Asam Amino dalam Minuman Berenergi

Asam Amino dalam Minuman Berenergi

Asam amino merupakan senyawa penyusun protein, yang menjadi bahan pembentuk tubuh manusia dan hewan. Berbagai jenis asam amino menyatu dalam ikatan peptida menghasilkan protein. Sampai saat ini sudah dikenal lebih kurang 20 asam amino yang menyusun tubuh manusia. Masing-masing asam amino tersebut memiliki struktur molekul dan sifat yang berbeda-beda. Susunan dan komposisi asam amino inilah yang diduga juga ikut andil menentukan karakteristik dan sifat-sifat manusia.

Misalnya saja asam amino triptofan, yang bila dominan pada seseorang konon menyebabkan sifat-sifat keras dan mudah marah. Asam amino ini banyak terdapat pada protein daging kuda. Maka jika anda seorang penggemar daging kuda, maka siap-siaplah untuk memiliki sifat-sifat keras tersebut. Tetapi ini hanyalah salah satu faktor saja, bukan segala-galanya. Karena masih ada faktor lain, seperti faktor gen dan lingkungan sosial yang ikut mewarnai karakteristik seseorang.

Asam amino ini ternyata juga memiliki fungsi biokimiawi dalam metabolisme tubuh. Misalnya saja asam amino taurin yang dipercaya mampu memicu penggunaan energi dalam tubuh kita. Demikian juga dengan asam amino karnitin yang dianggap mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan meningkatkan pembakaran energi tubuh. Asam amino glisin dan glutamin juga bisa menjadi katalisator reaksi penggunaan energi, sehingga efeknya di dalam tubuh menjadi lebih segar.

Fungsi-fungsi yang dimiliki beberapa asam amino dalam metabolisme tubuh itulah yang dimanfaatkan oleh para produsen untuk menciptakan minuman yang mampu membangkitkan energi ekstra. Asam amino yang sering digunakan adalah taurin, glisin, glutamat, karnitin dan beberapa asam amino yang memiliki fungsi dan kegunaan khusus lainnya.

Secara alami asam-asam amino tersebut terdapat pada berbagai organ hewan, seperti taurin yang banyak terdapat pada empedu sapi dan asam amino glutamat yang banyak terdapat di bagian otak. Namun demikian secara komersial, asam amnino tersebut saat ini jarang yang diekstrak dari organ hewan. Di samping harganya yang lebih mahal, proses ekstraksi ini juga tidak praktis, serta kontinyuitas bahan baku yang susah dipertahankan.

Para produsen asam amino saat ini lebih melirik pada proses fermentasi dan reaksi kimiawi dari bahan-bahan sintetis. Kalaupun harus diperoleh dari ekstraksi, biasanya diambil dari bahan-bahan yang tidak sulit didapatkan, seperti bulu unggas, rambut manusia dan juga biji jagung.

Asam amino glutamat merupakan salah satu yang diproduksi melalui proses fermentasi. Bahan media utama yang digunakan adalah molases dan bahan-bahan lain yang mengandung gula. Proses pembuatan glutamat ini sama dengan proses pembuatan MSG (mono sodium glutamat) yang banyak dikenal sebagai bumbu masakan. Glutamat yang dihasilkan dari proses fermentasi tersebut direaksikan dengan sodium untuk menghasilkan MSG.

Asam amino lain yang juga dihasilkan dari proses fermentasi adalah arginin. Namun di Cina dilaporkan ada juga produsen yang memproduksi arginin dari biji jagung yang dihidrolisa dan dipisahkan asam amino argininnya melalui perbedaan titik iso elektrik. Namun para produsen dari Jepang lebih cenderung menggunakan proses fermentasi untuk menghasilkan asam amino tersebut.

Sebagian besar asam amino komersial lainnya, seperti taurin, metionin, glisin, lisin dan carnitin banyak dihasilkan dari reaksi sintetis menggunakan bahan-bahan kimiawi. Misalnya saja taurin yang dihasilkan dari reaksi amino etanol dan asam sulfat. Bahan-bahan yang banyak digunakan dalam pembuatan asam amino secara sintetis ini adalah urotropin, urea, ammonia, asam sulfat dan berbagai asam kuat lainnya.

Sedangkan asam amino sistin dan sistein bisa dihasilkan dari proses fermentasi maupun ekstraksi dari bahan alami. Jepang merupakan salah satu produsen sistin dan sistein yang dihasilkan dari proses fermentasi. Sedangkan beberapa negara lain, seperti Cina, banyak menghasilkan asam amino tersebut dari ekstraksi bulu unggas dan juga rambut manusia.

Dari segi kehalalan, asam amino yang dihasilkan dari reaksi kimia sintetis sebenarnya lebih aman, karena tidak melibatkan bahan yang kritis. Namun reaksi asam kuat dan bahan-bahan kimia tersebut diduga memiliki pengaruh yang kurang baik bagi kesehatan, terutama jika digunakan dalam dosis yang berlebihan. Sedangkan proses fermentasi untuk menghasilkan berbagai jenis asam amino tersebut memiliki kekritisan dalam penggunaan media fermentasi. Jika media yang dipakai mengandung unsur haram, maka produk yang dihasilkannya juga akan menjadi haram.

Proses ekstraksi dari bahan alami akan ditentukan oleh bahan yang akan diekstrak tersebut. Jika diekstrak dari rambut manusia, maka statusnya akan menjadi haram, karena penggunaan organ tubuh manusia tersebut dilarang dalam Islam. Sedangkan ekstraksi dari organ hewan, seperti bulu dan bagian lain dari unggas, harus dilihat dulu proses penyembelihannya. Jika disembelih dengan cara Islam, maka asam amino yang dihasilkannya juga halal. Sebaliknya jika tidak disembelih dengan cara Islam, atau bahkan tidak disembelih, maka asam amino yang dihasilkannya juga menjadi haram.

Dari informasi ini, maka jika Anda menjadi penggemar minuman berenergi yang di dalamnya ada asam aminonya (taurin, glutamin, glisin, carnitin dan lain-lain) maka sebaiknya lebih berhati-hati. Siapa tahu di dalamnya terdapat asam amino yang tidak halal. Oleh karena itu boleh saja menyiapkan energi, tetapi harus tetap waspada dari kemungkinan asam amino yang tidak halal. n Nur Wahid, Ketua Bidang Sosialisasi LPPOM MUI
( tri )

Respond to this post