Pemerintahan Islam


PEMERINTAHAN ISLAM;
Pemerintahan Alternatif Dalam Perspektif Islam

Menurut makna bahasa, kata al hukmu bermakna al qadla’ (keputusan). Sedangkan kata al haakim bermakna munaffidzul hukmi (pelaksana keputusan atau pemerintahan). Adapun menurut istilah, kata al hukmu maknanya adalah sama dengan kata al mulku dan as sulthan. Yaitu, kekuasaan yang melaksanakan hukum dan aturan. Juga bisa disebut dengan aktifitas kepemimpinan yang telah diwajibkan oleh syara’ atas kaum muslimin. Aktifitas kepemimpinan ini merupakan kekuasaan yang dipergunakan untuk menjaga terjadinya tindak kedzaliman serta memutuskan masalah-masalah yang dipersengketakan. Atau dengan ungkapan lain, kata al hukmu juga bisa disebut wilayatul amri. Sebagaimana dalam firman Allah:

“Taatilah Allah, dan taatilah rasulullah, serta ulil amri (para pemimpin) di antara kalian.” (Q.S. An Nisa': 89)

“Dan kalau seandaianya mereka mengembalikan masalah itu kepada Rasulullah serta kepada ulil amri (para pemimpin) di antara mereka.” (Q.S. An Nisa': 47)
Jadi, para pemimpin itulah yang esensinya melaksanakan pelayanan terhadap urusan-urusan umat secara langsung.
Sebagai sebuah ideologi bagi negara, masyarakat serta kehidupan, Islam telah menjadikan negara beserta kekuasaannya sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Dimana Islam juga telah memerintahkan kaum muslimin agar mendirikan negara dan pemerintahan, serta memerintah dengan hukum-hukum Islam. Berpuluh-puluh ayat Al Qur’an yang menyangkut masalah pemerintahan dan kekuasaan telah diturunkan. Dimana ayat-ayat tersebut memerintahkan kaum muslimin agar menerapkan pemerintahan dengan berdasarkan apa yang diturunkan oleh Allah SWT. Allah berfirman:

“Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 48)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan oleh Allah SWT. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al Maidah: 49)

“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al Maidah: 44)

“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dzalim.” (Q.S. Al Maidah: 45)

“Dan barangsiapa yang tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al Maidah: 47)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (Q.S. An Nisa': 65)

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya serta ulil amri (para pemimpin) di antara kamu.” (Q.S. An Nisa': 59)

“Dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan cara yang adil.” (Q.S. An Nisa': 48)Dan masih berpuluh-puluh ayat yang lain, yang menyangkut masalah pemerintahan dari segi pemerintahan dan kekuasaan itu sendiri. Disamping itu, banyak lagi ayat-ayat lain yang menunjukkan pembahasan pemerintahan secara detail. Bahkan, ada ayat-ayat yang membahas tentang hukum perang, politik, pidana, kemasyarakatan, hukum perdata dan lain-lain. Allah SWT. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang ada di sekitar kalian itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan itu ada padamu.” (Q.S. At Taubah: 123)

“Jika kamu menemukan mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang ada di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran. Dan jika kamu khawatir akan terjadinya penghianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur.” (Q.S. Al Anfal: 57-58)

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dengan bertawakkal kepada Allah.” (Q.S. Al Anfal: 61)

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.” (Q.S. Al Maidah: 1)

“Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan cara yang batil dan (janganlah) kamu membawa urusan harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan (cara berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 188)

“Dan dalam qishas itu ada jaminan kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al Baqarah: 179)

“Laki-laki dan perempuan yang mencuri. potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang telah mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.” (Q.S. Al Maidah: 38)

“Dan jika mereka menyusui (anak-anak)-mu untukmu, maka berikanlah kepada mereka upahnya.” (Q.S. At Thalaq: 6)

“Hendaklah orang yang mampu memberikan nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rizkinya hendaklah memberikan nafkah dari harta yang diberikan oleh Allah kepadanya.” (Q.S. At Thalaq: 7)

“Ambilah zakat dari sebagian harta mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan.” (Q.S. At Taubah: 103)
Dan demikianlah, kita senantiasa akan menemukan garis-garis besar undang-undang perdata, kemiliteran, pidana, perpolitikan, serta mu’amalah dengan jelas di dalam beratus-ratus ayat Al Qur’an. Disamping banyak hadits shahih –yang menjelaskan hal-hal yang serupa– bertebaran. Dimana kesemuanya itu diturunkan berkaitan dengan suatu keharusan untuk menjalankan serta menerapkan kekuasaan berdasarkan garis-garis besar tersebut. Bahkan, semuanya itu telah berhasil diterapkan dalam kehidupan yang sesungguhnya pada masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, serta penguasa-penguasa Islam sepeninggal beliau. Kenyataan ini menunjukkan dengan jelas, bahwa Islam memiliki sistem pemerintahan dan kenegaraan, serta sistem yang bisa menjamin keberlangsungan masyarakat, kehidupan, umat serta individu-individunya. Sebagaimana Islam telah menunjukkan bahwa negara tidak akan begitu saja memerintah sebuah pemerintahan, melainkan dengan sistem Islam. Dimana Islam tidak akan pernah terlihat kecuali kalau Islam hidup dalam sebuah negara yang menerapkan hukum-hukumnya.
Maka, Islam adalah agama dan ideologi, dimana pemerintahan dan negara adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari dirinya. Negara adalah thariqah (tuntunan operasional) satu-satunya yang secara syar’i dijadikan oleh Islam untuk menerapkan dan memberlakukan hukum-hukumnya dalam kehidupan secara menyeluruh. Dimana Islam tidak akan tampak hidup, kalau tidak ada sebuah negara yang menerapkannya dalam segala hal. Inilah negara dengan sistem perpolitikan yang sangat manusiawi, bukan negara ketuhanan (otokrasi) dengan sistem pendewaannya. Juga bukan negara yang memiliki sifat takdis apapun, begitu pula kepala negaranya tidak memiliki kema’suman –sebagaimana layaknya seorang Nabi dan Rasul.
Dan sistem pemerintahan Islam adalah sistem yang menjelaskan bentuk, sifat, dasar, pilar, struktur, asas yang menjadi landasan, pemikiran, pemahaman, serta standar-standar yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, serta undang-undang dasar dan perundang-undangan yang diberlakukan.
Dialah sistem yang khas dan sama sekali lain bagi sebuah negara yang unik, yang berbeda dengan semua sistem pemerintahan manapun yang ada di dunia dengan perbedaan yang mendasar. Baik dari segi asas yang dipergunakan sebagai landasan sistem tersebut, atau dari segi pemikiran, pemahaman serta standar yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umat, atau dari segi bentuk yang terlukis dari sana, maupun undang-undang dasar serta perundang-undangan yang diberlakukannya.

  1. #1 by Tatang Hidayat on April 2, 2008 - 4:04 am

    Membaca tulisan diatas saya sangat setuju jika pemerintahan islam harus ditegakan di negara yang mayoritas pemeluknya menganganut islam . Sebagaimana di negara-negara muslim bahawa hukum islam yang sepertinya sadis namun bila dikaji lebih dalam penuh dengan kelembutan. Bagimana islam mengatur hak kehidupan, bermasyarkat, berbangsa dan bernegara. Hukum Islam tidaklah sengeri yang dibayangkan oleh sebagaian orang. Justru didalam Al Khilafah Al Islamiyah hukum-hukum tersebut bisa ditegakkan. Islam adalah idiologi, islam adalah filsafat hidup dan islam juga rule.

  2. #2 by Dadang Suhendar on November 13, 2008 - 2:25 am

    Setiap manusia yang mengaku dan masuk Islam, pasti mengetahui rukun Iman yang salah satunya adalah bahwa Al’quran sebagai kitab suci yang wajib diimani, tapi sayang hanya sebatas mengimani karena sebagian besar malah menjadi penentang ayat-ayatnya dengan bermodalkan pengetahuan dari barat (terutama USA & Eropa) yang menjadikan semakin jauh dari “IMAN”, coba saja lihat dalam kehidupan keseharian mereka !!
    Contoh dari hal kecil dan nyata banyaknya penentang RUU APP yang sekarang telah jadi UU Anti Pornoaksi, kawin beda agama dengan sponsornya salah satu Rektor PT yang ngaku Islam dst, apalagi “Menegakan Sistem Pemerintahan Islam/ Syariah Islam”, padahal perlu diingat “Hukum mana yang akan kamu ambil, Hukum buatan Allah atau Hukum buatan manusia, bagi mereka yang mau berfikir”, serta kewajiban umat adalah Bukan hanya sekedar menegakan Islam tapi memenangkannya diantara Dien(dien ini bukan hanya agama melainkan juga isme) adalah WAJIB”, Tapi bagi mereka yang berkeinginan untuk mengikuti dan memenangkan aturan/hukum-hukum Allah disarankan untuk mengikuti tata-cara dakwah Rosululloh SAW Sang panutan kita, InsyaAlloh pertolongan Allah sangat dekat dan kitapun dekat dengan kemenangan yang dijanjikan….Aamiin

  3. #3 by Mr D**N A***D***** on November 25, 2008 - 6:06 am

    Sebenarnya masalah besar umat islam ini bukan hanya didiskusikan atau hanya untuk dijadikan bahan bahasan saja… tapi kita seluruh umat muslim yang dari bawah sampai tokoh masyarakat harus mengetahui akar masalahnya.. yaitu ketiaadaan nya khalifah islamiyah yang ada dimuka bumi sejak gugur nya masa pemerintahan khalifah utsmaniyah sampai sekarang hingga terlupakan oleh umat muslim untuk mencari khalifah setelah khalifah utsmaniyah tersebut. perlu kita contoh tindakan para sahabat setelah wafatnya nabi saw mereka tidak menyegerakan memakamkan jenazah nabi s.a.w tetapi mereka malah mengutamakan untuk mencari khalifah yaitu setelah 2 hari 2 malam baru terpilih ABU BAKAR sebagai khalifah yang melanjutkan perjuangan nabi s.a.w jadi bisa diambil kesimpulan bahwa kewajiban mengangkat khalifah itu lebih utama dibandingkan mengurus jenazah seorang rasulullah.
    SEMOGA KITA BISA MELAKUKAN TUGAS TERBESAR BAGI UMAT MUSLIM SEDUNIA INI TENTUNYA DENGAN IZIN ALLAH S.W.T

  4. #4 by Hamiudin on February 14, 2009 - 5:03 am

    Sy sepakat Pemerintahan Islam adalah satu-satunya sistem pemerintahan terbaik karena Allah yg ngomong. Namun jangan pernah bermimpi akan tercipta kehidupan masyarakat yang damai sejahtera dengan menerapkan sistem khilafiah Pemerintahan Islam. Bukan sistem pemerintahannya yang harus didahulukan tapi perbaikan akhlak umat Islam, peningkatan ilmu agama umat Islam dan menyatukan pemahaman agama umat Islam dengan kembali kepada Alquran dan hadist. Jika semua itu tercapai, tidak perlu berjuang untuk menerpkan sistem Pemerintahan Islam karena ada unsusr paksaan didalamnya. umat Islam sendiri yang akan memintanya untuk kembali ke Sistsem Pemerintahan Islam. Knapa ? Ilmunya dah dapat. Sangat ironi keadaan saat ini. Jumlah politikus Islam lebih banyak dari pada ulama, sementara umat Islam yg belum melek ilmu agamanya sendiri bagaikan buih dilautan. Ulamya yg dibanyakin, kembalikan umat pada garis agamanya. Tingkatkan lembaga-lembaga pendidikan Islam yg sesuai quran hadist sebagaimana Islam ketika awalnya. Mari bersatu perjuangkan Islam !

  5. #5 by mariana on February 20, 2009 - 12:03 pm

    insyaAllah sebagai umat islam, kita semua pasti bisa menerima pemikiran dan hukum Allah, karena semuanya itu manusiawi atau dalam artian tidak melenceng dari fitroh manusia. untuk itu mari kita sebagai orang yang cerdas, untuk memperjuangkan tegaknya dawlah ini sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW bukan dengan cara kekerasan atau bergabung dengan kekufuran,. karena dalam is;lam, tidaka ada ajaran untuk menghalalkan segala cara dalam mencaoai tujuan.

  6. #6 by Subur on October 29, 2011 - 1:42 pm

    Bukti yg nyata dan jelas
    Mari kita bersatu membentuk pemerintahan islam
    Merubah pemerintahan yg ada atau membangun baru

  7. #7 by rustam efendy on June 13, 2013 - 2:33 am

    assalamu ‘alaikum ??
    siapapun yg memiliki blog ini, saran saya, lbih perhatikan lah ketelitian anda dalam menulis, dalam tulisan di blog ini, yang menyatakan Atiullah waatiurrosul, anda menyatakan ayat itu surat annisa ayat 89, tapi anda salahhh…

    wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: