.

Khusus bagi para orang tua, ketua perkumpulan ulama yang terpilih untuk kedua kalinya memimpin MPU NAD itu juga berpesan agar lebih giat menjaga anaknya dari perbuatan yang dapat merusak diri dan mempermalukan keluarga serta daerah.

Kejar Pelaku

Sementara itu, aparat jajaran Polda NAD telah mengidentifikasi dua pelaku dari kelompok yang disebut-sebut berjumlah 15 orang itu dan kini sedang melakukan penyelidikan terkait dengan kasus tersebut.

“Kami telah memperoleh laporan dari orangtua korban yang terekam paksa dalam video asmara itu,” kata Kabid Humas Polda NAD, Kombes Pol Jodi Heriyadi.

Keterangan sementara menyebutkan bahwa korban ada mendengarkan sejumlah nama disebutkan saat pemaksaan itu terjadi, dan polisi akan menuntaskan penanganan kasus tersebut.

Dari pengakuan, salah seorang korban berusia sekitar 16 tahun itu juga mengatakan tidak benar telah melakukan hubungan “intim” seperti yang direkam dalam video yang saat ini menyebar luas di handphone dan internet.

“Jadi tidak ada reka ulang, karena memang mereka tidak melakukan yang dituduhkan itu,” kata Jodi.

Dia mengatakan, apabila tertangkap pelaku pemaksaan adegan mesra itu dapat dikenakan pasal berlapis yaitu pasal 289 KUHP tentang membiarkan dilakukannya perbuatan cabul dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara.

Pasal 282 KUHP tentang menyiarkan gambar asusila dengan ancaman hukuman satu tahun enam bulan penjara, pasal 335 KUHP tentang perbuatan tidak menyenangkan diancam satu tahun penjara.

Selain itu pelaku juga dapat diancam dengan pasal 80,81 dan 82 Undang-undang No.23/2002 tentang Perlidungan Anak karena melakukan kekerasan terhadap anak dengan ancaman hukuman penjara minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun.

Upaya penegakan hukum dengan menangkap pelaku perekam paksa oleh polisi telah menjadi harapan masyarakat untuk sebuah pembuktian apakah kasus tersebut benar terjadi.

Atau sebaliknya beredarnya gambar porno yang lokasi shottingnya di Aceh itu hanya sebuah rekayasa dengan tujuan mendeskreditkan syariat Islam yang telah menjadi kesepakatan jutaan penduduk muslim di Serambi Mekah ini.(*)

About these ads
  1. #1 by toomy on July 8, 2007 - 8:30 pm

    sebenarnya mesum di aceh itu mang dah lama adnya tp krn blm ktauan ja

  2. #2 by toomy on July 8, 2007 - 8:31 pm

    coba dech lu ke pantai lhok nga agak k atas bukit dikit
    pasti banyak muda mudi yg asik berduaan gtu]

  3. #3 by Taufik on January 21, 2008 - 7:18 pm

    Ass……. saudara tolong jangan cemarkan nama baik tanah mulia Atjeh tanah para aulia, sejak masa kesultanan cukup dijaga dan dipelihara, sekarang mari sama-sama kita tegakkan kembali keagungan dan kejayaan Atjeh seperti sedia kala, kalau dulu bisa kenapa sekarang tidak. Adat bak po temerehom hukum bak syiah kuala…InsyaAllah kita semua diberkahiNya……..Amin.

  4. #4 by krisnadian on January 23, 2008 - 3:14 am

    jangan takut untuk menghukum para pelaku penjahat kelamin setiap perbuatan melawan hukum harus di tindak dan di adili seberat-beratnya

  5. #5 by Aat Royhatudin on June 20, 2008 - 3:31 am

    ironis sekali, sejatinya harus tetap menjalankan syari’at Islam malah tidak, berarti ini banyak praktek semisal itu yang tidak dan belum terungkap. seperti korupsi yang sudah menasional hanya sebagian kecil saja yang terungkap.sama halnya dengan pembelakuan syariat adanya hakim, begitu juga korupsi adanya KPK.

  6. #6 by nisa on July 12, 2008 - 5:54 am

    apa masyarakatnya belum siap dengan nama serambi mekkah?? Bahkan WH (Waliatul Hisbah) yang istilah bekennya Polisi Syariah, justru sering kedapatan melakukan pelanggaran asusila. Selama gw di banda aceh, banyak kasus2 semacam ini. Baca aja surat kabar lokalnya..

