Siapa Tebar Pesona, Siapa Tebar Karya
Oleh: Ibnu Sara
Topik Hari Ini di SCTV yang ditayangkan pada hari Rabu, 18 anuari 2007 menampilkan 2 orang yang setia pada penguasa yaitu Anas Urbaningrum (ketua DPP Partai Demokrat), Andi Arief (Aktivis Pendukung SBY) dan 2 orang yang muak dengan pemerintah yaitu Sri Bintang Pamungkas, Budiman Sudjatmiko (Fungsionaris Muda PDI-P).
Sri Bintang Pamungkas salah satu tokoh gerakan masa yang menarik mandat rakyat menyatakan secara terang-terangan tidak takut dinyatakan makar atau revolusi karena menurutnya pemerintah tidak layak dipercaya lagi,sistem dan kondisi sekarang terus menerus menyengsarakan rakyat. Jika harus menunggu dua tahun lagi sampai 2009 untuk pemilu berikutnya hanya akan mengganti orang tetapi tidak akan mengganti sistem dan akan tetap menyengsarakan rakyat. Dengan revolusi kemungkinan untuk baik 50:50, sedangkan jika seperti sekarang maka dia yakin akan tetap sengsara,sehingga satu-satunya jalan adalah revolusi.
Budiman Sudjatmiko menyatakan tentang keanehan pemerintah sekarang adalah ketika banyak rakyat yang makan aking dan terjadi busung lapar,popularitas SBY semakin naik. Hal ini disebabkan SBY menempatkan dirinya diluar pemerintah sehingga yang jadi korban dan disalahkan adalah para mentrinya. Terjadi split personality pada SBY ,bahkan Budiman menyesalkan teman-temannya yang berjuang bersama menumbangkan pemerintah Soeharto,ketika sekarang duduk di pemerintahan malah menjadi bagian lembaga yang mengkampanyekan Pesona SBY (penebar Pesona) tanpa karya nyata. Kenaikan-kenaikan ekonomi atau pertumbuhan ekonomi akibat liberalisasi yang dilakukan pemerintah hanya memanjakan para kapitalis sedangkan rakyat kebanyakan bertambah miskin.
Pada posisi yang lain,Anas Urbaningrum membela habis-habisan dengan menuduh balik bahwa apa yang dilakukan oleh Sri Bintang dan temen-temennya adalah inkonstitusional,ketika demokrasi sudah disepakati seharusnya ikuti mekanisme dan tata cara yang ada dan sekarang ini telah dilakukan.
Andi Arief malah membabi buta membela sang majikan dengan bangga memberi data kenaikan tingkat ekonomi dengan ditandai oleh naiknya ekspor. Dia menambahkan bahwa ketika SBY yang jadi Presiden, idealnya mentri-mentrinya adalah dari Partai yang mengusung SBY (Partai Demokrat) karena sistem yang ada adalah parlementer dan bukan presidensiil maka hal tersebut tidak bisa dilakukan dan inilah sebab kelemahan kepemimpinan yang ada.
Menarik sekali perdebatan antara dua kubu tersebut,yang menarik adalah ketika para aktivis pembela rakyat diberi kekuasaan maka mereka juga mengikuti pendahulu mereka yang mencintai status quo dan tidak sadar bahwa merekalah yang meneruskan sistem bahkan mempertahankannya,berbeda orang hasilnya sama yaitu kesengsaraan.
Bagitu juga yang masih punya kesadaran atas kesengsaraan yang ada mereka menuntut revolusi tetapi perubahan seperti apa dan bagaimana, mereka belum menyiapkan maka yang akan terjadi adalah sama ketika tahun 1998 Pak Harto mampu ditumbangkan,hanya berganti rezim dengan warisan sistem yang sama.
Pertanyaannya, apa akar masalah dari kesengsaraan selama jaman kemerdekaan setelah lepas dari Belanda dan Jepang?
Mau diakui atau tidak sistem demokrasi yang diagung-agungkan dan diterapkan adalah suatu sitem utopis yang menawarkan kesejahteraan dan kedamaian. Sistem demokrasi memberikan ruang manusia untuk menjadi Tuhan-tuhan baru untuk menindas rakyatnya, Kedaulatan di tangan rakyat hanyalah lip service saja,rakyat hanya dijadikan legitimate kekuasaan mereka. Bagi-bagi kekuasaan adalah jalan tengah agar tidak terjadi gerakan masa yang bisa menghancurkan kekuasaan. DPR dan lembaga pemerintah menjadi ajang untuk memperkaya diri dan melupakan urusan rakyat. Lalu apakah kita masih mau hidup dengan demokrasi?
Para pemimpin sudah banyak yang terpilih,mereka mencoba bekerja mati-matian untuk rakyatnya tetapi anehnya mereka selalu membuat kebijakan yang menyengsarakan.lalu dimana salahnya?
Salah mereka adalah mereka menjadi penjaga sisitem yang salah mereka menerapkan Kapitalisme Liberal dalam kerangka Demokrasi Pancasila.Atas nama Demokrasi mereka memperkaya diri,atas nama Demokrasi mereka memberikan kekayaan alam kepada pihak asing,atas nama Demokrasi mereka menaikkan harga BBM dan lain sebagainya.
Solusi total adalah REVOLUSI dengan menjadikan agama Islam sebagai landasan kehidupan dengan sitem Pemerintahannya yaitu Khilafah Islamiyah. Inilah alternatif satu-satunya yang bisa diharapkan mengentaskan rakyat dari keterpurukan, Dengan Khilafah maka mulai pemerintahan,ekonomi,politik,sosial budaya,hukum,pendidikan,kesehatan,keamanan akan tejamin semuanya secara adil karena aturan-aturan yang diterapkan adalah aturan Allah Yang Maha Adil.
InsyaAllah akan muncul pribadi-pribadi pemimpin yang amanah dengan sistem yang benar. Tidak seperti sekarang ini,banyak yang merasa “amanah” tetapi menjadi penggawa sistem yang bobrok sehingga mereka tidak sadar bahwa apa yang telah mereka lakukan dengan ikhlas tetapi mereka memperjuangkan konsep Aristoteles, Adam Smith, David Ricardo,John Locke dan lain-lainnya yang sudah terbukti tidak ada satu negara pun yang bisa menjalankan konsep mereka dan menjadikan negara yang makmur kecuali menjadi negara penjajah.

Posted by AJI on January 18, 2007 at 12:02 pm
saya rasa yang dikemukakan oleh SRI BINTANG TIDAK SEPADAN dengan politik will yang dilakukannya, cauz ya…gak mungkin dong ANTI KEMAPANAN..budiman pun gak jelas tuh arahnya kemana lah wong ibu tirinya aja MEGA WATI ngejual aset NEGARA
Posted by AJI on January 18, 2007 at 12:04 pm
saya rasa yang dikemukakan oleh SRI BINTANG TIDAK SEPADAN dengan politik will yang dilakukannya, cauz ya…gak mungkin dong ANTI KEMAPANAN..budiman pun gak jelas tuh arahnya kemana lah wong ibu tirinya aja MEGA WATI ngejual aset NEGARA.
saya dukung SBY-JK walupun belum sepenuhnya yg dilakukannya.paling tidak titik jerah sudah mulai kelihatan. dari yang baik menuju terbaik.HIDUP SBY-JK!
Posted by Tan Malaka on April 25, 2007 at 11:06 pm
bung masayok,
anda tau ga kalau andi arif dan budiman itu dulu bersahabat? lucu ya dua2nya jadi berbeda jalan dan parahnya berdebat untuk suatu hal yg dulu mereka perjuangkan dan sekarang keduanya menjadi sama2 ga jelas.. hahaha
Posted by andika on June 3, 2008 at 4:08 am
hahaha… gw jadi ingat kalo Andi Arief, Budiman Sudjatmiko, Nezar Patria, Andi Mallarangeng dan para mantan aktivis mahasiswa yg diculik dulu adalah teman diskusi intens sewaktu msh jd aktivis UGM. Sekarang mereka diskusi lagi, untuk suatu pendapat yg berbeda-beda…Kalo Amien Rais ngumpul seru banget tuch… sesama alumni UGM saling gontok-gontokan. Apalagi sekarang Anas Urbaningrum jg ngambil S3 di UGM…
Posted by fadjrul on June 29, 2009 at 6:02 am
Andy arief dan Budiman sudjatmiko adalah mantan aktivis yg sekarang berubah bentuk menjadi “PELACUR” murahan yang ingin harta dan dekat kekuasaan… MERDEKAA!!!!!
Posted by dayat on June 3, 2008 at 4:30 am
gw akui… yg namanya kehidupan di UGM memang bisa merubah 180 derajat karakter orang yg masuk didalamnya. Semua dosennya memang jago ngomporin dan meracuni pikiran anak muda… Guru sebenarnya di UGM bukanlah dosen, tp buku2 yg berserakan di kost-kost mahasiswa dan karakter aktivisnya…
Posted by Pedro on June 3, 2008 at 6:21 am
Ada 4 Fakultas paling berbahaya bagi keamanan rezim negara yg ada di UGM yaitu Filsafat,Fisipol,Hukum dan Sastra. Seluruh anggota PRD yg diculik berasal dr 4 Fakultas tsb (kecuali Budiman Sudjatmiko yg berasal dr FE UGM). Dan mungkin hanya PRD satu2nya partai politik yg didirikan di UGM. Sangat sulit bagi suatu rezim di Indonesia menjinakkan keliaran kampus kalo para aktivis di 4 fakultas UGM tsb msh tumbuh dan terus tumbuh tanpa putus dari generasi ke generasi. Ingat, UI berhasil “dijinakkan” oleh ORBA ketika para Mafia Barkeley di FE UI juga bisa dijinakkan. Namun akan sangat sulit sekali menjinakkan UGM. Karena type2 aktivitas mahasiswa di UGM adalah tdk pernah ada kesatuan pemikiran. Hal itu terbawa sampai mereka menjadi alumni. Sebagai contoh: antara Budiman Sudjatmiko, Ridaya Laode Ngkowe, Andi Arief, Nezar Patria, Denny Indrayana, Andi Mallarangeng, Rizal Mallarangeng, Muhaimin Iskandar, Anies Baswedan, dsb. Walaupun mereka adalah teman satu diskusi dan satu generasi di UGM (generasi aktivis Mahasiswa UGM di Thn 94-96), tapi sampai sekarang tidak tercermin adanya kesatuan pemikiran antara mereka… dan selama itu pula maka 4 fakultas di UGM msh liar dan berbahaya bagi para penguasa.
Posted by danu on June 3, 2008 at 8:50 am
hehehe… aku inegt banget waktu awal2 kuliah di FH UGM. Ada dosen yg ngasih textbook kuliah/ diktat lah.. Tp dia mewajibakan kami tuk beli buku 2 referensi yg ada di daftar Pustaka dari diktat tsb, tujuannya agar kami bisa menganalisa secara mendalam isi diktat tsb lalu mengkritisinya. Padahal dari satu diktat dosen tsb bisa mengambil 20-40 buku sumber sebagai resensi di daftar pustakanya…!!! GILAAA…!!! Konyolnya lagi, mata kuliah filsafat dipakai sebagai mata kuliah wajib di tiap fakultas. Konyolnya lagi, FH kejatah 10 SKS untuk mata kuliah filsafat. Mampus dah..!! Sangat wajar, kalo akhirnya para peroboh rezim berasal dr kampus UGM.
Posted by reogjhatillan on March 26, 2009 at 3:54 pm
memang sangat sulit mengendalikan binatang liar dari udik.ndeso seperti budiman yang masih mimpi komunis masih hidup.komunis is dead.
ui bukan dijinakan orba tetapi ui.penginstall orba.dan tau donk ui universitas terbesar dan tertua dan adanya di ibukota negara.wajar kalau terkemuka
Posted by reogjhatillan on March 26, 2009 at 3:57 pm
ugm.universitas amin rais.tokoh bisa bongkar tidak bisa masang.kerjanya cuma ngeritik.kancil pilek yang kena penyakit kambing conge
Posted by Mendasing on April 9, 2009 at 5:51 pm
Mungkn saya adalah salah satu yg kecewa dgn hasil 98, n nyesal ikut teriak2 dijalan saat kuliah waktu itu..
Kita sepertinya berputar dalam siklus abadi negeri ini. Coba lihat, angkatan 45 ditumbangkan angkatan 66 (pimpinannya dari 45 juga tuh), angkatan 66 jatuh ama 98 (pimpinannya dari 66 juga), selanjutnya 98 akan jatuh sama angkatan selanjutnya, dan mungkin dipimpin angkatan 98.
Artinya kemapanan dan kekuasaan adalah suatu yg memang enak, dan diperebutkan namun kita sering munafik akan hal itu..
kapan untuk rakyat banyak??
Kalau saya lebih baik keluar dari sistem itu…
Lebih baik keluar dan buat sesuatu yg benar2 bisa untuk sedikit orang, tapi benar2 berarti. Ciptakan lapangan kerja mungkin cuma untuk 10 atau 20 orang, tapi nyata..
Susah sih tanpa dukungan dan perhatian dari para penguasa yg sebenarnya dulu bagian dari tersingkir, namun saat dinebri sedikit kekuasaan lupa saat susahnya..
Tapi bukankah kita manusia, mahluk yg punya daya tahan dan pikiran yg lebih baik dibanding mahluk lain..
Mungkin nanti nama kita nggak dikenal kayak Sukarno, Suhrto, Habibi, para aktivis hebat dinegara kita ini.
Tapi cukup bersyukur kalau mati annti ditangisi 200-300 orang yg benar2 kehilangan dan diantar dengan iklas ke tempat tidur panjang.. Amiin