  7. #7 by kilua on July 31, 2008 - 7:35 am

    Gak aneh emang liat Aceh kaya gitu (jd igat ketika Allah ngasih hukuman lewat bencana Tsunami), hampir di setiap daerah ada yg seperti itu, walaupun itu negara atau daerah yg Islamnya kuat..Gak perlu ditutup2i dech…Jangan jadikan Jilbab sebagai kedok…Jika belum siap jgn dipaksa..(pake hati dunkz)…

  8. #8 by fakrul on November 5, 2008 - 6:39 am

    sdar lah wahai mnusia smua
    sbenarnya kta cuma nmpang di dunia ini
    bkn untuk slmanya

    ttd aneuk sigli

  9. #9 by Fatima on December 18, 2008 - 1:24 pm

    Syari’at itu hukum Alloh, jadi bukan masalah siap ndak siap tapi urusannya menerapkan hukum Alloh di seluruh Dunia ini wajib bagi umat Islam sekemampuannya. masalah bencana adalah kehendak Alloh untuk memberi peringatan ataupun cobaan kepada umatnya, itu justru untuk pemicu tegaknya syari’at bagi yang bisa mengambil hikmahnya. Ayo teruskan perjuanganmu wahai saudara2 di NAD untuk menegakkan Syari’at

  10. #10 by Al Jufry on July 6, 2009 - 5:39 am

    Pemberlakuan hukum Syari’at tidak salah tapi mungkin hanya dapat di jalankan apabila secara bersamaan juga mengharamkan semua jenis tehnologi di tanah Aceh.
    Di era tehnologi seperti sekarang ini pemberlakuan syar’iat hanya membuat masyarakat Aceh menjadi munafik dan melanggar hukum syari’at secara sembunyi-sembunyi.
    Lebih jauh dari itu mungkin pemberlakuan syari’at di aceh perlu di kaji kembali karena menjadikan manusia tertib dan bermoral tidak bisa dengan “pemaksaan” melalui perda syari’at atau apapun namanya.
    Pendidikan keluarga yang baik dan tepat melalui cara; menanamkan nilai-nilai universal yang ada dalam islam kepada setiap anak!
    Ini mungkin jauh lebih bermanfaat daripada memaksakan pemberlakuan syari’at namun terus-terusan di langgar. Dan lebih luas lagi yang perlu di pikir dan di ingat adalah jangan sampai penggunaan simbol-simbol islam yang di wajibkan karena pemberlakuan syariat, justru mencederai Agama (Islam) yang mengajarkan tentang kebaikan, seperti kasus video yg di lakukan para pelaku ini.
    Jika pemberlakukan syariat terus di paksa, di takutkan akan muncul video2 mesum berikutnya ?

    Saya punya usul agar di lakukan survey saja mengenai masih setuju atau tidakah masyarakat serambi mekah terhadap pemberlakuan syari’at. Jangan sampai pemberlakuan syariat hanya karena ada kepentingan politik dari segelintir elit politik saja.

  11. #11 by Ijal on July 7, 2009 - 7:46 pm

    Ass.. Sy ijal asli warga banda aceh.. Wlaupun tindakan pemuda2 tsb tdk asusila, sy berpendapat mreka gk slah karna korban tsb tertangkap basah melakukan khalwat dan stelah ada rekaman tsb mka wilayah tsb (pantai lhoknga) bebas dari maksiat,,, terbukti bahwa di banda aceh banyak tempat rekreasi djadikan tempat maksiat… sy rasa wajar pemuda kampung melakukan hal tersebut.. Dari pada ada tsunami ke dua…

  12. #12 by ichsan on October 7, 2009 - 4:42 am

    ass………. sy ichsan seharusnya pemerintah dan warga harus kerjasama dan menjaga dan jangan terjadi lagi……..

  13. #13 by ALAN on January 12, 2010 - 6:26 am

    aa

  14. #14 by aghous on April 26, 2010 - 3:36 am

    Acheh iTu la tmpt dmN sy Lahir dan brada sKrg,,,,
    sngat Qt syngi,,, gadis2 acheh skrg sdh di luar kwajaran,,, dr segi b”pakaian sdh sngt2 tdk b”etika,,, kmn peran orang tua”a…………..
    cB tmn2 maen ke Langsa,, Lhokseumawe lbh2 ke Banda Aceh,,, pasti t’kagum2 m”lihat penampilan gadis aCheh…….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: